The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 172 - Menuju ke pulau Whiteland



“Dasar kau…” Karena kesal dengan kelakuan Raquille, Hyphilia langsung mengangkat tangannya, ingin sekali hendak menampar pemuda Elfman itu.


“Tunggu kakak… Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu… Hanya saja aku tidak harus berbicara apa denganmu…” Ucap Raquille, memohon sambil menahan tangan Hyphilia.


Mendengar permohonan dari Raquille, Hyphilia pun langsung mengurungkan niatnya, walaupun sebenarnya masih merasa kesal.


Kini Raquille pun yang merasa canggung karena tidak tahu harus melakukan apa demi meredakan kekesalan perempuan itu.


Hyphilia kemudian melihat Raquille dan tiba-tiba memikirkan sesuatu yang terlintas di pikirannya tentang pemuda Elfman tersebut.


“Apa kau masih menyukai Erissa?” Tanya Hyphilia, yang mengenal Erissa juga.


Mendengar hal tersebut, Raquille pun lantas terkejut, tidak menyangka bahwa Elfman perempuan itu akan membahas tentang Erissa.


“Entahlah… Aku juga tidak paham apakah perasaanku pada perempuan itu sudah hilang atau tidak,” jawab Raquille.


“Apa mungkin Erissa masih mengharapkan Aloof?” Tanya Hyphilia lagi.


“Tentu saja… Hanya Aloof orang yang benar-benar dicintai oleh perempuan itu…”


Setelah mengatakan hal tersebut, Raquille pun langsung menunjukan ekspresi yang murung di wajahnya.


“Raquille… Jika kau memang menyukai Erissa lebih baik kau katakan kepadanya… Jangan pedulikan urusan siapa yang disukai oleh perempuan itu,” ucap Hyphilia.


Raquille pun hanya bisa terdiam merenung apa yang dikatakan oleh Hyphilia. Dia tidak bisa merespon ucapan dari Elfman perempuan karena merasa dilema apakah dia harus melakukannya atau tidak.


“Tapi, bagaimana denganmu kakak?” Ucap Raquille, tiba-tiba bertanya kepada Hyphilia.


“Apa maksudmu?” Tanya balik Hyphilia, karena belum mengerti maksud pertanyaan dari pemuda Elfman itu.


“Kau mengatakan bahwa sebelumnya hubunganmu dengan Aguirre sudah berakhir… Tapi, aku tahu kau tidak bisa berbohong bahwa kau sebenarnya masih memiliki perasaan kepadanya,” jawab Raquille.


Mendengar hal tersebut, Hyphilia lantas terkejut hingga membuat wajahnya tiba-tiba memerah, yang langsung menandakan bahwa pernyataan dari Raquille benar adanya.


“Hahaha… Sekarang kau malah tersipu malu, berarti apa yang kukatakan itu benar kan cantik?” Ucap Raquille, sedikit menggoda Hyphilia sambil sekali mencolek dagu perempuan itu menggunakan jarinya.


“Dasar bocah… Kau selalu membuatku malu saja…” Merasa kesal dengan tindakan Raquille yang terus membuatnya tersipu malu, Hyphilia pun merasa dan langsung berdiri dari tempat duduk.


“Tunggu dulu cantik, aku tidak bisa membiarkanmu memukul wajah tampanku…” Ucap Raquille sambil menahan kedua tangan Hyphilia.


“Itu bukan wajah tampan, tapi cantik bodoh…” Balas Hyphilia, mengungkit tentang wajah Raquille yang lebih pantas dikatakan cantik dibandingkan tampan.


Hyphilia terus meronta mencoba melepaskan kedua tangannya yang digenggam erat oleh Raquille, hingga membuat kedua Elfman itu terbawa masuk ke dalam sebuah ruangan.


Karena terus mencoba melepaskan tangannya, Hyphilia tiba-tiba kehilangan keseimbangan hingga membuat jatuh tersungkur bersama Raquille.


“Hyphilia… Aku rasa ini momen yang tepat…” Dalam keadaan seperti itu, Raquille yang berada di atas Hyphilia, tetap mencoba menggoda Elfman perempuan itu tanpa merasa canggung dengan keadaan mereka.


“Maaf tuan muda… Tuan putri… Aku datang untuk membawakan… Eh…” Tiba-tiba seorang pelayan yang masuk ke ruangan tersebut untuk membawakan makanan, lantas terkejut melihat Hyphilia tersungkur di lantai, dimana Raquille berada di atas perempuan itu.


“Maafkan aku… Sepertinya ini bukan waktu yang tepat…” Merasa canggung melihat momen dari kedua Elfman tersebut, pelayan itu lantas pergi meninggalkan ruangan tersebut.


–22 Juli 3029–


Keesokan harinya, Raquille dan Hyphilia akhirnya akan segera berangkat ke pulau Whiteland.


Di depan kastil kota Nuku, terlihat Lorainne, Rauvaen serta Ackerlind untuk melihat keberangkatan dari dua Elfman tersebut.


“Apa kalian yakin tidak akan membawa Venerate yang lain?” Tanya Lorainne.


“Tenang saja ibu, aku setidaknya setara dengan jutaan prajurit Tribe Venerate,” jawab Raquille dengan percaya diri, bahwa dirinya tidak memerlukan pasukan untuk berangkat bersamanya.


“Ditambah dengan perempuan cantik ini, kita bahkan sudah bisa membuatmu percaya bahwa aku mampu mengusir orang-orang Ierua yang menduduki wilayah Whiteland,” lanjut Raquille menjelaskan kepada ibunya.


Lorainne pun hanya bisa tersenyum mendengar ucapan serta penjelasan dari putra bungsunya tersebut, dimana dia mampu mengalahkan pasukan Ierua yang menginvasi wilayah Whiteland walaupun hanya dirinya dan bersama dengan Hyphilia.


“Ayah aku pergi dulu…” Kemudian Hyphilia memeluk Ruvaen, ayahnya untuk berpamitan.


“Tenang saja paman, sambari mengurus para Venerate Ierua itu, aku tetap tidak akan melepas pandanganku kepada kakak Hyphilia.” Raquille pun lantas mengatakan sebuah janji kepada Ruvaen untuk terus menjadi Hyphilia selama perjalanan mereka ke wilayah Whiteland.


“Oh adik, ternyata kau bisa diandalkan juga… Apa mungkin kau sudah menganggap Hyphilia sebagai perempuan?” Mendengar ucapan Raquille, Ackerlind lantas langsung sedikit mengejek Raquille, hingga membuat pemuda Elfman itu sejenak tersipu malu.


“Diam kau perawan kepala empat, apa kau merasa iri jika aku mengatakan bahwa itu benar?” Akan tetapi Raquille tidak mau kalah dan sontak membalas ejekan dari Ackerlind, hingga membuat kakak perempuannya itu bereaksi menjadi kesal.


“Apa kau bilang bocah pendek?” Ucap Ackerlind, nampak kesal mendengar kata dari Raquille.


“Padahal kau sangat cantik, tapi karena tubuh tinggimu banyak pria yang merasa ilfil untuk menyukaimu hingga membuat mereka pergi menjauh,” lanjut Raquille, masih tetap mengejek kakak perempuannya tersebut.


“Apa kau bilang…? Kemari kau akan kuberikan pelajaran untukmu.”


Saking kesalnya, Ackerlind pun hendak mencoba untuk memukul adik bungsunya tersebut, namun hal tersebut langsung dihalangi oleh Lorainne dan Ruvaen.


“Cepat pergi…” Ucap Lorainne, menyuruh Raquille dan Hyphilia pergi sembari dia dan Ruvaen menahan Ackerlind.


“Kami pergi dulu ibu… Paman…”


Setelah Raquille berpamitan kepada Lorainne dan Ruvaen, pemuda Elfman itu bersama dengan Hyphilia pun terbang ke langit dengan kecepatan penuh menuju ke pulau Whiteland.


***


Lebih dari satu jam Raquille bersama Hyphilia terbang dari ibukota negeri Blueland, mereka pun akhirnya sampai di kota Keyvarjik, yang merupakan kota terbesar di pulau Whiteland.


Wilayah Whiteland sendiri merupakan wilayah dari negeri Blueland yang berada di benua Greune, dimana penduduknya yang mendiami wilayah ini bukanlah para ras Elfman, melainkan manusia murni yang berasal dari bangsa Friedenic, salah satu bangsa terbesar di benua Greune itu sendiri.


Raquille dan Hyphilia mendarat di depan sebuah kastil yang merupakan tempat dari pemimpin wilayah tersebut berada.


Tak berapa lama setelahnya, tiba-tiba seorang pria datang menghampiri Raquille dan Hyphilia sambil membawa sebuah tombak ditangannya.


“Berani sekali kau datang kemari, Raquille…” Ucap pria itu, memperlihatkan ekspresi serius, serta merasa kurang senang dengan kedatangan dari dua Elfman tersebut.


“Kau Arn kan,” ucap Raquille, mengenal pria itu dan langsung memanggil namanya.