
“Siapa kau?” Tanya Rox pada perempuan itu.
“Namaku adalah Artemis Hairowl.” Perempuan itu pun menjawab Rox dengan mengatakan namanya.
“Apa…?” Mendengar nama dari perempuan itu, Rox dan Aguirre sontak terkejut secara bersamaan.
“Sepertinya beberapa dari kalian adalah petinggi negeri Fuegonia… Rox Drown, premier Camburstile dan ketua dari clan Drown… Aguirre Noroh, gubernur letnan jendral Fuegonia… Apakah aku benar?”
“Kakak… Siapa perempuan itu, kenapa juga kalian terkejut mendengar namanya?” Tanya Raquille, penasaran melihat kedua orang itu terkejut mendengar nama perempuan itu.
“Dia adalah wakil presiden penyihir negeri Lightio… Kau jangan salah, walaupun terlihat masih seperti gadis berumur dua puluh tahunan, wanita itu sebenarnya sudah berumur hampir setengah abad.”
“Begitu yah… Berarti dia mirip seperti ayah dan ibu,” respon Raquille, tidak terkejut dengan penjelasan Aguirre.
“Semua ras Elfman memang seperti itu… Bahkan kau dan aku juga bisa terlihat muda dari usia yang sebenarnya,” balas Aguirre dengan nada tinggi.
“Tunggu dulu, untuk apa kalian berdua berdebat tentang itu saat ini.” Rourke pun sontak membentak kedua Elfman itu karena mendengar ocehan yang tak penting dari mereka.
“Hei kau, singkirkan penghalang ini… Dua orang itu harus kami tangkap, karena berani-beraninya mengacau di negeri kami,” kata Rourke dengan tatapan tajam pada wanita itu.
“Kurasa itu tidak bisa… Karena kurasa kita lebih baik kita berunding saja, karena para petinggi negeri Fuegonia juga berada disini.”
“Apa…? Berunding katamu?”
“Aku tidak mendengar pendapat darimu anak muda… Bagaimana tuan Drown,” kata wanita itu.
“Eh… Untuk masalah itu lebih baik kau bicarakan saja pada pria ini. Karena jabatannya lebih tinggi dariku,” kata Rox menunjuk Aguirre.
Mendengar penjelasan dari Rox, wanita itu langsung menatap Aguirre.
“Sebelumnya itu, serahkan dulu benda yang dua orang itu curi dari kami…” Kata Aguirre.
“Maksudmu ini?” Tiba-tiba batu kristal yang dipegang oleh Joker berpindah ke tangan wanita itu.
“Maaf sekali, barang ini sebenarnya adalah milik kami. Sewaktu kau mengambilnya dari negeri Machora Tira, seharusnya kau mengembalikannya kepada kami tuan Drown.”
“Aku menolak untuk memberikan benda ini pada kalian,” kata wanita itu.
“Hei… Kau bilang ingin berunding. Kenapa sekarang kau malah menolak semua tawaran yang kami berikan?” Mendengar penolakan dari wanita itu Rourke sontak menjadi geram.
“Lebih baik kita hancurkan penghalang ini,” lanjut Raquille, menyambung perkataan Rourke.
“Tunggu dulu… Jika kalian berusaha menghancurkan penghalang ini, berarti itu adalah pernyataan perang dengan negeri Lightio. Aku tidak akan segan-segan untuk mengirim prajurit World Venerate kami untuk menghentikan kalian.” Mendengar perkataan dari Raquille sebelumnya, wanita itu sontak memberikan peringatan yang keras pada mereka.
Aguirre, Raquille dan Rox pun sontak terkejut dengan pernyataan wanita itu.
“Memangnya kenapa? Kalau begitu, bawa kemari prajurit-prajurit World Venerate, Continent, bahkan sekalian Land Venerate kemari… Aku tidak takut dengan gertakanmu.” Namun, Rourke nampak tidak gentar dengan ancaman wanita itu dan malah menantang balik dengan mengangkat senjatanya mengeluarkan proyeksi elemen api emas.
“Tunggu Rourke, jangan bertindak gegabah dulu.” Rox pun sontak menghentikan tindakan gegabah dari anaknya itu.
“Ada apa ayah?”
“Situasi kedua negeri ini memang sedang tidak baik belakangan ini. Jika kita tidak mengindahkan peringatan wanita itu, peperangan memang akan benar-benar terjadi,” kata Rox menjelaskannya pada Rourke.
“Itu benar tuan Rourke. Pikirkan orang-orang di negeri kita terlebih dahulu jika peperangan terjadi… Untuk saat ini kita tidak bisa melakukan apa-apa.” Aguirre juga membantu menjelaskan hal tersebut pada pemuda itu.
Mendengar penjelasan dari mereka berdua, Rourke pun sontak menurunkan senjatanya mengurungkan niatnya tersebut.
“Jadi, apa kalian setuju dengan itu?” Tanya wanita bernama Artemis itu.
“Iya-iya, sana pergi saja, sebelum aku berubah pikiran,” jawab Aguirre mempersilahkan para Venerate Lightio untuk pergi.
“Baiklah terima kasih pengertian anda… Sepertinya anda dan tuan Drown lebih bijak dari anak muda ini.”
“Satu hal lagi tuan. Tolong jangan limpahkan kesalahan mereka berdua pada orang-orang kami yang sedang mengikuti turnamen. Karena mereka tidak tahu apa-apa tentang rencana kami.”
“Joker… Flogaz… Ayo berdiri kita pergi dari sini.”
Kedua orang itu pun kemudian berdiri dan mengikuti wanita itu meninggalkan tempat tersebut.
“Haah… Dasar orang-orang licik,” kata Rox.
“Urgh…” Rourke pun merasa kesal karena terpaksa membiarkan dua orang itu pergi.
“Kalau begitu, kita kembali ke arena turnamen sekarang,” kata Rox.
“Eh… Untuk apa kesana lagi?” Tanya Raquille.
“Turnamennya belum selesai. Setidaknya kita harus mendengarkan pengumumannya saja,” kata Rox.
***
Di arena turnamen, para peserta yang sebelumnya tak sadarkan diri sekarang sudah siuman.
Tak berselang lama, keempat orang tadi sampai ke arena turnamen dengan melayang dan perlahan-lahan turun ke bawah.
“Tuan Aguirre,” kata Drakon melihat Aguirre bersama mereka.
“Kenapa dia ada disini?” Tanya Neyndra.
“Hei, kenapa Elfman itu bisa melayang tanpa menggunakan sayap sihirnya?” Disamping itu, Gehanther yang melihat Raquille dapat melayang tanpa bantuan apapun menjadi terkejut.
Begitu juga dengan para peserta yang tidak mengetahui kebenaran Raquille karena sebelumnya tidak sadarkan diri. Mereka semua pun nampak terkejut melihat hal tersebut.
“Sepertinya kalian belum mengetahui informasinya yah…?” Kata Dierill.
“Apa maksudmu?” Tanya Gerhanther lagi.
“Heh… Kau akan mengetahuinya sebentar lagi,” jawab Dierill.
*
“Tunggu dulu… Sebelumnya aura Elfman itu sangat mencekam. Apa mungkin dia sebenarnya lebih kuat dibanding denganku? Sial, aku terlalu menganggapnya enteng. Apa mungkin dia akan melabraku nantinya?” Gumam Gerhanther dalam hati, nampak khawatir setelah mengetahui bahwa Raquille lebih kuat darinya.
**
“Tomair… Lebih baik umumkan saja hasil akhir dari turnamen ini. Walaupun memang sebenarnya tidak terlalu penting,” kata Rox.
“Eh, baiklah…” Pembawa acara tersebut kemudian menuju tengah arena untuk mengumumkan hasil akhir dari turnamen tersebut.
“Baiklah… Yang pertama aku ingin mengumumkan bahwa tim Fuegonia B terdiskualifikasi dalam turnamen ini karena diam-diam mengikutsertakan anggota yang memiliki tingkatan World Venerate.”
“Apa…?”
“World Venerate…? Siapa dia?”
“Apa mungkin Elfman itu?”
Mendengar hal tersebut, sontak membuat para peserta yang tidak mengetahui hal tersebut langsung terkejut.
Namun, Dierill, Saturno, Horner, Venere, para anggota tim Fuegonia B dan para perwakilan clan besar, serta Rox, Rourke dan Ailene yang berada di tempat itu tampak tidak terkejut lagi karena sudah mengetahui hal tersebut sebelumnya.
“Karena itu, poin dari tim tersebut akan diberikan secara merata kepada tim lain yang masih bertahan.”
Setelah pembawa acara mengatakan hal tersebut, layar yang berada di arena itu langsung memperlihatkan perolehan poin dari semua tim.
Fuegonia A (78), Vielass (61), Cielas (57), Fuegonia B (keluar), Asimir (keluar), Lightio (keluar), Neodela (keluar), Machora Tira (keluar), Mormist (keluar).
“Haah… Sial, padahal poin tim kita sangat melimpah,” keluh Neyndra, pasrah melihat timnya terdiskualifikasi.
“Mau bagaimana lagi…” Sambung Drakon.
“Dilihat dari perolehan poin terakhir… Tim Cielas menempati posisi ketiga… Tim Vielass menempati posisi kedua… Dan tim Fuegonia A menempati posisi pertama… Hal tersebut menandakan bahwa pemenang dalam turnamen ini adalah tim Fuegonia A.” kata Tomair, pembawa acara turnamen tersebut.
“Jadi kita yang pemenangnya yah?” Tanya Afucco.
“Kau kan sudah melihatnya.” Namun, Dierill nampak tidak terlhat bahagia dengan kemenangan timnya.
“Kita menang dengan poin pengasihan saja.” Begitu juga Elford dan Yoford, anggota tim Fuegonia A yang lain nampak tidak terlalu memperdulikan hal tersebut.
“Ternyata tim Vielass masih lebih unggul dari kita,” kata Saturno.
“Kakak, sebenarnya aku sudah mengetahui lebih dahulu bahwa Elfman itu adalah Wo…” Tiba-tiba kutukan dari Venere kembali aktif lagi saat akan mengatakan kata World Venerate.
*
“Kenapa lagi ini… Padahal semua orang sudah mengetahui kebenarannya,” kata Venere dalam hati, masih merasakan kutukan yang membuatnya merasakan rasa dingin yang amat menusuk.
**
“Venere, kenapa lagi denganmu?” Tanya Saturno.
Melihat perempuan itu nampak tersiksa oleh kutukan yang dia berikan, Raquille seketika datang menghampirinya. Dia kemudian menaruh tangannya di atas kepala perempuan itu, yang seketika uap keluar dari dalam tubuh perempuan itu.
“Hmph… Es terkutuk yah…” Kata Aguirre.
“Hei, kenapa dengan ekspresi kalian itu? Tenang saja, aku tidak akan menyerang kalian.” Raquille pun langsung
menenangkan mereka karena melihat kesiagaan orang-orang itu padanya.
“Kau pasti Raquille Noroh, si elf iblis itu kan?” Tiba-tiba Dwarfman bernama Dossur bertanya pada Raquille.
“Elf iblis katamu…?” Raquille sontak menatap tajam Dossur karena menyebutnya dengan sebutan yang tidak disukainya itu.
“Yah, Elf iblis… Itu sebutan yang pantas untuk makhluk yang sudah membantai kaum kami dengan kejamnya,” balas Dossur, balik menatap tajamnya.
“Oh, jadi dia yang telah membantai para anggota Guardian,” sambung Giantman bernama Fegant.
Para peserta ras keturunan campuran pun sontak mencaci maki dan mengolok-oloknya setelah mengetahui bahwa Raquille-lah Elfman yang telah menghabisi beberapa kaum mereka pada sepuluh tahun yang lalu.
Mendengar perkataan kasar dari mereka, pemuda Elfman itu hanya bisa menundukkan kepalanya tidak bisa berkata apa-apa.
“Cukup…!” Tiba-tiba Aguirre berteriak karena merasa kesal mendengar cacian mereka.
“Beraninya kalian berkata kasar pada adikku.” Pria Elfman itu sontak mengeluarkan tekanan kekuatannya yang membuat arena turnamen tersebut seketika bergetar.
“Kalian semua maju dan lawan aku sekarang. Jika kalian menang, kalian bisa dengan sesuka hatinya mengolok adikku.” Aguirre langsung menantang para ras campuran yang berkata kasar pada Raquille.
Para ras campuran sontak terdiam karena terintimidasi oleh perkataan dan tekanan kekuatan dari Aguirre.
“Tuan Aguirre mohon tenang. Jika kau masih melanjutkannya, arenan turnamen ini mungkin akan roboh,” kata Rox, menenangkan pria Elfman itu.
Mendengar perkataan dari pemimpin clan Drown itu, Aguirre pun sontak menghilangkan tekanan kekuatannya.
**
Tak berselang lama, tim-tim para ras keturunan campuran bersama dengan tim Cielas pergi meninggalkan arena turnamen tersebut.
“Kakak, terima kasih sudah membelaku,” kata Raquille.
“Sudahlah… Itu memang kewajibanku. Bagaimana mungkin aku membiarkan adikku diolok-olok walau dia membuat kesalahan sekalipun,” kata Aguirre.
“Ngomong-ngomong lama tidak bertemu denganmu,” lanjutnya.
Raquille membalas sapaan saudaranya tersebut dengan senyuman.
“Raquille Noroh…” Tiba-tiba Neyndra memanggilnya.
“Ada apa?” Tanya Raquille.
Perempuan itu seketika bersujud di hadapan Raquille, yang sontak membuat semua orang yang berada di tempat itu kebingungan.
“Tolong maafkan aku tuan, selama ini aku sudah banyak berkata kasar dan tidak sopan padamu.”
“Nona Neyndra, ayo berdiri.” Melihat perempuan itu bersujud di hadapan Raquille, Drakon pun sontak menariknya untuk berdiri.
Namun, Neyndra pun kembali bersujud dan kini sambil menarik Drakon bersujud dengannya.
“Tuan, tolong maafkan kami… Drakon, cepat minta maaf padanya, kau juga ini sudah tidak sopan padanya.”
“Hei, sudah-sudah, ayo berdiri…” Raquille sontak menarik kedua orang itu berdiri kembali.
“Aku ingat sekarang… Kau anak perempuan yang waktu itu kan? Kau dan adik perempuanmu…”
“Yah… kau kan adiknya?” Raquille sontak menunjuk Ailene.
“Berarti bocah lelaki ingusan waktu itu adalah kau…” Pemuda itu kemudian menunjuk Rourke.
“Apa-apaan kau…? Bocah ingusan katamu?” Rourke nampak kesal setelah mendengar hal tersebut.
“Hei, siapa diantara kalian lima belas tahun yang lalu masih dipeluk oleh ibu kalian?” Raquille bertanya kepada Dierill dan Afucco sambil menunjuk mereka.
“Dia…” Jawab Dierill sambil menunjuk Afucco.
“Kakak… Kenapa kau mengatakannya,” kata Afucco nampak malu.
“Wah… Ternyata kalian semua sudah dewasa sekarang,” kata Raquille nampak bangga melihat kembali saudara Neyndra yang pernah ditemuinya dulu.
“Hentikan ocehanmu itu… Dan ayo kita pergi dari sini,” kata Rourke.
Beberapa dari mereka pun kemudian meninggalkan tempat itu dan hanya menyisakan Raquille, Aguirre, Rox dan Drakon. Serta para anggota tim Lightio.
“Dan kalian… Ku beri waktu selama satu hari untuk meninggalkan negeri ini,” kata Rox pada anggota tim Lightio.
“Tapi, tuan Drown… Orang-orang kami sudah membuat kekacauan. Kami siap menerima akibatnya,” kata Zeidonas.
“Sudahlah, itu tidak perlu… Wakil presiden kalian mengatakan bahwa kalian tidak ada sangkut pautnya dengan kekacauan tadi,” kata Rox.
“Baiklah, terima kasih atas pengertian anda. Kami secepatnya akan meninggalkan negeri ini.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Zeidonas dan yang lain pun melangkah hendak meninggalkan arena turnamen itu.
“Zeidonas…” Tiba-tiba Drakon memanggil pria itu.
Zeidonas pun berhenti sejenak dan menoleh padanya.
“Kuharap kita bisa bertemu lagi,” kata Drakon.
“Yah… Secapatnya,” balas Zeidonas dengan senyuman.
***
Malam pun berganti, nampak semuanya kini sudah kembali ke Sprintrobe. Terlihat Raquille, Aguirre, Drakon, semua anggota clan Drown yang telah disebutkan, Bohrneer, Heinz, Lazurno dan para perwakilan clan besar berada dalam satu ruangan sedang membincangkan sesuatu.
“Haah… Akhirnya hari yang melelahkan ini bisa berakhir juga,” kata Rox.
“Tapi aku masih tidak merelakan batu kristal itu,” kata Rourke.
“Sudahlah…” balas Rox.
“Disamping itu, entah kemana Vampireman itu mengirim tuan Yugro, tuan Drajick dan tuan Chrol,” lanjut Rox.
“Aku secepatnya akan memberitahu kabar hilangnya mereka pada clan mereka masing-masing,” kata wanita bernama Luga.
“Iya, kau benar. Setidaknya kita harus mencari keberadaan mereka. Teknik yang dipakai oleh Vampireman itu sungguh merepotkan. Aku dulu sempat menyaksikan beberapa rekanku lenyap karena teknik tersebut. Beberapa dari mereka dapat ditemukan, tapi beberapa tidak bisa,” kata Rox, menjelaskan hal tersebut.
“Ngomong-ngomong tuan Aguirre. Kenapa anda kemari?” Rox kemudian bertanya pada pria Elfman itu.
“Aku datang untuk menjemput Raquille ke suatu tempat,” jawab Aguirre.
“Memangnya kalian mau kemana?” Tanya Rox lagi.
“Ke benua Greune.”
Mendengar hal tersebut, semua orang yang berada di tempat itu sontak terkejut.
“Aku mendapat perintah langsung dari tuan Barbiond untuk berangkat kesana bersama Raquille.”
“Disamping itu, kami harus merebut kembali Cyffredinol dan Achilles yang telah ditangkap pasukan negeri Pavonas.”
Mendengar penjelasan kedua dari Aguirre, mereka sontak lebih terkejut lagi.
“Apa…? Kakak Achilles ditangkap? Dan kakak Cyffredinol juga adalah prajurit Fuegonia?” Raquille pun juga seketika terkejut mendengar hal tersebut.
“Ayo Raquille… Kita tidak bisa berlama disini,” lanjutnya.
Kedua Elfman itu kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.
**
Diluar nampak Bohrneer, Heinz, Drakon dan Neyndra langsung mengejar mereka.
“Tuan Raquille tunggu…” Kata Bohrneer.
“Aku juga akan ikut denganmu,” lanjutnya.
“Heh… Mungkin lain kali saja,” kata Raquille.
“Tapi…”
“Sudahlah… Lagipula aku tidak mau memegangmu sambil terbang.”
“Kalian baik-baik disini,” kata Raquille sambil memegang pundak Bohrneer dan Heinz.
“Drakon, kau juga jaga Neyndra baik-baik.” Raquille kemudian berpesan untuk menjaga perempuan yang disukai Drakon itu.
“Baik tuan Raquille, sesuai perkataanmu.” Pria itu pun mengiyakan pesan pemuda tersebut.
Tak perlu berlama-lama, kedua Elfman itu seketika terbang dengan kecepatan tinggi menuju ke benua Greune.