
–26 Juli 3029–
Setelah selesai mengingat kejadian masa lalunya, kesedihan Arn perlahan-lahan mulai menghilang. Pria itu kemudian menghapus air matanya, dan memasang ekspresi tersenyum.
“Aku akan berjanji kepadamu Freynile… Mulai hari ini aku akan tetap melanjutkan hidupku dan terus mengenangmu…” Ucap Arn sambil memejamkan matanya, hendak merasakan bahwa Freynile yang sudah tiada berada disampingnya.
Mendengar pernyataan dari Arn, Raquille sontak memasang ekspresi tersenyum juga, merasa senang kini pria yang telah dianggapnya sebagai saudara itu kini tidak lagi akan menyalahkan dirinya sendiri akibat hal yang terjadi di masa lalu.
“Kau tahu Arn… Setelah Freynile tiada, aku juga sempat merasa sedih… Bahkan hal itu sampai membuatku mencari-cari sebuah informasi mengenai cara untuk menghidupkan orang yang telah tiada,” ucap Raquille.
“Aku juga paham bagaimana kau juga merasa sedih dengan kepergian Freynile…” Respon Arn.
“Apa kau merasa cemburu dengan hal itu?”
“Tidak sama sekali… Aku tahu bahwa kau juga menganggap Freynile sebagai adikmu…” Ucap Arn.
“Ngomong-ngomong… Apakah waktu itu kau mendapatkannya?” Tanya Arn, penasaran.
“Heh… Setidaknya aku ingin bercerita sedikit mengenai hal itu…”
Raquille kemudian menceritakan kepada Arn, dimana dirinya setelah kejadian tersebut mendapatkan sebuah informasi mengenai keberadaan dari sesosok makhluk suci berwujud naga yang menyerupai seekor burung merak.
Walaupun telah memiliki beberapa kekuatan dari makhluk suci waktu itu, namun Raquille malah merasa tergiur untuk memperoleh kekuatan dari naga tersebut dengan tujuan ingin menghidupkan kembali Freynile yang sewaktu itu terlambat untuk diselamatkannya.
Akan tetapi, setelah pergi sendiri dan bertemu dengan naga yang memiliki perawakan seperti seekor burung merak tersebut, Raquille malah ditolak karena sang naga tersebut telah memberikan kekuatannya kepada seseorang.
“Pada saat itu aku sedikit memaksa naga itu, dan akhirnya kami bertarung…”
“Lalu… Apa yang terjadi? Apa mungkin naga itu memberikan kekuatannya padamu kakak?” Tanya Arn.
“Tentu saja tidak… Dia malah melancarkan serangan kepadaku hingga terhempas ke jauh dari tempatnya berada…” Jawab Raquille.
“Ketika aku tidak mau menyerah dan ingin kembali bertarung dengan naga tersebut, tiba-tiba ada seorang anak kecil tersesat di dalam hutan… Aku pun menolongnya dan melupakan bahwa tujuanku adalah meminta kekuatan dari naga merak itu…”
“Aku berpikir… Apa mungkin pemegang kekuatan dari naga merak itu memang bisa menghidupkan orang yang sudah mati?” Ucap Raquille, bertanya-tanya mengenai pemegang kekuatan dari naga merak yang kemungkinan memiliki kemampuan membangkitkan orang yang telah meninggal.
“Lupakan saja itu kakak… Aku tidak mau jika kau mendapatkan sebuah perangkap lagi…” Ucap Arn, menyuruh Raquille untuk tidak melakukan hal tersebut.
“Setidaknya jika kau memiliki pikiran untuk menghidupkan Freynile lagi… Bukankah kau sudah mengatakannya padaku bahwa Freynile sampai sekarang masih hidup di dalam hati kita,” lanjut, menjelaskannya kepada Raquille sambil kembali memasang ekspresi tersenyum.
“Hahaha… Kau benar, aku hampir lupa bahwa aku telah mengatakan hal itu…” Respon Raquille, memasang ekspresi tersenyum juga, mendengar ucapan dari Arn.
“Masalah apa lagi?” Tanya Arn, penasaran sambil mengubah ekspresinya menjadi khawatir.
“Kau lupa bahwa tujuan kita kemari adalah untuk melawan pasukan Ierua… Setidaknya kita harus berdamai dulu dengan mereka,” jawab Raquille.
***
Beberapa saat kemudian, seluruh pasukan kubuh barat bertemu dengan seluruh pasukan Ierua, dimana Shefear sebagai raja Ierua serta Harmae sebagai ratu Brizora duduk di depan kedua meja satu sama lain.
Mereka kemudian berdiskusi mengenai peperangan yang terjadi, dimana pasukan Ierua terlebih dahulu meminta maaf kepada Raquille serta para Venerate negeri Blueland atas invasi yang pernah dilakukan mereka ke negeri Whiteland sebelumnya, serta Sheafear juga meminta maaf kepada para Venerate Brizora atas apa yang selalu dilakukan para Venerate Ierua yang secara sembarangan memasuki wilayah negeri Brizora, dan sekali-kali menyerang para Venerate dari negeri tersebut.
Raja Ierua itu juga tidak lupa untuk meminta maaf kepada Barbiond dan Cyffredinol sebagai perwakilan dari negeri Fuegonia, mengenai penyerangan yang pernah dilakukan oleh beberapa Venerate Ierua pada masa lalu, dan berjanji akan megembalikan senjata penghancur yang dicuri oleh mereka dari negeri tersebut.
Setelah permohonan maaf dari sang raja Ierua, kini Sheafear pun menyatakan bahwa negeri Ierua sekarang telah resm keluar dari kubuh utara yang sebelumnya tergabung bersama dengan negeri Ereise serta negeri Einor yang berada di bagian utara benua Greune.
Hal tersebut lantas membuat pasukan dari kubuh barat merasa senang, dan secara terang-terangan mengajak negeri Ierua untuk masuk ke dalam organisasi alian GANCO, yang tidak lain merupakan kubuh barat agar semua negeri-negeri yang berada di benua Greune serta sekitarnya bisa hidup dengan damai, tanpa sebuah peperangan.
Mendengar hal tersebut, Sheafear tanpa pikir panjang, langsung menyetujui negeri Ierua bisa masuk ke dalam organisasi GANCO, dan berjanji tidak akan lagi mencari masalah dengan negeri-negeri yang lain.
Akan tetapi, setelah mendengar pernyataan bahwa GANCO merupakan oraganisasi perdamaian, Barbiond serta Phyton yang masing-masing merupakan Venerate dari negeri Fuegonia dan Pavonas memikirkan megenai sebuah konflik yang kini sedang memanas antara dua negeri tersebut.
Walaupun bukan berasal dari kedua negeri tersebut, namun baik Barbiond maupun Phyton sama-sama berpikir bahwa organisasi kubuh barat tersebut sebenarnya tidak secara sempurna memiliki sebuah perdamaian di dalamnya.
Mengingat bahwa Raquille serta Cyffredinol juga mengetahui bahwa di dalam kubuh barat, terdapat salah satu negeri yang sebenarnya merupakan penghianat, setelah mereka berdua, bersama dengan kedua saudara mereka mendegar pembicaraan dari Saulovas, pemimpin negeri Riemic berbicara dengan salah satu pemimpin negeri anggota kubuh utara di kota Nerbil sebelumnya.
***
Setelah kubuh barat dan negeri Ierua berdamai, terlihat Raquille datang menemui Sheafear dan Harmae sambil mengakses kekuatannya, memunculkan sebuah pedang yang dicabutnya pada sebuah batu sebelumnya.
“Maaf aku mengganggu, para Yang mulia… Aku ingin mengembalikan pedang ini kepadamu Yang mulia Harmae,” ucap Raquille, menyerahkan pedang bernama Hilgwyn tersebut kepada Harmae, karena kemungkinan wanita tersebut lebih layak untuk memegangnya.
Akan tetapi, Harmae hanya terdiam menatap pedang tersebut tanpa memiliki niat untuk menerimanya.
“Maaf pangeran Raquille… Tapi, aku tidak berhak mengambil pedang itu dari pemimpin sah wilayah Brizerua,” ucap Harmae, menolak pedang yang hendak diberikan kepadanya.
“Eh… Pemimpin sah wilayah Brizerua… Siapa?” Tanya Raquille, terkejut serta merasa penasaran mendengar pernyataan tersebut.
“Tentu saja kau adalah pemimpin sah dari wilayah ini, karena berhasil mencabut pedang itu… Asal kau tahu, aku dan wanita pendek ini sebenarnya beberapa kali mencoba mencabutnya, tapi tidak pernah berhasil,” jawab Sheafear.
Disamping Raquille terkejut mendengar hal tersebut, terlihat Harmae memasang ekspresi kesal karena mendengar ejekan dari Sheafear mengenai penampilannya.