The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 26 - Ice cursed



Di dalam air, terlihat Venere yang masih berusaha mengejar Nolani untuk mengambil tongkatnya yang berada ditangan Mermaidman tersebut.


Seketika karena telah kehabisan nafasnya, Venere melemas dan mulai kehilangan kesadarannya. Dia pun terlihat perlahan-lahan tenggelam sampai ke dasar.


Melihat perempuan yang telah kehilangan kesadarannya, Nolani pun langsung melepaskan tongkat yang dipegangnya itu dan menuju permukaan untuk melawan Raquille.


Nampak tongkat yang dilepaskan oleh Nolani itu turun ke bawah dan jatuh tepat di tangan Venere.


**


“Urgh… Mermaidman itu lama sekali muncul.” Nampak Raquille terlihat berdiri di atas permukaan air menunggu Nolani keluar ke dari air.


**


Tiba-tiba Mermaidman itu seperti merasakan sesuatu dari bawah mendekat ke arahnya. Dia pun kemudian menoleh ke bawah.


Terlihat sesuatu yang mendekat tersebut merupakan Venere. Seketika Mermaidman itu pun langsung dihantam oleh Venere, yang meluncur dengan cepat ke arahnya. Hal tersebut sontak membuatnya langsung terhempas keluar air sampai ke udara.


Nampak Venere keluar dari air dan langsung melayang di udara. Dia kini terlihat mengalami perubahan wujud, dimana perempuan itu kini memiliki sayap proyeksi energi berwarna jingga keemasan, rambut serta matanya, yang sebelumnya berwarna cokelat, kini berubah seperti warna dari sayapnya tersebut. Terlihat juga tongkat yang dipegangnya kini berubah menjadi tombak emas bermata lima.


“Pelepasan kedua yah…? Kurasa kali akan sedikit sulit,” kata Raquille yang masih berdiri di atas permukaan air.


Seketika uap es keluar dari tubuhnya. uap es tersebut kemudian memadat menjadi sebuah zirah es, yang langsung menutupi hampir seluruh tubuhnya.


“Ice shaping… Elfman knight armor…” Kata Raquille yang kini melapisi tubuhnya dengan zirah dari es.


Raquille juga menciptakan tombak es, yang kemudian memunculkan aksara rune disekitar zirah es serta tombak esnya tersebut.


Lalu terlihat Nolani yang sebelumnya terhempas ke atas, kini mulai terjatuh ke bawah.


Saat Mermaidman itu terjatuh ke dalam air. Sontak Raquille serta Venere dengan cepat maju dan melancarkan serangan mereka secara bersamaan.


Efek tabrakan serangan mereka berdua pun menciptakan sebuah hempasan angin yang langsung dirasakan oleh para peserta serta para penonton yang menonton pertarungan mereka.


**


“Dia bisa mengimbangi kekuatan Venere yang sudah mengaktifkan kekuatan pelepasan kedua…?” Kata Urano, nampak terkejut.


“Kurasa itu karena aksara-aksara yang berada di sekitar zirah serta tombak esnya tersebut,” kata Saturno.


**


Raquille dan Venere pun kini terlihat saling melancarkan serangan mereka dengan sangat cepat. Saking cepatnya, mereka semua yang menonton, hanya dapat melihat tabrakan cahaya berwarna emas dan biru.


Raquille pun melancarkan serangan pedang es ke arah Venere, yang dengan mudah langsung ditepis perempuan itu.


“Morning star… High pushing…” Venere pun membalasnya dengan mengeluarkan serangan tekanan yang membuat Raquille langsung terhempas menabrak dinding arena.


Serangan tekanan dari Venere itu pun sontak membuat zirah es dari Raquille itu perlahan-lahan retak dan akhirnya hancur.


“Sial…” Keluh Raquille melihat zirah esnya dengan mudah dihancurkan oleh Venere dengan menggunakan serangan tekanannya.


Raquille pun kemudian langsung terbang ke arah Venere untuk menyerangnya.


Melihat Elfman itu datang ke arahnya untuk menyerang, Venere dengan cepat berpindah tempat ke bagian belakang Elfman tersebut.


Raquille yang terkejut bahwa Venere dengan seketika sudah berada di belakangnya, kemudian dengan sigap langsung menoleh ke belakang.


Perempuan itu lalu melancarkan serangan tebasan jarak jauh dari tombaknya tersebut, sehingga membuat tombak es Raquille seketika hancur, saat menahan serangan tersebut.


“Sialan…” Keluh Raquille melihat pertahanannya satu per satu dihancurkan perempuan itu.


“Morning star… Holy pressure…” Seketika muncul sebuah tekanan tinggi di atas Raquille, yang sontak membuat Raquille langsung terdorong sampai ke dasar air.


“Sial…!” Keluh Raquille lagi di dalam air.


“Ice spring…”


Tiba-tiba muncul duri es yang langsung menusuk kaki Venere. Seketika kekuatan tekanan Venere yang menahan Raquille pun menghilang. Dengan cepat pemuda langsung terbang keluar dari air.


Terlihat kaki Venere yang terluka akibat serangan elemen es Raquille kembali pulih.


“Ice spring… Blooming thorns…” Kata Raquille sekali lagi.


Kemudian duri es langsung muncul kembali di dekat Venere, yang sontak membuatnya langsung menghindar.


Namun, duri es itu sontak berkembang terus ke arah Venere, yang membuatnya langsung lari menghindar.


Tetapi, tetap saja serangan es dari Raquille itu berkembang terus mengikuti arah terbang dari Venere.


Tiba-tiba saja Raquille telah berada di hadapan Venere. Pemuda itu kemudian langsung menendang Venere dengan kuat sampai membuat perempuan itu terhempas menabrak dinding arena.


Belum menyerah, Venere kemudian terbang kembali ke atas dan terlihat mulai kesal karena sulit sekali mengalahkan Elfman dihadapannya tersebut.


“Kau mau menguji kesabaranku Elfman…?” Kata Venere, terlhat kesal.


Dia kemudian berkonsentrasi untuk membuat sebuah serangan.


“Morning star… Holy flame…” Terlihat tombaknya mengeluarkan serangan elemen api yang besar, yang langsung menuju ke arah Raquille.


“Haah… Merepotkan saja.” Nampak Raquille hanya berdiam diri menanti serangan api Venere itu ke mengarah padanya.


Raquille terlihat menutup matanya, tak berapa lama kemudian dia kembali membukanya, tampak pancaran cahaya berwarna biru terpancar dari matanya.


“Divine ice…” Kata Raquille yang seketika langsung membekukan serangan elemen api dari Venere tersebut.


Terkejutnya mereka semua melihat serangan elemen api tersebut dapat dibekukan oleh Elfman itu.


**


“Bagaimana mungkin dia bisa membekukan api…?” Kata Urano, terkejut.


**


“Es macam apa yang dipakainya itu…?” Kata Gerhanther yang juga terkejut.


**


Terlihat Venere sudah sangat kesal langsung maju untuk menyerang Raquille. Namun, dengan mudah Raquille langsung mencengkram leher perempuan.


“Hei… menyerahlah sekarang…” Kata Raquille menyuruh Venere untuk menyerah.


Tetapi, perempuan itu langsung mengayunkan tombaknya ke arah Raquille. Pemuda itu sontak langsung memegang erat tombak yang diayunkan kepadanya tersebut.


“Ice Cursed… Cold hell…” Kata Raquille, yang seketika membuat Venere berhenti.


Setelah Raquille mengatakan kata tersebut, Venere terlihat kembali ke wujudnya semula.


“Asal kau tahu saja… Jika aku menginginkannya… Kau sudah kubunuh sejak tadi...”


“Tapi, aku mengampunimu… Sebagai seorang World Venerate...” Kata Raquille membuka rahasianya didepan Venere.


Mendengar hal tersebut, Venere sontak langsung terkejut.


Karena lehernya dicengkram kuat oleh pemuda tersebut, Venere seketika langsung tidak sadarkan diri.


Melihat perempuan itu sudah tidak bisa melakukan perlawanan lagi dikarenakan telah tidak sadarkan diri, Raquille kemudian mengangkat perempuan itu kepundaknya kemudian perlahan-lahan turun ke bawah dan berdiri di atas permukaan air kembali.


Lalu Raquille menggunakan sihirnya untuk mengangkat Nolani serta Ascelin dari dalam air.


“Hei Pixieman… Ubah arena ini seperti semula kembali,” kata Raquille menyuruh Messen untuk mengubah permukaan tengah arena menjadi tanah kembali.


Mendengar hal tersebut, Messen sontak langsung melompat ke tengah arena. Seketika saat dia menginjak permukaan air, air yang berada di permukaan tengah arena itu sontak berubah menjadi tanah kembali.


**


Tak lama setelahnya terlihat wasit masuk ke tengah arena untuk mengumumkan pemenang pada pertandingan kali ini.


“Baiklah… Pada pertandingan ini adalah Laventille Noroh dari tim Fuegonia B.” Kata wasit.


Kemudian terdengar sorakan dari para warga Novacurve yang menonton pertandingan tersebut.


Setelah itu di layar langsung memperlihatkan perolehan poin dari semua tim.


Fuegonia B (7), Vielass (7), Fuegonia A (6), Lightio (6), Asimir (6), Mormist (3), Neodela (3), Cielas (2), Machora Tira (1).


**


Kemudian di luar arena turnamen memperlihatkan kembali perempuan bernama Ailene, yang bersama dengan seorang pria.


“Lihat dulu… Elfman itu bukan mewakili negeri Blueland, tapi negeri Fuegonia,” kata pria tersebut menunjuk layar yang memperlihatkan perolehan poin dari seluruh tim.


“Fuegonia B… Hmph… Jadi Fuegonia memiliki lebih dari satu tim,” kata bernama Ailene tersebut.


**


“Regional Venerate dapat dengan mudah mengalahkan Land Venerate…? Ini terlihat mencurigakan bagiku,” kata Fegant nampak curiga terhadap Raquille.


*


“Sekuat apa pun kalian mencoba mengalahkannya… Kalian tetap tidak bisa mengalahkan Venerate yang memiliki tingkatan yang jauh lebih tinggi dari kalian,” kata Drakon dalam hati.


**


“Ini membuatku lebih curiga padanya…” Kata Rourke.


“Apa maksudmu?” Tanya Rox.


“Eh… Tidak… Bukan apa-apa.”


**


Kemudian Raquille membaringkan Venere yang pingsan tanah. Beberapa saat kemudian, terlihat Saturno dan Urano melompat ke tengah arena menghampiri Venere. Saturno kemudian mengangkat Venere dan lalu membawanya.


Terlihat Urano menatap tajam Raquille, setelah apa yang dia lakukan pada saudaranya tersebut.


“Tunggu saja kau di pertandingan akhir… Kau pasti akan kukalahkan,” kata Urano pada Raquille.


Namun Elfman itu hanya membalas perkataan Urano dengan hanya tersenyum.


Kemudian terlihat Bohrneer serta Heinz langsung melompat ke tengah arena dan menghampiri Raquille.


“Tuan Ra…” Kata Bohrneer yang terhenti karena melihat kode dari Raquille untuk tidak memanggil nama aslinya.


“Laventille… Akhirnya kau menang…” Seru Bohrneer yang kemudian mengangkat Raquille bersama dengan Heinz.


Setelah mengangkat Raquille, mereka bertiga pun kembali ke tribun.


**


Tak berapa lama, Tomair, pembawa acara di turnamen itu datang ke tengah arena.


“Para hadirin sekalian… Pertandingan tadi juga merupakan pertandingan terakhir pada malam hari ini.”


“Kita akan melanjutkan turnamen ini pada besok malam… Diharapkan para peserta Land Venerate yang tersisa agar bersiap untuk pertandingan pada besok malam…”


“Kalau begitu… Aku Tomair Blonnes… Undur diri,” kata pembawa acara itu, yang kemudian meninggalkan tengah arena.


**


“Heh… Akhirnya besok adalah giliran kita… Aku sudah tidak…”


“Aku sudah tidak sabar lagi menunggu hari esok… Ini pasti akan menarik…” Kata Gerhanther.


Belum sempat Zeidonas menyelesaikan perkataannya, dia langsung terkejut setelah mendengar Gerhanther mengatakan hal tersebut.


**


“Jadi Land Venerate di tim ini hanya tersisa aku yah…” Kata Orcman bernama Zurbag.


**


“Walaupun tim kita kalah hari ini… Namun, besok pasti kita akan memenangkan pertandingannya,” kata Ogreman bernama Iezig.


**


“Aku pasti akan merebut poin kemenangan besok…” Kata Fairyman bernama Eldriata.


**


“Jangan berkecil hati… Mungkin hari ini memang bukan keberuntunganmu,” kata Gnomeman bernama Horner pada Messen.


“Kuharap kau bisa memenangkan pertandingan pada besok hari,” kata Messen.


“Itu pasti,” respon Horner dengan percaya diri.


**


“Hei… Dossur… Rys… Apa kalian sudah si…” Kata Giantman Fegant yang sontak langsung terhenti.


“Bahkan lebih siap darimu…” Kata Dwarfman bernama Dossur dan Goblinman bernama Rys secara bersamaan.


**


“Kakak apa kau sudah tidak sa…”


“Aku tahu… Sudahlah…” Kata Dierill.


“Aku bahkan belum menyelesaikan perkataanku,” kata Afucco.


**


“Hei, Bohrneer… Apa kau sudah tidak sabar menunggu hari esok?” Tanya Drakon.


“Jelas sekali aku sudah sangat tidak sabar ingin mengalahkan lawan-lawanku nanti… Bagaimana denganmu…?” Jawab Bohrneer yang kemudian bertanya balik pada Drakon.


“Sama sepertimu…” Kata Drakon kemudian menatap tajam Zeidonas.


Sontak Zeidonas membalas tatapan tajam dari Drakon dengan sebuah senyuman.


**


Beberapa saat kemudian, berpindah pada Venere yang terbaring di ruangan medis, yang berada di arena turnamen. Saat dia sadar, terlihat Saturno dan Urano telah berada di situ.


“Venere… Kau sudah sadar…? Bagaimana keadaanmu?” Tanya Urano tentang keadaanya.


“Apa yang terjadi padamu sebenarnya? Kenapa kau saat itu berubah kembali setelah dicekik oleh Elfman itu?” Tanya Saturno.


“Entah kenapa… Saat aku akan menyerangnya tadi, dia seperti membacakan sebuah mantra sihir, yang sontak membuatku tidak bisa bergerak,” jawab Venere.


Seketika Venere mengingat perkataan dari Raquille, yang mengatakan bahwa dirinya merupakan Venerate tingkatan World. Venere pun kemudian bangun.


“Kakak… Elfman itu sebenarnya dia adalah…” Kata Venere yang kemudian langsung terhenti.


Venere terlihat terbaring kembali dan seperti merasakan rasa yang amat dingin. Nampak mulutnya terlihat mengeluarkan uap dingin.


“Venere… Ada apa…? Apa yang terjadi padamu?” Tanya Saturno, khawatir.


“Kakak… Aku tidak bisa menggerakan tubuhku… Dan juga kenapa tubuhku ini terasa sangat dingin sekali…” Kata Venere.


“Apa yang sebenarnya terjadi padamu?” Kata Saturno, yang kebingungan.


**


Kemudian di Sprintrobe, tepatnya di ruangan bawah tanah. Nampak Joker dan Flogaz yang masih berada di tempat tersimpannya batu kristal yang mereka cari.


Terlihat Flogaz masih berkonsentrasi untuk menghancurkan mantra pengunci pada kotak yang menyimpan batu kristal tersebut.


“Flogaz… Apa memang masih lama lagi…?” Tanya Joker.


Nampak pria itu merentangkan tubuh di lantai. Dia terlihat memainkan sebuah bola karet, yang selalu dia dilemparkannya ke dinding dan kembali ke tangannya kembali secara berulang kali karena merasa bosan menunggu Flogaz yang masih berusaha menghancurkan mantra pengunci pada kotak tersebut.


“Iya… Mungkin dua hari lagi… Jangan menggangguku, aku sedang berkonsentrasi… Atau kita akan lebih lama lagi berada di tempat ini,” kata Flogaz.


“Sial… Jadi aku juga harus terjebak di sini selama dua hari lagi... Tanpa makan dan minum.” Kata Joker, yang terlihat kesal.


“Makan dan minum? Bukannya kalian hanya meminum darah?” Tanya Flogaz.


“Kenapa? Memangnya kau mau menawarkan darahmu?” Tanya balik Joker.


“Tidak bodoh,” kata Flogaz dengan nada tinggi.


“Vampireman itu memiliki setengah gen manusia. Jadi kami harus makan dan minum layaknya seperti manusia biasa. Kami meminum darah hanya saat menggunakan sebuah teknik,” kata Joker menjelaskan hal tersebut.


“Memangnya teknik seperti apa itu?” Tanya Flogaz penasaran.


“Nanti saja jika kau melihatnya, pasti kau akan tahu.”