
“Maaf Aisling… Sayang sekali aku tidak bisa mengembalikan ingatan Phyton, karena teknik yang ku kuasai hanya mampu untuk menghapus ingatan.” Namun, Barnedict menolak hal tersebut karena dia tidak akan mungkin bisa mengembalikan ingatan dari Phyton yang sudah dihapus olehnya.
Mendengar hal tersebut, Aisling pun tiba-tiba jatuh terduduk di lantai, merasa sedih karena Phyton ternyata tidak bisa lagi mengingat tentang Cyffredinol ayahnya, walau sekalipun harus menceritakan kembali mengenai ayahnya tersebut, Phyton kemungkinan akan memikirkan hal lain mengenai Cyffredinol karena tidak bisa akan menemuinya secara langsung.
–24 Juli 3029–
“Karena hal itulah, kau tidak mengetahui ayahmu, walaupun sebelum kehilangan ingatan, kau sudah cukup besar untuk bisa mengingat ayahmu Phyton,” ucap Aisling, menceritakan alasan mengapa selama ini, putranya tidak dapat mengingat Cyffredinol.
“Jadi karena tuan Barnedict, dan dia melakukannya karena disuruh oleh kakek…” Respon Phyton.
“Jangan khawatir ayah… Walaupun memang kehilangan ingatan di usia lima tahun, namun setelah itu aku tidak pernah sekalipun mempercayai kata-kata dari kakek,” ucap Phyton pada Cyffredinol.
“Aku tahu… Terima kasih karena sudah mempercayaiku, walaupun setelah kehilangan ingatan aku tidak bisa bersama denganmu…” Balas Cyffredinol.
“Tapi, selama itu aku tidak pernah melupakanmu berserta ibumu juga… Berhari-hari aku terus memikirkan tentang kalian. Walaupun yang lain melihat tetap tegar, namun aku sebenarnya sangat merasa sedih harus berpisah dengan kalian berdua,” lanjut Cyffredinol berkata.
Phyton pun tersenyum mendengar penjelasan dari Cyffredinol, karena mengetahui bahwa ternyata ayahnya tersebut masih tetap memikirkan dirinya, serta ibunya.
“Bagaimana denganmu ibu?” Tanya Phyton pada Aisling ibunya.
“Cyffredinol… Kau pikir hanya kau saja yang memikirkan tentang kami… Aku juga selama ini tidak pernah melupakanmu, serta terus saja merasa bersalah setelah aku dengan terpaksa harus meninggalkanmu di pulau itu untuk membawa lari Phyton…” Ucap Aisling.
“Setelah aku mendengar bahwa kau ternyata baik-baik saja, pada saat itu aku bersyukur bahwa orang yang kucintai ternyata tidak meninggalkanku…”
Ketika mendengar pernyataan tersebut, Cyffredinol pun nampak terkejut sampai membuat wajahnya lantas memerah.
Begitu juga dengan Phyton, yang nampak terkejut dan langsung merasa canggung berada diantara mereka berdua. Ketika Phyton hendak beranjak dari tempat tersebut, tiba-tiba ibunya menahan pemuda itu.
“Kau harus tetap disini Phyton untuk mendengar bahwa ibumu masih mencintai ayahmu dan sebenarnya tidak akan pernah rela untuk berpisah dengannya,” ucap Aisling sambil menahan Phyton agar tidak beranjak dari tempat itu.
“Walaupun putra kita sudah berusia enam belas tahun, tapi aku tetap tidak akan merasa malu ataupun canggung untuk mengatakan berulang kali bahwa aku masih tetap mencntaimu,” ucap Aisling, hingga membuat Cyffredinol pun tidak bisa berkata apa-apa lagi, serta membuat Phyton putranya merasa canggung.
Ketika mendapatkan sebuah kesempatan, dimana Aisling telah melepaskan dirinya, Phyton pun dengan sigap langsung berlari meninggalkan Aisling dan Cyffredinol dari tempat itu.
“Phyton… Cepat kembali… Kau harus berada disini untuk mendengar ibu berbicara.” Hal tersebut lantas membuat Aisling langsung memanggil Phyton kembali.
Tiba-tiba Cyffredinol langsung berdiri kemudian mendekati Aisling, dan memeluk perempuan itu dengan erat.
“Sudah Aisling… Aku juga masih tetap mencintaimu selama ini. Aku sangat bahagia bisa bertemu denganmu setelah sekian lamanya,” ucap Cyffredinol.
Mendengar hal tersebut, Aisling seketika langsung meneteskan air mata karena nampak sangat bahagia. Tanpa pikir panjang, Aisling juga langsung memeluk Cyffredinol karena sangat merindukan pria Elfman yang dicintainya itu.
“Maafkan aku karena terpaksa meninggalkanmu pada waktu itu… Maafkan juga karena tidak berbuat apa-apa ketika kau difitnah telah menelantarkan aku dan Phyton…” Ucap Aisling, tampak sangat menyesal mengatakan hal tersebut.
**
Dari kejauhan, Phyton yang sebelumnya kabur, terlihat memasang ekspresi senyuman diwajahnya melihat kedua orangtuanya telah berbaikan setelah kejadian yang sebelumnya.
**
“Sepertinya aku harus menunggu sedikit lagi…”
Dari arah yang berbeda, tampak Raquille sedang berdiri sambil menatap Cyffredinol dan Aisling yang tengah berpelukan untuk melepas rasa rindu mereka.
Pemuda Elfman tersebut dengan sengaja berada di tempat itu untuk menunggu waktu yang tepat agar dirinya bisa mengatakan sesuatu kepada mereka.
***
Beberapa saat kemudian, setelah Cyffredinol dan Aisling melepas rasa rindu setelah sekian lama tidak bertemu, terlihat Phyton juga telah kembali untuk merasakan momen dimana bisa bersama-sama dengan kedua orangtuanya.
“Aisling… Apa mungkin jika kami melepaskanmu, kau akan memihak kepihak kami?” Tanya Cyffredinol.
“Kurasa tidak usah melepaskanku… Anggap saja bahwa aku sudah dikalahkan oleh kalian,” jawab Aisling menolak untuk dibebaskan oleh Cyffredinol maupun Phyton dari jeratan gelang kekangan surgawi yang menahan kekuatan miliknya.
“Apa ibu yakin?” Tanya Phyton.
“Tentu saja… Setidaknya jika aku menjadi tawanan kalian itu akan mengancam pasukan Ierua karena mengetahui bahwa salah satu World Venerate mereka sudah berada di tangan kalian,” jawab Aisling, menjelaskannya kepada Phyton serta Cyffredinol.
Mendengar hal tersebut, Phyton maupun Cyffredinol paham untuk tidak akan melepaskan gelang yang dipakai oleh Aisling.
“Hai semuanya… Maaf jika aku mengganggu waktu keluarga kalian.” Tiba-tiba terdegar sebuah suara seseorang berbicara dari arah belakang.
Ketika Cyffredinol, Aisling serta Phyton menengok, mereka lantas melihat bahwa seseorang yang berbicara tersebut tidak lain merupakan Raquille.
“Raquille… Ada apa? Apakah ini waktunya kita pergi menyerang pasukan Ierua?” Tanya Cyffredinol, ketika melihat adiknya tersebut.
“Bukan itu… Sebenarnya para Venerate yang lain belum menentukan rencana untuk menyerang pasukan Ierua…” Jawab Raquille.
“Sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa aku memang sangat menyesal melakukan perbuatan itu sepuluh tahun yang lalu… Aku tidak berpikir bahwa kalian keluargaku yang berada di negeri Mormist pada saat itu memang sangat kesulitan… Karena akulah kalian harus terpisah…” Ucap Raquille, mengatakan mengenai perbuatannya, yang juga berdampak kepada Cyffredinol, Aisling serta Phyton yang menjadi incaran dari para ras keturunan campuran yang ingin membalaskan dendam atas perbuatan Raquille.
“Jika kalian ingin membenciku atau melakukan sesuatu kepadaku, maka aku akan mempersilahkannya… Namun, setidaknya beri aku waktu setelah kita berhasil mengalahkan pasukan Ierua dan mengumpulkan ketiga belas harta karun,” lanjut Raquille berkata.
“Raquille… Aku paham jika waktu itu kau sedang lepas kendali akibat kekuatan makhluk suci api amarah yang berada pada dirimu… Tapi, aku tetap tidak bisa menyalahkanmu atas apa yang terjadi kepada kami, karena kau sudah membantu kami bersembunyi selama lima tahun… Setidaknya kami bisa selamat walaupun terpisah,” ucap Cyffredinol, menjelaskan bahwa dia tidak menyalahkan Raquille atas kejadian yang menimpah Cyffredinol hingga harus berpisah dengan Aisling dan Phyton.
“Lagipula kami sebenarnya akan tetap diselamatkan oleh salah satu World Venerate negeri Mormist pada saat itu,” lanjut Cyffredinol.