The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 22 - Tekanan kekuatan yang besar



“Raquille Noroh…? Memangnya siapa orang itu? Kenapa kau sampai terkejutnya melihat orang itu di dalam pikiran Elfman ini?” Tanya pria bernama Ienin.


Namun, terlihat perempuan bernama Erissa itu hanya diam dan tidak menanggapi pertanyaan dari pria tersebut karena masih terkejut dengan apa yang dia lihat sebelumnya.


“Erissa… Jawab aku… Untuk apa orang itu akan datang kemari?” Pria bernama Ienin itu pun kemudian memegang erat kedua pundak Erissa karena penasaran dengan perkataan perempuan tersebut.


“Untuk menundukkan kita semua para pasukan kubuh timur.”


Mendengar perkataan dari perempuan itu, mereka sontak merasa bingung.


“Hah…? Menundukkan kita semua? Apakah dia memang sekuat itu sehingga kau mengatakan bahwa dia akan menundukkan kita para kubuh timur?” Tanya Gazou.


“Iya… Karena kekuatan orang itu setara dengan lima World Venerate,” jawab Erissa dengan yakinnya.


Sontak mereka semua pun menjadi terkejut setelah pernyataan dari perempuan itu, yang mengatakan bahwa Raquille setara lima orang World Venerate.


“Aku tidak sembarang mengatakan hal tersebut karena orang itu merupakan putra dari raja negeri Blueland, Razoranos Noroh, yang pada dasarnya memiliki gelar sebagai World Venerate yang paling disegani di dunia ini,” kata Erissa.


“Razoranos Noroh katamu…?” Mendengar hal tersebut sontak membuat Rumen serta Ienin menjadi lebih terkejut lagi.


“Apa mungkin dua Elfman ini juga, apakah adalah anak dari Razoranos Noroh?” Lanjutnya, bertanya.“Iya… Mereka berdua juga adalah anak dari Razoranos Noroh,” jawab Erissa.


“Razoranos Noroh… Akan menjadi hal sulit juga jika kita harus melawan Elfman itu. Mungkin dia tidak akan tinggal diam jika melihat anak-anaknya ditawan oleh kita.” Nampak Rumen terlihat khawatir setelah mendengar langsung dari Erissa bahwa kedua Elfman yang mereka tangkap itu merupakan anak dari raja Blueland.


“Jika memang benar seperti itu, berarti kita harus memperkuat kekuatan kita. Erissa… Aku ingin kau untuk mempengaruhi pikiran dari kedua Elfman ini serta para tawanan yang lain agar mereka dapat memihak pada kita, agar raja Blueland dan bahkan anak yang lain itu tidak berani untuk mengusik kita,” kata Rumen.


“Tuan Rumen… Tidak perlu khawatir… Aku saja sudah cukup untuk dapat melawan orang itu sendiri… Mungkin Erissa terlalu berlebihan mengatakan bahwa orang itu setarah dengan lima orang World Venerate.” Dengan percaya diri Gazou menyambung perkataan Rumen merasa tidak terusik dengan yang dibicarakan oleh Erissa sebelumnya.


“Aku tidak berbicara dengan berlebihan… Memang kenyataannya dia sekuat itu. Bahkan aku pernah sekali melihatnya berhadapan langsung dengan ayahnya, dimana saat pertarungan tersebut, Elfman itu dapat mengimbangi kekuatan dari raja Blueland tersebut.” Namun Erissa tetap meyakinkan mereka semua bahwa Raquille bukanlah orang yang dapat meremehkan begitu saja.


“Aku juga masih jelas mengingat bagaimana dia membantai para Guardian sepuluh tahun yang lalu. Itu hal yang sangat tidak bisa kupercaya sampai saat ini,” lanjutnya.


Alasan lain juga mengapa negeri dari para Elfman itu menjadi negeri yang disegani adalah karena ayah Raquille sendiri yang sering diklaim sebagai World Venerate terkuat. Mereka meyakini bahwa tingkat kekuatan dari raja Blueland tersebut sudah bukan tandingan dari para World Venerate yang berada di Lamue.


Walaupun sering disebut sebagai makhluk terkuat Lamue, raja Blueland itu pernah sekali berhadapan dengan anaknya Raquille dan berakhir seri. Hal itu juga membuat Erissa sangat yakin bahwa pemuda Elfman tersebut memiliki potensi menjadi seperti ayahnya.


–12 Juni 3029–


Pagi harinya di Sprintrobe kediaman clan Drown terlihat Neyndra sedang berada di taman sedang memperhatikan tanaman-tanaman yang berada di tempat tersebut. Beberapa waktu kemudian, nampak Drakon pun datang menghampirinya.


“Drakon… Kau sudah bangun?” Tanya Neyndra melihat pria itu datang menghampirinya.


“Eh… Aku sebenarnya sudah terbangun dari tadi,” jawab Drakon.


“Nona Neyndra… Apa kau ada waktu sebentar…? Ada yang ingin kubicarakan denganmu,” lanjutnya.


“Iya… Apa yang ingin kau katakan?” Mendengar bahwa Drakon ingin berbicara dengannya, Perempuan itu seperti memikirkan sesuatu.


“Begini… Aku… Sebenarnya… Ingin mengatakan tentang…” Kata Drakon dengan terbata-bata.


Nampak Neyndra seperti sudah mengetahui apa yang ingin dikatakan oleh pria itu. Dia melihat Drakon dengan serius dan menunggu pria tersebut mengatakannya.


“Aku… Sebenarnya… Eh… Sudah lama… Aku…”


“Iya… Apa itu Drakon, katakan?” Tanya Neyndra tidak sabar menunggu Drakon mengatakan hal tersebut.


Tiba-tiba saja Afucco terlempar dan sontak menabrak Neyndra sampai terjatuh.


“Uwaaah…!” Teriak Neyndra.


“Hei…! Kenapa kau ini…? Apa kau ada masalah denganku?” Kata Neyndra dengan nada tinggi memarahi saudaranya itu.


“Eh, kakak… Ini perbuatan dari kak Dierill,” kata Afucco.


Nampak Neyndra langsung menarik Afucco dan menghampiri Dierill.


“Dierill… Kenapa kalian berdua ini latihan di tempat ini? Pergi latihan di tempat lain sana. Dasar kalian…” Perempuan itu sontak mengomeli kedua adiknya tersebut.


Drakon yang melihat hal tersebut sontak hanya bisa terdiam karena ditinggal oleh Neyndra sendirian.


*


“Kurasa sekarang memang bukan waktu yang tepat untuk mengatakan hal tersebut padanya,” kata Drakon dalam hati nampak merasa kecewa tidak bisa mengatakan hal yang ingin dikatakannya.


***


Di lain tempat terlihat Zeidonas bersama Dimira sedang berada di sebuah kedai.


“Apakah tuan Joker masih belum menghubungimu lagi setelah terakhir kali dia menghubungimu?” Tanya Dimira.


“Iya… Dia masih belum menghubungiku lagi,” jawab Zeidonas.


“Zeidonas… Apa kau memang tidak tahu dengan apa yang tuan Joker dan tuan Flogaz cari di kediaman clan Drown itu?”


“Aku tidak tahu… Mereka tidak pernah mengatakannya padaku sebelumnya. Namun… Aku tetap penasaran dengan apa yang mereka cari itu. Apa mungkin mereka mencari senjata suci yang disembunyikan oleh clan Drown di tempat itu, sampai-sampai mereka harus menyelinap agar bisa masuk kesana?” Kata Zeidonas.


“Entahlah...” Respon Dimira.


Tak berapa lama terlihat tiga anggota tim Cielas, Saturno, Urano serta Venere masuk ke dalam kedai tersebut. Mereka kemudian duduk dan langsung memanggil pelayan di kedai itu.


“Pelayan… Bawakan kami makanan serta minuman terbaik yang ada di kedai ini,” kata Urano dengan agak sombong memerintah pelayan membawakan mereka makanan serta minuman.


**


Tak berapa lama, pelayan kemudian membawakan makanan dan minuman yang diminta oleh mereka. Namun tiba-tiba saja karena kehilangan keseimbangannya pelayan tersebut kemudian langsung terjatuh dan menumpahkan makanan serta minuman yang dipegangnya pada Urano dan Venere.


“Uwaah…!” Teriak Urano terkena tumpahan makanan dan minuman.


“Dasar bodoh… Beraninya kau mengotori pakaianku.” Karena kesal perempuan bernama Venere itu sontak mengumpati pelayan tersebut.


“Tuan… Nona… Maafkan aku… Aku tidak sengaja melakukannya. Akan segera kuganti dengan yang baru…” Pelayan tersebut nampak berasa bersalah karena telah menumpahkan makanan minuman ke arah mereka.


Namun, hal tersebut sontak tidak diterima oleh Urano. Dia kemudian berdiri dari tempat duduknya lalu mencengkram kerah pelayan itu.


“Hei… Berani-beraninya kau melakukan hal ini padaku dan adikku. Apa kau tahu siapa aku ini?”


“Tuan… Aku benar-benar meminta maaf. Aku memang benar-benar tidak bermaksud melakukan hal seperti ini,” kata pelayan tersebut memohon ampunan dari Urano.


“Tidak… Aku tidak menerimanya… Kau harus diberi pelajaran dulu,” Tiba-tiba pria itu mengangkat tangannya hendak memukul pelayan itu.


Tetapi, dalam waktu yang bersamaan tiba-tiba saja Raquille muncul dan langsung menahan tangan pria itu.


“Hei tuan… Aku melihat bahwa pelayan ini memang tidak sengaja melakukannya dan bahkan sudah dia meminta maaf padamu dan perempuan itu. Beraninya kau ingin memukulnya,” kata Raquille dengan erat menahan tangan Urano dan terlihat serius dari raut wajahnya.


“Siapa kau ini? Beraninya mencampuri urusan kami,” kata Urano menatap tajam Raquille.


“Lepaskan tanganku...”


“Minta maaf dulu pada pelayan ini dan lepaskan tanganmu darinya dulu.”


Tiba-tiba Urano seperti menyadari sesuatu saat tangannya ditahan oleh Raquille.


*


“Kenapa aku tidak bisa menggerakkan tanganku? Dan kenapa juga cengkraman tangannya ini terasa sangat kuat sekali?” Kata Urano dalam hati.


**


“Kalau aku tidak mau meminta maaf memangnya kenapa? Apa yang akan kau lakukan,” kata pria tersebut menantang Raquille.


Mendengar tantangan dari pria itu, Raquille pun langsung tersenyum. Pemuda itu dengan cepat melepaskan cengkraman tangan Urano dari pelayan tersebut lalu mendorongnya sampai terhempas keluar kedai tersebut.


Perbuatan dari Raquille sontak menjadi tontonan orang-orang yang berada di dalam kedai itu.


Tidak terima dengan perbuatan Raquille padanya, Urano pun langsung berdiri kembali lalu berlari ke arah Raquille dengan melayang pukulannya.


Namun, Raquille dengan mudah menahan pukulan dari pria itu. Raquille kemudian menggenggam kepalanya lalu membenturkannya ke lantai sampai membuat lantai tersebut hancur dihantam oleh kepala pria itu.


“Argh…!” Teriak Urano sekali lagi karena kepalanya dihantamkan ke lantai.


Melihat saudaranya dilakukan seperti itu oleh Raquille, Venere sontak langsung mencengkram kerah Raquille.


“Hei… Kau mau mencari masalah dengan kami?”


Raquille kemudian langsung menatap tajam perempuan tersebut dan membuatnya merasakan tekanan kekuatan besarnya, sehingga membuat perempuan itu merasa ketakutan.


*


“Apa…? Tekanan kekuatan macam apa ini..?” Kata Venere dalam hati merasa terintimidasi oleh tekanan kekuatan dari Raquille.


**


Perempuan itu perlahan-lahan melepaskan cengkraman pada Raquille dan hanya terdiam.


“Cukup…” Kemudian Saturno tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya setelah sedari tadi hanya menonton perseteruan mereka.


“Lebih baik kau lepaskan tanganmu itu dari adikku, atau aku yang akan melakukannya sendiri,” kata Saturno dengan tatapan tajam kepada Raquille.


Raquille pun langsung melepaskan tangannya pada Urano saat mendengar permintaan dari Saturno. Namun, Urano sontak berdiri kembali dan balik mencengkram kerah pemuda itu.


“Dan kau Urano… Hentikan apa yang akan kau lakukan itu?” Kata Saturno dengan tegas.


Saat mendengar perkataan dari kakaknya itu, Urano sontak langsung menurunkan tangannya melepaskan cengkraman tangannya.


“Aku memohon maaf atas nama adikku karena telah berbuat onar di tempat ini. Tapi, aku menolak untuk membayar makanan dan minuman tersebut karena itu memang murni kesalahan dari pelayan itu,” kata Saturno.


“Urano… Venere… Ayo kita pergi dari sini,” Saturno kemudian mengajak dua saudaranya untuk meninggalkan tempat itu.


Tanpa pikir panjang, kedua saudaranya itu langsung mengikuti Satunro meninggalkan kedai tersebut.


“Tuan… Maafkan aku karena sudah merusak lantainya,” kata Raquille.


“Tapi biar kuganti kerugiannya.” Pemuda itu lalu mengeluarkan dompet di dalam sakunya dan kemudian memberikan beberapa uang untuk mengganti kerugian yang diperbuatnya.


“Apa ini cukup…?” Tanya Raquille.


“Eh… Ini lebih dari cukup tuan,” jawab pelayan tersebut.


**


“Zeidonas… Dia itu adalah Elfman dari tim Drakon kan?” Tanya Dimira.


“Iya, itu memang dia,” jawab Zeidonas.


“Ternyata kekuatan fisik dari Elfman itu memang sangat luar biasa, dia bahkan bisa mendorong orang Cielas itu hingga terhempas hanya dengan menggunakan kekuatan fisiknya. Padahal yang kutahu ketiga orang itu adalah Land Venerate,” kata Dimira.


“Benar juga, kurasa dia akan menjadi lawan yang sulit di turnamen nanti. Aku penasaran seberapa kuatkah Elfman itu?” Kata Zeidonas yang penasaran juga pada Raquille.


***


Berpindah pada Saturno, Urano serta Venere yang telah meninggalkan kedai sebelumnya.


“Venere… Ada apa denganmu? Kau dari tadi terlihat ketakutan saat melihat pria berambut putih itu,” tanya Saturno.


“Entah kenapa saat aku mencengkeramnya tadi, aku seperti merasakan tekanan kekuatan yang besar pada pemuda itu,” jawab Venere.


“Tekanan kekuatan yang besar katamu…?” Tanya Saturno, bingung.


“Iya… Sepertinya orang itu lebih kuat dari kita,” kata Venere.


“Aku akui kekuatan fisiknya itu kuat, dia bahkan bisa dengan mudah menghempaskanku. Tapi, jika saat itu aku serius, orang itu pasti yang akan kalah.” Dengan percaya dirinya Urano menyambung perkataan mereka mengatakan bahwa Raquille bukan tandingannya.


“Sudahlah… Lupakan saja apa yang terjadi sebelumnya. Dan kau Urano, apa kau tidak apa-apa..?” Tanya Saturno tentang keadaan dari saudara laki-lakinya itu.


“Lihat ini… Kau tidak apa-apa…? Baru sekarang aku mendengar hal itu darimu. Apa ada yang salah denganmu kakak…?” Urano pun sontak terheran dengan sikap kakaknya yang dirasanya tidak biasa itu.


“Heh, ternyata kau baik-baik saja. Percuma aku menanyakan keadaanmu,” kata Saturno.


***


Kemudian di Sprintrobe terlihat Drakon yang nampak sedang kebingungan mencari sesuatu.


Melihat orang tersebut kebingungan mencari-cari sesuatu yang tidak hendak juga ditemukan olehnya, Bohrneer pun sontak bertanya padanya. “Hei… Apa yang kau cari…?”


“Aku mencari dompetku, apa kau melihatnya?” Tanya balik Drakon.


“Dompetmu…? Tidak aku tidak melihatnya,” kata Bohrneer.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Bohrneer, Drakon pun kemudian terus melanjutkan mencari dompetnya tersebut.


“Hei… Bisakah kau itu tidak bolak-balik di depanku dan menggangu konsentrasiku saat sedang membaca buku ini. Lebih baik lupakan saja dompet sialanmu itu.” Tampak Bohrneer merasa risih melihat tingkah dari pria itu.


“Hei mantan perampok… Aku malah curiga padamu sekarang. Apa kau yang mengambil dompetku?” Tanya Drakon menatap tajam Bohrneer.


“Apa aku…? Mengambil dompetmu…? Untuk apa aku mengambil dompetmu itu, aku bahkan saat berada disini diberikan fasilitas yang baik… Untuk apa aku mengambil dompetmu itu, yang bahkan mungkin tidak ada isinya sama sekali didalamnya,” kata Bohrneer merespon tuduhan Drakon padanya.


“Apa katamu… Setelah mendengar katamu itu, aku menjadi lebih curiga terhadapmu.”


“Hei… Beraninya kau menuduhku sembarangan tanpa bukti, aku tidak berbohong…”


“Tunggu sebentar, aku ingat sesuatu.” Tiba-tiba mantan perampok itu seperti mengingat sesuatu.


“Apa itu…? Cepat katakan, pasti kau yang mengambilnya kan?” Kata Drakon masih menuduh Bohrneer.


“Tadi sebenarnya aku melihat tuan Raquille memegang sebuah dompet.”


“Apa…? Raquille katamu…? Kemana dia sekarang?”


“Mungkin ke kota?”


“Apa…? Sialan dengan orang itu.” Kemudian Drakon langsung keluar untuk mengejar Raquille ke kota.


Namun, saat Drakon ingin mengejar Raquille yang pergi ke kota, ternyata pemuda itu sudah sampai duluan di tempat itu.


“Tuan prajurit… Kenapa kau tergesa-gesa?” Tanya Raquille.


“Kembalikan dompetku,” kata Drakon meminta dompetnya.


“Dompetmu…” Mendengar hal tersebut, pemuda itu langsung mengambil dompet dari sakunya.


“Ini...” Kemudian Raquille memberikan dompet tersebut, yang sontak dengan cepat langsung diambil oleh Drakon.


Dia pun membuka dompet tersebut dan mendapatkan bahwa dompet tersebut telah kosong.


“Hei sialan… Dimana uangku…?” Tanya Drakon.


“Eh… Tadi sebenarnya aku sedikit berbuat kerusakan, jadi aku terpaksa harus mengganti kerugiannya dengan uang di dompet itu.”


“Maaf jika uangnya habis… Sebenarnya aku ingin memakai sedikit untuk membeli minuman di kedai tadi,” kata Raquille dengan polosnya sambil menggaruk-garuk kepalanya.


“Apa…! Tidak…!” Teriak Drakon dengan menyesalnya.