
–11 Juli 3029–
Esok harinya setelah pasukan Geracie meninggalkan kota Dupstepa, terlihat para prajurit Nascunia beserta prajurit aliansi kubuh barat, serta para warga bergotong royong membersihkan puing-puing bangunan yang hancur akibat pertarungan antara Venerate-Venerate tingkat atas kemarin hari.
***
Berpindah di dalam sebuah ruangan pertemuan, tampak disana semua Venerate tingkat atas yang tergabung dalam aliansi kubuh barat berkumpul.
Mereka tidak lain adalah Raquille, Zero Lancheur, Vingto Lancheur dan Clava Armadura. Sembilan Continent Venerate dari Nascunia, termasuk Zitkavena. World Venerate Nascunia, Dovian Sirozov dan Grelic Krozoff.
Di ruangan itu juga hadir Venerate tingkat atas yang sebelumnya membantu kubuh barat melawan pasukan Geracie, Kurmer Yenoguz dari negeri Tsureya dan Azouraz Margvil dari negeri Ledyana.
“Dua diantara lima negeri anggota kubuh timur telah berhasil kita kalahkan… Sekarang tersisa tiga negeri bangsa Slivan yang harus GANCO taklukan…” Ucap Grelic.
Ditempat itu para Venerate membicarakan tentang rencana kubuh barat selanjutnya, dimana kali ini mereka akan mulai berhadapan dengan pasukan kubuh timur yang tersisa.
“Namun, sayang sekali karena kita harus bersabar dan menunggu pasukan negeri Frieden serta negeri lainnya untuk menangani mereka.”
“Tuan Grelic, memang sebelumnya organisasi kubuh barat telah mengatur rencana ini, tapi masih ragu kalau pasukan yang lain tidak akan mengalami kesulitan melawan para bangsa Slivan itu… Jika semua pasukan yang ada dikirimkan kesana, aku yakin kita pasti akan menandingi kekuatan mereka.” Mendengar ucapan Grelic, Raquille sontak mengutarakan pendapatnya.
“Aku juga tahu, namun ada beberapa alasan kita harus bersiaga ditempat masing-masing… Jika semua pasukan yang ada, semuanya pergi menyerang kubuh timur, maka tidak menutup kemungkinan jika pasukan Geracie ataupun pasukan Gimoscha kembali menyerang kita…”
“Alasan yang lain, jika semua pasukan kubuh barat pergi menyerang, kemungkinan juga semua pasukan akan dikalahkan. Kita nantinya tidak memiliki pasukan lagi untuk bertahan…”
“Lagipula, semua pasukan kita sekarang telah kelelahan karena pertarungan kemarin hari,” ucap Grelic.
Mendengar penjelasan tersebut Raquille pun hanya bisa terdiam. Tujuan utama pemuda itu ingin pergi menyerang kubuh timur yang tersisa bukan semata-mata ingin berhadapan dengan mereka, namun karena ingin menyelamatkan kedua saudaranya, Achilles dan Cyffredinol.
“Yah, kurasa hal yang kau katakan ada benarnya juga,” ucap Raquille, dengan terpaksa menyetujui ucapan Grelic.
***
Berpindah ke negeri Pavonas, dimana pemimpin mereka, Rumen Sayruz masuk ke dalam ruangan untuk berkomunikasi dengan para pemimpin negeri anggota kubuh timur yang lain.
“Jadi, negeri Geracie berhasil dikalahkan oleh kubuh barat juga…” Ucap Rumen.
“Aku juga tidak percaya negeri yang bisa disetarakan dengan Pavonas bisa dikalahkan oleh mereka… Bagaimana dengan kita, apakah selanjutnya salah satu diantara kita, akan dikalahkan?” Ucap Saolovaz, pemimpin negeri Riemic sedikit bergurau tentang sasaran selanjutnya dari kubuh barat.
Namun, ucapan dari pria itu tidak ditanggapi oleh Rumen maupun Arvhen, karena kini mereka mulai menganggap serius tentang kekalahan pasukan Geracie.
“Rumen, daripada berpikir keras kapan mereka akan bergerak, lebih baik kita beri ancaman kepada mereka… Senjata yang kita rencanakan sudah siap untuk dipakai,” ucap Arvhen memberikan pendapatnya.
“Kalau begitu, kita mulai dengan yang satu ini…” Mendengar pendapat dari Arvhen, Rumen pun memasang ekspresi senyuman menyeringai dan berencana melakukan sesuatu.
Pemimpin Pavonas itu memberikan kode kepada prajurit yang berada di dalam ruangan, yang sontak membuat mereka mengotak-atik sistem teknologi yang berada di dalam ruangan tersebut.
“Mari kita sapa dulu mereka semua…”
***
Kembali ke negeri Nascunia, tiba-tiba salah satu prajurit masuk ke dalam ruangan pertemuan dengan tergesa-gesa.
“Ada apa?” Tanya Grelic, melihat prajurit tersebut.
“Ada yang aneh, semua layar proyeksi yang berada di kota menampilkan wajah pemimpin Pavonas.”
Mendengar informasi dari prajurit tersebut, semua Venerate yang ada tampak kebingungan. Merasa penasaran semuanya seketika pergi keluar untuk melihat hal tersebut.
**
“Bagaimana ini terjadi?” Ucap Grelic.
Diluar ruangan pandangan semua orang tertuju pada beberapa layar proyeksi yang terpampang di atas bangunan kota.
Mereka semua kebingungan melihat mengapa semua layar menampilkan siaran langsung dari pemimpin negeri Pavonas itu.
“Salam kepada semua penghuni benua Greune, aku adalah pemimpin negeri Pavonas, Rumen Sayruz…”
***
Siaran langsung dari Rumen tersebut juga dapat dilihat oleh semua orang yang berada di negeri Frieden, hingga membuat raja negeri Frieden, Geonard terkejut melihatnya.
***
Di wilayah Frieden yang diduduki oleh pasukan kubuh timur, tampak prajurit memberikan sebuah alat komunikasi yang telah tersambung ke siaran Rumen kepada Aguirre dan Anselm.
“Kalian pikir kalian sudah melangkah lebih karena telah mengalahkan sebagian pasukan kami?”
***
“Namun, kami juga akan menganggap serius pergerakkan kalian ini…”
Di negeri Geracie, Spirgios dan Chrolexius juga menyaksikan ancaman dari Rumen tersebut.
“Siapa orang itu Chrolexius?” Tanya Spirgios.
“Rumen Sayruz, pemimpin negeri Pavonas,” jawab Chrolexius.
***
“Kami juga akan bergerak kembali menginvasi wilayah kalian secepatnya…”
Kemudian di negeri Gimoscha, tempat pasukan negeri tersebut berdiam setelah kehilangan sebagian besar wilayah, terlihat Acadiuno bersama dengan Janus meyaksikan Rumen juga.
“Rumen Sayruz… Aku yakin kali ini dia akan membicarakan tentang senjata itu,” ucap Acadiuno.
***
“Asal kalian tahu, kami memiliki persiapan untuk menghancurkan kalian dengan senjata yang telah kami siapkan selama ini.”
Siaran langsung dari Rumen juga dapat dilihat oleh beberapa pemimpin-pemimpin negeri anggota organisasi GANCO. Raja Serepusco, Pangeran Calferland, Ariya Pati Erstleland, Ketua Dewan Midauz dan Ratu Brizora.
***
“Jadi, bersiap-siaplah dengan kedatangan kami…” Setelah selesai dengan ancamannya, seketika siaran langsung tersebut berakhir.
“Jadi orang itu adalah pemimpin Pavonas… Dan juga, senjata apa yang dikatakannya tadi?” Tanya Raquille.
“Senjata itu? Hmph, aku rasa itu adalah kristal berpijar yang pernah diambil oleh mereka beberapa tahun yang lalu di negeri Fuegonia.” Mendengar pertanyaan Raquille, Azouraz kemudian memberikan sebuah informasi yang dia ketahui.
“Apa…? Kristal berpijar katamu…” Seketika Raquille langsung mendengar ucapan dari Azouraz.
“Hari itu seharusnya aku menghabisi mereka semua…” Gumam Raquille.
Raquille tampak khawatir mendengar fakta dari ancaman Rumen sebelumnya. Pemuda itu tahu betul bahwa efek ledakan kristal berpijar yang dibicarakan dapat membuat kehancuran yang sangat besar.
Dia menyesal karena telah membiarkan pasukan Pavonas lari saat menyerang wilayah Akalsa pada dua belas tahun silam.
***
Pada malam harinya disaat semua orang telah tidur, terlihat Raquille menyendiri di sebuah tempat memikirkan tentang ancaman Rumen sebelumnya.
“Tuan Elfman, kau masih belum tidur rupanya…” Tak berapa lama Venerate dari Ledyana, Azouraz datang, bertanya mengapa pemuda itu masih belum tidur.
“Aku tidak bisa tidur karena memikirkan hal yang tadi,” jawab Raquille.
“Hmph, sebelumnya kau mengatakan bahwa sebaiknya semua pasukan kubuh barat menyerang kubuh timur tersisa…”
“Bagaimana jika kita saja yang pergi?” Tanya Azouraz.
“Hanya kita saja? Apa rencanamu?” Mendengar ucapan Azouraz, Raquille nampak penasaran.
“Senjata yang dimiliki oleh kubuh timur, sekarang disimpan di negeri Graina… Jika kau bersedia, aku memiliki rencana untuk menghancurkannya.”
“Jadi kau mengetahui letak senjata itu… Kurasa itu ide yang bagus. Tak perlu membuang waktu lagi, lebih baik berangkat sekarang.” Mendengan hal tersebut Raquille seketika bersemangat dan menyetujui rencana dari Azouraz.