
“Jenius dan berbakat… Kakak, bukankah sebelumnya kau mengatakan bahwa dia itu adalah Elfman yang bodoh?” Tanya Arn, nampak kebingungan.
“Dia bodoh dan pintar disaat yang bersamaan… Hahaha…” Jawab Freynile sambil tertawa.
Arn pun lantas kembali terpesona melihat Freynile ketika Elfman perempuan itu tertawa, membuat dirinya pun kini merasa yakin bahwa dia memang menyukai Elfman perempuan tersebut.
“Kalau begitu kami pergi dulu…” Ucap Arn, kemudian peri meninggalkan Freynile akibat telah merasa canggung, terus-terusan menatap Elfman perempuan itu.
“Baiklah… Hati-hati…” Ucap Freynile.
***
Beberapa hari kemudian, Arn terlihat sedang berjalan sendirian di dalam akademi sihir, hendak pergi ke suatu tempat.
“Hei… Arn…”
Ketika melewati sebuah pohon, tiba-tiba Arn mendengar suara seseorang memanggilnya. Anak laki-laki itu lantas merasa bingung karena tidak menemukan siapapun di tempat itu.
“Lihat ke atas sini…”
Ketika dengan jelas mendengar suara tersebut menyuruhnya melihat ke atas, Arn pun lantas terkejut melihat seseorang hingga membuat jatuh terduduk ke lantai.
“Eh…” Namun, setelah dilihatnya kembali terlihat yang berada di atas pohon tersebut ternyata tidak lain merupakan Freynile.
“Kakak, kenapa kau berada di atas sana?” Tanya Arn, penasaran.
“Ini tempat biasa ku kunjungi ketika sedang berada dalam waktu senggang,” jawab Freynile sambil memakan buah dari pohon tersebut, kemudian tersenyum kepada Arn, membuat anak laki-laki itu pun kembali merasa canggung hingga langsung membuang wajahnya.
“Arn… Kau harus mencoba naik kemari dan lihatlah pemandangan dari atas sini,” ucap Freynile, mengajak anak laki-laki itu untuk naik ke atas pohon.
“Kurasa tidak kakak… Aku sebenarnya tidak bisa naik ke atas sana,” ucap Arn menolak untuk naik, karena merasa memiliki sebuah phobia terhadapa ketinggian, dimana pohon yang dinaiki oleh Freynile tersebut tingginya di atas sepuluh meter.
“Baiklah…” Freynile pun paham dengan penjelasan dari Arn, walaupun sebenarnya sedikit merasa kecewa karena anak laki-laki itu tidak bisa naik ke atas pohon tersebut menemaninya.
Ketika melihat ekspresi kecewa dari Elfman perempuan itu, Arn pun mengesampingkan rasa takutnya, dan perlahan-lahan mencoba menaiki pohon tersebut.
*
“Sial… Ternyata aku tidak bisa melakukannya.” Akan tetapi, saat berada pada ketinggian sekitar dua meter saja, Arn pun langsung merasa ketakutan ketika melihat permukaan yang baginya terasa amat jauh.
Tubuh anak laki-laki itu seketika bergetar serta membuatnya menutup kedua matanya, ketakutan, tidak tahu harus berbuat apa, karena mencoba naik lebih tinggi ataupun turun kembali merupakan hal yang sulit untuk dilakukan olehnya.
**
“Jangan khawatir… Aku akan membantumu menghilangkan rasa takutmu itu Arn…”
Ketika Arn membuka kedua matanya, dia pun melihat Freynile sudah berada tepat di atasnya sambil mengulurkan tangan kepadanya.
Dengan refleks Arn pun langsung menggapai tangan Freynile, sama seperti saat mereka pertama kali bertemu ketika berada di dalam bangunan para murid Land Venerate.
Perlahan-lahan, Arn pun mencoba naik lebih tinggi ke atas pohon sambil salah satu tangannya di memegang tangan Freynile.
Entah apa yang terjadi, Arn yang sebelumnya merasa sangat takut terhadap ketinggian, kini bisa mengesampingkan hal tersebut ketika Elfman yang disukai olehnya membantu dirinya anak lebih tinggi ke atas pohon tersebut.
**
“Wah…” Saat berhasil naik ke bagian atas pohon, Arn pun terkagum-kagum melihat pemandangan yang berada di depan, nampak dihiasi oleh pegunungan yang tinggi menjulang ke langit beserta langit yang cerah.
“Iya… Memang pemandangan yang indah,” balas Arn sambil menatap wajah Freynile yang tersenyum, karena hal tersebut ternyata merupakan hal yang lebih indah dibandingkan dengan pemandangan yang berada di depan.
“Kau mau?” Freynile memetik buah di pohon tersebut, kemudian memberikannya pada Arn.
Tanpa pikir panjang, anak laki-laki itu pun langsung mengambil buah yang diberikan oleh Freynile kemudian langsung memakannya, sambil tidak mengalihkan pandangannya pada Elfman perempuan itu.
“Arn… Ada apa? Apa ada yang aneh denganku?” Melihat Arn terus menatapnya sambil memakan buah pemberian darinya, Freynile pun lantas bertanya.
“Kakak, apakah aku bisa memanggil namamu saja mulai sekarang?” Tanya balik Arn.
“Eh… Tentu saja… Lagipula kurasa umur kita memang tidak jauh berbeda… Aku masih berusia sekitar tiga belas tahun… Bagaimana denganmu?” Jawab Freynile sambil memberitahukan umurnya kepada Arn.
“Aku berusia sekitar dua belas tahun…”
“Ternyata aku hanya lebih tua setahun dibandingkan denganmu… Ngomong-ngomong memangnya kenapa kau menanyakan hal itu? Setidaknya kau bisa memanggil namaku tanpa harus bertanya terlebih dahulu,” ucap Freynile, kemudian bertanya karena merasa penasaran.
“Karena aku menyukaimu Freynile sejak pertama kali aku bertemu denganmu,” jawab Arn, langsung mengatakan jujur bahwa dia memiliki perasaan kepada Elfman perempuan itu.
“Eh…”
Freynile lantas terkejut ketika mendengar pernyataam dari Arn, Elfman perempuan itu tidak menyangka bahwa anak laki-laki bisa mengatakan sejujur itu kepadanya. Akibat hal tersebut, kini Freynile-lah yang menjadi canggung, hingga membuatnya terdiam, tidak tahu harus mengatakan apa kepada Arn.
“Freynile…”
Ketika suasana antara Freynile dan Arn menjadi canggung, tiba-tiba saja Raquille datang sambil memanggil Elfman perempuan itu dari bawah.
“Ada apa kakak?” Tanya Freynile pada Raquille.
“Aku mencari-carimu dari tadi, ternyata kau berada disini… Aku diberi tahu bahwa kau harus segera kembali ke pulau utama hari ini,” jawab Raquille.
“Apa?” Mendengar hal tersebut, Elfman perempuan itu langsung melompat dari ketinggian sepuluh meter menghampiri Raquille yang berada dibawah.
“Tunggu…” Ucap Arn, ketika Freynile langsung melompat ke bawah.
“Oh, ternyata di atas ada Arn yah… Ada apa Arn?” Tanya Raquille.
“Tolong aku… Aku tidak tahu caranya turun ke bawah,” jawab anak laki-laki itu.
**
“Freynile… Apa kau yang mengajaknya naik ke atas sana?” Tanya Raquille, karena sangat mengetahui bahwa pohon tersebut merupakan tempat favorit Elfman perempuan itu ketika sedang bersntai.
“Maaf kakak… Sebenarnya aku… Hanya ingin mengajak Arn naik ke atas… Tapi, kau tiba-tiba datang, hingga membuatku… Langsung melompat ke bawah,” jawab Freynile dengan terbata-bata kepada Elfman laki-laki itu.
Mendengar jawaban Freynile yang nampak terbata-bata, Raquille pun langsung mencurigai bahwa terjadi sesuatu diantara Elfman perempuan itu dan anak laki-laki tersebut.
Akan tetapi, Raquille tidak ingin bertanya mengenai hal tersebut, dan lebih memilih melayang ke atas menghampiri Arn yang berada di atas pohon.
“Ayo naik Arn…” Sambil menghadap ke belakang, Raquille pun menyuruh anak laki-laki itu untuk naik ke punggungnya untuk turun dari pohon tersebut.
Karena tidak punya pilihan lain, tanpa pikirpanjang Arn pun langsung menggapai punggung Raquille, dan langsung turun ke bawah bersama dengan Elfman laki-laki itu.
Saat Arn turun bersama dengan Raquille, tiba-tiba wajah Freynile memerah akibat Arn menatap wajahnya, membuat Raquille pun lantas merasa bingung mengenai hal tersebut.