The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 23 - Hilang kendali



Malam harinya nampak turnamen hari kedua akan segera dimulai. Terlihat orang-orang telah memenuhi kursi penonton yang berada di arena tersebut. Terlihat juga beberapa peserta turnamen sudah berada di tribun mereka.


Lalu para anggota tim Fuegonia B memasuki tribun tersebut bergabung bersama dengan peserta lainnya.


“Orang itu kan…? Sial… Aku ingat sekarang. Ternyata dia adalah Elfman dari tim Fuegonia itu.” Urano nampak terkejut melihat Raquille datang bersama dengan anggota tim Fuegonia B lainnya.


Pria itu sontak mengingat kejadian tadi pagi, dimana dia saat itu dipermalukan oleh pemuda tersebut.


“Benar sekali… Aku juga tidak menyadari bahwa dia juga adalah peserta turnamen ini sejak hari pertama,” kata Venere yang juga terkejut melihat Raquille.


**


“Jadi orang-orang itu adalah para peserta juga yah…?” Kata Raquille melihat Saturno, Urano serta Venere diantara tim Cielas.


“Mereka adalah anggota tim dari negeri Cielas. Memangnya ada apa?” Kata Drakon, lalu balik bertanya pada Raquille.


“Tidak… Hanya saja pagi hari tadi aku bertemu dengan mereka di sebuah kedai,” jawab Raquille.


“Kau bertemu dengan mereka?”


“Iya… Kami hanya sedikit saling menyapa saja,” kata Raquille dengan tersenyum.


“Hei… Apa mungkin kau mencari masalah dengan mereka?” Terlihat Drakon merasa curiga dengan yang dikatakan oleh pemuda tersebut.


“Hahaha… Tenang saja tuan prajurit, aku tidak apa-apa?” Nampak Raquille tidak menjawab pertanyaan Drakon dan malah memberikan alasan yang lain.


“Jawab pertanyaanku bodoh,” kata Drakon dengan nada tinggi.


Terlihat Raquille hanya merespon perkataan Drakon selanjutnya dengan hanya menepuk-nepuk bagian belakang pria itu.


**


Lalu pembawa acara turnamen tersebut nampak memasuki tengah arena untuk membuka turnamen hari kedua tersebut.


“Selamat malam hadirin sekalian… Aku tahu kalian sudah tidak sabar mengunggu pertandingan dalam turnamen ini dimulai.”


“Baiklah… Langsung saja kita lanjutkan pertandingan yang sempat ditunda kemarin hari.”


“Bagi anggota tim yang namanya tertera di layar dimohon untuk segera bersiap ke tengah arena.”


Setelah pembawa acara itu mengatakan hal tersebut, layar langsung mengacak nama para peserta yang akan saling berhadapan. Beberapa saat kemudian, terlihat nama-nama petarung yang akan saling berhadapan di layar.


Lightio, Dimira Magchora, 27 tahun, 173 cm, Human, Regional Venerate.


Machora Tira, Morn Yarbil, 30 tahun, 190 cm, Orcman, Regional Venerate.


Mormist, Sereia Dolliford, 30 tahun, 165 cm, Mermaidman, Regional Venerate.


Neodela, Novus Shores, 23 tahun, 181 cm, Beastman, Regional Venerate.


Cielas, Vaena Calinarys, 19 tahun, 163 cm, Human, Regional Venerate.


Setelah kelima petarung melihat nama mereka terterah layar, mereka mulai bersiap dan kemudian menuju ke tengah arena.


**


Terlhat wasit telah berada di tengah arena tersebut untuk memulai pertandingannya.


“Baiklah, bersiap… Mulai…!” Kata wasit, memulai pertandingan.


Sontak saja setelah wasit memulai pertandingan kelima petarung tersebut langsung saling menyerang satu sama lain.


Terlihat Dimira, Novus serta Vaena yang saling berhadapan, langsung mengaktifkan kekuatan mereka masing-masing, yang mirip dengan kekuatan dari petarung-petarung pada pertandingan sebelumnya.


Sarung tangan besi dari Dimira terlihat memancarkan proyeksi energi berwarna emas. Begitu juga dengan Vaena terlihat mengeluarkan proyeksi energi berwarna biru dari pedangnya, yang kemudian proyeksi energi tersebut melapisi tubuhnya menjadi sebuah zirah. Novus pun juga nampak berubah ke bentuk Beastmannya yang berwujud manusia setengah kuda.


Nampak pergerakkan Novus serta Vaena menjadi lebih cepat karena telah mengaktifkan kekuatan mereka. Mereka pun sama-sama mengincar Dimira untuk menyerangnya.


Dimira yang melihat kedua petarung tersebut datang mengincarnya sontak langsung meningkatkan fokusnya. Saat kedua petarung itu hampir saja akan menyerangnya, Dimira pun langsung memukul ke arah bawah untuk menciptakan gelombang yang kuat disekelilingnya dan berhasil membuat Novus dan Vaena terhempas.


Namun, walaupun sempat terhempas mereka berdua masih dapat bertahan dan kembali berlari dengan cepatnya ke arah Dimira untuk menyerangnya lagi.


Melihat kedua petarung tersebut menyerang secara bersamaan, Dimira pun langsung menangkis serangan dari kedua petarung itu. Namun, karena tekanan kekuatan dari mereka berdua terlalu kuat sehingga membuat wanita Lightio itu pun seketika terhempas.


“Menarik sekali… Kalau begitu aku juga akan serius kali ini.”


Setelah terhempas oleh kedua serangan tadi, Dimira pun terlihat langsung kembali berdiri. Wanita itu kemudian mengeluarkan kembali proyeksi energinya dan membentuknya menjadi sebuah tombak kapak.


**


“Waah… Ternyata proyeksi energi itu bisa membentuk sebuah senjata yah...?” Kata Raquille melihat Dimira melakukan hal tersebut.


“Hei tuan prajurit… Apakah kau juga bisa melakukannya?” Lanjutnya bertanya pada Drakon.


“Iya… Aku juga bisa melakukannya. Energi berwarna emas itu adalah kekuatan utama dari clan kami,” kata Drakon.


**


“Baiklah kalian berdua… Ayo maju dan serang aku secara bersamaan,” kata Dimira menantang Novus dan Vaena sekaligus.


Tanpa pikir panjang kedua orang itu pun sontak secara bersamaan maju menyerang wanita itu. Tetapi, walaupun mereka keduanya sudah menyerangnya secara bersamaan, Dimira terlihat mampu menahan serangan mereka dan dapat melancarkan serangan balik. Dimira pun terlihat mengayunkan tombak kapak proyeksi energinya tersebut pada Novus, sehingga membuatnya langsung terhempas.


Melihat Beastman tersebut terhempas oleh serangan Dimira, tiba-tiba Vaena langsung melompat ke atas.


“Calinarys aura… Heavy slash…” Kata Vaena yang kemudian melancarkan serangan tebasan proyeksi energi pada wanita tersebut.


Melihat serangan tersebut, Dimira sontak langsung mengubah senjata proyeksi energinya itu menjadi sebuah perisai menahan serangan dari Vaena.


*


“Eh… Kenapa serangan ini sangat berat sekali?” Kata Dimira dalam hati kesulitan menahan serangan tebasan tersebut.


**


Perisai dari proyeksi energinya tersebut nampak langsung hancur saat menahan serangan tebasan proyeksi Vaena yang terasa berat itu.


Sontak serangan tersebut langsung menghantam Dimira hingga membuatnya jatuh tersungkur di tanah.


Melihat kesempatan tersebut dengan cepat Vaena langsung mengayunkan pedangnya pada wanita yang sedang terkapar itu.


Namun dengan refleksnya, Dimira pun langsung memutar tubuhnya menghindari ayunan pedang tersebut dan berdiri kembali.


“Boleh juga kau petarung Cielas,” kata Dimira terkagum dengan kemampuan dari Vaena.


“Kau kira hanya yang bisa membuat zirah dari kekuatanmu itu,” lanjutnya yang kemudian terlihat berkonsentrasi.


Nampak proyeksi energi berwarna emas kembali keluar dari sarung tangan besinya, yang sontak langsung menyelimuti tubuhnya membentuk sebuah zirah.


Melihat hal tersebut Vaena sontak bersiap untuk menyerang Dimira kembali. Terlihat juga Novus yang kini telah berdiri kembali, datang mendekati Dimira bersiap untuk menyerangnya juga.


**


Di lain sisi terlihat Orcman perempuan bernama Morn serta Mermaidman perempuan bernama Sereia nampak saling berhadapan satu lawan satu.


“Hei Mermaidman… Sejak tadi kita hanya bertarung dengan melancarkan serangan fisik saja… Coba keluarkan kemampuanmu yang sebenarnya,” kata Orcman bernama Morn tersebut.


“Lagipula kau itu tidak akan bertahan lama jika hanya mengandalkan kekuatan fisikmu melawanku,” lanjutnya.


Mendengar hal tersebut, Sereia kemudian langsung mengikuti perkataan dari Orcman perempuan itu dengan mengeluarkan sebuah teknik elemen air lalu membentuknya menjadi berbentuk duri lalu meluncurkannya ke arah Morn.


“Heh… Elemen air… Sungguh membosankan… Apa tidak adakah teknik lain yang dikuasai oleh ras Mermaidman?” Kata Morn yang diam menunggu serangan elemen air dari Sereia mengarah padanya.


Saat serangan elemen air yang meluncur itu hampir mendekati Morn, seketika Orcman perempuan itu langsung menghentikannya, yang sontak membuat Sereia pun terkejut.


Terlihat serangan elemen air itu kemudian membeku menjadi es dan kini telah dikendalikan oleh Morn. Orcman itu pun langsung meluncurkan serangan tersebut ke arah Mermaidman perempuan itu.


Dengan sigap Sereia nampak mengangkat kedua tangannya ke arah serangan tersebut. Tiba-tiba saja serangan elemen es itu seketika lenyap yang membuat Morn serta para penonton pun menjadi keheranan.


**


“Hah…? Bagaimana itu serangan itu bisa lenyap dengan seketika? Kekuatan macam apa yang digunakannya?” Kata Bohrneer bertanya-tanya melihat hal tersebut.


“Tidak… Serangan itu bukanlah lenyap… Melainkan…” Kata Raquille.


**


“Hah…? Apa yang kau lakukan itu…?” Melihat tingkah dari Mermaidman perempuan itu, Morn pun nampak kebingungan.


**


“Dia mengecilkan serangan es tersebut,” kata Raquille.


**


Seketika muncul beberapa bongkahan es yang besar di sekitar Orcman perempuan itu, yang sontak membuatnya langsung terhempas ke atas.


“Argh…!” Teriak Morn.


Dengan sigap Sereia maju mendekati Orcman perempuan itu saat melihatnya kini mulai jatuh ke bawah.


“Mermaid water technique… High pressure shot…” Dan dengan cepat Sereia meluncurkan serangan elemen air secara berturut-turut menghantam tubuh Morn, hingga membuatnya terhempas menabrak dinding arena dan membuatnya seketika mengalami kekalahan.


Setelah mengalahkan Orcman tersebut, tiba-tiba saja Sereia terkejut melihat Novus terhempas dan terkapar di dekatnya.


Mermaidman perempuan itu sontak langsung menatap dua petarung lainnya, yang masih tersisa. Nampak Dimira kini terlihat mencekik Vaena sambil berjalan mendekati Sereia.


Saat melihat perempuan yang dicekiknya tersebut sudah tidak berdaya lagi, Dimira pun sontak langsung melemparnya.


**


“Sial… Kita kalah lagi,” kata Urano melihat kekalahan rekan timnya Vaena oleh Dimira.


Terlihat juga Saturno yang nampak kesal sehingga tidak bisa mengatakan apa-apa saat rekannya tersebut mengalami kekalahan.


**


“Hei… Majulah kau… Kita akhiri pertarungan ini dengan cepat,” kata Dimira menantang Sereia.


“Kau yang kemari...” Balas Sereia balik menantang wanita Lightio itu.


Tanpa berlama lagi, Dimira pun langsung maju untuk menyerang Sereia.


“Mermaid water technique… Bubble prison…” Dengan sigap Sereia langsung menciptakan sebuah gelembung air besar yang sontak membuat Dimira langsung terkurung di dalamnya.


*


“Gelembung air… Sial… Ini teknik dari perempuan itu,” gumam Dimira dalam hati terkurung dalam gelembung air tersebut.


**


Dimira pun terlihat mencoba berenang untuk keluar dari dalam gelembung tersebut. Tetapi, hal itu hanya membuat gelembung air tersebut menjadi lebih besar lagi.


*


“Sialan… Kenapa bisa begini…?” Kata Dimira dalam hati nampak panic melihat gelembung tersebut kini menjadi lebih besar.


**


“Bagaimana pun kau mencoba untuk keluar, gelembung itu tetap akan membesar,” kata Seireia.


“Kalau begitu, mari kita akhiri saja pertarungan ini dengan cepat.”


“Mermaid water technique… High pressure water…”


Sontak gelembung air itu terlihat perlahan-lahan mengecil sehingga hal tersebut membuat Dimira merasakan tekanan yang kuat dari dalam gelembung air itu.


Namun, dengan cepat Dimira meningkatkan kekuatannya, yang langsung membuat gelembung air yang perlahan-lahan mengecil itu langsung pecah oleh tekanan proyeksi energi yang terpancar dari senjata sucinya. Hal itu membuatnya langsung terlepas dari dalam gelembung air tersebut.


Terlihat kini mata Dimira memancarkan cahaya berwarna emas serta mengeluarkan proyeksi energi berwarna emas dari sarung tangan besinya. Proyeksi energi tersebut kemudian kembali membentuk menjadi sebuah tombak kapak.


**


“Dia meningkatkan kekuatannya… Itu akan membuatnya kehilangan kesadaran lagi,” kata Zeidonas.


“Sial kita harus bersiap untuk menghentikannya,” kata Erklis.


**


Melihat Dimira akan segera menyerangnya, Sereia pun sontak melarikan diri untuk menghindari perempuan tersebut.


Namun, hal itu percuma karena Dimira dengan cepat sudah berada di depan Sereia. Perempuan itu sontak menebas Mermaidman tersebut, yang membuatnya langsung terhempas.


“Argh…!” Teriak Sereia


Kemudian Dimira dengan cepat mendekati Sereia dan kembali melancarkan serangan tebasannya secara berulang kali sehingga membuat Mermaidman perempuan terkapar tak berdaya.


**


“Perempuan itu kehilangan kesadarannya seperti waktu itu…” Kata Elford.


“Apakah itu karena energi berwarna emas itu?” Kata Dierill.


**


Dimira yang telah kehilangan kesadarannya akibat meningkatkan kekuatannya, kini mencoba untuk menyerang kembali Sereia, yang sudah tak berdaya tersebut.


**


“Gehanther… Bantu aku untuk menghentikannya,” kata Zeidonas langsung melompat ke tengah arena pertarungan.


Mendengar hal tersebut, pemuda itu pun langsung meluncurkan beberapa belatinya ke arah Dimira.


Melihat belati-belati yang dilemparkan Gerhanther ke arahnya, sontak membuat perempuan itu langsung menepisnya.


Kesempatan tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Zeidonas untuk dapat menyerang Dimira. Zeidonas kemudian langsung menghantam Dimira dengan sarung tangan besinya, yang membuatnya terhempas sampai ke dinding arena.


Nampak mata Dimira, yang sebelumnya memancarkan pancaran cahaya berwarna emas, kini telah kembali normal.


“Zeidonas… Apa yang terjadi padaku…?” Tanya Dimira telah kembali sadar.


“Kau hampir saja membunuh lawanmu... Jika hal itu terjadi maka tim kita akan didiskualifikasi dalam turnamen ini,” jawab Zeidonas.


“Maafkan aku… Karena telah membuat kalian kerepotan,” kata Dimira.


“Sudahlah… Yang penting kali ini tim Lightio yang mendapatkan kemenangan.” Zeidonas kemudian langsung membantu Dimira untuk berdiri kembali.


**


Beberapa saat kemudian, nampak wasit datang ke tengah arena untuk mengumumkan pemenang dalam pertarungan kali ini.


“Pemenang dalam pertarungan ini adalah Dimira Magchora dari tim Lightio.”


Kemudian setelah wasit mengatakan pemenangnya, layar langsung memperlihatkan perolehan poin dari semua tim.


Fuegonia A (6), Asimir (6), Vielass (5), Lightio (5), Fuegonia B (2), Neodela (2), Machora Tira (1), Cielas (1), Mormist (1).


**


“Akhirnya kita mendapatkan poin setelah kekalahan Athira sebelumnya,” kata Erklis.


“Memang benar apa kata Zeidonas… Ini akan menjadi menarik,” kata Gerhanther.


“Gerhanther… Apa yang kau katakan tadi?” Mendengar perkataan dari Gehranther itu, Erklis pun sontak langsung terkejut.


“Apa…? Bukannya ini akan menarik… Jika dibandingkan dengan turnamen sebelumnya, kita selalu mendapatkan kemenangan telak. Kalau dipikir-pikir itu sebenarnya membosankan juga,” kata Gerhanther.


“Jadi kau sekarang sudah sepemikiran dengan Zeidonas?” Namun, Erklis masih tetap saja masih terkejut dengan pernyataan dari pemuda itu.


**


“Haah… Percuma saja kita mengikuti turnamen ini. Lihat itu, bahkan kita hanya mendapatkan poin pengasihan saja,” kata Raquille mengeluh tentang poin yang diperoleh timnya.


“Kau tidak perlu khawatir… Lagipula nantinya jika kau turun untuk bertarung, tim kita tetap akan mendapatkan poin kemenangan… Lagipula juga kau itu kan adalah World Venerate...” Nampak Drakon tidak sadar mengatakan hal tersebut yang sontak langsung didengar oleh Neyndra.


“World Venerate…? Orang ini... Apa maksudmu Drakon…?” Tanya Neyndra menunjuk Raquille.


Sontak mereka berempat yang ada di situ pun langsung ketakutan dan berusaha memikirkan sebuah alasan untuk dapat dipercayai oleh Neyndra.