The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 254 - Tidak rela kehilangan



Mendengar permintaan dari pemimpin negeri Fuegonia itu, Reminel pun langsung memberikannya belati yang diminta, kemudian memberikan batu asah kepada Magelline untuk dipegang oleh perempuan itu.


“Baiklah… Untuk dua harta karun lain sedang dipegang oleh salah satu Venerate kami bernama Arn, karena dengan menggunakan baju zirah serta jubah harta karun tersebut, dia mampu meningkatkan kekuatan pertahanannya…” Ucap Raquille.


“Kita akan berusaha mengambil kelima harta karun lain yang kemungkinan memang sudah berada di tangan para Venerate Ierua…” Lanjut pemuda Elfman itu berkata.


“Setidaknya ada beberapa dari harta karun itu yang memiliki kemampuan yang mungkin akan dibutuhkan oleh kita… Jika kalian ingin menggunakannya, setidaklah pakai benda itu disaat yang genting, karena kalian menunjukannya kepada para Venerate Ierua, termasuk raja dan perdana menteri itu, mereka pasti akan langsung mengincarnya,” sambung Harmae memberi saran kepada para Venerate yang satu per satu memegang harta karun terebut.


***


Sementara para Venerate tingkat atas kubuh barat sedang merencanakan sesuatu, di tempat lain terlihat pasukan Ierua yang sebeumnya ditangkap, termasuk Aisling dan Hazelise.


“Kakak… Kupikir setelah kau akur kembali dengan Cyffredinol, mantan pasanganmu, kau akhirnya akan dibebaskan oleh mereka… Tapi, kenapa kau masih bergabung dengan kami menjadi tawanan mereka?” Ucap Hazelise, nampak merasa bingung melihat Aisling masih tetap mengenakan gelang kekangan surgawi, serta tetap bergabung bersama dengan mereka sebagai tawanan kubuh barat.


“Sebenarnya Cyffredinol, Phyton, maupun Raquille ingin membebaskanku, namun karena aku menolaknya, maka mereka pun tetap tidak melepaskan gelang ini… Lagipula percuma saja jika aku terbebas, namun kalian tidak…” Jawab Aisling, menjelaskannya kepada Hazelise.


“Haah… Ternyata kau juga masih memikirkan nasib kami yah…”


***


Berpindah pada Arn dan kedua saudaranya Anhilde serta Asulf, yang kini sedang bersama dengan para Venerate Pavonas.


“Apa kalian tahu? Yang mulia Harmae sebelumnya datang dan langsung mengatakan bahwa sebuah fakta bahwa kakak Raquille ataupun para Elfman World Venerate seperti ratu Lorainne yang sebenarnya harus menggabungkan kekuatan dari ketiga belas harta karun untuk mengakses dimensi para dewa Friedenic…” Ucap Asulf, menjelaskannya kepada semua orang.


“Namun, bukankah ratu Harmae mengatakan bahwa mengakses dimensi itu akan menyebabkan sebuah bencana…” Sambung Anhilde.


“Iya… Maka dari itu, kakak berencana untuk membatalkan keinginannya itu, setelah mendengar penjelasan dari ratu Harmae,” balas Asulf.


Mendengar hal tersebut, Arn pun lantas terkejut karena tidak mengetahui bahwa Raquille ingin membatalkan hal tersebut.


Disaat yang bersamaan, Arn pun merasa bahwa hal tersebut merupakan kesempatannya untuk menggunakan ketiga belas harta karun tersebut, mengganti Raquille untuk membuat sebuah permohonan.


Karena merasa memiliki kesempatan, Arn pun langsung beranjak dari tempat tersebut untuk menemui Raquille.


“Arn… Mau kemana?” Panggil Asulf, namun saudara kembarnya tersebut telah jauh beranjak dari tempat tersebut.


***


Beberapa saat kemudian, Arn sampai di tempat para Venerate tingkat atas, dan menemukan bahwa perbincangan mereka telah selesai.


Arn pun lantas menemui Raquille yang sedang bersama dengan Hyphilia, Cyffredinol, serta Phyton.


“Kakak… Ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” ucap Arn kepada Raquille.


“Apa itu Arn?” Tanya Raquille, penasaran.


“Tapi, aku ingin membicarakan hal ini hanya denganmu saja…”


Mendengar hal tersebut, Raquille pun langsung menatap Cyffredinol dan Phyton, memberikan isyarat agar mereka meninggalkannya bersama dengan pria itu.


“Baiklah… Ayo Phyton, lebih baik kita temui ibu dulu,” ucap Cyffredinol, mengajak Phyton beranjak dari tempat itu.


“Kakak… Aku ingin berbicara dengan kakak Raquille,” ucap Arn, meminta agar Hyphilia meninggalkan mereka untuk berbicara.


“Baik… Aku mengerti…” Hyphilia pun lantas pergi beranjak untuk membiarkan Arn berbicara dengan Raquille.


“Kalau begitu, apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Raquille kembali.


“Mengenai ketiga belas harta karun itu, apakah kau ingin membatalkannya untuk meminta sebuah permohonan?” Tanya balik Arn.


“Iya… Aku akan membatalkannya, karena hal itu kemungkinan merupakan sebuah tipuan… Aku ragu jika hal itu akan merugikan kita nantinya,” jawab Raquille.


“Tapi kakak, bukankah kita sudah berjuang untuk mendapatkannya, sedikit lagi kita pasti akan bisa mengumpulkan ketiga belas harta karun itu…”


“Aku mengerti… Namun, jika apa yang dikatakan ratu Harmae benar… Aku takut akan membuat kalian semua terkena dampaknya.”


Mendengar hal tersebut, Arn pun lantas terdiam karena tidak tahu lagi harus mengatakan apa untuk membujuk Raquille melakukan hal tersebut.


“Tunggu dulu Arn… Apa mungkin kau ingin meminta sebuah permohonan?” Disaat yang bersamaan, Raquille pun langsung mengetahui bahwa apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Arn, adalah menginginkan sebuah permohonan dari kekuatan ketiga belas harta karun tersebut.


“Tentu saja… Karena sebenarnya aku juga menginginkan hal tersebut… Ketika kau ingin membatalkannya, disitulah aku memiliki harapan untuk mengantikanmu.”


“Jangan bilang kau ingin membuat sebuah permohonan untuk menghidupkan Freynile kembali?”


“Arn… Aku mohon padamu, hal itu sudah lama terjadi… Kau jangan menyalahkan dirimu lagi tentang kejadian waktu itu,” ucap Raquille, meyakinkan pria itu agar tidak menyalahkan dirinya sendiri.


“Aku tidak rela kehilangan Freynile! Selama ini aku tidak bisa melupakan apa yang terjadi kepadanya!” Balas Arn, tiba-tiba berkata dengan nada tinggi kepada Raquille.


“Apa yang sebenarnya terjadi denganmu Arn?” Mendengar hal tersebut, Raquille pun lantas terkejut.


“Orang sepertimu yang tidak pernah merasakan cinta tidak akan tahu, bagaimana aku sangat tersiksa ketika melihat orang yang kucintai mati dihadapanku sendiri…”


“Dengarkan aku Raquille… Jika kau memang menganggap aku sebagai saudaramu, maka tolonglah bantu aku mengembalikan orang yang kucintai,” ucap Arn sambil mencengkram kerah baju Raquille.


“Jika kau sangat mencintainya, maka kau sebenarnya harus merelakan Freynile tenang disana… Kau juga harus tahu bahwa Freynile sebenarnya masih hidup di dalam hatimu.”


“Omong kosong macam apa itu?” Arn pun menjadi kesal ketika mendengar penjelasan dari Raquille, yang membuatnya langsung mengangkat salah satu tangannya, hendak memukul pemuda Elfman itu.


Akan tetapi, Arn tiba-tiba mengurungkan niatnya ketika mendengar sebuah suara tembakan dari arah depan.


Ketika mereka berdua menoleh, Raquille dan Arn pun lantas terkejut melihat armada pesawat tempur negeri Ierua menyerang pasukan Brizora yang berada di bawah.


“Sepertinya mereka masih ingin bersikeras untuk mengempulkan harta karun itu…” Ucap Raquille.


“Kita lanjutkan pembicaraan kita nanti… Karena mengurus pasukan musuh itu merupakan hal yang lebih penting sekarang.”


Raquille pun langsung menepis tangan Arn dari kerah bajunya, dan kemudian langsung beranjak dari tempat itu untuk menyerang armada pesawat Ierua yang datang.


Ketika Raquille meninggalkannya, Arn pun kembali merasa kesal sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat.