The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 40 - Kematian anggota clan Flaus



“Hmph… Kenapa sambungannya malah terputus?” Tanya Barbiond, kebingungan.


Dia kemudian mencoba menghubungkan kembali sambungan komunikasi tersebut. Namun, hal itu percuma karena sepertinya sambungan komunikasinya tersebut sudah tidak bisa terhubung kembali.


“Aneh sekali…”


“Kalau begitu, jika nyonya Gwell Flaus menghubungi lagi, segera bawa padaku kembali,” kata Barbiond, menyerahkan alat komunikasi pada prajurit itu kembali.


“Baik tuan,” kata prajurit itu, kemudian meninggalkan ruangan kerja tersebut.


***


Kembali di kediaman clan Flaus, dimana Gwell sebelumnya terhempas ke luar setelah menerima serangan dari Viecion.


“Kau… Berani-beraninya kau melakukan hal itu…!” Teriak Derts.


Saking emosinya, Derts langsung mengambil sebuah kapak besar yang berada di dalam ruangan tersebut. Dia pun kemudian berlari ke arah Viecion sambil mengayunkan kapak tersebut untuk menyerang pemuda itu.


Namun, dengan sigap Viecion langsung menghindari segala serangan kapak dari Derts tersebut.


Sampai pada akhirnya Viecion pun dapat menghentikan serangan Derts dengan memegang erat kapak yang dipegang Derts itu.


“Sepertinya kau kurang terlatih yah…” Kata Viecion, memegang erat kapak yang dipegang oleh Derts.


“Ukh… Lepaskan…” Kata Derts, nampak mengalami kesulitan.


Tanpa berlama-lama lagi, Viecion pun sontak membenturkan kepalanya pada kepala Derts, hingga membuat Derts pun jatuh tersungkur di lantai.


**


Berpindah pada Gwell, yang kini berada di bawah. Setelah tersadar kembali, Gwell sontak terkejut melihat beberapa anggota clan Flaus yang sebelumnya ditemuinya kini telah terkapar.


Hal tersebut sepertinya merupakan perbuatan dari Viecion, yang diam-diam mengikutinya sampai ke kediaman clan Flaus tersebut.


Memikirkan anak-anaknya yang masih berada di atas bersama dengan prajurit Pavonas itu, Gwell pun berkonsentrasi hingga membuat kedua tangannya mengeluarkan kobaran api.


Dia pun langsung melompat ke lantai atas, dimana tempat beradanya Derts serta yang lain.


Melihat Viecion yang ingin menyerang anaknya yang telah terkapar tersebut, dengan cepat Gwell bergerak mendekati Viecion.


“Fire burst… Strong punch…” Gwell pun langsung melancarkan serangan tinju api sampai membuat Viecion terhempas menabrak dinding-dinding hingga ke luar ruangan.


“Derts… Kau tidak apa-apa?” Tanya Gwell tentang keadaan anaknya tersebut.


“Iya, aku tidak apa-apa,” jawab Derts.


“Derts ambil kapakmu itu dan ayo pergi dari sini,” kata Gwell, mengajak anak-anaknya untuk pergi dari tempat itu.


Gwell pun kemudian memegang Heinz dan pergi dari tempat itu.


Begitu juga dengan Derts, dia mengambil kapak yang dipakainya sebelumnya lalu memegang Bohrneer dan pergi mengikuti Gwell meninggalkan tempat tersebut.


**


Di luar ruangan terlihat Viecion yang telah terkapar di tanah karena sebelumnya telah menerima serangan Gwell.


“Ah, sial… Aku tidak mengira bahwa wanita itu ternyata masih belum kalah,” kata Viecion, sambil berdiri dan membersihkan pakaiannya yang kotor.


Ekspresi wajah Viecion tiba-tiba berubah menjadi terkejut setelah mendengar suara ledakan dari arah perkotaan.


Setelah dilihatnya, ternyata suara tersebut berasal dari sebuah kapal yang meluncurkan sebuah tembakan meriam.


Terdapat dua kapal dari pasukan Pavonas yang kini telah berlabuh di depan kota Hargocane. Kedua kapal tersebut secara beruntun meluncurkan tembakan ke arah perkotaan hingga hancur porak poranda.


Para warga kota pun terlihat lari menyelamatkan diri dari tembakan-tembakan beruntun tersebut.


“Vahal Izumir sialan… Jadi dia memang mau menyerang kota ini,” kata Viecion, mengumpat pada atasannya tersebut.


**


“Ibu kenapa mereka menyerang kota?” Tanya Derts, nampak terkejut melihat serangan dua kapal Pavonas itu.


“Derts, ayo lebih cepat lagi, kita harus menemui pamanmu sekarang,” kata Gwell, menyuruh Derts untuk tetap fokus berlari.


**


Lalu terlihat pertarungan antara Argis dan Vahal yang terhenti akibat serangan kapal Pavonas yang menyerang perkotaan.


“Dasar biadab… Beraninya kalian menyerang kota ini... Jika kalian menginginkan kristal itu maka ambillah saja, jangan limpahkan ini pada orang-orang yang tak bersalah,” kata Argis, nampak kesal.


“Hahaha… Maaf sekali, tapi itu bukanlah gayaku.” Namun, prajurit Pavonas itu menanggapi perkataan Argis dengan tertawa.


“Sial…!” Teriak Argis.


Tanpa pikir panjang Argis pun langsung terbang mendekati dua kapal Pavonas tersebut.


“Fire projection… Holy balls of fire…” Argis lalu menciptakan dua bola api yang sangat besar.


Dia pun kemudian meluncurkan dua bola api tersebut ke arah kedua kapal itu hingga mengalami kerusakan.


“Akh…”


Namun, tanpa dia sadari, ketua clan Flaus itu menerima serangan tusukan pedang dari Vahal yang berada di belakangnya.


“Hei… Sebaiknya kau jangan memalingkan pandanganmu,” kata Vahal.


“Kau…”


Vahal lalu mencabut pedangnya dari tubuh Argis dan kemudian melancarkan serangan tebasan pada ketua clan Flaus tersebut hingga membuatnya terhempas cukup jauh dan terkapar di tanah.


**


Tidak jauh dari tempat itu, terlihat Gwell, Derts serta Bohrneer dan Heinz sedang melihat Argis yang terjatuh dari langit akibat menerima serangan dari Vahal.


“Itu kan paman…” Kata Derts, nampak terkejut melihat Argis.


“Ayah…!” Teriak Heinz, berlari ke arah ayahnya yang telah terkapar.


“Ayah… Ayah… Kenapa kau berdarah?” Tanya Heinz, nampak sangat mengkhawatirkan keadaan dari ayahnya.


“Heinz… Kau baik-baik saja…?” Tanya Argis, melihat anaknya tersebut.


“Aku baik-baik saja ayah. Tapi, bagaimana denganmu? Siapa yang ini semua?”


“Eh… Ayah hanya… Sedikit lengah tadi…”


Nampak Heinz serta yang lain terlihat bersedih melihat keadaan dari ketua clan Flaus itu.


“Hei… Derts… Nampaknya kau… Sudah memutuskan untuk memakai kapak Tanvark.” Kata Argis, nampak bangga melihat keponakannya tersebut.


“Dasar bodoh… Disaat seperti ini saja… Kau masih memikirkan hal itu,” kata Derts.


“Gwell… kemarilah ada yang ingin… Aku katakan.”


“Ada apa kakak…?” Tanya Gwell.


“Sepertinya aku tidak bisa bertahan lama. Aku mohon jaga Heinz, serta yang lain juga. Mereka adalah harapan clan Flaus di kemudian hari,” kata Argis.


“Apa yang kau katakan?” Tanya Gwell, tidak mengerti dengan maksud dari Argis.


“Serangan dari orang Pavonas itu… Sepertinya membuatku tidak bisa bergerak… Ini… Bawalah kapak Tandsliber bersamamu dan pergi dari sini sebelum mereka datang.”


“Tidak… Aku tidak mau meninggalkanmu disini kakak…”


“Gwell… Aku mohon… Pikirkanlah keselamatan anak-anak juga…”


Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Argis, Gwell pun tampak mengambil kapak yang dipegang oleh Argis.


“Heinz… Pergilah bersama dengan bibimu sekarang,” kata Argis.


“Tidak aku tidak mau…”


“Heinz… Ayo kita pergi,” kata Gwell, sambil menarik Heinz dari tempat tersebut.


“Ayah…!”


*


“Maafkan aku kakak,” kata Gwell dalam hati, nampak sangat meyesal meninggalkan Argis di tempat itu.


**


Beberapa saat kemudian, Vahal pun muncul bersama dengan beberapa pasukan Pavonas, saat Gwell dan yang lain telah meninggalkan Argis di tempat itu.


“Wah… Wah… Tuan Flaus, sepertinya anda sekarang sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi,” kata Vahal, dengan memasang ekspresi menyeringai.


“Hei… Orang Pavonas… Aku yakin suatu saat kau akan membayar… Atas apa yang kau lakukan ini…” Kata Argis.


“Hmph… Kau masih banyak mengoceh rupanya…” Kata Vahal, nampak kesal dengan perkataan dari Argis.


“Aku yakin… Pasti ada yang akan membalaskan dendam… Suatu hari…”


“Tuan Vahal…”


Kemudian terlihat Viecion datang menghampiri Vahal. Pemuda itu pun sontak terkejut melihat ketua clan Flaus tersebut telah kehilangan nyawanya ditangan Vahal.


“Oh… Viecion, dari mana saja kau?” Tanya Vahal.


“Aku tadi mengejar wanita clan Flaus itu ke kediamannya. Namun, dia berhasil kabur bersama dengan anak-anaknya.” Jawab Viecion.


“Sepertinya mereka masih belum jauh… Ayo… Lebih baik kita cari mereka.” Kata Vahal.


***


Berpindah pada Raquille bersama dengan dua rekannya, yang masih berusaha mengusir pasukan Pavonas di tempat lain. Nampak mereka kini telah sampai di sebuah pulau, tempat berkumpulnya para pasukan Pavonas.


“Ini yang terakhir…”


“Setelah kita berhasil memukul mundur pasukan itu ke negeri asal mereka, kita sebaiknya kembali ke kota Hargocane untuk melihat keadaan disana,” kata Raquille, dengan ekspresi serius.


“Baik…” Kata Demesa dan Morten secara bersamaan.


“Baiklah… Ayo kita selesaikan dengan cepat.”


–19 April 3017–


Pagi harinya di sebuah pertambangan yang telah terbengkalai, terlihat Gwell bersama dengan anak-anak sedang berada di dalam gua pertambangan tersebut. Tampaknya mereka semalaman telah berada di tempat itu untuk sembunyi dari kejaran pasukan negeri Pavonas.


Nampak ekspresi datar dari mereka semua karena masih tidak percaya dengan apa yang telah terjadi pada mereka semalam.


“Ibu… Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan? Apa kita harus berdiam diri di tempat ini sampai mereka menemukan kita?” Tanya Derts, yang mulai putus asa akan keadaan mereka.


“Satu-satunya harapan kita adalah pergi dari daerah ini menuju Camburstile untuk meminta bantuan clan Drown disana,” jawab Gwell.


“Tapi, jarak Camburstile dari tempat ini sangatlah jauh. Ibu tidak yakin jika kita bisa sampai ke sana itu dengan selamat tanpa perbekalan,” lanjutnya.


“Entah apa yang harus kita lakukan sekarang. Aku bahkan sudah tidak memikirkan jalan keluar lain lagi.” Nampak Gwell pun juga terlihat telah putus asa dan hanya bisa meratapi nasib mereka.


“Ibu… Harapan kita tinggallah para ras campuran itu,” kata Derts, sedikit memberikan harapan untuk ibunya.


“Ras campuran…? Tapi, bukannya mereka telah pergi dari sini?”


“Apa kau ingat? Sebelumnya paman meminta tolong pada mereka untuk menahan para pasukan Pavonas yang menyerang wilayah pantai barat?”


“Aku yakin mereka sekarang masih berada di sana… Mereka itu adalah para Venerate tingkat atas. Aura mereka bahkan terasa sangat mengintimidasi.”


“Tetapi, itu percuma saja, jarak ke pantai barat hampir sama jauhnya seperti ke daerah Cambusrtile.”


“Sial… Urgh… Kenapa sulit sekali untuk meminta bantuan disaat seperti ini,” kata Derts, nampak mengumpat karena tidak dapat menemukan solusi dari keadaan mereka.


“Tunggu dulu Derts… Dimana Heinz sekarang?” Tanya Gwell.


Karena memikirkan cara untuk meminta bantuan, mereka sampai tidak memperhatikan bahwa Heinz sedari tadi tidak berada di tempat tersebut.


“Bohrneer… Dimana adikmu?” Tanya Gwell pada Bohrneer.


“Eh… Kurasa dia sedang keluar untuk mencari air, karena semalam tadi dia sedikit mengeluh karena kehausan,” kata Bohrneer.


“Ini gawat… Derts, Bohrneer… Ayo kita cari Heinz sekarang,” kata Gwell.


Gwell pun kemudian mengambil kapak yang sebelumnya diberikan oleh Argis, lalu berdiri beranjak dari gua tersebut disusul oleh Derts dan Bohrneer.


**


Diluar terlihat mereka dengan paniknya mencari Heinz yang entah pergi kemana.


“Ah… Dasar anak bodoh. Kenapa juga dia pergi sendirian seperti itu,” kata Bohrneer, nampak meresa kesal terhadap Heinz.


“Bohrneer diamlah… Yang penting sekarang kita harus menemukan Heinz sebelum orang-orang itu menemukannya duluan,” kata Gwell, menyuruh Bohrneer agar tidak mengeluh tentang Heinz.


**


Di tempat lain, nampak Heinz telah berada di pinggir sungai, mengambil air untuk diminumnya.


Tanpa anak itu sadari, Viecion telah berada dibelakangnya memperhatikan Heinz.


“Ah… Sepertinya ini bukan hari keberuntunganmu nak…” Kata Viecion.


**


“Lepaskan aku…! Tolong…!” Nampak suara teriakan Heinz pun didengar oleh Gwell dan yang lain.


“Itu suara Heinz… Ayo cepat kemari,” kata Gwell, langsung berlari mengikuti arah suara teriakan Heinz.


**


Namun, saat mereka sampai di tempat itu, nampak Heinz telah bersama dengan Viecion beserta anak buahnya.


“Oh… Tidak perlu menunggu lama, ternyata kalian datang sendiri kemari,” kata Viecion, nampak tersenyum.


“Lepaskan anak itu…” Kata Gwell, terlihat serius.


Dengan cepatnya Gwell bergerak ke arah Viecion dan mengayunkan kapaknya pada pemuda tersebut.


Viecion yang nampak terkejut dengan serangan Gwell tersebut, terlihat melepaskan pegangannya pada Heinz. Hal tersebut langsung dimanfaatkan oleh Gwell, dengan langsung mengambil Heinz dan melompat ke belakang menjaga jaraknya dengan Viecion.


Tak sampai disitu, Derts pun terlihat mengayunkan kapaknya ke Viecion, yang membuat pemuda tersebut langsung melompat ke belakang menghindari ayunan kapak Derts itu.


Para bawahan dari Viecion yang melihat hal tersebut, sontak langsung mengeluarkan senjata mereka untuk bersiap menyerang Gwell dan Derts.


“Tunggu… biar aku yang tangani saja.” Namun, Viecion sontak menghentikan hal tersebut.


“Kalau begitu waktunya aku untuk serius sekarang,” kata Viecion.


Pemuda itu pun terlihat kemudian mulai berkonsentrasi. Nampak pancaran aura berwarna hitam keluar dari tubuhnya serta kedua tangannya kini tampak mengeluarkan kobaran api berwarna hitam.


“Api hitam?” Kata Derts, terkejut melihat kekuatan dari Viecion.


Dalam sekejap mata Viecion pun langsung maju ke hadapan Derts dan melayangkan pukulannya.


Hal tersebut sontak membuat Derts terkejut, hingga membuatnya tidak sempat untuk menangkis serangan dari Viecion itu.


Namun, dengan sigap Gwell langsung berada di depan Derts untuk menahan serangan dari prajurit Pavonas tersebut.


Tetapi, hal itu percuma saja, dikarenakan tekanan kekuatan yang cukup kuat dari Viecion hingga membuat Gwell dan Derts pun terhempas.


“Ibu…! Kakak…!” Teriak Bohrneer, berlari mendekati Derts dan Gwell, bersama dengan Heinz.


Masih tidak menyerah Gwell serta Derts pun kembali berdiri dan dengan cepatnya maju mendekati Viecion untuk menyerangnya kembali.


“Fire projection… Fire Burst…” Derts serta Gwell secara bersamaan melancarkan serangan proyeksi elemen api mereka ke arah Viecion.


“Tekhnika ekzortsista... Dark hound flame…” Begitu juga dengan Viecion, pemuda tersebut nampak melancarkan serangan proyeksi elemen api hitam.


Namun, dikarenakan serangan proyeksi elemen api dari Viecion nampak lebih kuat, sehingga membuat serangan Derts dan Gwell pun seketika lenyap.


Melihat serangan proyeksi api hitam dari Viecion itu mengarah kepada mereka, dengan cepat Derts langsung menghalanginya dengan tubuhnya.


“Akh…!” Teriak Derts, jatuh tersungkur ke tanah.


“Derts…! Derts…!” Teriak Gwell, melihat anaknya tersungkur ke tanah.


“Ibu… Apa aku akan mati disini?” Tanya Derts, nampak sekarat setelah menerima serangan dari Viecion.


“Tidak... Jangan berkata seperti itu.”


“Bohrneer… Heinz… cepat kemari…” Kata Derts, memanggil mereka.


“Ibu kau juga harus pergi dari sini.”


“Tidak… Ibu tidak akan meninggalkanmu sendirian,” kata Gwell, nampak sedih dengan keadaan anaknya tersebut.


“Heinz… Bohrneer… Ambil kapak ini masing-masing dan pergi dari sini.”


“Tidak… aku tidak mau…” Bohrneer sontak langsung menolak permintaan ibunya tersebut.


“Dengar… Kau dan Heinz harus hidup untuk membalaskan dendam kita nanti.” Namun, Gwell pun sontak langsung meyakinkan Bohrneer untuk pergi meninggalkannya.


“Urgh… Heinz, pegang kapak ini… Ayo kita pergi…” Kata Bohrneer, menyerahkan salah satu kapak ke Heinz.


Kemudian Bohrneer pun mengambil kapak yang satunya lagi, yang sebelumnya dipegang oleh Derts. Dia pun langsung menarik Heinz sekuat-kuatnya menjauh dari tempat tersebut.


Melihat hal tersebut, para prajurit Pavonas langsung mengejar kedua anak tersebut. Namun, sebelum mereka sempat melewati Gwell dan Derts, Gwell pun langsung mengeluarkan serangan apinya untuk menghalangi mereka.


Bohrneer dan Heinz pun kabur dengan menghanyutkan diri ke sungai.


Namun, saat menghanyutkan diri di sungai, Bohrneer pun sempat melihat ibu serta kakaknya dengan sekejap dihabisi oleh Viecion.


“Tidaak…!” Teriak Bohrneer.