The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 154 - Raquille bertemu dengan Erissa



“Walaupun begitu, tapi aku tidak mau mengakui hal itu sepenuhnya… Karena aku menjadi World Venerate dengan usahaku sendiri tanpa bantuan dari kekuatan yang diberikan makhluk suci kepadaku,” jawab Aguirre, menyela pertanyaan dari perempuan Fairyman itu.


“Baiklah, terserah padamu saja…” Erissa tiba-tiba memunculkan sebuah tongkat berukuran pendek kemudian meluncur ke arah Aguirre dengan cepatnya.


Melihat hal tersebut, Aguirre dengan sigap memasang kuda-kuda hendak melancarkan serangan proyeksi energi merahnya.


Ketika serangan Aguirre telah dilancarkan, Erissa pun mengacungkan tongkatnya hingga membuat serangan proyeksi dari pria Elfman itu tertahan.


Karena saking kuatnya tekanan dari serangan proyeksi tersebut, membuat Erissa seketika terhempas, namun Fairyman perempuan itu langsung mengibaskan tongkatnya hingga sebuah penghalang pun tercipta, dalam sekejap mengurung Aguirre di dalamnya.


“Setidaknya aku hanya bisa melakukan satu cara ini untuk bisa menahan pergerakanmu,” ucap Erissa.


“Sial…” Umpat Aguirre, tidak menyangka bahwa rencana Erissa sebenarnya adalah untuk mengurungnya.


Erissa bersama dengan tiga Continent Venerate, yaitu Tianhui, Ashur dan Kemala kemudian pergi meninggalkan Aguirre di tempat itu untuk melawan Venerate yang lain.


***


“Tekhnika ekzortsista… Evil exterminator light…”


“Feuerzauber…”


Di sisi lain, terlihat pertarungan antara dua World Venerate kubuh barat dan Pavonas, yang tidak lain merupakan Hefaistos dan Ienin. Kedua orang itu dengan sengitnya bertarung dengan secara bergantian serta secara bersamaan melancarkan serangan proyeksi dalam skala besar hingga bangunan-bangunan disekitar mereka pun hancur berkeping-keping akibat menerima efek ledakan yang besar serta sebuah hempasan angin yang kuat.


“Hei, berhenti melancarkan serangan itu… Aku bukan makhluk astral yang biasa kalian usir,” ucap Hefaistos, berkomentar sembari saling menyerang satu sama lain.


“Kalau begitu kau tidak perlu takut dengan dampak seranganku,” balas Ienin.


***


Tak jauh dari tempat itu, terlihat Alyara yang telah memakai kembali perhiasan-perhiasan yang mampu menonaktifkan kekuatan dari mata makhluk sucinya, tampak melawan Anatoliv beserta Venerate yang bernama Sciath.


Walaupun tidak menggunakan kekuatan pamungkasnya tersebut, putri dari negeri Morseli itu dengan mudah bisa mengimbangi kekuatan dari dua Continent Venerate Pavonas itu.


“Tekhnika ekzortsista…” Alyara dan Anatoliv secara bersamaan melancarkan serangan proyeksi cahaya.


“Akh!” Walaupun kedua serangan tersebut mirip, namun Alyara dengan mudah dapat mengungguli serangan dari Anatoliv hingga membuat perempuan Pavonas itu seketika terhempas.


“Lassair ghorm… Unbearable heat…” Selanjutnya, Sciath muncul di depan Alyara dan langsung melancarkan serangan proyeksi elemen api berwarna biru.


“Tekhnika ekzortsista… Exterminator barrier…” Dengan sigap, Alyara langsung menciptakan sebuah perisai dari proyeksi kekuatannya.


“Akh…” Dalam sekejap Alyara meluncurkan perisai proyek energinya ke arah Sciath, hingga pria itu langsung terhempas di dekat Anatoliv.


Masih belum puas, Alyara menciptakan sebuah kobaran api berbentuk makhluk raksasa, yang nampak melayang diatasnya.


“Tekhnika ekzortsista… Flame soul exterminator…” Dengan cepat kobaran api berbentuk sebuah raksasa tersebut meluncur ke arah Sciath dan Anatoliv.


Sciath dengan sigap memunculkan sebuah perisai yang merupakan senjata sucinya, kemudian mengaktifkan kekuatan dari perisai itu hingga menciptakan sebuah perisai proyeksi yang luas untuk menahan serangan yang dilancarkan oleh Alyara.


“Urgh…!” Dengan sekuat tenaga Sciath menahan serangan kobaran api tersebut yang memiliki tekanan kekuatan yang besar.


“Hei, cepat menghindar dari sini.” Karena merasa tidak akan kuat menahan serangan dari Alyara tersebut, Sciath lantas memerintahkan Anatoliv untuk pergi, sembari dirinya berkorban menerima serangan tersebut.


“Tapi, bagaimana denganmu?” Tanya Anatoliv, tidak rela meninggalkan pria itu menahan serangan dari Alyara sendiri.


“Sudah… Cepat lari saja dari sini,” ucap Sciath dengan nada suara tinggi, memaksa perempuan itu.


Tidak punya pilihan lain, Anatoliv sontak pergi untuk menghindar dari serangan milik Alyara.


“Uakh…!” Tak lama setelah itu perisai proyeksi dari Sciath seketika hancur, hingga membuat pria itu menerima serangan kobaran api tersebut.


Sciath dalam sekejap terhempas menabrak sebuah bangunan dengan keras hingga hancur dan seketika tak sadarkan diri.


Anatoliv hanya bisa pasrah dengan keadaannya yang lemah, percuma saja dia sebelumnya menghindar karena menandingi ataupun melawan putri Morseli itu.


Akan tetapi, anehnya Alyara tiba-tiba pergi membiarkan perempuan Pavonas itu tanpa mengalahkannya.


***


Di sisi lain, tampak Gahaelix telah selesai dengan pertarungannya melawan karena Venerate Pavonas bernama Jack kini telah tak sadarkan diri di depan pria itu.


Gahaelix pun pergi meninggalkan Venerate tersebut untuk berhadapan dengan Venerate Pavonas yang lain.


***


Kembali pada Raquille dan Phyton, dimana mereka kini ditemui oleh Erissa beserta tiga Continent Venerate yang datang bersama perempuan itu.


“Erissa…” Ucap Raquille, terkejut bisa melihat kembali perempuan tersebut setelah kejadian sepuluh tahun silam, walaupun baginya baru terasa sekitar sebulan yang lalu kejadian tersebut dirasakannya.


“Lama tidak berjumpa Raquille,” ucap Erissa, tidak menyangka bahwa Raquille tidak terlihat berubah bahkan pakaian yang dipakai oleh pemuda Elfman itu masih sama seperti sepuluh tahun silam.


“Setelah kejadian itu, ternyata kau masih saja berani menampakan wajahmu,” ucap Erissa.


Mendengar hal tersebut, Raquille sontak membuang wajahnya dan tidak mau merespon ucapan dari Erissa.


“Kemana kau selama ini? Apakah kau bersembunyi karena menyesal telah melakukan hal tersebut?” Tanya Erissa sambil perlahan-lahan mendekati pemuda Elfman itu.


“Tatap wajahku… Apakah kau tidak memiliki keberanian untuk melakukannya?”


“Jawab aku, dimana Aloof berada?” Tanya Erissa, sambil mencengkram kerah pemuda Elfman itu.


“Aku tidak tahu dia berada dimana?” Raquille pun menjawab tanpa menatap wajah perempuan itu.


Mendengar jawaban tersebut, Erissa pun menjadi kesal dan langsung memukul Raquille sampai terjatuh.


“Berhenti berpura-pura, kau dan Aloof sama-sama masuk ke dalam lubang dimensi itu,” ucap Erissa.


Akan tetapi, Raquille tetap diam karena terlalu merasa bersalah dan tidak mengetahui keberadaan dari orang yang dibicarakan oleh Erissa.


Saking kesalnya melihat pemuda Elfman itu tetap diam, Erissa dalam sekejap memuncul sebuah akar pohon yang tajam kemudian melapisinya dengan proyeksi energi miliknya hendak menyerang pemuda Elfman itu.


Namun, tiba-tiba hal tersebut dihentikan oleh Phyton yang langsung menepis akar pohon yang tajam tersebut dari Erissa.


“Mohon maaf nona Fairyman jika aku ikut campur… Tapi, aku tidak membiarkanmu menyerangnya,” ucap Phyton.


“Phyton… Asal kau tahu, akibat perbuatan Elfman inilah kedua orangtuamu berpisah karena tidak memiliki tempat untuk bersembunyi lagi,” balas Erissa.


“Walaupun begitu, tapi dia tetap adalah keluargaku… Aku tidak akan membiarkanmu menyerangnya.”


Mendengar pernyataan dari pemuda itu, Erissa seketika langsung melancarkan sebuah serangan elemen air bertekanan tinggi hingga membuat Phyton pun terhempas.


Saat pemuda itu akan berdiri kembali untuk menahan Erissa, tiba-tiba Tianhui, Ashur dan Kemala langsung menghalanginya.


Phyton pun tidak bisa melakukan apa-apa, kecuali harus melawan tiga Venerate terlebih dahulu.


***


Di tempat lain, tampak Aguirre masih berusaha untuk keluar dari dalam penghalang yang diciptakan oleh Erissa.


Berulang kali pria Elfman itu melancarkan serangan proyeksi energi merahnya, namun hal tersebut tidak membuahkan hasil.


Tidak mempunyai pilihan, pria Elfman itu lantas memunculkan kembali pedangnya kemudian berkonsentrasi untuk mengaktifkan kekuatan pelepasan keduanya.