
“Apa kau yakin itu adalah mereka?” Tanya Aguirre.
“Iya tuan, prajurit Frieden yang berada disana mengatakan bahwa kubuh timur memiliki dua Venerate berambut putih pengguna elemen es,” jawab prajurit itu.
“Bagaimana mereka bisa menyerang kubuh barat? Apa mungkin ada yang mengendalikan mereka?” Kata Aguirre, bertanya-tanya mengapa kedua saudaranya bisa menyerang aliansi mereka.
“Tapi tuan Achilles dan tuan Cyffredinol menyerang bersama pasukan Pavonas, sedangkan pasukan Fuegonia harus pergi ke kota Jounswice, untuk menahan pasukan Riemic.”
“Begitu yah, kita tidak bisa bertemu dengan mereka berdua…” Respon Aguirre.
“Memangnya kau ingin menyelamatkan mereka?” Tanya Anselm melihat pria Elfman itu nampak khawatir.
“Aku bukan khawatir tidak bisa bertemu dengan mereka… Hanya saja, aku khawatir pada Venerate kubuh barat yang akan menghadapi mereka,” jawab Aguirre.
***
Di salah satu kota Fireden yang diserang oleh pasukan Pavonas, terlihat armada pesawat dari pasukan kubuh barat akhirnya sampai di kota tersebut.
Pada salah satu pesawat kubuh barat tampak pemimpin negeri Lightio, Hefaistos Silkbar bersama dengan seorang Venerate, yang pernah menghadiri pertemuan organisasi GANCO sebelumnya, berada di dalam ruang kontrol.
“Kubuh timur memang tidak pandang bulu dalam penyerangan mereka,” ucap Hefaistos melihat kota yang berada dibawah telah porak-poranda akibat serangan dari pasukan Pavonas.
Tak berapa lama pria itu berkata, tiba-tiba saja Achilles dan Cyffredinol telah berada di depan armada mereka.
Kedua Elfman itu seketika memainkan jari mereka menciptakan sebuah lingkaran sihir yang besar tepat di belakang mereka.
“Jadi mereka Elfman yang ditangkap oleh Pavonas yah… Sepertinya kedua orang itu telah berpihak pada mereka,” ucap Hefaistos, tampak santai melihat serangan yang akan dilancarkan oleh dua Elfman tersebut.
Pemimpin negeri Lightio itu berubah menjadi butiran-butiran cahaya dan kemudian menghilang dari ruang kendali tersebut.
Saat pria itu muncul tepat di depan armada pesawat kubuh barat, seketika Achilles dan Cyffredinol langsung meluncurkan serangan proyeksi elemen api dari lingkaran sihir yang belakang mereka.
“Difesa sillabare… Holy eldritch shield…” Dengan sigap Hefaistos langsung menahan serangan tersebut menggunakan sebuah lingkaran sihir yang diciptakannya, hingga armada pesawat kubuh barat tidak menerima sedikitpun efek dari serangan dua Elfman itu.
Venerate Lightio yang bersama dengan Hefaistos di dalam ruang kendali sebelumnya, terlihat keluar dari pesawat dan datang menghampiri pria itu.
“Gahaelix, sepertinya kita akan disibukkan oleh dua Elfman ini… Apa kau siap?” ucap Hefaistos.
“Aku siap kapan saja. Lagi pula aku juga sangat bersemangat untuk melawan Venerate yang menantang seperti mereka,” balas pria bernama Gahaelix itu.
Dengan serentak kedua pria itu seketika meluncur ke arah Achilles dan Cyffredinol.
“Ventus sillabare… Vortex punch…” Pria bernama Gahaelix tersebut sontak langsung melancarkan serangan pusaran elemen angin kepada Cyffredinol, hingga Elfman itu meluncur ke bawah.
Tanpa membuang waktu, dia pun meluncur mengejar Cyffredinol yang terhempas ke bawah.
**
Sedangkan Hefaistos dan Achilles tampak saling melancarkan serangan proyeksi mereka satu sama lain.
Achilles yang berada satu tingkatan dibawah pemimpin negeri Lightio itu dengan mudah dapat menangani serangan dari Hefaistos sambil melancarkan serangan balik pada pria itu.
*
“Jadi seperti ini kemampuan dari Elfman… Tidak heran raja mereka sering diakui sebagai World Venerate terkuat,” gumam Hefaistos dalam hati, nampak terkesima dengan kemampuan dari Elfman tersebut.
**
Hefaistos bersama dengan Achilles secara bersamaan melancarkan serangan proyeksi energi sihir mereka, hingga kedua serangan itu bertabrakan menciptakan sebuah ledakan yang cukup besar di langit kota tersebut.
***
Ledakan tersebut dapat dilihat oleh gerombolan prajurit Pavonas yang baru saja datang mendekati kota tersebut.
“Hmph… Sepertinya aku terlambat mengikuti pestanya.” Tampak pemimpin dari para pasukan yang mendekati kota tersebut merupakan Vahal Izumir, Continent Venerate Pavonas yang pernah menyerang daerah Akalsa negeri Fuegonia.
***
“Ice spring… Thousand ice thorns…” Cyffredinol seketika menciptakan duri-duri es sama seperti teknik es yang pernah dilakukan oleh Raquille sebelumnya.
Melihat duri-duri es tersebut terus menyebar ke arahnya, Gahaelix seketika langsung memunculkan sebuah pedang. Dengan satu ayunan, pedang tersebut seketika mengeluarkan kobaran api yang langsung membuat duri-duri es tersebut menguap dalam sekejap.
Gahaelix sontak berlari ke arah Cyffredinol dan mengayunkan pedang api saat berada satu titik dihadapan pria Elfman itu.
Namun, secara mendadak pergerakannya terhenti tiba-tiba terhenti.
*
**
“Hahaha…” Tak lama kemudian Vahal muncul ditempat itu sambil tertawa dengan liciknya.
“Siapa kau?” Tanya Gahaelix.
“Aku? Aku adalah kesialanmu,” jawab Vahal dengan memasang ekspresi menyeringai.
“Baiklah, akhiri dia sekarang.” Dia kemudian menyuruh Cyffredinol untuk mengalahkan pria Lightio itu.
“Feuerzauber…” Seketika Cyffredinol langsung melancarkan serangan elemen api saat Gahaelix tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
Akibat serangan tersebut, Gahaelix seketika terhempas ke jarak yang cukup jauh hingga tak sadarkan diri.
***
Sementara itu, Hefaistos yang berada di udara masih berhadapan dengan Achilles.
Hefaistos seketika memunculkan sebuah palu bergagang panjang karena merasa bahwa hanya dengan melancarkan sebuah serangan proyeksi saja masih belum cukup untuk mengalahkan Elfman tersebut.
Pria itu kemudian bergerak dengan cepatnya mendekati Achilles.
Dia mengayunkan palunya pada Elfman itu, yang sontak menciptakan ledakan besar, layaknya sebuah letusan gunung, hingga Achiles pun terhempas meluncur ke permukaan.
“Akh…” Tiba-tiba sebuah anak panah es yang diluncurkan oleh Cyffredinol menancap pada bagian belakang pria itu.
“Apa…?” Betapa terkejutnya Hefaistos melihat Gahaelix telah terkapar tak berdaya akibat dikalahkan oleh Cyffredinol sebelumnya.
Dengan kesal, World Venerate Lightio itu meluncur ke arah Cyffredinol dan Vahal sambil mengayunkan palunya tersebut.
Cyffredinol dengan sigap langsung menciptakan sebuah dinding es menahan serangan dari pria itu.
Namun, dalam sekejap dinding es tersebut menguap akibat hawa panas dari kobaran api yang keluar dari palu Hefaistos.
Cyffredinol dan Vahal seketika terhempas ke jarak yang cukup setelah menerima serangan yang dilancarkan tersebut.
Merasa bahwa kedua orang tersebut sudah tidak bisa lagi menyerang baliknya, Hefaistos lalu pergi menghampiri Gahaelix.
Baru saja pria itu sampai di depan Gahaelix, tiba-tiba dia merasakan sesuatu berada di belakangnya.
“Ukh…” Saat menoleh ke belakang, leher pria itu langsung dicekik oleh Achilles, yang ternyata masih belum kalah setelah menerima serangan sebelumnya.
“Ice cursed… Cold hell…” Setelah Achilles mengatakan kata tersebut, kobaran api dari palu Hefaistos seketika padam.
Dia lalu jatuh berlutut, merasa energinya telah terkuras habis hingga tidak memiliki kekuatan lagi untuk berdiri kembali.
Setelah dia sadari kembali, Cyffredinol dan Vahal juga telah berada tepat di hadapannya.
“Sial…” Umpat Hefaistos dengan kesalnya.
–5 Juli 3029–
Dua hari kemudian, di sebuah kota negeri Gracie yang berada diperbatasan antara benua Greune dan benua Antikara, terlihat Raquille, Zitkavena, serta Kurmer sedang dalam penyamaran.
Tak berapa lama, beberapa prajurit Almasari menemui tiga orang itu di sebuah lorong perkotaan.
“Tuan Kurmer, menurut informasi yang beredar kota ini hanya dijaga oleh dua orang Continent Venerate saja,” ucap salah satu prajurit bertudung.
“Baiklah, saatnya kita menyerang kota ini,” respon Kurmer.
Pria itu kemudian mengambil sebuah alat komunikasi dan menghubungi seseorang.
***
Sambungan komunikasi tersebut kemudian terhubung kepada salah satu prajurit Ruhawsari yang sedang berada diluar kota.
“Iya tuan,” jawab prajurit tersebut.
“Sudah saatnya kita menyerang.”
“Baik tuan.”
Prajurit itu lalu menutup sambungan komunikasinya dengan Kurmer, kemudian mengisyaratkan semua pasukan Ruhawsari untuk maju.