The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 63 - Pertempuran di udara



Tiba-tiba sebuah pusaran angin yang lebar muncul di depan Raquille dan Clava menahan serangan elemen api tersebut layaknya sebuah perisai hingga lenyap.


“High push shot...” Dengan mendorong salah satu tangannya ke depan, pusaran angin tersebut sontak meluncur ke arah tiga prajurit Gimoscha yang sedang berdiri di atas tembok benteng kota tersebut.


Dengan sigap ketiga prajurit itu langsung melompat menghindari serangan dari pemuda itu. Efek dari serangan tersebut nampak menghancurkan tembok benteng tempat berdiri para prajurit Gimoscha itu sebelumnya.


Masing-masing dari mereka kemudian memunculkan sebuah pedang maupun sebuah tombak dan terbang menghampiri Raquille dan Clava, hendak menyerang kedua orang tersebut.


Melihat ayunan serangan ketiga orang itu, dengan sigap Clava menangkis dua diantara dari serangan-serangan tersebut dengan tongkat gadanya. Sedangkan Raquille memunculkan kapaknya, yang dalam seketika ukurannya berubah menjadi lebih besar. Pemuda itu pun langsung menabrakkan senjatanya tersebut pada ayunan pedang salah satu pria Gimoscha itu.


Pertarungan antara Raquille dan Clava melawan tiga prajurit Gimoscha itu pun menjadi sengit. Mereka tempak saling melancarkan ayunan senjata mereka dan menghindar dalam waktu bersamaan secara terus-menerus.


**


Di saat yang bersamaan, Arepo dan Mayorio, bersama dengan para pasukan Serepusco keluar dari pintu belakang armada pesawat-pesawat mereka yang telah mendarat.


Pasukan Serepusco kemudian masuk ke dalam kota melewati dinding yang runtuh akibat serangan dari Raquille sebelumnya.


Di dalam kota tersebut, para Gimoscha telah bersiap dengan senjata artileri-artileri mereka yang berbaris di hadapan pasukan Serepusco.


“Tembak...!” Dengan aba-aba dari salah satu prajurit, mereka kemudian menembakkan senjata artileri-artileri tersebut mengarah ke pasukan Serepusco yang datang mendekat.


Tembakan-tembakan tersebut mengenai beberapa prajurit Serepusco hingga membuat mereka terpental cukup jauh.


“Breaker ice... Solid wall...” Namun, Arepo dan Mayorio, bersama dengan beberapa prajurit Serepusco langsung menciptakan beberapa dinding es untuk menahan tembakan-tembakan tersebut agar tidak mengenai mereka yang masih bertahan.


“Breaker flame...” Namun, salah satu prajurit Gimoscha, yang melihat pertahanan tersebut seketika maju dan melancarkan serangan elemen api.


Hal tersebut membuat dinding-dinding es yang diciptakan oleh para prajurit Serepusco bahkan sampai menguap hingga menutupi pandangan mereka semua yang berada di tempat tersebut.


*


“Sial...” Keluh Arepo, tidak dapat melihat dengan jelas dibalik kabut yang tebal tersebut.


**


“Akh...!” Pria itu pun seketika terkejut melihat beberapa prajurit Serepusco yang berada di dekatnya tiba-tiba menerima serangan elemen api hingga membuat mereka terkapar.


“Mayorio...!” Teriak Arepo memanggil saudaranya tersebut.


**


Di sisi lain, Mayorio yang mendengar panggilan dari Arepo sontak langsung memutar-mutar tongkat gada berulang kali.


“Breaker wind...” Secara bersamaan, kedua prajurit Serepusco itu langsung mengibaskan senjata mereka hingga menciptakan sebuah hempasan angin yang cukup kuat sampai membuat kabut tebal yang menutupi area di sekitar tempat tersebut.


Namun, setelah kabut tersebut lenyap, Para pasukan Serepusco sontak terkejut melihat prajurit Gimoscha, yang sebelumnya melancarkan sebuah serangan, kini terlihat akan menyerang mereka kembali dengan sebuah kobaran api yang besar berada di atas tangannya.


“Breaker flame... Fire eruption...” Pria itu lalu meluncurkan kobaran api tersebut masuk ke dalam tanah.


Tak lama setelah itu, pancaran-pancaran api secara bergantian seketika keluar dari bawah permukaan tempat berpijaknya pasukan Serepusco, hingga membuat mereka terpental ke segala arah.


Arepo yang melihat hal tersebut nampak terkejut, namun pria itu seketika menenangkan dirinya agar bisa memikirkan cara untuk menghentikan serangan tersebut.


“Breaker ice... Solid surface...” Arepo seketika menghantamkan tongkat gada ke tanah dengan kerasnya sampai membuat permukaan di sekitarnya langsung membeku.


“Akh...!” Hal itu menyebabkan pancaran api yang keluar secara terus menerus dari dalam tanah seketika kembali memancar kepada pria yang melancarkan serangan tersebut, hingga membuatnya kini terhempas.


“Mayorio...! Sekarang waktunya...!” Melihat kesempatan tersebut, seketika Arepo memanggil saudaranya untuk melancarkan sebuah serangan bersamaan.


Di saat dua tornado itu bertabrakan satu sama lain, para pasukan Gimoscha, baik pria yang sebelumnya melancarkan serangan elemen api sebelumnya, seketika terhempas ke jarak yang cukup jauh.


**


Di udara terlihat armada pesawat dari Gimoscha baru saja sampai di atas kota itu.


“Apa...? Toron sudah dikalahkan?” Salah satu prajurit pria yang berada di dalam ruang kendali salah satu armada pesawat tersebut nampak menyaksikan tornado salju yang berhasil pasukan Gimoscha, serta pria yang disebutnya itu ke jarak yang cukup jauh.


“Kalau begitu, berhenti bermain-main, kita serang mereka sekarang juga,” ucap pria yang lain, memerintahkan para pengemudi pesawat untuk melancarkan serangan ke arah pasukan Serepusco yang yang berada dibawah.


**


“Oh, tidak...” Arepo yang sebelumnya nampak senang berhasil mengalahkan prajurit Gimoscha, seketika terkejut saat melihat armada pesawat Gimoscha berada di atas kota tersebut akan melancarkan serangan ke arah mereka semua.


“Cepat, berlindung sekarang...!” Tanpa pikir panjang, pria itu langsung berteriak memerintahkan para prajuritnya untuk berpencar mencari tempat yang lebih aman.


Namun, walaupun telah berlari sekuat mungkin, para pasukan Serepusco tetap dihujani oleh tembakan secara terus-menerus hingga memaksa mereka untuk berlari sambil menghindari serangan tembakan tersebut.


Beberapa dari prajurit yang kesulitan untuk menghindari sontak menerima serangan tersebut hingga membuat seketika terhempas.


Di saat para prajurit Serepusco nampak panik dengan serangan tersebut, tiba-tiba armada pesawat mereka datang dan langsung saja melancarkan serangan tembakan balasan ke arah armada pesawat Gimoscha.


Hal tersebut membuat beberapa dari pesawat tempur negeri Gimoscha sontak jatuh akibat menerima serangan yang cukup fatal.


Salah satu armada pesawat Serepusco kemudian mendarat di dekat Arepo dan Mayorio dan langsung membuka pintu belakang, agar kedua prajurit tersebut berserta bawahan mereka yang masih tersisa untuk masuk.


**


“Baiklah, ayo jalan sekarang.” Tak lama kemudian saat Arepo dan lainnya masuk ke dalam pesawat, mereka kemudian sampai di ruang kendali, pria itu langsung memerintahkan para pengemudi untuk menerbangkan kembali pesawat tersebut.


Pertempuran antara armada pesawat tempur Serepusco dan Gimoscha pun sontak tak terelakkan lagi. Kedua sisi nampak saling menyerang hingga salah satu dari antara armada pesawat dua negeri tersebut mengalami kekalahan.


***


Berpindah ke pertarungan antara Raquille dan Clava melawan tiga prajurit Gimoscha.


Terlihat dari pertarungan tersebut, ketiga prajurit Gimoscha mulai kewalahan untuk menghadapi Raquille dan Clava, yang masih dengan santainya menghadapi mereka.


*


“Aku pikir pertarungan ini akan sulit. Ternyata tuan Raquille hanya mengulur waktu agar mereka kehabisan tenaga pada akhirnya,” ucap Clava dalam hati mulai bosan dengan pertarungan tersebut.


*


“Sial... Apaan orang ini? Mengapa ekspresi mukanya seperti tidak berniat berhadapan dengan kamo?” Pria Gimoscha yang memegang sebuah pedang juga nampak bergumam dalam hatinya melihat ekspresi bosan Raquille saat meladeni serangan dari mereka.


**


“Hei, kita akhiri saja ini. Aku sudah bosan sekarang,” kata Raquille.


“Geheimer zauberspruch… Heilog sprenging…” Pemuda itu kemudian nampak membacakan sebuah mantra, yang langsung membuat sebuah aksara rune terukir di tubuh ketiga prajurit Gimoscha itu, mirip seperti teknik yang dilancarkannya pada Vampireman di mengikuti turnamen Venerate sebelumnya.


“Eh... Apa ini?” Ucap salah satu dari mereka, penasaran melihat aksara itu menyala-nyala di tubuh mereka.


Saat Raquille tampak memasang ekspresi senyuman menyeringai, seketika aksara yang menyala di tubuh ketiga prajurit itu meledak hingga menciptakan pancaran sinar cahaya yang menyilaukan.