
“I defteri ekdosi… Solring the twilight doom…” Seketika kobaran api yang besar keluar dari pedang milik Aguirre menutupi seluruh bagian dalam dari penghalang yang diciptakan oleh Erissa.
***
Efek dari pengaktifan kekuatan pelepasan kedua Aguirre, sontak menciptakan sebuah ledakan kobaran api dalam skala yang besar, mengejutkan semua Venerate yang sedang bertarung di dalam ibukota negeri Pavonas itu.
Baik itu Hefaistos dan Ienin, bahkan Raquille serta Erissa tiba-tiba menghentikan apa yang mereka lakukan untuk sejenak memperhatikan efek ledakan yang besar tersebut.
*
“Ini… Apakah mungkin kakak mengaktifkan kekuatan pelepasan keduanya,” gumam Raquille dalam hati, terkejut merasakan tekanan kekuatan yang besar dari Aguirre, saudaranya.
**
Tiba-tiba sebuah kobaran api, yang merupakan Aguirre meluncur dan mendarat diantara Raquille dan Erissa.
“Uakh…!” Sembari kobaran api yang merupakan Aguirre sampai ke tempat itu, Tianhui, Ashur, Kemala bahkan Phyton seketika terhempas karena tidak kuat menahan tekanan kekuatan besar yang dikeluarkan oleh pria Elfman itu.
Ketika kobaran api yang menyelimuti Aguirre perlahan mulai lenyap, terlihat perubahan wujud yang tidak terlalu signifikan, dimana pada kepala pria Elfman itu kini tumbuh sepasang tanduk berpijar yang cukup panjang meruncing ke atas. Kedua mata pria Elfman itu yang sebelumnya berwarna biru kini berubah menjadi warna merah.
Kedua tangan Aguirre juga terlihat berubah layaknya sepasang tangan dari seekor monster dengan memegang sebuah pedang berpijar yang cukup panjang. Pada bagian belakang punggung pria Elfman sampai ke bagian belakang atas kepalanya nampak sebuah kobaran yang terus berkobar tanpa henti.
Melihat pria Elfman itu berada di depan menghalanginya untuk menyerang Raquille, Erissa nampak ragu untuk melakukan sesuatu.
“Raquille, aku paham bahwa perempuan ini adalah salah satu korban dari kejadian yang kau perbuat sepuluh tahun yang lalu, dan aku juga mengerti bagaimana kau merasa bersalah pada kejadian tersebut…”
“Namun, kita sekarang berada di medan pertempuran, tujuan kita adalah mengalahkan pasukan Pavonas… Jadi, kesampingkan dulu masalah pribadimu itu,” ucap Aguirre dengan tegas kepada adiknya.
“Dan kau Erissa… Jika kau bersikeras menyerang Raquille, maka kau harus melawanku terlebih dahulu,” lanjut Aguirre, kini memperingati perempuan yang berada di depannya itu.
Erissa pun langsung mengacungkan tongkatnya ke arah Aguirre, menciptakan sebuah penghalang untuk mencoba mengurung pria Elfman itu.
“Akh…!” Namun, dengan sekali mengibaskan pedangnya, sontak sebuah kobaran api yang besar keluar dan langsung membakar penghalang tersebut hingga lenyap, serta langsung membuat Erissa seketika terhempas.
“Kakak tunggu… Tolong jangan sakiti dia,” ucap Raquille, memohon kepada saudaranya ketika melihat Aguirre melepaskan sebuah serangan yang membuat Erissa terhempas.
“Tenang saja… Aku hanya ingin menahan pergerakannya,” ucap Aguirre, hanya bermaksud melepaskan serangan tersebut untuk memperingati Fairyman perempuan itu.
Raquille pun percaya dengan ucapan saudaranya dan lantas membiarkan Aguirre untuk menangani Erissa.
Raquille kini hanya bisa berdiri terdiam di belakang Aguirre, merasa tidak bersemangat lagi setelah bertemu dengan perempuan itu.
“Raquille… Tolong jangan seperti ini. Kita masih membutuhkan kekuatanmu untuk mengalahkan para Venerate Pavonas…” ucap Aguirre, kembali meyakinkan Raquille agar semangat pemuda Elfman itu kembali lagi.
Kau juga tahu, walaupun kekuatan pelepasan keduaku ini cukup kuat, namun ini tidak bertahan dalam waktu yang lama.”
Aguirre dengan santai melempar Erissa, yang merupakan World Venerate sepertinya, terhempas menabrak sebuah bangunan hingga hancur, sampai puing-puingnya menimpah Fairyman perempuan itu.
Raquille yang melihat hal yang dilakukan oleh Aguirre sontak terkejut. Dia sebenarnya merasa kasihan melihat saudaranya melakukan hal tersebut kepada Erissa, namun pemuda Elfman itu tidak bisa melakukan apa-apa karena Erissa kini berada di pihak musuh yang harus dilawannya.
***
Di sisi lain, pertarungan antara Hefaistos dan Ienin masih tetap berlangsung, dimana kedua World Venerate itu masih saling melancarkan serangan proyeksi mereka masing-masing. Tidak ada diantara mereka berdua yang terlihat sudah mulai kelelahan, Hefaistos serta Ienin dengan setara bertarung tanpa dapat melukai satu sama lain.
Karena terlalu membuang waktu serta tenaga, Hefaistos lantas memunculkan senjata sucinya, yang berupa sebuah palu dengan memiliki sebuah gagang yang panjang.
“Tekhnika ekzortsista… Light bird exterminator…” Melihat Hefaistos memunculkan senjata sucinya, Ienin dengan sigap langsung melancarkan sebuah serangan proyeksi cahaya berbentuk seekor burung kemudian meluncurkannya ke arah pemimpin negeri Lightio itu.
Dengan satu hentakan palunya ke tanah, tiba-tiba kobaran api dalam skala yang besar dari atas permukaan muncul menahan serangan proyeksi cahaya dari Ienin hingga lenyap.
Ketika kobaran api yang besar itu lenyap, tiba-tiba Hefaistos sudah berada di depan Ienin sambil menganyunkan palunya dengan kuat ke arah World Venerate Pavonas tersebut.
“Tekhnika ekzortsista… Holy shield protector…” Dengan refleks, Ienin sontak menciptakan sebuah perisai dari proyeksi energinya menahan serangan ayunan palu dari Hefaistos.
Akan tetapi, serangan Hefaistos memiliki tekanan kekuatan yang besar hingga membuat perisai proyeksi dari Ienin pun hancur, serta membuatnya langsung terhempas.
Ienin yang terhempas menerima serangan dari Hefaistos langsung menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh.
Disaat yang bersamaan Alyara datang menghampiri Hefaistos dan Ienin, serta bersiap untuk melawan World Venerate Pavonas itu.
“Tekhnika ekzortsista… Soul energy pressure…” Tiba-tiba sebuah serangan proyeksi meluncur ke arah Ienin, membuatnya langsung melancarkan sebuah serangan tekanan kekuatan yang kuat hingga serangan yang meluncur tersebut terhempas ke arah lain.
“Artemis…” Bersamaan dengan hal itu, Hefaistos tiba-tiba terkejut melihat World Venerate yang merupakan wakil presiden Lightio itu muncul di tempat tersebut.
“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Hefaistos, penasaran.
“Jelas saja aku sebenarnya datang untuk menyelamatkanmu… Karena sebelumnya aku mendengar bahwa kau telah ditangkap oleh pasukan Pavonas… Bagaimanapun juga aku tidak mau memimpin Lightio sendirian,” jawab Artemis, menjelaskan secara panjang lebar kepada pemimpin negeri Lightio itu.
“Jadi begitu yah…” Respon Hefaistos sambil memasang senyuman diwajahnya, merasa senang wanita itu mau datang untuk menyelamatkannya.
Disaat Hefaistos merasa senang melihat Artemis datang ke tempat itu, Ienin pun merasa bahwa dirinya kini tengah terdesak karena harus melawan tiga World Venerate sekaligus.
Ienin pun hanya bisa terdiam, memperhatikan Alyara, Hefaistos serta Artemis untuk mengantisipasi serangan yang nantinya akan dilancarkan oleh mereka.
“Mohon maaf tuan dan nyonya dari negeri Lightio… Apa bisa aku berbicara sebentar pada pria itu?” Tanya Alyara menghampiri Hefaistos dan Artemis, agar kedua World Venerate bisa menahan sementara serangan mereka karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh putri Morseli itu kepada Ienin.
Walaupun sedikit heran dengan tujuan dari putri negeri Morseli itu, Hefaistos dan Artemis pun menyetujui hal tersebut.