
Di sisi lain, tepatnya diseberang seberang sungai wilayah dari Pavonas, tampak Gudov yang sudah sadarkan diri dan sedang duduk menyendiri di pinggiran sungai perbatasan wilayah tersebut.
Merasa sedikit bosan hanya duduk diam saja di tempat itu, pria itu lantas mengambil sebuah kotak di dalam saku bajunya, kemudian membukanya.
Ternyata kotak yang diambil oleh itu berisi beberapa batang rokok di dalamnya, Gudov mengambil salah satu, lalu memasangnya menggunakan sebuah korek api yang diambil dari saku bajunya juga.
“Ternyata kau berada disini tuan Gudov…”
Baru saja Gudov memasang rokoknya, tak berapa lama kemudian tiba-tiba Raquille datang menghampiri pria tersebut.
Dengan santai Raquille duduk disamping pria tersebut karena sedikit merasa khawatir bahwa sebelumnya pemuda Elfman itu hampir saja secara terpaksa menyerang pria itu, namun sempat dihentikan oleh Anatoliv.
“Apa kau sudah baik-baik saja?” Tanya Raquille.
“Tenang saja tuan Raquille… Aku bahkan sempat merasa tidak enak membuatmu harus kesusahan menanganiku yang kehilangan kendali sebelumnya,” jawab Gudov, menyatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
“Syukurlah kau baik-baik saja, karena pasukan Pavonas masih sangat membutuhkanmu untuk mengancam para Venerate Tengal dengan kemampuanmu,” respon Raquille.
Setelah membincangkan hal mengenai keadaan dari Gudov, kedua Venerate lantas menjadi cukup canggung tidak tahu harus membicarakan hal apa lagi.
“Apa kau mau?” Karena tidak tahu harus melakukan apa, Gudov membuka kotak berisi rokok tersebut, lalu menawarkan satu batang rokok kepada pemuda Elfman itu.
Sejenak Raquille terdiam ingin mengambil atau tidak, namun kemudian pemuda Elfman itu tersenyum sambil mengambil sebatang rokok yang ditawarkan oleh Gudov.
Saat Gudov, akan megambil korek api dari saku bajunya untuk menyalahkan rokok yang diambil oleh Raquille, tiba-tiba saja Gudov pun sedikit terkejut tidak mengira bahwa Raquille akan menjentikkan jarinya, mengeluarkan kobaran api kecil dari tangannya untuk menyalahkan rokok tersebut.
Karena tidak memerlukan korek untuk menyalahkan rokok tersebut, Gudov pun kembali menaruh korek apinya ke dalam sakunya.
“Kudengar dari yang lain bahwa kau dulunya tinggal di wilayah ini,” ucap Raquille.
“Iya… Bahkan di kota Vegoblashchenks itu, bersama dengan kedua orangtuaku dulunya…” Balas Gudov.
“Yah, dulunya aku mengira bahwa diriku hanyalah anak biasa yang tidak memiliki kemampuan apapun layaknya manusia biasa… Namun, setelah kejadian penyerangan pasukan Tengal hampir tiga puluh tahun yang lalu, setelah kedua orangtuaku menjadi korban di dalamnya aku pun baru menyadari bahwa diriku memiliki kemampuan khusus yang sampai sekarang masih diincar oleh pihak lain,” lanjut pria itu berkata, menceritakan pengalaman buruk dimasa mudanya.
“Apakah saat ini kau masih dendam dengan negeri Tengal karena telah membuat kau kehilangan kedua orangtuamu?” Tanya Raquille lagi.
“Soal itu sudah tidak lagi… Karena aku tidak membalaskan dendamku pada Venerate yang bertanggung jawab atas kematian dua orangtuaku, dan bahkan orang-orang yang kusayangi… Lagipula orang itu sekarang sudah tiada,” jawab Gudov.
Raquille merespon cerita dari Gudov dengan menganggukkan kepalanya, mengerti bahwa pria tersebut ternyata bisa berpikir bijak dibandingkan harus termakan oleh emosi balas dendamnya.
“Tapi, walaupun aku tidak membalaskan dendam pada Venerate itu, namun sebelumnya aku sudah bersalah karena pernah melenyapkan beberapa Venerate Tengal yang bahkan tidak memiliki hubungan mengenai permasalahan itu… Itu terjadi ketika aku pada saat itu termakan oleh emosi balas dendamku yang mengecap bahwa para Venerate Tengal adalah orang-orang yang kejam,” ucap Gudov, nampak merasa bersalah dengan perbuatannya dimasa lalu.
“Semua orang memiliki rasa bersalahnya masing-masing, sama sepertiku juga yang saat ini sangat merasa bersalah ketika kehilangan kendali dan malah membantai rekan-rekanku dimasa lalu,” respon Raquille sambil sedikit menasehati pria itu agar tidak perlu melakukan hal yang sama lagi.
Disamping perbincangan mereka yang cukup panjang tersebut, Raquille dan Gudov yang tengah duduk dipinggir sungai tiba-tiba terkejut merasakan sebuah tekanan kekuatan besar berada di dekat mereka.
Dengan sigap karena tidak menyangka bahwa hal itu akan dirasakan oleh mereka, keduanya lantas berdiri dari tempat duduk mereka.
Mereka pun bergerak ke tempat lain, ke arah sumber pancaran dari tekanan kekuatan besar yang dirasakan oleh mereka tersebut.
***
Beberapa saat kemudian, Raquille dan Gudov tampak lebih dikejutkan lagi melihat seseorang dari kejauhan tampak berjalan di atas sungai perbatasan, menuju ke wilayah negeri Pavonas.
Setelah melihat secara detail, Raquille dan Gudov tidak menyangka bahwa seseorang yang dilihat mereka berjalan mengapung di atas sungai dengan keadaan tidak sadarkan diri karena terlihat menutup kedua matanya adalah seorang anak perempuan, yang belum diketahui oleh mereka merupakan Zaraqiah, putri dari salah satu World Venerate di pihak musuh.
“Tuan Gudov… Apakah makhluk astral yang biasa menampakkan diri seperti itu sering melakukan hal yang kita lihat sekarang?” Tanya Raquille, penasaran melihat seorang anak kecil mengapung di atas sungai, yang bahkan diyakininya merupakan salah satu dari makhluk astral.
“Itu bukan makhluk astral… Itu adalah anak kecil yang masih hidup,” jawab Gudov.
Mendengar hal tersebut, Raquille pun bergerak ke pinggir sungai, dimana arah dari anak perempuan itu akan datang berjalan ke arahnya.
Sambil menunggu anak perempuan itu datang mendekat, Raquille mengangkat salah satu tangannya ke arah Gudov yang tengah bersiaga, untuk mengisyaratkan agar pria tersebut tidak perlu khawatir karena pemuda Elfman itu akan menanganinya.
Akan tetapi, walau mampu menangani anak perempuan itu yang sedang menuju kea rah mereka, Raquille pun tampak bertanya-tanya bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa memiliki tekanan kekuatan besar yang bahkan setara dengan Venerate tingkat atas.
Raquille pun mengambil kesimpulan bahwasannya, anak kecil yang mereka di depan dirinya serta Gudov tersebut, bukanlah seorang anak kecil biasa.
“Sepertinya aku pernah melihatnya…” Ucap Raquille, tampak mengetahui wajah anak perempuan tersebut.
“Kurasa bukan hanya kau saja… Wajah anak kecil seperti tidak asing…” Sambung Gudov, memikirkan hal yang sama seperti Raquille.
Mendengar hal tersebut, Raquille pun mulai menerka-nerka sesuatu yang kemungkinan besar pernah dilihatnya bersama degan Gudov.
“Tidak mungkin…” Ucap Raquille, sontak terkejut ketika mengingat sesuatu tentang anak perempuan bernama Zaraqiah tersebut.
“Kau mengetahui sesuatu tuan Raquille?” Tanya Gudov, penasaran karena belum mengingat pasti siapa anak perempuan yang tampak diketahuinya itu.
“Tuan Gudov… Kau ingat kan sewaktu aku meminta salah satu makhluk suci yang kukenal untuk menjelaskan mengenai dewi merak, World Venerate Tengal itu… Jika kau ingat wajah anak itu pernah ditampakkan pada cermin sebelumnya,” jawab Raquille.
Mendengar jawaban tersebut, Gudov pun seketika terkejut, tidak menyangka bahwa anak perempuan itu merupakan anak dari World Venerate Tengal yang sebelumnya pernah dijelaskan oleh Xirdinth saat berada di kota Vosmoc.