
Tak perlu menunggu lama, Gerhanther langsung meluncurkan belati-belati tersebut ke arah Dossur, yang sontak membuatnya dengan sigap menciptakan dinding pasir.
Namun, tiba-tiba saja belati-belati itu memancarkan energi listrik, yang membuatnya dengan sekejap menembus dinding pasir Dossur.
Dengan refleks, Dwarfman itu langsung melompat kesamping untuk menghindarinya. Pisau-pisau yang dihindarinya itu kemudian langsung menancap ke dinding arena.
Dossur kemudian membalas serangan Gerhanther dengan menciptakan beberapa pasak dari elemen pasir dan meluncurkannya pada pemuda itu.
Melihat serangan itu, Gerhanther sontak hanya meresponnya dengan tersenyum. Tiba-tiba pisau yang sebelumnya menancap pada dinding arena kembali melayang dan menepis semua serangan Dossur.
“Hahaha… Tuan Dwarfman, coba serang aku lagi,” kata Gerhanther, menantang Dwarfman itu.
Seketika ekspresi dari Dwarfman itu berubah menjadi terkejut setelah melihat seseorang berada di belakang Gerhanther.
Tanpa disadari oleh pemuda itu, Urano kini telah berada di sampingnya.
Pria itu kemudian menendang Gerhanther dengan sepatu besinya, yang sontak membuat pemuda itu dengan refleks langsung menangkisnya.
“Breaker wind… Strong pushing…” Saat menahan serangan dari Urano, tiba-tiba Gerhanther terhempas oleh serangan dorongan elemen angin dari pria tersebut.
**
Beberapa saat kemudian terlihat Drakon dengan Eldriata kini keluar dari tumpukan pasir.
Fariryman perempuan itu kemudian dengan cepat langsung maju ke hadapan Dossur sambil mengayunkan pedangnya.
Melihat ayunan pedang dari Eldriata padanya, Dossur pun dengan lincah langsung menghindarinya.
**
Di sisi lain terlihat Gerhanther dan Urano kini saling berhadapan dengan saling melancarkan serangan satu sama lain.
**
“Mungkin aku menunggu saja jika salah satu dari petarung mengalahkan lawannya.” Drakon yang tidak berhadapan dengan siapa pun nampak hanya berdiam diri menonton pertarungan dari petarung itu.
**
“Heh… Ini tidak menarik. Kenapa dia hanya menonton pertarungan mereka?” Kata Raquille.
“Mungkin ini strategi dari Drakon untuk menunggu beberapa petarung dikalahkan terlebih lebih dahulu, baru setelahnya dia akan menyerang petarung yang tersisa,” kata Neyndra.
**
Kembali pada pertarungan Eldriata dan Dossur. Nampak Fairyman perempuan itu masih berusaha melancarkan serangannya pada Dossur, yang dengan sangat lincah dapat menghindari serangannya tersebut.
Sontak Dossur seketika menciptakan sebuah dinding pasir, yang membuat pedang dari Eldriata langsung menancap pada dinding pasirnya tersebut.
“Sialan… Dinding pasir ini,” kata Eldriata dengan kesalnya.
“Water manipulation… Long slash of high pressure water…” Eldriata kemudian mengeluarkan serangan tebasan panjang elemen airnya, yang sontak membuat dinding pasir dari Dossur terpotong.
Melihat serangan air dari Eldriata hampir mengenainya, dengan cepat Dwarfman itu menunduk.
Namun, serangan elemen air yang dihindarinya itu seketika kembali mengarah padanya. Dossur pun akhirnya memilih melompat kesamping untuk menghindari serangan tersebut.
“Haah… Sial, teknik ini sangat berbahaya jika mengenaiku,” kata Dossur.
Tiba-tiba Eldriata menggerakkan serangan elemen air tersebut secara acak, yang membuat Dwarfman tersebut kewalahan untuk menghindarinya.
“Argh…!” Karena sangat kewalahan menghindari serangan dari Fariyman perempuan itu, sontak membuat Dossur seketika menerima serangan tebasan tersebut.
“Heh… Sangat mudah ternyata mengalahkan Dwarfman,” kata Eldriata dengan tersenyum menyeringai.
Tapi, senyuman menyeringainya tersebut seketika berubah menjadi ekspresi terkejut saat melihat Dossur yang telah tersungkur tiba-tiba berubah menjadi pasir.
*
“Apa…? Tubuh pengganti? Tapi… Sejak kapan?” Kata Eldriata dalam hati melihat-lihat ke sekitar, memastikan keberadaan dari Dwarfman itu.
**
Seketika tanah yang menjadi pijakan dari Fairyman itu berubah menjadi pasir hisap. Hal tersebut membuat tubuhnya perlahan-lahan terhisap masuk.
Eldriata sontak memunculkan sayapnya dan berusaha untuk keluar dari hisapan pasir tersebut. Tapi, hal itu percuma karena seberapa keras usahanya tersebut, tubuhnya tetap tidak bisa keluar dari pasir hisap itu.
Tak berapa lama, sebuah pasir naik ke permukaan lalu berubah menjadi Dwarfman tersebut.
“Ada apa Fairyman? Kau sulit untuk bergerak sekarang?” Tanya Dossur, melihat tubuh perempuan itu telah masuk ke dalam pasir hisap hingga hanya menyisakan kepalanya saja.
“Kalau begitu… Aku tidak punya pilihan lain, selain memakai kekuatan ini.”Fairyman perempuan itu kemudian menutup matanya, yang seketika membukanya kembali.
Nampak mata dari perempuan itu kini memancarkan sinar berwarna hijau.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Dossur sekali lagi.
*
“Ada apa ini? Kenapa aku tidak bisa masuk ke dalam pikirannya?” Kata Eldrita dalam hati kebingungan karena kekuatannya tidak berfungsi pada Dwarfman itu.
**
“Oh… Kurasa kau, atau Fairyman yang lain belum pernah sekalipun berhadapan denganku, bahkan pada ronde kedua di turnamen yang sebelumnya,” kata Dossur.
“Kekuatan sebenarnya dari Dwarfman adalah kekuatan penangkal. Bahkan mantra sihir dari Elfman saja tidak bisa mempan terhadap kami,” lanjutnya.
Mendengar hal tersebut, membuat Eldriata sontak menjadi terkejut.
“Kalau begitu…”
Dossur kemudian mengangkat Eldriata ke atas dengan kekuatan elemen pasirnya. Secara perlahan kepala dari Eldriata masuk ke dalam pasir yang membungkus tubuhnya tersebut.
“Dwarfman sand technique… Soft crusher…”
“Argh…!” Tampak suara jeritan dari Fairyman itu, yang tertekan oleh pasir yang membungkusnya.
Hal tersebut sontak membuatnya langsung mengalami kekalahan.
**
“Kejam sekali… Bagaimana jika Drakon hal itu terjadi pada Drakon,” kata Neyndra mengkhawatirkan Drakon lagi.
**
Setelah mengalahkan Eldriata, Dossur kemudian melihat Drakon yang sedang berdiam diri menonton pertarungan mereka dari tadi.
“Hei… Sudah cukup menontonnya, kurasa waktunya kau untuk maju sekarang,” kata Dossur, menantang Drakon.
“Lihat ke sampingmu dulu,” kata Drakon.
“Di sampingku…?” Mendengar perkataan dari Drakon, sontak membuat Dwarfman itu langsung kebingungan.
“Uwaaah…” Tiba-tiba Gerhanther terhempas menabraknya.
Dengan cepat Urano mendekati kedua orang tersebut.
“Breaker wind…” Dia kemudian mengeluarkan serangan pusaran angin, yang membuat Dossur serta Gerhanther langsung terhempas ke atas.
“Argh…!” Teriak Dossur dan Gerhanther, jatuh ke tanah secara bersamaan setelah terhempas ke udara.
“Urgh… Beraninya kau…!” Teriak Gerhanther, yang kemudian mengeluarkan delapan belati.
“Air launch… Target lock…” pemuda itu kemudian meluncurkan belati-belati tersebut ke arah Urano.
Melihat serangan itu, dengan cepat pria itu langsung menghindarinya. Namun, dengan cepat juga belati-belati yang dihindarinya itu kembali mengincarnya.
“Breaker wind…” Urano kemudian mengeluarkan kembali serangan pusaran angin, yang membuat belati-belati tersebut berterbangan segala arah.
Terlihat raut wajah kesal dari Gerhanther saat serangannya tersebut dengan mudah ditangani oleh Urano.
Gerhanther kemudian langsung mengeluarkan pedangnya yang berada di pinggangnya, namun pemuda itu malah menyerang Dossur yang berada di dekatnya.
Melihat ayunan pedang tersebut, Dossur dengan sigap langsung menghindarinya.
“Dwarfman sand creation technique… Giant sand humanoid…” Seketika sebuah pusaran pasir muncul di depan Gerhanther, yang membuatnya seketika terhempas.
Betapa terkejutnya Gerhanther saat melihat dua makhluk pasir raksasa yang berukuran sekitar dua puluh meter berada di hadapannya.
Salah satu dari makhluk pasir itu pun dengan kuat langsung menghantamkan Gerhanther ke tanah dengan tangannya, sehingga membuat pemuda tersebut mengalami kekalahan.
**
“Sial…” Kata Dimira dengan kesal melihat kekalahan dari Gerhanther.
**
Kemudian kedua makhluk pasir tersebut masing-masing langsung mendekati Drakon dan Urano.
**
“Breaker wind… Wind slash…” Urano yang tidak tinggal diam langsung melancarkan serangan tebasan elemen angin dari sepatu besinya.
Namun, serangan tersebut tidak mempan pada makhluk pasir tersebut, yang terus maju mendekatinya.
“Breaker wind… Strong pushing…” Urano pun kembali meluncurkan serangan dorongan elemen angin.
Tetapi, hal tersebut masih tetap tidak berguna karena makhluk pasir tersebut nampak tidak bergeming sedikitpun oleh serangan-serangannya.
“Kuat sekali makhluk ini,” kata Urano, yang mulai kewalahan.
Tanpa pikir panjang, pria itu lalu melompat dan menyerang makhluk tersebut dari dekat dengan melancarkan beberapa tendangan yang kuat.
Seketika makhluk pasir itu langsung memegang kakinya. Makhluk tersebut langsung membanting pria itu dengan kuatnya ke tanah hingga membuatnya seketika tal sadarkan diri.
**
Di sisi lain nampak kini makhluk pasir yang satunya sudah berada di depan Drakon.
**
“Hei… Dia tidak memakai? Bukannya dia selalu membawa pedang?” Tanya Raquille.
“Benar juga… Dia tidak memakai senjata. Apa kalian tidak memiliki senjata?” Tanya balik Neyndra.
Raquille, Bohrneer dan Heinz sontak langsung menggelengkan kepala mereka.
“Aku juga tidak membawa senjataku,” kata Neyndra.
“Jadi… Bagaimana dengan tuan prajurit?” Tanya Bohrneer.
“Yah… Kita pasrahkan saja kekalahannya. Lagipula mungkin tujuannya bukan untuk memenangkan pertandingan kali ini,” jawab Raquille.
**
“Baiklah… Waktunya aku untuk menyerang,” kata Drakon yang kemudian langsung berkonsentrasi.
Seketika tubuhnya memancarkan energi berwarna emas, seperti kemampuan dari Zeidonas dan anggota tim Lightio yang lain.
**
“Oh… Aku lupa ternyata beberapa dari mereka bisa menggunakan kekuatan energi emas itu tanpa menggunakan senjata suci seperti yang lain,” kata Raquille.
“Pantas saja waktu itu dia mengatakan bahwa pedangnya bukan senjata suci,” sambung Bohrneer.
**
Nampak mata dari pria itu kini memancarkan cahaya berwarna emas.
“God aura… Superior punch…” Seketika Drakon langsung melancarkan serangan proyeksi energi emas ke arah makhluk pasir itu, sehingga membuat makhluk seketika hancur.
**
Nampak ekspresi terkejut dari anggota tim Fuegonia B, yang melihat Drakon dengan mudahnya mengalahkan makhluk pasir tersebut.
Terlihat juga semua orang terkejut dengan serangan dari Drakon lancarkan pada pasir pasir tersebut.
**
Drakon kemudian langsung berlari ke arah makhluk pasir yang satunya lagi dan kemudian melompat ke hadapan makhluk tersebut.
“God aura… Superior kick…” Seketika serangan yang dilancarkanya langsung menghancurkan makhluk pasir itu.
Setelah mengalahkan kedua makhluk pasir tersebut, Drakon kemudian perlahan-lahan melangkah mendekati Dossur.
“Apa…? Bagaimana bisa?” Dossur sontak ketakutan melihat kedua makhluk pasirnya itu dengan mudahnya dapat dihancurkan oleh Drakon.
Dwarfman itu kemudian perlahan-lahan melangkah ke belakang menjauhi Drakon yang mendekat padanya.
Seketika dengan satu kedipan mata dari Dwarfman itu, Drakon telah berada tepat di hadapannya.
Dengan refleks, Dossur langsung menciptakan sebuah dinding pasir kembali.
“God aura… Deadly superior punch…” Tanpa pikir panjang, Drakon langsung melancarkan serangannya ke dinding pasir itu, yang seketika hancur dipukulnya.
Serangannya kemudian menghantam Dossur yang berada dibalik dinding pasir tersebut. Dwarfman itu pun seketika dengan kuatnya terhempas ke dinding arena sampai tak sadarkan diri.
**
“Kenapa tidak dari tadi saja dia menggunakan kemampuan itu?” Kata Raquille terkejut.
**
“Oke… Akhirnya selasai juga.” Ketika tersisa Drakon yang masih berdiri di tengah arena, Rox pun akhirnya menurunkan tangannya untuk menghilangkan penghalang disekitar tengah arena.
**
Beberapa saat kemudian wasit pun memasuki tengah arena.
“Pertandingan kali ini dimenangkan oleh Drakon Magchora dari tim Fuegonia B,” ucap wasit.
Setelah wasit mengatakan hal tersebut, sontak terdengar sorakan dari para penonton atas kemenangan Drakon.
**
“Yeaahhh…!” Seru Neyndra yang juga menyoraki pria tersebut.
**
Lalu di layar langsung memperlihatkan perolehan poin dari seluruh tim.
Fuegonia B (12), Lightio (12), Cielas (8), Fuegonia A (7), Vielass (7), Asimir (7), Mormist (3), Neodela (3), Machora Tira (2).
**
“Poin kita sama banyaknya dengan tim Fuegonia B,” kata Dimira.
“Akhirnya pria itu memperlihatkan kemampuannya. Aku sudah tidak sabar untuk berhadapan dengannya,” kata Zeidonas.
**
Kemudian Drakon datang menemui anggota timnya di tribun. Neyndra pun sontak datang mendekati Drakon dan kemudian memeluknya.
“Eh… Nona Neyndra,” kata Drakon nampak tersipu malu dipeluk perempuan itu.
Menyadari bahwa dia tiba-tiba memeluk Drakon, Neyndra pun seketika langsung tersipu malu juga dan kemudian langsung melepaskan pelukannya tersebut.
“Maaf, aku hanya merasa senang karena kau memenangkan pertandingannya,” kata Neyndra.
“Apa aku tadi keren?” Tanya Drakon pada Neyndra.
Mendengar pertanyaan tersebut wajah Neyndra seketika memerah.
“Iya… Tadi itu, kau sangat keren…” Jawab Neyndra dengan senyuman manis di wajahnya.
“Kau keren sekali tuan prajurit… Saat kau mengalahkan makhluk pasir tadi dengan satu serangan,” kata Bohrneer sambil menirukan gerakannya saat mengalahkan makhluk pasir tadi.
“Aku tidak bertanya padamu,” kata Drakon.
“Dasar tidak tahu berterima kasih, padahal aku memujinya,” kata Bohrneer.
**
Lalu terlihat Tomair, pembawa acara turnamen tersebut masuk ke tengah arena.
“Baiklah para hadirin sekalian… Kita lanjutkan pada pertandingan terakhir di ronde pertama ini,” kata pembawa acara tersebut.
“Bagi nama mereka yang tertera pada layar, diharapkan untuk segera bersiap dan menuju ke tengah arena.”
Kemudian di layar langsung memperlihatkan nama dari kelima petarung terakhir yang akan saling berhadapan.
Fuegonia A, Dierill Drown, 18 tahun, 181 cm, Human, Land Venerate.
Fuegonia B, Bohrneer Flaus, 27 tahun, 178 cm, Human, Land Venerate.
Mormist, Iezig Wakor, 39 tahun, 185 cm, Ogreman, Land Venerate.
Vielass, Horner Bellyfirn, 30 tahun, 160 cm, Gnomeman, Land Venerate.
Asimir, Fegant Nomos, 28 tahun, 254 cm, Giantman, Land Venerate.
**
“Kakak… Ayo maju,” kata Afucco.
“Iya, aku tahu,” kata Dierill, yang kemudian menuju ke tengah arena.
**
“Baiklah Bohrneer… Ayo maju dan menangkan pertandingan ini,” kata Raquille.
“Baik… Sesuai perintahmu, tuan Raquille,” kata Bohrneer, yang juga langsung menuju ke tengah arena.
“Raquille…?” Tanya Neyndra, kebingungan mendengar Bohrneer memanggil Raquille dengan nama aslinya.
Hal tersebut sontak membuat Raquille, Heinz serta Drakon langsung terlihat ketakutan.
“Kenapa pria bodoh itu memanggilmu Raquille? Apakah itu nama lainmu? Dan juga kenapa dia memanggilmu tuan?” Tanya Neyndra kembali.
Drakon yang berada di belakang Neyndra pun langsung mengisyaratkan kode dengan menggeleng kepalanya pada Raquille.
“Oh… Itu… Adalah nama tengahku. Bohrneer dan Heinz memanggilku tuan karena mereka menghormatiku sebagai seorang bangsawan dari negeri Blueland,” jawab Raquille, mencari alasan agar dipercaya oleh Neyndra.
“Benarkah begitu?” Tanya Neyndra dengan tatapan tajam pada Heinz.
“Eh… Iya… Itu benar. Kami sering memanggil Laventille dengan nama itu. Dan kami juga menghormatinya sebagai orang terpandang dari Blueland, jadi kami sering memanggilnya dengan sebutan tuan,” jawab Heinz yang juga beralasan.
*
“Sial… Sedikit demi sedikit, rahasia kita mulai terbongkar. Kenapa juga pria bodoh itu harus keceplosan,” kata Drakon dalam hati, khawatir identitas Raquille yang sebenarnya akan terbongkar.
**
Kemudian di tengah arena nampak kelima petarung telah bersiap untuk saling berhadapan.
Lalu terlihat wasit masuk ke tengah arena untuk memulai pertandingan tersebut.
“Baiklah… Bersiap… Mulai…!” Kata wasit memulai pertandingan tersebut.
Setelah wasit memulai pertandingannya, sontak Dierill dengan cepat langsung mengayunkan bola rantai yang dipegangnya pada keempat petarung yang lain.
Melihat ayunan senjata tersebut mengarah pada mereka semua, sontak dengan sigap mereka langsung menghindarinya.
Namun, terlihat Bohrneer langsung menangkap dan memegang erat ayunan senjata dari Dierill itu.
“Hei… Hati-hati dengan mainanmu ini,” kata Bohrneer memegang erat bola rantai Dierill itu.