
Aisling mengangkat tangannya ke atas untuk berusaha memunculkan senjata sucinya, namun hal itu juga tetap tidak bisa dilakukan olehnya.
“Maaf kakak ipar… Karena sedang mengenakan gelang cantik itu, kau sekarang tidak lebih kuat dibandingkan dengan Tirbe Venerate,” ucap Raquille, mengingatkan kembali kepada Aisling bahwa perempuan itu tidak bisa mengakses kekuatannya karena sedang mengenakan gelang kekangan surgawi.
“Sial… Aku lupa bahwa benda ini masih kupakai,” respon Aisling, kembali tersadar bahwa dirinya memang tidak bisa menggunakan kekuatannya saat ini.
“Ekh…” Akan tetapi, walaupun tidak memiliki kekuata Venerate, Aisling tetap saja bersikeras dengan langsung bergerak ke bagian belakang Raquille, kemudian melingkari leher pemuda Elfman itu dengan tangannya.
“Aisling… Apa yang kau lakukan?” Ucap Raquille, nampak kesulitan melepaskan tangan Asiling, walaupun sebenarnya dirinya bisa dengan mudah menangani hal tersebut, namun pemuda Elfman tidak mau menyakiti Aisling dengan menggunakan kekuatannya disaat perempuan itu tidak bisa menggunakan kekuatan Venerate miliknya.
“Kakak… Bantu aku.”
“Aisling… Jangan seperti itu… Ayo lepaskan tanganmu sekarang.” Mendengar permintaan tolong dari Raquille, Cyffredinol pun dengan sigap membantu pemuda Elfman itu untuk melepaskan tangan Aisling dari leher saudaranya.
**
“Tuan Haltryg… Terima kasih, berkat bantuanmu juga, aku berhasil mengingat kembali ingatan yang sempat hilang.” Disamping itu, Phyton datang menemui Haltryg untuk mengucapkan terima kasih karena bagaimanapun pemuda itu sudah membantunya mengingat kembali memori yang telah hilang darinya.
“Tidak masalah… Lagipula kau tidak perlu memanggilku dengan sebutan tuan, karena kurasa usia kita tidak berbeda jauh… Panggil namaku saja, tidak perlu memanggil dengan sebutan formal seperti itu,” ucap Haltryg.
“Baiklah… Kalau begitu, apa mungkin aku bisa memanggilmu dengan sebutan kakak saja?” Tanya Phyton.
“Silahkan… Senyaman kau saja…” Jawab Haltryg, mempersilahkan pemuda itu untuk memanggilnya dengan sebutan tersebut.
***
Berpindah di kota Nublid, dimana tampak yang sedang berada di dalam ruangan sedang memulihkan diri bersama dengan para Venerate penyihir negeri Ierua, tiba-tiba ditemui oleh seorang prajurit yang datang tergesa-gesa masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Maaf menganggu anda Yang mulia… Ini adalah berita yang baik, Yang mulia ratu Eubeil telah kembali tersadar lagi,” ucap prajurit tersebut.
“Baiklah… Terima kasih atas informasinya…”
Mendengar hal tersebut, Sheafear yang sedang memulihkan diri, seketika langsung bergegas keluar dari ruangan tersebut untuk menemui sang ratu Ierua yang bernama Eubeil tersebut.
***
Beberapa saat kemudian, Sheafear masuk ke sebuah ruangan dimana terlihat sang ratu Ierua bernama Eubeil tersebut sedang terbaring lemah di tempat tidur walau dalam keadaan sadar.
“Eubeil…” Sheafear duduk disamping sang ratu tersebut, kemudian memperhatikan keadaan dari ratu Ierua itu.
Walaupun memiliki penampilan layaknya perempuan berusia tiga puluh tahunan, namun sang ratu tersebut sebenarnya telah berusia di atas sekitar lima puluh tahun. Sedangkan alasan mengapa sang ratu bernama Eubeil tersebut tampak terbaring lemah, serta sering tidak sadarkan diri, akibat sang ratu sebenarnya memiliki sebuah enyakit kelainan, dimana dirinya sejak lahir tidak mampu beradaptasi dengan energi alam yang perlahan-lahan membuat organ tubuhnya menjadi lemah seiring waktu berjalan.
“Yang mulia… Kenapa kau hanya sendirian? Dimana Hazelise?” Tanya Eubeil, mengenai keberadaan dari putrinya Hazelisa yang tidak terlihat ketika dirinya telah kembali tersadar.
“Hazelise… Dia…” Mendengar pertanyaan dari sang ratu, membuat Sheafear pun menjadi kebingungan harus menjawab apa, karena putri mereka tersebut kini kemungkinan telah menjadi tawanan dari pasukan aliansi musuh mereka.
“Maaf sekali Eubeil… Putri kita sekarang sedang tidak berada di kota Nublid karena melakukan suatu hal di daerah lain.” Namun, Sheafear pun langsung memberikan alasan lain agar membuat sang ratu tidak menjadi khawatir mengenai keadaan dari putri mereka kini.
“Dia tidak berada di kota ini yah… Sayang sekali, aku yakin dia akan merasa senang jika melihatku bisa kembali tersadar,” respon Eubeil, sedikit kecewa karena tidak melihat putrinya berada di tempat itu ketika dirinya kembali tersadar.
Ketika Eubeil sedang menatap ke arah lain, Sheafear pun lantas memberikan sebuah isyarat dengan menggelengkan kepalanya kepada para petugas medis yang memang sudah berada di dalam ruangan tersebut, agar mereka tidak memberitahukan hal yang sebenarnya.
Para petugas medis itu pun langsung merespon dengan menganggukkan kepala mereka sekali, mengerti dengan isyarat yang diberikan oleh sang raja Ierua tersebut.
“Beristirahatlah… Aku harus meninggalkanmu, karena masih memiliki beberapa hal yang harus kulakukan,” ucap Sheafear.
Sebelum pergi beranjak, sang raja Ierua itu menyempatkn diri untuk mengelus rambut sang ratu sambil memperlihatkan ekspresi senyuman, nampak merasa senang melihat perempuan itu telah kembali tersadar.
***
Setelah pergi meninggalkan sang ratu Ierua, Sheafear kini berada di sebuah ruangan yang luas, dimana tak berada terlihat Cadhan bersama dengan para Continent Venerate Ierua, yang tidak lain merupakan para Venerate dari clan Riornain bersama dengan Barnedict, datang ke dalam ruangan tersebut.
“Salam Yang mulia… Sesuai perkataan anda, aku sudah mengumpulkan para Venerate tingkat atas yang masih tersisa,” ucap Cadhan.
“Apakah hanya kita saja yang tersisa?” Tanya Sheafear, nampak merasa ragu karena total dari Venerate tingkat atas Ierua yang masih belum tertangkap, hanyalah Sheafear sendiri bersama dengan Cadhan, yang merupakan World Venerate, serta lima Continent Venerate yang kini berada di ruangan tersebut.
“Benar sekali Yang mulia… Iardan dan Aisling yang merupakan World Venerate, serta sisa dari Continent Venerate kita kemungkinan sudah menjadi tawanan dari pasukan Aliansi Brizora,” jawab Cadhan.
“Kalau begitu, kau terpaksa harus menyuruh Ailis untuk segera datang bergabung dengan kita.”
“Ailis…” Mendengar hal tersebut, Cadhan pun menjadi ragu untuk mengikuti perintah dari rajanya tersebut.
“Ada apa? Apakah kau tidak bisa memanggilnya kembali? Atau apakah aku yang harus berbicara kepadanya?”
“Jangan khawatir… Walaupun hubungan kami sedang tidak baik akhir-akhir ini, namun aku memiliki sebuah cara untuk bisa memanggilnya ke kota Nublid secepatnya…”
“Karena bagaimanapun Ailis pasti akan sangat khawatir mengetahui bahwa putrinya Aisling sekarang telah berada di tangan pasukan musuh.”
Venerate bernama Ailis yang mereka bahas tersebut, ternyata merupakan istri dari Cadhan, ibu dari Aisling, serta merupakan nenek dari Phyton, yang sebenarnya telah meninggalkan ibukota Ierua karena memiliki pendapat yang berbeda dengan Cadhan yang sering melakukan hal semena-mena sebagai sang perdana menteri dari negeri tersebut.