The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 25 - Balas dendam



“Kau kira aku akan gentar dengan jurus rendahanmu ini,” kata Ascelin meremehkan Raquille.


Dalam sekejap mata Vampireman itu tiba-tiba menghilang dan muncul di belakang Raquille yang sedang melayang di udara. Ascelin kemudian dengan kuat menendang Raquille hingga membuat pemuda itu terhempas menghantam bongkahan es yang diciptakannya sendiri.


“Heh, bagaimana pun kau itu hanyalah Regional Venerate... Bagaimana bisa kau bisa menandingiku?” Kata Ascelin.


Kemudian terlihat Pixieman bernama Messen mengubah es yang diciptakan oleh Raquille itu menjadi pasir sehingga membuka permukaan tengah arena tersebut.


“Dengan begini kita bisa leluasa lagi untuk bertarung,” kata Messen.


Namun, tiba-tiba saja Raquille muncul dari belakang Ascelin dan menendangnya dengan kuat hingga membuat Vampireman itu terhempas menghantam dinding arena.


Elfman itu kemudian memunculkan pedang es yang banyak disekitarnya lalu meluncurkannya ke arah Messen, Nolani, serta Venere.


Melihat serangan tersebut, ketiga orang itu sontak menahannya dengan menggunakan teknik mereka masing-masing. Messen mengubah serangan tersebut menjadi dedaunan, Nolani mengecilkan serangan elemen es itu hingga nampak terlihat lenyap. Lalu Venere menciptakan angin topan yang sontak langsung menghempaskan pedang-pedang es tersebut ke berbagai arah.


*


“Mereka semua memang hebat... Namun, mereka tidak mengetahui siapa yang mereka lawan sebenarnya,” gumam Drakon dalam hati yang lebih mengkhawatirkan petarung lain dibanding Raquille rekan satu timnya.


**


“Mermaid water technique… Bubble prison…” Nampak Nolani menciptakan sebuah gelembung air yang sontak membuat Raquille langsung terkurung di dalamnya.


“Hei Mermaidman… Percuma saja kau menggunakan teknik ini,” kata Raquille dengan jelas dapat berbicara walaupun berada didalam air.


Pemuda itu menebas gelembung air tersebut dengan proyeksi energi sihirnya. Dia kemudian mengendalikan air tersebut dengan membelahnya menjadi tiga bagian dan meluncurkannya ke arah Nolani, Messen serta Venere.


Sontak ketiga serangan elemen air tersebut kembali membentuk menjadi sebuah gelembung air yang langsung mengurung mereka bertiga secara bersamaan.


“Wasserzauber… Bubble prison… Ice version…” Raquille pun langsung membekukan ketiga gelembung air itu sehingga membuat ketiga petarung itu membeku di dalamnya.


Namun, dengan sekejap mata Ascelin muncul di depan Raquille, yang sontak membuat Elfman itu langsung terkejut. Vampireman itu pun kemudian dengan cepat mengayunkan pedangnya menebas Raquille hingga membuatnya terluka.


“Akh…” Raquille ditebas oleh Ascelin pada bagian dadanya seketika jatuh berlutut di didepannya.


**


“Apa…? Bagaimana bisa dia melukainya…?” Drakon sontak terkejut melihat Vampireman itu dapat melukai Raquille yang dirasanya mustahil.


**


Terlihat Raquille merasa kesakitan hingga membuatnya terkapar. Hal tersebut membuat Ascelin kemudian mengangkatnya dan melancarkan sebuah pukulan kuat pada pemuda itu hingga membuatnya terhempas menabrak dinding arena. Namun, pada waktu yang sama tiba-tiba saja Raquille seketika berubah menjadi es.


*


“Apa…? Itu hanya kloning es …?” Gumam dalam hati Ascelin terkejut melihat hal tersebut.


**


Sontak para penonton pun terkejut melihat Raquille yang kini telah berada di udara sedang melayang menggunakan sayap proyeksi energi sihirnya.


Vampireman itu juga sontak terkejut melihat pemuda itu kini berada di atas sedang melayang dan terlihat masih baik-baik saja.


“Hei, Vampireman… Apa kau tidak menyerang?” Tanya Raquille memasang ekspresi menyeringai.


**


“Ternyata aku telah salah mengkhawatirkannya tadi,” kata Drakon.


**


Ascelin kemudian dengan sekejap berpindah tempat di atas Raquille untuk hendak melancarkan serangannya kembali.


Namun, dengan sigap Raquille menciptakan sebuah pedang dari es lalu menangkis serangan Vampireman tersebut.


Nampak tekanan kekuatan Raquille terlihat lebih unggul yang sontak membuat Ascelin terhempas lebih jauh ke atas. Dia kemudian terbang ke atas untuk mendahului Vampireman itu.


Tanpa pikir panjang, Raquille lalu melancarkan serangan elemen anginnya mengarah ke bawah pada Vampireman tersebut.


Tetapi, dengan refleknya Ascelin menggunakan tekniknya mengubah posisi mereka berdua.


Seketika Raquille menerima sendiri serangan elemen anginnya sehingga Elfman itu pun langsung terhempas ke bawah dengan cepatnya sampai menabrak tanah di bawah.


“Aku lupa bahwa Vampireman bahwa memiliki kemampuan seperti ini.” Terlihat raut wajah dari Raquille tampak terkejut karena tidak mengira bahwa Vampireman tersebut dapat menukar posisi mereka berdua dengan menggunakan teknik spasial.


Raquille kemudian berdiri kembali dan langsung menciptakan sebuah kloningan dirinya dari elemen elemen es.


“Ice shaping… Ice clones…”


Tidak tangung-tangung, pemuda itu terlihat pemuda itu menciptakan lima kloningan sekaligus. Nampak kelima kloningannya itu langsung menciptakan pedang es dan bersiap melawan Vampireman tersebut secara bersamaan.


“Baiklah majulah kalian…” Kata Ascelin, menantang semua kloningan Elfman itu.


Tampak kelima kloningan Raquille itu langsung maju secara bersamaan hendak menyerangnya.


Tetapi, dengan kecepatan dari kemampuan teleportasinya, Ascelin dengan mudah langsung mengalahkan kelima kloningan Raquille itu sekaligus.


“Ice cursed… Cold arrow…” Namun, karena sibuk mengalahkan kelima kloningan Raquille, Vampireman itu sampai tidak memperhatikan Raquille asli yang sedari tadi sudah membidiknya dengan panah dari esnya.


“Argh…!” Anak panah es itu seketika menancap pada pundak kiri Vampireman itu yang membuatnya langsung jatuh berlutut.


Masih bisa bertahan setelah menerima serangan tersebut, Ascelin terlihat berdiri kembali. Terlihat dari raut wajahnya yang kesal setelah apa yang Raquille lakukan padanya. Dia lalu berkonsentrasi meningkatkan kekuatannya. Nampak sebuah proyeksi energi berwarna putih terpancar dari pedangnya. Terlihat juga matanya kini memancarkan cahaya berwarna putih.


Ascelin seketika menghilang dan muncul di depan Raquille. Vampireman itu sontak menebaskan pedangnya dengan kuat hingga membuat Raquille terhempas. Dia kemudian dengan sekejap berpindah tempat ke hadapan Raquille yang sedang terhempas dan menebasnya kembali hingga membuat Raquille terhempas ke sisi lain. Belum puas dengan itu, Vampireman itu terus-menerus melakukan hal itu sampai membuat Raquille terkapar tak berdaya.


Setelah melihat pemuda tersebut, yang dia rasa sudah tak bisa melakukan perlawanan lagi, Vampireman itu sontak berjalan menghampiri ketiga petarung lain yang masih membeku di dalam gelembung es.


“Ukh…”


Tiba-tiba saja Ascelin seperti merasakan sakit pada dadanya hingga membuat sampai jatuh berlutut. Nampak mata Vampireman itu, yang sebelumnya memancarkan cahaya berwarna putih seketika kembali menjadi normal.


*


“Ada apa ini? Kenapa aku merasa lemas?” Kata Ascelin dalam hati kebingungan dengan apa yang terjadi padanya.


**


Terlihat dibelakang Ascelin, Raquille yang sebelumnya sudah tak berdaya kembali berdiri.


Terlihat sebuah cahaya berwarna biru terpancar dari tubuhnya, yang membuat luka yang diterimanya Elfman itu seketika sembuh.


“Hei… Apa kau sudah merasakannya?” Tanya Raquille tentang keadaannya.


Mendengar Raquille yang berbicara dibelakangnya, Ascelin pun sontak menoleh ke belakang.


“Ternyata kau… Bisa bertahan dari seranganku…?” Kata Ascelin yang mulai melemah.


Sontak Ascelin berpindah tempat di belakang Raquille kesekian kalinya untuk mencoba menyerangnya lagi.


Secara refleks Raquille pun langsung berputar kebelakang dan mencengkram kepalanya lalu menghantam kepala Vampireman itu ke tanah dengan kuatnya.


“Argh…!” Teriak Ascelin dihantam ke tanah.


Raquille lalu menendangnya hingga membuat Vampireman itu pun terhempas. Kemudian Raquille menciptakan pedang es kembali lalu maju ke hadapan Ascelin dan menebasnya berulang kali, seperti yang dilakukan Vampireman itu padanya tadi.


Setelah pemuda itu menebas Ascelin, terlihat sebuah ukiran aksara rune yang menyala-nyala pada tubuh Vampireman itu. Dia kemudian terlihat berjalan menjauhi Vampireman tersebut.


“Geheimer zauberspruch… Heilog sprenging…” Katanya, yang seperti membacakan suatu mantra sihir.


Seketika aksara rune yang menyala-nyala pada tubuh Ascelin itu meledak, sehingga membuat Vampireman itu pun langsung mengalami kekalahan.


**


“Ini memang mustahil… Seorang Land Venerate, bisa dikalahkan dengan mudah oleh Regional Venerate,” kata Rox tidak percaya melihat bahwa Raquille dapat mengalahkan Vampireman itu.


**


Beberapa saat kemudian, terlihat gelembung es yang mengurung ketiga petarung itu perlahan-lahan mulai retak dan kemudian hancur, sehingga membuat ketiga petarung itu pun langsung terbebas.


Mereka bertiga pun sontak langsung terkejut melihat Ascelin telah terkapar tak berdaya.


“Apa…? Dia telah mengalahkan Vampireman itu?” Kata Nolani.


Lalu terlihat Messen pun maju menyerang Raquille dengan melancarkan sebuah tendangan. Serangannya tersebut sontak langsung ditangkis oleh Raquille dengan menggunakan pedang esnya.


Sontak Messen pun langsung mengubah pedang es Raquille itu menjadi air. Raquille pun dengan sigap langsung mengendalikan air itu dan menyerang pada Messen, yang membuat Pixieman itu sedikit terhempas.


Messen pun kemudian kembali maju ke arah Raquille untuk menyerangnya kembali. Seketika Raquille langsung menciptakan sayap proyeksi energi sihirnya dan terbang ke atas.


Melihat Elfman itu terbang ke atas, Messen pun kemudian memunculkan sayapnya dan mengejar Raquille yang sudah berada di udara duluan. Mereka berdua pun kini terlihat saling melancarkan serangan di udara satu sama lain.


**


“Hei… Gadis kecil, ayo kita lanjutkan pertarungan kita yang sempat terhenti tadi.”


Tanpa pikir panjang Venere pun langsung berlari ke arah Nolani dan menyerangnya. Mereka berdua pun secara bersamaan melancarkan serangan yang besar.


“Mermaid water technique…” Nolani melancarkan serangan pusaran air.


“Breaker wind…” Sedangkan Venere melancarkan serangan pusaran angin.


Kedua serangan itu pun seketika langsung musnah saat saling bertabrakan.


**


Berpindah pada pertarungan Raquille dan Messen di udara. Kini Raquille melancarkan serangan pedang es yang banyak ke arah Pixieman itu. Messen pun langsung mengantisipasi serangan tersebut dengan mengubah serangan pedang es itu menjadi air. Namun, karena terlalu besar mengeluarkan kekuatan transmutasinya itu, sehingga terlihat meluas sampai ke arah Raquille.


Raquille pun sontak membelokkan efek serangan itu ke bawah sehingga menghantam tanah tengah arena.


Seketika tanah arena tengah arena tersebut berubah menjadi air. Wilayah tengah arena itu pun kini nampak menjadi sebuah kolam yang dalam. Venere serta Nolani yang berada di tengah arena itu pun kemudian sontak langsung tercebur ke dalam air tersebut.


*


“Sial… Kenapa tanahnya berubah menjadi air…?” Gumam Venere dalam hati, yang berada di dalam air.


**


Dikarenakan berada di dalam air, kaki dari Mermaidman itu seketika berubah menjadi ekor. Dia pun dengan cepat berenang ke arah Venere untuk menyerangnya.


**


“Ini gawat… Aku tidak yakin Venere bisa mengatasi Mermaidman itu jika berada di air,” kata Saturno yang khawatir pada Venere.


**


Melihat Nolani akan menyerangnya, Venere pun kemudian melancarkan serangan elemen anginnya. Namun, hal itu percuma karena Mermaidman itu dengan mudah dapat menghindarinya karena pergerakannya yang lebih leluasa di dalam air.


*


“Sial… Aku sudah tidak kuat lagi…” Kata Venere dalam hati mulai kehabisan nafas berada di dalam air.


**


Venere pun kemudian berenang ke permukaan untuk mengambil nafas.


“Kakak…! Lemparkan senjataku kemari…!” Teriak Venere menyuruh melemparkan senjatanya.


**


Mendengar hal tersebut, Urano yang berada di tribun dengan cepat langsung melemparkan sebuah tongkat ke arah Venere.


**


Namun, seketika Nolani langsung melompat dari dalam air dan dengan cepat menangkap tongkat yang dilempar oleh Urano itu.


**


“Apa…?” Teriak Urano melihat tongkat yang dilemparkannya pada Venere malahan diambil oleh Mermaidman itu.


**


Setelah mengambil tongkat tersebut, Mermaidman itu pun langsung masuk kembali ke dalam air.


“Hei… Kembalikan tongkatku…” Kata Venere yang langsung menyelam ke dalam air.


Di bawah air, Venere melihat Nolani melambai padanya dengan memegang tongkatnya.


“Hei… Jika kau mau tongkatmu kembali… Coba ambil dariku,” kata Nolani yang bisa berbicara jelas di dalam air.


Venere pun kemudian berenang mengejar Nolani walaupun mustahil untuk dapat dikejarnya itu, karena pergerakkan yang sangat gesit dari Mermaidman itu saat berada di dalam air.


**


Berpindah lagi pada pertarungan Raquille dan Messen yang berada di udara.


Mereka berdua terlihat saling melancarkan serangan berulang-ulang kali. Raquille yang terus-terusan memunculkan serangan elemen es dan meluncurkannya ke arah Messen, yang kemudian Pixieman itu langsung mengubah serangan es tersebut menjadi air, dedaunan, pasir, dan sebagainya.


**


“Entah kenapa...? Aku malah merasa kasihan pada Pixieman itu,” kata Drakon.


“Tuan Raquille membuat Pixieman itu secara terus-terusan mengubah serangannya… Kurasa Pixieman itu sudah mulai kewalahan,” sambung Bohrneer.


*


“Ini mustahil… Apa mungkin aku yang lemah, atau dia yang terlalu kuat…?” Kata Messen yang mulai kewalahan menahan serangan Raquille.


**


“Hei… Apa kau sudah mulai kewalahan, pria kecil?” Tanya Raquille.


*


“Sial… Aku tidak bisa sembarangan menggunakan kekuatanku. Jika dia membelokkannya lagi, maka petarung yang berada di bawah akan terkena dampaknya, dan jika nyawa mereka terancam karena seranganku, tim kami pasti akan didiskualifikasi… Orang ini memang cerdik, dia seperti mengancamku agar aku menyerah.” Gumam Pixieman itu dalam hati, mulai putus asa.


**


“Aku menyerah…!” Karena telah putus asa tidak menemukan cara lain untuk mengalahkan Elfman itu, tiba-tiba Messen pun mengangkat kedua tangannya untuk menyerah.


Melihat penyataan menyerah dari Messen tersebut, Raquille pun sontak tersenyum.


“Itu yang ingin kudengar darimu...” Kata Raquille tersenyum menyeringai dengan licik pada Pixieman itu.


**


“Dasar gila… Ternyata dia mau membalas dendam yah…? Karena pertarungan kemarin, rekannya menyerah padaku,” kata Jenesyn mengumpat.


**


Karena telah menyerah, Messen pun lalu kembali ke tribun dengan raut wajah kecewa.


**


“Jadi sekarang… Aku harus melawan Mermaidman itu yah…” Kata Raquille perlahan-lahan turun ke bawah dan berdiri diatas air.


***


Kemudian di luar arena turnamen memperlihatkan seorang perempuan bersama dengan seorang laki-laki sedang melihat pertandingan tersebut dari sebuah layar besar yang berada di luar arena turnamen tersebut.


“Hei… Sepertinya aku pernah melihatnya sebelumnya. Tapi… Dimana yah…?” Nampak perempuan yang sedang menonton pertarungan tersebut seperti mengenali Raquille yang berada di dalam layar.


“Ada apa nona Ailene? Apa kau mengenali pemuda itu?” Tanya seorang pria, yang bersama dengan perempuan bernama Ailene tersebut.


“Kurasa aku pernah bertemu dengannya… Tapi, kurasa itu sudah lama sekali sehingga aku samar-samar mengingatnya,” jawab perempuan bernama Ailene tersebut.