The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 219 - Kerjasama Raquille dan Cadhan melawan Phyton



“Kurasa benar… Aku pernah melihat sekali wujud perubahan pelepasan kedua miliknya,” ucap Raquille, yang juga langsung mengenali Phyton dari wujud pelepasan kedua pemuda tersebut yang sempat dilihatnya saat bertarung dengan baju zirah yang berwujud seekor naga sebelumnya.


“Raquille… Kurasa kita tunda dulu pertarungan kita, karena sepertinya Phyton telah diam-diam mengambil cawan dari tanduk makhluk suci itu, dan secara tidak sadar terpengaruh oleh kekuatan benda itu.” Aisling pun menjelaskan mengapa putranya tersebut bisa kehilangan kendali menyerang prajurit Brizora serta Ierua, serta meminta untuk menunda pertarungan mereka terlebih dahulu.


“Baiklah kakak ipar… Lagipula ini demi kebaikan putramu itu.” Tanpa pikir panjang Raquille pun langsung meluncur ke arah Phyton untuk berusaha menghentikan pemuda itu menyerang para prajurit dari kedua belah pihak.


***


“Itu wujud pelepasan kedua Phyton… Apa mungkin dia diam-diam mengambil cawan dari tanduk makhluk suci itu?” Di sisi lain, tampak Cadhan bertanya-tanya melihat Phyton menyerang para prajurit Brizora serta Ierua, serta langsung mengetahui bahwa cucunya tersebut telah dalam pengaruh dari kekuatan salah satu harta karun yang berada di pulau itu.


“Kurasa kau benar… Dia mungkin masih belum tahu cara mengambil cawan itu tanpa harus terpengaruh dari kekuatan benda itu,” sambung Magelline, nampak mengetahui juga efek kekuatan dari cawan tanduk makhluk suci tersebut.


Dengan sigap Cadhan pun langsung meluncur ke arah Phyton juga untuk berusaha menghentikan cucunya tersebut, yang sedang menyerang para prajurit Brizora maupun Ierua.


Sadar bahwa dua World Venerate dengan tekanan kekuatan yang besar datang mendekatinya, Phyton pun seketika menancapkan pedang berukuran besar yang dipegangnya ke tanah, hingga sontak menciptakan proyeksi kobaran elemen api berwarna hitam disekitarnya.


Dengan sigap, Raquille maupun Cadhan yang meluncur mendekati Phyton langsung melompat ke atas untuk menghindari proyeksi kobaran api hitam tersebut.


Ketika kobaran api tersebut mulai lenyap, Raquille dan Cadhan dengan sigap kembali turun ke bawah untuk menyerang Phyton secara bersamaan.


Raquille menyimpan kembali pedang senjata sucinya, kemudian dengan cepat menciptakan sebuah busur panah dari kekuatan elemen es miliknya. Secara bersamaan Raquille mengakses kekuatan elemen es miliknya untuk menciptakan sebuah anak panah yang hendak diluncurkannya ke arah Phyton.


“Ice cursed… Cold arrow…”


Raquille seketika meluncurkan anak panah esnya ke arah Phyton, namun langsung ditepis oleh pemuda itu dengan mudahnya.


“Ice cursed… Cold arrows…”


Masih belum menyerah, Raquille seketika menciptakan sebuah anak panah es lebih dari satu kemudian langsung memecah menjadi beberapa bagian yang lebih banyak lagi ketika pemuda Elfman itu meluncurkannya ke arah Phyton.


Melihat serangan beruntun dari Raquille, Phyton dengan cepat mengibaskan pedangnya hingga menciptakan kobaran api hitam yang langsung menguapkan anak panah es Raquille dalam jumlah yang banyak tersebut.


“Ukh…” Ketika kobaran api hitam itu terus meluncur ke arahnya, Raquille dengan sigap menciptakan sebuah dinding es, namun hal tersebut percuma karena saking panasnya kobaran api tersebut membuat dinding es yang diciptakan oleh pemuda Elfman itu juga seketika menguap, serta membuatnya seketika terhempas.


Karena melihat Phyton fokus terhadap Raquille, Cadhan dengan sigap langsung meluncurkan tombaknya ke arah Phyton, hingga membuat pemuda itu langsung terhempas ke jarak yang cukup jauh, walaupun sempat menahannya menggunakan pedangnya sendiri.


“Hei pak tua… Apa kau bodoh? Kenapa kau terlalu kasar menyerangnya?” Ucap Raquille, membantak perdana menteri negeri Ierua itu karena telah membuat Phyton terhempas, walaupun tahu bahwa pemuda itu adalah cucunya sendiri.


“Hei…” Cadhan pun langsung mengayunkan tombaknya tersebut ke arah Raquille, yang dengan refleks langsung dihindari oleh pemuda Elfman itu.


“Apa-apaan kau?” Tanya Raquille, tidak menyangka bahwa pria itu akan menyerang dalam keadaan mereka yang akan berusaha menghentikan Phyton.


“Jika kau tidak berniat untuk membantu, biarkan aku yang mencoba menghentikan cucuku itu saja,” ucap Cadhan.


Perdana menteri itu kemudian mengangkat salah satu tangannya yang tidak memegang sebuah tombak, yang seketika membuat tombak yang diluncurkan ke arah Phyton kembali ke tangannya dengan sendiri.


“Hei pak tua… Apa kau tidak akan kerepotan menggunakan dua senjata panjang itu secara bersamaan?” Tanya Raquille, karena merasa Cadhan mungkin akan sedikit kesulitan menggunakan dua tombak sekaligus.


“Memangnya kenapa?” Balas Cadhan, sambil dengan lincah memutar-mutar dua tombak yang dipegangnya, menunjukan kepada pemuda Elfman itu bahwa dia sudah sangat terlatih menggunakan dua tombak sekaligus.


“Kau jangan khawatir tentang Phyton. Selama masih berada dalam kendali kekuatan cawan dari tanduk makhluk suci itu, ketahanan tubuhnya telah meningkat dengan tajam, karena itu kita harus berusaha mengalahkannya dengan serangan yang kuat…” Ucap Cadhan, menjelaskan mengapa sebelumnya dia meluncurkan tombaknya tersebut ke arah Phyton dengan kuat.


“Apa kau memiliki senjata suci dengan serangan yang besar?” Lanjut Cadhan, bertanya kepada pemuda Elfman itu.


“Senjata suci dengan serangan yang kuat… Kalau seperti itu aku tidak memilikinya,” jawab Raquille.


“Tapi, aku tahu harus memakai senjata apa yang cocok untuk bersaing dengan tombak kembar milikmu.” Raquille pun langsung memunculkan dua pedang biru yang tersambung pada bagian masing-masing gagangnya tersebut.


“I proti ekdosi… Azuro Stroma the immortal… Divine ice mode…” Raquille kemudian memisahkan kedua pedang untuk mengaktifkan kekuatan dari senjata sucinya itu, sambil secara bersamaan mengaktifkan juga kekuatan es ilahi yang berasal dari naga bernama Reonnog.


Dalam sekejap, sebuah hempasan angin dengan hawa dingin yang mencekam langsung tercipta setelah pengaktifan kekuatannya sekaligus, sama seperti saat dirinya hendak berhadapan dengan Rumen pada perang benua Greune.


“Pedang kembar Azuro Stroma yah… Senjata suci ini cukup dikenal oleh para bangsa Friedenic… Aku pikir hanya raja Elfman Razoranos yang mampu meisahkan kedua pedangnya, ternyata putra bungsunya juga merupakan orang terpilih untuk bisa memisahkannya,” ucap Cadhan, mengetahui pedang kembar yang dipegang oleh Raquille.


Fokus Raquille serta Cadhan kemudian tertuju kepada Phyton yang dengan cepat datang meluncur ke arah mereka. Dengan sigap Cadhan pun maju melawan Phyton dengan mengayunkan tombak kembarnya secara beruntun serta dengan gaya yang cukup brutal.


Raquille pun hanya bisa mengangah melihat ayunan serangan beruntun dua tombak dilancarkan oleh perdana menteri Ierua, yang membuat Phyton nampak kesulitan, walau mampu untuk menangkisnya.


Seketika Cadhan membenturkan kedua tombaknya dengan kuat, yang sontak menciptakan sebuah hempasan tekanan kekuatan yang besar, dan dalam sekejap langsung membuat Phyton terhempas.


Tidak mau kalah dengan pergerakan Cadhan yang lincah, Raquille pun meluncur ke arah Phyton yang sedang terhempas sambil menekuk salah satu pedang yang berada di tangan kanannya ke belakang.