
Beberapa saat kemudian, berpindah kepada Raquille dan para Venerate Blueland yang bersamanya, dimana mereka kini telah sampai di sebuah daerah negeri Brizora bernama Highland yang banyak didominasi oleh daratan pegunungan tinggi menjulang ke langit.
Sesuai dengan titik lokasi peta dilihat, akhirnya mereka semua sampai di sebuah kastil tua yang berada di pinggiran tebing dekat laut.
Raquille dan yang lain pun mendarat kemudian perlahan-lahan mendekati pintu masuk dari kastil tua tersebut.
Raquille yang berada paling depan diantara mereka tiba-tiba menghentikan langkahnya, membuat semua orang yang berada di belakangnya lantas berhenti juga.
“Ada apa?” Tanya Hyphilia.
“Apa kalian semua siap?” Tanya balik Raquille, menanyakan tentang kesiapan mereka.
Hyphilia dan yang lain pun lantas menganggukan kepala mereka, merespon bahwa mereka siap untuk masuk ke dalam kastil tua tersebut.
Setelah melihat respon kesiapan mereka Raquille kemudian berjalan lebih dulu, dan diikuti oleh mereka dari belakang.
**
Saat sampai di dalam pintu masuk kastil tersebut, Raquille sejenak mencoba untuk mendorong pintu besar kastil tersebut.
Pemuda Elfman itu sedikit terkejut mengetahui bahwa pintu tersebut langsung terbuka ketika didorong olehnya.
Mereka pun masuk ke dalam kastil tersebut, dan sontak merasa penasaran bahwa di dalam hanyalah sebuah kastil yang biasa saja.
“Dimana labirin yang dikatakan sebelumnya?” Tanya Arn, penasaran.
Raquille mencoba memperhatikan sekitaran ruangan yang berada di dalam kastil tersebut, dan tiba-tiba perhatiannya tertuju pada sebuah pintu yang nampak mencurigakan.
Dia berjalan mendekati pintu itu dan mencoba membukanya, namun kali pintu yang ada tersebut terkunci, tidak bisa dibuka olehnya.
“Feuerzauber…” Tanpa pikir panjang, pemuda Elfman itu langsung melancarkan serangan elemen api, yang membuat pintu tersebut seketika hancur.
“Kasar sekali kau…” Ucap Hyphilia.
“Pintu itu tidak memiliki lubang untuk memasukan sebuah kunci…” Balas Raquille, menjelaskan kepada Hyphilia mengapa dia lebih baik melakukan hal tersebut.
Setelah pintu tersebut dibuka dengan paksa, Raquille pun duluan masuk ke ruangan yang berada dibalik kemudian diikuti oleh Hyphilia dan yang lain.
Di dalam mereka sontak menemukan sebuah tangga memutar, yang nampak sangat panjang hingga dasarnya pun tidak dapat terlihat akibat tertutup oleh kegelapan.
Raquille kemudian menciptakan sebuah bola es yang nampak memancarkan cahaya yang cukup terang, kemudian menjatuhkannya ke bawah untuk mengetahui seberapa panjang tangga berputar itu.
Hingga tak berapa lama setelah menjatuhkannya, bola es tersebut kemudian jatuh menyentuh permukaan.
“Tinggi sekali…” Raquille sedikit terkejut mengetahui dasar dari ruangan tersebut sekitar lima ratus meter dari tempat mereka berdiri.
“Aku tidak mau membuang tenaga melewati tangga ini… Kita lebih terbang ke bawah agar lebih menghemat waktu,” ucap Raquille.
Mendengar hal tersebut, ketiga saudara kembar sontak mengakses kekuatan sihir mereka, menciptakan sebuah sayap dari proyeksi energi sihir mereka.
Raquille dan yang lain kemudian mendekati sebuah pintu lalu masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup dan gelap. Di dalam mereka sekitar ruangan tersebut mereka pun mencari pintu masuk yang selanjutnya. Dikarenakan ruangan itu tampak gelap, masing-masing pun memproyeksikan kekuatan sihir mereka untuk membuat sebuah penerangan.
“Tidak ada pintu lain di ruangan ini,” ucap Arn.
Akan tetapi, setelah menerangi seisi ruangan tersebut Raquille dan yang lain tidak bisa menemukan pintu, selain pintu yang menuju ke ruangan dimana berada tangga memutar sebelumnya.
Raquille pun tidak patah semangat, pemuda Elfman itu terus memperhatikan seisi ruangan, dan akhirnya perhatiannya tertuju pada gambar-gambar yang berada di setiap dinding ruangan tersebut.
Raquille memperhatikan gambar-gambar tersebut dimulai pada gambar yang menunjukan sebuah perkumpulan orang-orang yang didatangi oleh sesosok makhluk bersayap yang sedang memegang sebuah pedang. Pada gambar yang selanjutnya, makhluk bersayap itu kemudian memberikan pedang tersebut kepada salah satu diantara mereka.
Bersama-sama, perkumpulan orang tersebut bersama salah satu orang yang mendapatkan sebuah pedang mendatangi para orang-orang yang tampak dijadikan sebagai budak oleh yang lain di gambar yang selanjutnya.
Dari gambar tersebut Raquille pun dapat mengambil kesimpulan bahwa perkumpulan orang yang datang tersebut sebenarnya merupakan para dewa-dewa dari bangsa Friedenic. Menurut sejarah yang pemuda Elfman itu ketahui bahwa pada jaman dahulu kala, bangsa Friedenic sempat dijadikan budak oleh bangsa Geracian, salah satu bangsa di benua Greune.
Namun, entah bagaimana yang terjadi bangsa Friedenic yang menjadi budak tersebut, akhirnya mampu membalas perbuatan dari bangsa Geracian.
Dari gambar-gambar tersebut akhirnya Raquille mengetahui alasan mengapa bangsa Fridenic mampu melawan perbudakan bangsa Geracian, adalah karena para dewa Friedenic memberikan sebuah pedang yang nampak memiliki kekuatan besar.
Setelah bangsa Fridenic mampu untuk bangkit, para dewa-dewa mereka pun akhirnya kembali menghilang, namun sempat memberikan tiga belas harta karun untuk disimpan oleh para bangsa mereka, sesuai pada gambar yang terterah pada dinding ruangan tersebut.
Pada gambar selanjutnya, setelah bangsa Friedenic berjaya, mereka kemudian menancapkan sebuah pedang yang diberikan oleh para dewa Friedinic pada sebuah batu.
Akhirnya, pada gambar yang terakhir terdapat sebuah kristal yang menempel di dinding ruangan tersebut.
Akan tetapi, yang membuat pemuda Elfman itu penasaran, tampak bahwa para dewa Fridenic yang dipuja oleh para bangsa Friedenic terlihat masih berada di bawah sesosok makhluk bersayap yang memberikan sebuah pedang pada gambar yang pertama.
“Jadi begitu yah…” Ucap Raquille sambil memasang senyuman menyeringai di wajahnya.
“Raquille, apa kau mengeahui sesuatu?” Tanya Hyphilia, setelah melihat ekspresi Raquille yang nampak sudah mengetahui mengenai gambar-gambar tersebut.
“Sesuai dari gambar tersebut, bangsa Fridenic yang pernah dijadikan budak oleh bangsa Geracian akhirnya mampu untuk melawan setelah diberikan sebuah pedang oleh para dewa-dewa Friedenic,” jawab Raquille.
“Tunggu dulu… Jika sekelompok orang ini merupakan dewa-dewa Friedenic, maka siapa makhluk bersayap ini? Sepertinya dia nampak lebih kuat dibandingkan dengan mereka?” Tanya Hyphilia, penasaran.
“Itu yang masih belum jelas… Layaknya di atas awan masih ada sebuah awan… Kemungkinan makhluk bersayap ini adalah atasan dari para dewa-dewa Friedenic…” jawab Raquille.
“Daripada membuang waktu untuk bingung dengan hal itu… Lebih baik kita lanjutkan perjalanan saja,” lanjut Raquille.
Pemuda Elfman itu kemudian mendekati dinding dimana tempat menempelnya sebuah kristal, lalu mencoba menyalurkan energi sihir ke dalam kristal tersebut.
Sejenak kristal itu pun memancarkan cahaya yang begitu terang sampai-sampai membuat Raquille dan yang lain pun menghalangi pandangan mereka akibat cahaya sangat menyilaukan tersebut.
****
Dalam sekejap, Raquille dan yang lain pun terkejut kini telah berada di sebuah labirin yang dikatakan oleh Magelline sebelumnya.