
Goncangan yang dibuat oleh pria bernama Arvhen tersebut perlahan-lahan membuat tiang serta dinding-dinding ruangan tempat mereka berada mulai retak.
Semua Venerate yang menyaksikannya sontak ketakutan hingga pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Namun, diantara semua Venerate yang melarikan dari hanya tersisa satu orang perempuan, yang tampak tidak merasa takut dengan tekanan kekuatan pemimpin negeri Graina itu.
“Arvhen, hentikan…” Ucap si perempuan.
“Percuma saja kau jika kau emosi seperti ini, itu hanya akan membuat kita semua yang berada di kota ini mendapatkan kesialan.” Perempuan itu kemudian memperingati untuk berhenti mengeluarkan tekanan kekuatannya.
Setelah mendengar ucapan perempuan itu, Arvhen pun berhenti mengeluarkan tekanan kekuatannya.
“Egata, kalau begitu jangan hanya memberi nasehat saja, sekarang untukmu menyerang.” Dia lalu memerintahkan perempuan bernama Egata tersebut untuk menyerang Nascunia kembali.
Tanpa jawaban apapun, perempuan itu langsung meninggalkan Arvhen sendirian di ruangan tersebut.
–Februari sampai Mei 1431–
Waktu pun berlalu, selama beberapa bulan pasukan Graina yang dipimpin oleh Venerate bernama Egata menyerang negeri Nascunia, mereka tetap saja tidak mengalami kemajuan.
Pasukan Graina terus saja mengalami kekalahan dan selalu dipukul mundur karena harus melawan Nascunia yang dibantu oleh pasukan Geracie.
Akibat hal tersebut sebagian kecil wilayah negeri Graina berhasil diambil alih oleh pasukan Nascunia.
Arvhen sebagai pemimpin negeri Graina menjadi geram mendengar kekalahan dari pasukannya tersebut dan tidak mau lagi untuk berdiam ditempatnya.
–6 Mei 1431–
Pasukan Nascunia bersama dengan pasukan Geracie menyerbu masuk ke salah satu kota negeri Graina dan mulai mengalahkan satu per satu prajurit-prajurit negeri tersebut.
Sisa pasukan Graina yang tidak dapat mengimbangi kekuatan dari pasukan aliansi musuh mereka tersebut sontak menjadi ketakutan dan kemudian mulai melarikan diri satu per satu.
Situasi kini berbalik kepada para pasukan Nascunia yang telah memiliki kekuatan tambahan dari pasukan Geracie. Sejak kekalahan Graina sebelumnya, pasukan dari negeri aliansi mereka kembali dan tidak mendukung lagi negeri Graina menyerang negeri Nascunia.
Saat sisa pasukan Venerate Graina satu per satu meninggalkan kota, tiba-tiba beberapa pesawat tempur negeri tersebut datang membantu dengan meluncurkan tembakan ke arah pasukan Nascunia dan Geracie.
Pada waktu yang sama, beberapa Venerate Graina yang lebih kuat dari sebelumnya turun dari armada pesawat mereka.
Para Venerate tersebut seketika menyerang pasukan aliansi Nascunia dan Geracie hingga keadaan diantara kedua kubuh itu kini menjadi sedikit lebih seimbang.
Mereka terus-terusan menyerang, melancarkan serangan yang cukup kuat secara bersamaan sampai membuat pasukan aliansi Nascunia dan Geracie menjadi ketar-ketir.
Para Venerate Graina hampir saja mengalahkan semua prajurit aliansi Nascunia dan Geracie yang ada, akan tetapi sebuah pancaran petir yang besar seketika meluncur menghantam beberapa armada pesawat Graina hingga terjatuh.
Hal itu pun membuat para Venerate Graina terkejut hingga berhenti menyerang pasukan aliansi musuh mereka.
“Apa yang terjadi?” Tanya salah satu dari mereka.
“Ternyata setelah kalian masih bisa menyerang lagi setelah kehilangan aliansi kalian…”
“Kurasa kali ini aku yang harus turun juga untuk mengatasi kalian.” Terlihat seseorang muncul yang tidak lain adalah Vyalko Hrisvakos, prajurit Continent Venerate dari negeri Geracie yang datang bersama Spirgios sebelumnya membantu pasukan Nascunia.
“Vyalko Hrisvakos…”
Melihat pria tersebut muncul dihadapan mereka, semua Venerate Graina itu pun menjadi ragu untuk menyerang kembali.
Mereka sadar pada tingkatan kekuatan mereka yang berada satu tingkat dibawah pria itu, hingga hal yang harus mereka lakukan saat ini adalah memanggil Venerate yang memiliki tingkatan setara dengan pria tersebut.
“Hei, ada apa? Kenapa kalian berhenti menyerang saat melihatku… Padahal kalian sedang berlima sekarang,” ucap Vyalko, mengejek para Venerate Graina yang ragu untuk menyerang.
Tidak memiliki pilihan yang lain, para Venerate tersebut akhirnya maju menyerang pria bernama Vyalko itu secara bergantian.
Serangan yang dilancarkan oleh mereka dengan sigap langsung dihindari oleh Vyalko dengan santainya.
“God lightning… Deadly shock strike…” Setelah puas menghindari semua serangan dari para Venerate Graina tersebut, kini giliran prajurit Geracie itu melancarkan serangannya.
“Akh…!” Pancaran petir yang besar seketika muncul dan menyetrum semua Venerate Graina tersebut hingga membuat mereka menjerit.
Dengan sekejap serangan yang dilancarkan oleh Vyalko melumpuhkan lima prajurit Land Venerate Graina itu.
“Jadi hanya ini Venerate yang diturunkan oleh Graina… Sangat membosankan,” gumam Vyalko.
Belum lama pria itu mengucapkan kata tersebut, tiba-tiba World Venerate Graina yang bernama Egata perlahan-lahan mendekat.
Entah apa bagaimana, situasi menguntungkan bagi kedua belah kubuh tersebut terus saja berganti. Dari pihak Graina memunculkan salah satu prajurit terkuat mereka yang kini harus berhadapan dengan Vyalko.
“Ini baru sebuah tantangan… Sebuah kehormatan bisa melihatmu turun langsung ke medan pertempuran ini, nona Egata Grelova…” Ucap Vyalko memuji perempuan bernama Egata tersebut.
“Tak usah bersikap formal kepadaku… Aku kemari untuk memukul mundur kalian semua,” balas Egata.
Vyalko memasang ekspresi tersenyum mendengar perkataan perempuan tersebut. Dengan sekejap Vyalko meluncur ke arah Egata hendak menyerangnya, namun saat hampir menyerang perempuan Graina tersebut, tiba-tiba sebuah dinding penghalang tak kasat mata menghalangi serangannya.
*
“Apa…?” Ucap Vyalko dalam hati, sedikit terkejut.
**
Vyalko dengan sekejap menghilang dan muncul tepat dibelakang perempuan itu untuk menyerangnya.
Akan tetapi hal yang sama tetap terjadi, sebuah dinding tak kasat mata kembali menghalangi serangannya.
“Ukh…” World Venerate Graina itu dengan refleks menghadap ke belakang dan langsung melancarkan serangan elemen cahayanya hingga membuat Vyalko terhempas.
Belum menerima serangan yang cukup efektif, Vyalko pun dengan sigap kembali maju mendekati Egata.
Dengan kecepatan yang sangat tinggi, pria itu mencoba menyerang Egata dengan terus berpindah ke segala titik.
Tiba-tiba serangan Vyalko menyentuh Egata, namun hal tersebut langsung ditangkis oleh perempuan itu.
Egata yang terkejut karena, seketika kembali melancarkan serangan elemen cahayanya, akan tetapi Vyalko dengan sekejap mata langsung menghilang dan muncul di tempat yang jauh.
Disaat menyerang World Venerate itu sebelumnya, Vyalko akhirnya terpikir akan sesuatu, dimana dinding yang sebelumnya menghalangi serangannya sebenarnya lebih lambat aktif dibanding kecepatannya.
Setelah mengetahui hal tersebut, Venerate Geracie itu seketika meningkatkan kekuatannya hingga tubuh pria tersebut memancarkan pancaran energi petir.
Egata yang baru saja melihat pria itu berdaya dihadapannya, dalam sekejap menghilang disaat perempuan mengedipkan matanya.
*
“Sial…” Gumam Egata dalam hati, tidak bisa memperkirakan hal tersebut.
**
Baru saja perempuan itu sadari, Vyalko dengan sekejap telah berada tepat disampingnya sambil hendak melancarkan serangan elemen petir yang sangat besar kepadanya.
“Akh…!” Beruntungnya sebuah serangan yang entah darimana tiba-tiba meluncur menghantam Vyalko hingga terhempas.
Egata yang terlambat merespon hanya bisa terkejut sambil melihat ke segala arah, memastikan arah serangan yang baru saja menolongnya.
“Egata… Bagaimana mungkin orang itu membuatmu tak berkutik walau hanya dalam waktu sepersekian detik saja.”
Ternyata serangan yang meluncur tersebut berasal dari Arvhen, pemimpin negeri Graina.