The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 33 - Terungkapnya para mantan perampok



Pemuda Fuegonia itu dengan kuat kembali memutar-mutar bola rantainya tersebut.


“Flame projection… Flame cyclone…” Hal tersebut sampai menciptakan sebuah pusaran api yang cukup besar, yang pada saat bersamaan juga meluncur ke arah Iezig dan Bohrneer.


Kedua petarung yang baru menyadari serangan dari pemuda itu, sontak hanya bisa terkejut saat melihat serangan tersebut tepat berada di depan mereka. Seketika pusaran api itu langsung menghempaskan ke petarung itu sampai ke dinding arena.


“Massive flame projection… Majesty flame wolf…” Belum puas dengan serangan sebelumnya, Dierill kini meluncurkan serangan elemen api berbentuk serigala raksasa.


Serangan tersebut langsung menghantam Bohrneer dan Iezig sehingga membuat keduanya mengalami kekalahan secara bersamaan.


Kini yang masih berdiri di tengah arena hanyalah tersisa Dierill, yang menandakan bahwa pemuda tersebut menjadi pemenang dalam pertandingan kali ini.


Pertarungan itu kemudian diakhiri dengan sorakan dari para penonton, yang kebanyakan merupakan warga dari kota Novacurve.


Para anggota tim Fuegonia A juga sontak langsung menyoraki Dierill atas kemenangannya tersebut.


**


“Wuhuu… Dierill… Kau keren sekali…!” Teriak Neyndra yang juga menyoraki Dierill.


“Hei… Walaupun dia itu adalah saudaramu, tapi apakah kau harus menyorakinya juga saat anggota kita mengalami kekalahan,” kata Raquille.


**


“Haah… Akhirnya selesai juga…” Kata Rox yang kemudian menurunkan tangannya untuk menghilangkan penghalang yang berada di tengah arena dan kemudian kembali duduk di kursinya.


“Ayah… Apa kau tidak terlihat senang melihat kemenangan dari Dierill?” Tanya Rourke pada ayahnya.


“Aku bukannya tidak senang, tetapi aku sudah kelelahan menahan penghalangnya dari tadi,” jawab Rox dengan nada tinggi.


**


Setelah penghalang yang berada ditengah arena itu menghilang, wasit kemudian terlihat memasuki tengah arena tersebut untuk mengumumkan hasil dari pertandingan.


“Pemenangnya Dierill Drown dari tim Fuegonia A.”


Kemudian setelah wasit mengatakan hal tersebut, layar langsung memperlihatkan perolehan poin dari semua tim.


Fuegonia B (13), Fuegonia A (12), Lightio (12), Cielas (8), Vielass (8), Asimir (7), Mormist (4), Neodela (3), Machora Tira (2).


**


Lalu terlihat pembawa acara memasuki tengah arena.


“Para hadirin sekalian… Malam hari ini pertandingan ronde pertama kini telah selesai. Kita akan melihat pertandingan puncak besok yang akan diadakan pada siang hari, dimana semua anggota tim akan saling berhadapan untuk memperoleh poin.”


“Diharapkan untuk setiap tim mempersiapkan diri kalian untuk hari esok. Untuk para hadirin sekalian juga, agar tidak melewatkan pertandingan ronde kedua tersebut.”


“Kalau begitu, saya Tomair Blonnes undur diri.” Kata pembawa acara tersebut, menutup pertandingan hari ini.


**


“Sial… Perolehan poin kita paling rendah,” kata Vampireman bernama Ascelin, melihat perolehan poin dari timnya.


“Kau jangan cemas… Besok kita pasti akan merebut poin,” kata Orcman bernama Zurbag dengan percaya diri.


**


“Kalian semua jangan patah semangat, kita akan membalaskan mereka besok,” kata Fairyman bernama Edriata tetap menyemangati para anggota timnya walaupun mendapatkan perolehan poin yang rendah.


**


“Kita masih belum mengeluarkan seluruh kemampuan kita. Tenang saja… Besok aku pasti akan mengalahkan mereka,” kata Mermaidman bernama Nolani dengan percaya diri menyemangati para anggota timnya.


**


“Aku pasti akan menggunakan kekuatan pelepasan keduaku,” kata Giantman bernama Fegant.


**


“Elfman tunggu saja… Besok pasti akan kukalahkan kau,” kata Pixieman bernama Messen.


**


“Ini tidak bisa dibiarkan, tim kita harus memenangkan turnamen ini pada besok hari,” kata Saturno.


*


“Bagaimana caraku mengatakan pada mereka tentang Elfman itu,” gumam Venere dalam hati.


**


“Akhirnya… Pertandingan final akan segera dimulai. Kali ini, aku sudah tidak sabar lagi,” kata Afucco, nampak bersemangat.


**


“Akhirnya kali ini aku akan melawan Drakon,” kata Zeidonas, yang kemudian menatap Drakon.


**


“Hei, tuan prajurit… Apa kau tidak sabar untuk melawan orang itu?” Tanya Raquille.


“Iya… Aku sudah tidak sabar lagi,” jawab Drakon.


**


Kemudian terlihat satu per satu penonton mulai meninggalkan arena turnamen itu.


Terlihat juga para peserta telah meninggalkan arena turnamen, menyisakan Raquille dengan para anggota timnya.


“Eh… Tuan prajurit?” Tanya Heinz pada Drakon.


“Iya, ada apa?” Tanya balik Drakon.


“Ayo kita lihat dulu tuan Bohrneer lebih dahulu sebelum pergi, mungkin dia sudah sadar sekarang,” jawab Heinz.


“Oh iya… Aku bahkan hampir melupakannya.”


Para anggota tim Fuegonia B kemudian langsung menuju ke ruangan medis yang berada di arena turnamen tersebut.


**


Di dalam ruangan medis terlihat Bohrneer telah sadar. Beberapa saat kemudian Raquille, Drakon, Heinz serta Neyndra sampai disana.


“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Drakon.


“Haah… Kau menanyakan tentang keadaanku…?” Kata Bohrneer terkejut mendengar tuan prajurit itu menanyakan tentang keadaannya.


“Ternyata kau baik-baik saja… Ayo kita pulang ke Sprintrope sekarang,” kata Drakon yang langsung baru saja masuk seketika kembali keluar.


“Hei… Aku baik-baik saja,” kata Bohrneer, yang langsung berdiri dari tempat tidurnya.


“Tuan Bohrneer apa kau baik-baik?” Tanya Heinz.


“Iya aku baik-baik saja. Ternyata aku masih belum bisa mengimbangi kekuatan dari clan Drown itu,” kata Bohrneer.


“Siapa yang bilang seperti itu. Kau tadi dapat mengimbangi keempat petarung yang lain,” kata Heinz.


“Iya-iya kau benar… Mungkin aku hanya merendahkan diri saja.”


Mereka kemudian berjalan meninggalkan dari arena turnamen tersebut.


**


Lalu diluar arena, terlihat Raquille, Bohrneer dan Heinz berjalan lebih di depan dari Drakon dan Neyndra.


Tiba-tiba Neyndra berhenti. Hal itu sontak membuat Drakon yang sedang bersamanya pun langsung berhenti berjalan.


“Nona Neyndra… Ada apa?” Tanya Drakon.


“Drakon aku ingin bertanya padamu,” kata Neyndra.


“Iya… Tentang apa?”


“Apakah kau menyembunyikan sesuatu?”


Mendengar pertanyaan dari Neyndra, Drakon sontak langsung terkejut.


“Jujurlah, aku tahu bahwa kau menyembunyikan sesuatu tentang kebenaran dari orang-orang itu.”


Tampak Drakon pun menjadi kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari perempuan tersebut.


**


Raquille yang dapat mendengar perbincangan mereka berdua pun yang berada sedikit lebih jauh di belakang sontak langsung terkejut. Dia kemudian langsung mendorong Bohrneer dan Heinz untuk berjalan lebih cepat menjauhi kedua orang itu.


“Eh… Ada apa?” Tanya Bohrneer.


“Diam saja dan ayo berjalan lebih cepat. Gadis aneh itu sedang bertanya tentang siapa kita sebenarnya,” jawab Raquille.


Mendengar pernyataan dari Raquille, Bohrneer dan Heinz sontak langsung terkejut. Mereka bertiga kemudian nampak berjalan lebih cepat dan meninggalkan Drakon dan Neyndra yang berhenti di belakang.


**


“Katakan padaku… Aku ingin kau jujur padaku sekarang. Siapa mereka sebenarnya?” Tanya Neyndra agak memaksa.


Mendengar hal tersebut dari Neyndra, Drakon pun menjadi merasa tertekan untuk mengatakan kebenaran yang dia sembunyikan.


“Mereka adalah kelompok perampok gunung yang kutangkap beberapa hari yang lalu sebelum datang ke kota ini.” Namun, akhirnya pria itu mengatakan kebenaran para mantan perampok yang dia sembunyikan dari Neyndra selama ini.


“Tapi, nona Neyndra… Mereka itu sudah bukan lagi seorang perampok. Karena sebelum datang kemari mereka telah berjanji untuk menjadi prajurit Fuegonia.”


“Jadi seperti itu, kebenarannya yah…?” Kata Neyndra.


“Kalau begitu… Bagaimana dengan pria Elfman itu? Siapa dia sebenarnya?” Tanya Neyndra lagi.


“Pria rambut putih itu…? Dia… Dia adalah prajurit Fuegonia juga. Dia adalah bawahan dari tuan Achilles Noroh, sama sepertiku,” kata Drakon beralasan agar dipercaya oleh Neyndra.


*


“Aku tidak bisa mengatakan tentang siapa sebenarnya Raquille itu. Maafkan aku nona Neyndra,” kata Drakon dalam hati, terlihat menyesal terpaksa tidak bisa mengatakan identitas Raquille yang sebenarnya pada perempuan itu.


**


“Aku mengerti kenapa kau menyembunyikan kebenaran tentang orang-orang itu. Tapi… Apa kau tidak menceritakan sebelumnya padaku karena tidak mempercayaiku?” Kata Neyndra yang terlihat kecewa pada Drakon.


“Tenang saja aku tidak akan menceritakan hal itu pada siapa pun,” lanjutnya yang kemudian berjalan pergi.


“Nona Neyndra…”


Mendengar panggilan dari Drakon, Neyndra sontak berhenti sejenak.


“Lebih baik untuk sementara, kita jalan sendiri-sendiri dulu,” kata Neyndra yang kemudian meninggalkan Drakon.


Nampak Drakon pun terlihat menyesal karena telah membohongi orang yang disukainya itu.


**


Berpindah pada Raquille, Bohrneer dan Heinz, yang kini akan memasuki pintu masuk Sprintrope.


“Tuan Raquille… Apakah si Drakon itu akan membocorkan identitas kita yang sebenarnya?” Tanya Bohrneer.


“Aku juga tidak tahu. Aku sudah tidak bisa mendengarkan pembicaraan mereka berdua saat kita meninggalkan mereka tadi,” jawab Raquille.


“Bagaimana jika identitas kita terungkap?” Kata Heinz, yang terlihat khawatir.


“Tenang saja… Aku mengatasinya jika hal itu terjadi,” kata Raquille berusaha membuat Bohrneer serta Heinz agar tidak khawatir.


“Kami mengandalkanmu tuan,” kata Bohrneer.


Setelah mereka memasuki kediaman Sprintrobe, mereka bertiga pun seketika terkejut melihat para bawahan dari Bohrneer dan Heinz, yang sebelumnya merupakan para perampok telah berlutut di depan para anggota clan Drown.


“Ada apa ini? Apakah mereka membuat suatu kesalahan?” Tanya Bohrneer pada para anggota clan Drown.


“Heh… Ini dia petinggi mereka, Bohrneer Flaus dan Heinz Flaus. Sebelumnya aku memang sudah curiga terhadap kalian berdua, karena setahuku bahwa tidak ada orang prajurit Wattao yang memiliki nama seperti kalian.” Sontak prajurit bernama Lazurno yang langsung menjawab pertanyaan dari Bohrneer


Prajurit tersebut merupakan pria sebelumnya bersama dengan Ailene Drown, adik dari Neyndra.


“Ternyata kecurigaanku benar, bahwa kalian semua ini adalah para perampok gunung yang ditangkap oleh Drakon Magchora di daerah Barat Laut sana,” lanjutnya.


Mendengar pernyataan dari pria bernama Lazurno itu, sontak membuat Bohrneer serta Heinz menjadi terkejut dan tidak berkata apa-apa lagi.


“Apakah benar kalian adalah para perampok gunung itu?” Tanya Lazurno.


“Iya sebelumnya kami adalah kelompok dari perampok gunung yang sering meneror para warga di daerah barat laut,” jawab Bohrneer mengungkapkan identitas mereka.


“Sebelumnya yah…? Karena sekarang kalian adalah para tahanan,” kata Lazurno, yang kemudian mendekati Bohrneer dan Heinz.


Saat pria tersebut akan mendekati mereka, sontak Raquille langsung menghadangnya.


“Tunggu dulu tuan prajurit, kurasa kau telah salah paham,” kata Raquille.


“Apa? Salah paham katamu…? Orang itu yang mengakuinya sendiri. Apakah aku yang salah paham disini?” Tanya Lazurno tidak mengerti dengan apa yang pemuda itu maksud.


“Maksudku kau salah paham menganggap mereka sebagai tahanan, karena mereka semua sebelumnya sudah memutuskan untuk menjadi prajurit Fuegonia,” kata Raquille.


“Hahaha… Memangnya kata-katamu itu bisa dipercaya? Hei, Elfman… Aku juga memiliki kecurigaan terhadapmu, namun aku masih belum mendapatkan alibi yang tepat untuk membuktikan siapa kau sebenarnya,” kata Lazurno menatap tajam Raquille.


“Kalau begitu biar kuperkenalkan diriku… Namaku adalah Laventille Noroh. Aku sebelumnya merupakan salah satu prajurit khusus dari negeri Blueland, yang sekarang bekerja langsung dibawah kepemimpinan tuan Aguirre Noroh. Apa itu tidak terlihat meyakinkan?” Kata Raquille, menjelaskannya pada Lazurno.


“Bekerja dibawah Aguirre Noroh katamu?” Tanya Lazurno.


*


“Haah… Kira-kira dia akan percaya kata-kataku?” Ucap Raquille dalam hati.


**


“Ups... Walaupun beliau tidak berada disini, tapi kau sangat tidak sopan padanya, karena kau memanggilnya tanpa sebutan tuan,” kata Raquille agak meledek pria itu.


“Heh… Walaupun begitu kau masih tidak memiliki wewenang untuk menahanku menangkap mereka, karena setahuku kau ini hanyalah seorang Regional Venerate.”


*


“Sial… Aku harus beralasan apa lagi kali ini?” Kata Raquille dalam hati, kebingungan mencari alasan.


**


Tiba-tiba Rourke, Rox serta para anggota tim Fugonia A sampai.


“Kurasa Laventille benar. Aku sebenarnya mengetahui kebenaran bahwa mereka sebelumnya adalah para perampok. Aku berada disana saat mereka semua memutuskan untuk bergabung menjadi prajurit Fuegonia,” kata Rourke.


“Tuan Rourke, kurasa ini bukan bagian dari urusan anda,” kata Lazurno.


“Aku memang masih belum resmi menjadi seorang prajurit. Namun, aku tetap memiliki wewenang yang lebih tinggi darimu, sebagai World Venerate.”


Mendengar hal tersebut prajurit bernama Lazurno itu sontak menjadi terdiam.


“Kalau begitu kalian semua ayolah berdiri. Dan maafkan atas ketidaknyamanan ini. Kalian sekarang boleh kembali ke tempat istirahat kalian masing-masing,” kata Rourke membebaskan para mantan perampok.


Para mantan perampok serta Bohrneer dan Heinz pun sontak langsung berterima kasih pada Rourke karena telah membebaskan mereka dan kemudian kembali ke tempat istirahat mereka.


Nampak Lazurno terlihat kesal saat melihat Rourke membebaskan para mantan perampok dan menyuruh mereka untuk kembali ke tempat mereka.


“Jadi kau sebenarnya sudah mengetahuinya? Tapi… Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?” Tanya Rox.


“Memangnya untuk apa? Kan mereka juga sudah menjadi prajurit negeri ini,” kata Rourke.


“Tapi… Seharusnya jika ada sesuatu kau harus mengatakannya,” kata Rox.


“Sudahlah ayah, itu sudah berlalu.”


“Baiklah… Lagipula mereka memang sudah memutuskan menjadi prajurit,” Kata Rox, tidak mempermasalahkan hal tersebut.


“Tapi… Dimana nyonya Roudra dan nona Ailene,” lanjutnya bertanya kepada salah satu anggota clan Drown.


“Kurasa mereka sedang menjenguk nona Nizale,” jawab salah satu anggota clan Drown itu.


“Oh iya-iya… Kalau begitu, lain kali jika melakukan hal seperti ini, kalian harus mengetahui kebenarannya dahulu dari orang-orang yang bersangkutan,” kata Rox menasehati mereka.


“Mohon maaf tuan Rox… Lain kali kami tidak akan melakukan kesalahan ini lagi,” kata salah satu dari anggota clan Drown.


**


Beberapa saat kemudian, terlihat Neyndra sampai di tempat itu.


Melihat perempuan itu, Raquille sontak menoleh ke tempat yang lain dan tidak mau menatap perempuan tersebut.


*


“Ah tidak, itu dia… Apakah dia sudah mengetahui kebenaran tentangku.”


**


“Kakak… Kenapa kau hanya sendirian saja? Apa Drakon tidak bersamamu?” Tanya Rourke.


Terlihat Neyndra tidak menjawab pertanyaan dari Rourke dan hanya berjalan terus dan meninggalkan mereka.


“Ada apa dengannya? Apa suasana hatinya sedang buruk?” Tanya Rourke.


“Mungkin saja dia bertengkar dengan tuan prajurit itu.” Dengan polosnya Afucco langsung mengatakan hal tersebut.


“Sudah diam kau, aku tidak bertanya padamu,” kata Rourke menyuruh Afucco diam.


“Tapi kan, itu baru kemungkinan saja,” kata Afucco.


“Hei, Afucco… Bisakah kau untuk diam saja,” kata Dierill yang juga menyuruh saudaranya itu untuk diam.


Lalu terlihat Drakon datang menghampiri mereka semua yang berada di tempat itu. Nampak pria itu merasa kebingungan saat melihat semuanya berada di tempat itu.


“Selamat malam semuanya… Apa ada sesuatu yang terjadi?” Tanya Drakon.


“Oh… Drakon untung saja kau datang lebih cepat. Ada yang harus dibicarakan. Ayo lebih baik kita semua masuk ke dalam terlebih dahulu,” kata Rox.


“Memangnya, apa yang ingin dibicarakan?” Tanya Drakon lagi.


“Ini tentang Boron dan Henokh,” jawab Rox, namun kembali salah menyebut nama dari kedua orang itu.


*


“Boron dan Henokh…? Maksudnya Bohrneer dan Heinz…? Sial… Apa identitas mereka sudah ketahuan,” kata Drakon dalam hati, merasa khawatir.