The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 198 - Arn kembali tersadar



“Blitzzauber…” Tiba-tiba Arn dengan cepat meluncur ke arah Raquille sambil mengacungkan tombaknya yang memancarkan proyeksi elemen petir ke depan.


Dengan sigap, Raquille langsung menciptakan sebuah dinding es untuk menahan serangan dari pria itu, namun dinding es tersebut seketika hancur menerima serangan dari Arn. Raquille pun menangkap acungan tombak dari pria itu walaupun harus menerima pancaran proyeksi elemen petir.


Raquille merebut tombak dari Arn, lalu terpaksa menggunakannya untuk menyerang pria itu. hal tersebut lantas membuat Arn langsung terhempas ke jarak yang cukup jauh.


Disaat yang bersamaan, Raquille pun hendak melancarkan serangan ke arah sosok menyeramkan tersebut sambil mengacungkan tombak yang direbutnya dari Arn.


**


“Geheimer zauberspruch… Heilog springing…”


**


“Akh…” Tanpa disadari oleh Raquille, ternyata tombak milik Arn memiliki sebuah proyeksi aksara-aksara rune, yang membuat hal tersebut lantas menciptakan sebuah ledakan yang kuat, hingga langsung diterima oleh pemuda Elfman tersebut.


Raquille dengan sigap mengakses kekuatan sihirnya untuk menyembuhkan kedua tangannya yang mengalami luka akibat menerima serangan efek ledakan yang dilancarkan oleh Arn.


Kesempatan itu langsung dimanfaatkan oleh Arn serta sosok menyeramkan tersebut untuk menyerang Raquille yang tengah menyembuhkan dirinya.


Dengan cepat Hyphilia pun meluncur, lalu menciptakan sebuah pedang dari kekuatan elemen esnya, lalu menyerang sosok menyeramkan yang akan menyerang Raquille, hingga lenyap seperti sebelumnya.


Akan tetapi, Hyphilia tidak sempat menghentikan Arn yang juga hendak menyerang pemuda Elfman itu.


“Ukh…” Raquille pun langsung menerima serangan elemen petir dari Arn, membuat pemuda Elfman itu seketika terhempas ke jarak yang cukup jauh.


Setelah menghempaskan Raquille, Arn dengan cepat mengambil tombaknya kembali yang tergeletak di tanah, lalu mencoba menyerang Hyphilia.


“Arn, sadarlah… Apa yang terjadi padamu?” Ucap Hyphilia, sambil berusaha menghindari setiap serangan dari pria tersebut.


Hyphilia kemudian mencoba mengangkis serangan ayunan tombak dari pria itu, namun hanya membuat pedang es yang diciptakannya tiba-tiba hancur.


Dengan cepat, Elfman perempuan itu lalu memunculkan sebuah dua pisau yang tersambung oleh sebuah rantai, yang merupakan senjata sucinya. Hyphilia dengan sigap mengayunkan senjata sucinya tersebut, yang langsung membuat Arn pun terjerat dan tidak bisa melakukan apa-apa.


“Blitzzauber…”


“Akh…” Disaat Hyphilia akan mengakses kekuatan sihirnya untuk berusaha menyadarkan Arn, tiba-tiba pria itu langsung melancarkan sebuah serangan pancaran proyeksi elemen petir pada Elfman perempuan itu.


Arn bergerak-gerak melepaskan jeratan rantai pisau dari Hyphilia, lalu hendak menyerang Elfman perempuan itu.


Disaat yang bersamaan, Raquille meluncur mendekatii Arn lalu mengakses kekuatan insting emasnya untuk berusaha menyadarkan pria itu.


“Arn Skoedir… Sadarlah…” Ucap Raquille.


Dengan kemampuan dari Raquille, Arn seketika tersadar. Pandangannya pada Raquille dan Hyphilia yang sebelumnya dilihat merupakan para makhluk menyeramkan, seketika kembali seperti semula.


“Kakak Raquille… Kakak Hyphilia…” Ucap Arn, terkejut mengetahui bahwa sosok menyeramkan yang dilihatnya ternyata merupakan Raquille dan Hyphilia.


“Apa yang terjadi padamu? Siapa yang kau lihat dari sosok menyeramkan tadi?” Tanya Raquille, penasaran.


“Sosok itu…” Arn pun kembali mengingat bahwa sebelumnya dia mengira sosok tersebut merupakan Elfman perempuan bernama Freynille.


“Apa mungkin kau melihat sosok itu adalah Freynille?” Tanya Raquille sekali lagi, memastikan bahwa sosok yang dilihat oleh pria itu adalah Elfman perempuan yang bernama Freynille.


“Benar… Aku sebelumnya melihat bahwa sosok itu adalah Freynille…” Jawab Arn.


“Maafkan aku karena sudah menyerang kalian,” lanjut Arn, meminta maaf atas perbuatannya pada kedua Elfman itu sebelumnya.


“Jangan khawatir, kami baik-baik saja… Yang penting kau sudah tersadar kembali,” respon Raquille.


“Ayo… Lebih baik kita mencari Anhilde dan yang lain sekarang.” Raquille kemudian mengajak Arn serta Hyphilia untuk mencari rekan-rekan mereka yang masih terpisah dengan mereka.


***


Berpindah pada Anhilde dan yang lain, dimana ketiga orang tersebut masih tetap berusaha mencari keberadaan dari para rekan-rekan mereka yang lain.


“Anhilde… Asulf… Haltryg…” Tiba-tiba terdengar suara Raquille memanggil ketiga orang tersebut.


“Haltryg, apakah itu benar kakak Raquille?” Tanya Asulf kepada Haltryg, agar pemuda itu memastikan apakah suara yang memanggil mereka merupakan Raquille atau hanyalah sosok menyeramkan yang beberapa kali mereka temui di tempat itu.


“Tentu saja itu kakak Raquille… Aku juga merasakan hawa keberadaan dari kakak Hyphilia dan kakak Arn disana.” Haltryg pun langsung menjawab dengan yakin bahwa suara yang memanggil mereka itu memang merupakan Raquille sendiri.


Mendengar hal tersebut, Anhilde dan Asulf lantas bergegas bersama dengan Haltryg untuk menemui Raquille dan yang lain.


Setelah semakin dekat, Akhirnya mereka bertemu dengan Raquille, Hyphilia dan Arn, yang sedari tadi juga mencari-cari mereka.


“Kakak…” Anhilde pun lantas berlari ke arah Raquille untuk hendak memeluk pemuda Elfman itu.


Namun, hal tersebut lantas digagalkan oleh saudara kembarnya sendiri, yaitu Arn, dimana pria itu langsung menahan Anhilde untuk tidak memeluk Raquille kembali seperti saat berada di dalam labirin yang sebelumnya.


“Sudah-sudah, yang penting kita semua sudah bersama kembali sekarang,” ucap Arn.


“Lepaskan aku Arn, aku ingin memeluk kakak Raquille,” balas Anhilde, meronta-ronta untuk melepaskan dirinya yang ditahan oleh saudara kembarnya.


“Kau tidak melihat bahwa kakak Hyphilia akan cemburu jika kau melakukan hal seperti itu kepada kakak Raquille,” ucap Arn, masih tidak memperbolehkan Anhilde untuk memeluk Raquille, dengan beralasan bahwa Hyphilia akan merasa cemburu pada hal tersebut.


Hyphilia pun hanya bisa tersenyum mendengar ucapan dari Arn, yang sebenarnya hal tersebut tidak dipermasalahkan baginya.


“Daripada tetap disini, lebih baik kita mencari salah satu harta karun itu atau bola kristal yang akan mengirim kita ke dimensi spasial yang lain,” ucap Raquille, menyarankan agar mereka semua terus mencari hal tersebut di tempat itu.


“Kalau soal itu, sepertinya kami sudah mendapatkannya.” Haltryg pun lantas memperlihatkan sebuah kotak misterius yang diduganya menyimpan sebuah cincin yang merupakan salah satu dari ketiga belas harta karun tersebut.


Melihatnya tersebut, Raquille pun menghampiri Haltryg, lalu mengambil kotak misterius itu dari tangan pemuda tersebut, dan kemudian mencoba membukannya dengan kekuatan fisiknya.


“Kakak, percuma saja kau melakukan itu… Kami sudah berusaha mencoba membukanya menggunakan kekuatan fisik serta sihir, namun tidak kunjung terbuka,” ucap Haltryg, menjelaskannya kepada Raquille.


“Benarkah… Apa mungkin ada kunci khusus untuk bisa membukanya,” respon Raquille sambil memperhatikan kotak misterius tersebut.


Raquille kemudian menyalurkan energi dari kekuatan insting emas untuk berusaha membuka kotak tersebut.


Dalam sekejap kekuatan dari Raquille tersebut merusak mantra yang tertanam dalam kotak tersebut, hingga membuat kotak tersebut akhirnya terbuka.