The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 94 - Teknik terlarang



“Apa…?” Grelic seketika terkejut mendengar pernyataan ancaman dari Venerate Geracie itu.


*


“Sial… Aku malah membuat keadaan menjadi lebih buruk saja,” ucap Azouraz dalam hati nampak menyesal mengatakan hal tersebut, yang sebenarnya hanya ingin membuat Venerate Geracie itu menghentikan siksaannya terhadap Grelic.


**


Grelic pun menjadi dilema untuk mengatakan kebenaran dari senjata rahasia yang diincar oleh orang-orang Geracie. Di satu sisi, pria itu tidak menginginkan senjata yang mereka simpan tersebut jatuh ke tangan yang salah, namun di satu sisi lagi dia khawatir orang-orang Nascunia akan terkena dampak dari ancaman Venerate tersebut jika dia tidak mengatakan letak senjata tersebut.


Grelic memejamkan kedua matanya, memikirkan hal yang terbaik untuk mengambil sebuah keputusan.


“Senjata itu bukanlah sebuah benda yang disimpan di suatu tempat… Itu adalah sebuah kekuatan yang berasal dari makhluk suci yang disegel ke dalam diri seorang manusia,” ucap Grelic membuka rahasia tentang senjata tersebut, yang sebenarnya merupakan sebuah kekuatan yang berada di dalam tubuh seseorang.


“Jadi maksudmu itu senjata itu adalah seorang manusia yah… Kalau begitu katakanlah sekarang siapa orang itu?” Tanya Venerate tersebut dengan memaksa.


“Breaker lightning… Twin axes lightning slash…”


“Akh…!” Mendadak Zero pun muncul dan langsung melancarkan serangan proyeksi tebasan elemen petir yang kuat hingga Venerate Geracie itu tak sadarkan diri.


Melihat kesempatan Zitkavena dengan sigap mendekati Grelic dan memotong rantai yang membelenggu pria itu dengan menggunakan kekuatannya. Dia juga kemudian melepaskan sepasang gelang yang dipakaikan kepada Grelic, agar kekuatan pria itu bisa kembali seperti semula.


“Tuan Grelic kau tidak apa-apa?” Tanya Zitkavena tentang keadaan dari pria itu.


“Iya, aku tidak apa-apa… Lagipula aku masih bisa menahan pukulan pria itu, jika kalian belum datang juga…” Jawab Grelic dengan sedikit bergurau.


“Baiklah, sekarang hanya tersisa kau saja… Bersiaplah…” Zero yang belum mengetahui bahwa pria yang berasal dari Ledyana tersebut kini merupakan aliansi dari kubuh barat, sontak langsung menodongkan kapaknya, yang memercikkan pancaran energi listrik.


“Tuan, tunggu dulu dia bukan musuh kita…” Melihat hal tersebut, Zitkavena dengan cepat langsung menghentikan Zero, agar tidak menyerang pria itu.


“Dia adalah Venerate dari Ledyana. Aku tidak tahu pastinya, tapi dia adalah orang yang datang bersama kami dari negeri Tsureya,” lanjut perempuan itu menjelaskannya.


Zero pun paham dan menurunkan senjatanya pada pria itu. Dia kemudian menghilangkan kedua kapaknya dan membantu Grelic berdiri.


Zero mengambil alat komunikasi lalu menghubungi seseorang.


***


Tak berapa lama, sambungan tersebut diterima oleh Cento yang sedang berada diluar kota.


“Zero, bagaimana keadaannya?”


“Pemimpin pasukan Geracie sudah dikalahkan… Saatnya kalian untuk bergerak,” ucap Zero.


“Baiklah…” Cento kemudian menutup sambungan komunikasinya bersama dengan Zero.


Di tempat tersebut, pria itu terlihat sedang bersama dengan Arepo dan Mayorio, serta sebagian dari Land Venerate Nascunia, yang pernah menghadiri pertemuan di kota Dupstepa sebelumnya.


Tanpa berlama-lama lagi, setelah mendapatkan sebuah arahan, semua Land Venerate tersebut langsung memasuki kota Chrabuest menyerang prajurit-prajurit Geracie yang berada di depan mereka.


***


Kekacauan yang dibuat oleh para Land Venerate itu langsung didengar oleh Zero dan yang lain, yang berada di dalam kastil, walau jaraknya pun cukup jauh dari mereka.


“Kurasa kita juga harus bergerak…” Ucap Zero.


Azouraz seketika melompat keluar jendela sambil bersiul dengan kencang.


**


Prajurit Ledyana yang mendengar suara tersebut sontak langsung menyerang semua prajurit Geracie yang berada di dekat mereka.


“Hei, kenapa kalian hanya diam saja? Itu adalah isyarat untuk menyerang,” ucap salah satu prajurit Ledyana menjelaskan bahwa siulan tersebut merupakan perintah untuk menyerang.


Walau masih sedikit bingung, pasukan Ruhawsari dan Urusari tetap mengikuti ucapan prajurit tersebut, menyerang prajurit-prajurit musuh.


Prajurit dari negeri Geracie satu per satu langsung dikalahkan oleh prajurit Ledyana, Tsureya bahkan Land Venerate kubuh barat yang berada di dekat gerbang masuk kota.


Mereka dengan cepat mengalami penurunan pasukan akibat kalah jumlah serta kekuatan dari pasukan Ledyana, Tsureya bahkan kubuh barat yang menyerang kota tersebut.


***


Di sisi lain, Raquille, Kurmer serta pasukan Almasari, yang sebelumnya berencana untuk mengendap-endap masuk ke dalam penjara, sontak mengubah rencana dengan langsung menyerang para prajurit-prajurit Geracie tang sedang berjaga.


Pasukan Almasari sangat lihai menyerang dengan serangan tebasan mereka, yang bahkan sedikitpun tidak dapat dilihat oleh prajurit-prajurit Geracie.


Akibatnya semua prajurit-prajurit itu seketika dikalahkan dengan cepat oleh pasukan bertudung tersebut.


Setelah tidak ada prajurit yang masih sadarkan diri, para Almasari menebas rantai sel-sel penjara dengan satu serangan mereka, lalu membebaskan prajurit kubuh barat yang tertangkap di dalamnya.


“Siapa kalian?” Tanya Clava nampak bingung melihat prajurit-prajurit bertudung itu, yang tidak dikenalnya, membebaskan mereka.


“Maaf tuan, kami adalah pasukan bala bantuan dari negeri Tsureya,” jawab salah satu prajurit Almasari.


“Clava...” Tak lama kemudian, Raquille datang menghampiri pria itu.


“Tuan Raquille...”


“Mereka adalah pasukan pengintai dari negeri Tsureya,” ucap Raquille menjelaskan tentang prajurit-prajurit bertudung tersebut kepada Clava.


“Ayo kita keluar sekarang...” Raquille kemudian menyuruh mereka semua untuk segera meninggalkan penjara tersebut bersama dengannya.


***


Setelah semua prajurit dari negeri Geracie telah dikalahkan semuanya oleh aliansi kubuh barat, mereka kemudian dikumpulkan ke satu tempat, sambil memborgol tangan-tangan mereka semua.


“Sial, ternyata kalian juga adalah bagian dari mereka,” Continent Venerate Geracie yang sudah sadarkan diri setelah menerima serangan dari Zero sebelumnya, tampak terkejut setelah melihat Azouraz serta pasukan Ledyana telah mengkhianati mereka.


Walaupun merasa kesal ingin menyerang pria dari Ledyana itu, Continent Venerate tersebut kini tidak bisa melakukan apa-apa, dikarenakan kedua tangannya telah dipakaikan sepasang gelang yang membuat kekuatannya menjadi menurun.


Azouraz mengangkat tangannya menaruhnya ke atas kepala pria Geracie itu.


“Tekhnika ekzortsista... Soul release...” Seketika kepungan asap hitam keluar dari tangannya, yang langsung menyelimuti Continent Venerate Geracie tersebut.


Setelah asap hitam itu lenyap, sejenak ekspresi dari Venerate Geracie tersebut menjadi datar. Dia kemudian berlutut di depan Azouraz, sama seperti yang dilakukan oleh Asseios dan Venerate Geracie yang lain, saat pria Ledyana itu menggunakan tekniknya.


Azouraz kemudian membuka gelang yang dipakai oleh pria itu.


“Baiklah... Untuk sekarang kita sudah memiliki tiga Continent Venerate Geracie bersama dengan kita,” ucap Azouraz.


Zero hanya bisa mengangguk melihat pria Ledyana itu dapat menggunakan sebuah teknik yang bisa mengendalikan Venerate. Dia bertanya-tanya tentang rahasia dari teknik tersebut.


“Ternyata kalian masih memanfaatkan roh-roh penasaran, yang kalian tangkap,” ucap Grelic nampak serius menanggapi teknik yang digunakan oleh pria Ledyana itu.


“Tuan, aku tahu bahwa Nascunia dan negeri bangsa Slivan lain di kubuh barat sangat menentang keras teknik seperti ini...”


“Tapi, kita tidak mempunyai pilihan selain menggunakannya untuk menekan kekuatan Geracie,” ucap Azouraz meyakinkan Grelic agar menerima hal tersebut.


“Yah, suka atau tidak suka aku harus menerimanya, karena kita harus memiliki kekuatan yang lebih untuk menyerang kota Dupstepa, yang sekarang diduduki oleh pasukan Geracie.” Grelic pun menyetujuinya, karena secara tidak langsung dengan adanya tiga Continent Venerate Geracie tersebut, itu dapat membuat kekuatan kubuh barat menjadi lebih kuat untuk berhadapan dengan Geracie.