
Setelah menghancurkan bongkahan-bongkahan tanah dari teknik sihir milik Ackerlind, Venerate itu pun mengeratkan tangannya yang diacungkan ke arah Ackerlind yang sedang tersungkut di tanah.
“Akh…” Hal tersebut lantas membuat Ackerlind pun menjerit kesakitan karena tekanan dari serangan dorongan elemen angin tersebut semakin kuat, layaknya sesuatu yang berat menindih tubuhnya.
Masih belum puas, Venerate itu mengacungkan tangannya yang satunya ke arah Ackerlind yang sangat kesusahan menahan beban dari serangan elemen anginnya tersebut.
Disaat yang bersamaan, tiba-tiba Achilles meluncur mendekati Venerate Fuegonia tersebut. Sambil meluncur, pemuda Elfman itu dengan sigap mengambil ancang-ancang mengangkat tombak yag dipegangnya, kemudian dengan kuat meluuncurkannya hingga memancarkan proyeksi energi dalam skala yang besar.
Dengan sangat kencang tombak tersebut meluncur ke arah Venerate Fuegonia itu, hingga membuatnya seketika mengangkat kedua tangannya ke arah tombak itu sambil mengeluarkan serangan dorongan elemen angin yang sangat kuat untuk berusaha menghentikannya.
“Percuma saja… Kau tidak bisa menahan luncuran dari tombak itu,” ucap Achilles.
Walaupun memiliki tekanan yang sangat kuat dari serangan elemen angin yang dilancarkan oleh Venerate Fuegonia tersebut, akan tetapi tombak tersebut tetap meluncur dengan mulus layaknya tidak dihalangi oleh tekanan kekuatan apapun.
“Akh!” Venerate Fuegonia itu pun lantas terhempas dibawa oleh luncuran tombak yang merupakan senjata suci dari Achilles tersebut ke jarak yang jauh.
Ketika Achilles mengangkat tangannya, tombak yang diluncurkan olehnya seketika kembali ke tangannya lagi, namun Venerate yang dihempaskan oleh tombak tersebut terus meluncur hingga menghantam dinding tebing dengan kerasnya.
Akibat hal tersebut, Venerate itu pun seketika tak sadarkan diri, hingga tak berapa lama tombak senjata sucinya tiba-tiba muncul di dekatnya, menandakan bahwa kekuatan pelepasan kedua yang sempat diaktifkan olehnya kini telah berakhir.
**
Setelah mengalahkan Venerate Fuegonia itu dengan serangan luncuran tombakya, Achilles kemudian berjalan mendekati Ackerlind yang tersungkur di tanah, lalu membantu saudaranya tersebut berdiri kembali.
“Kau baik-baik saja kakak?” Tanya Achilles mengenai keadaan dari saudaranya tersebut.
“Jangan khawatir… Untung saja kau menolongku tepat pada waktunya, jika tidak tubuhku pasti remuk akibat teknik dari Venerate itu,” jawab Ackerlind, menyatakan bahwa dirinya baik-baik saja karena Achilles sempat menolongnya dari jeratan teknik Venerate Fuegonia itu.
“Akan tetapi, salah satu dari mereka berhasil kabur… Aku rasa dia akan memberitahukan bahwa kita telah menyerang daerah ini,” lanjut Ackerlind berkata, memberutahukan kepada Achilles mengenai salah satu Venerate Fuegonia yang sebelumnya berhasil kabur.
“Tidak apa-apa… Setidaknya kali ini kita harus lebih serius karena kemungkinan para Continent Venerate Fuegonia akan segera datang menyerang kita,” respon Achilles, nampak telah bersiap tentang hal itu karena bagaimanapun penyerangan mereka tetap akan diketahui oleh para petinggi negeri tersebut.
“Aku mau memberitahukan informasi kepada yang lain…” Achilles kemudian mengambil sebuah alat komunikasi untuk segera memberitahukan kepada seluruh kelompok pasukan Elfman bahwa kemungkinan penyerangan mereka akan diketahui oleh para pimpinan negeri Fuegonia.
***
Beberapa saat kemudian, setelah Achilles memberitahukan kepada kelompok pasukan Blueland yang masing-masing dipimpin oleh Cyffredinol, Aguirre dan Drannor, mereka semua pun langsung bergegas berkumpul menuju kota yang dimana Ackerlind, Achilles, serta pasukan yang dipimpin oleh mereka berada.
***
Waktu pun berlalu, pada malam harinya di kota Realmton, terlihat Aisling bersama dengan lima Venerate Ierua berjalan mendekati sebuah bangunan yang sebelumnya ditunjuk mereka berada di tengah kota tersebut.
Ketika bangunan yang merupakan museum tersebut ditutup pada malam hari, para Venerate Ierua itu pun mengambil kesempatan berusaha memasukkinya untuk mencari keberadaan dari senjata penghancur yang dicara-cari oleh mereka.
Di sebuah tempat tertutup, Venerate Ierua bernama Barnedict duduk menyilangkan kakinya kemudian perlahan memejamkan kedua matanya dan mulai berkonsentrasi.
Barnedict lebih dalam lagi berkonsentrasi hingga mampu mengendalikan tubuh serangga tersebut untuk bisa terbang mengelilingi ruangan di setiap bangunan yang luas tersebut.
**
Sambil Barnedict berkonsentrasi mengendalikan serangga yang layaknya sedang dirasuki olehnya di dalam bangunan tersebut, Aisling beserta para Venerate Ierua yang lain terus memperhatikan ke sekitaran untuk melihat apakah terlihat pergerakan dari Venerate Fuegonia kota Realmton.
“Aku memperhatikan ke sekitaran tempat ini dari jarak yang jauh,” ucap Galcael, tiba-tiba pergi meninggalkan Aisling dan lain.
Sembari meluncur dengan cepat berpindah-pindah tempat, pria itu menyempatkan diri memunculkan sebuah busur panah yang merupakan senjata suci miliknya.
Ketika melihat sebuah bangunan pencakar langit lain, dengan sigap pria itu pun langsung terbang mencapai bagian teratas kemudian mulai memperhatikan ke sekitaran menggunakan kemampuan penglihatan jarak jauhnya, yang dibantu oleh kekuatan dari busur panah tersebut.
***
Berpindah pada seekor serangga yang masih dikendalikan oleh Barnedict, dimana setelah berkeliling di dalam bangunan tersebut cukup lama, pria itu akhirnya menaruh sebuah curiga terhadap sebuah ruangan yang dimana terdapat sebuah pintu berankas di dalamnya.
**
Setelah yakin bahwa pintu berankas tersebut merupakan tempat dimana keberadaan senjata panghancur yang dicari oleh mereka, Barnedict pun langsung membuka kedua matanya dan kembali seperti semula.
“Sepertinya aku sudah menemukan tempat dimana senjata itu berada…” Ucap Barnedict, memberitahukan hal tersebut kepada Aisling dan yang lain.
“Eiseach… Kurasa waktunya untukmu menggunakan kemampuanmu mengendap-ngendap ke dalam bangunan itu,” ucap Barnedict, menyuruh satu-satu Venerate perempuan dari clan Riornain itu untuk masuk ke dalam bangunan tersebut.
“Baiklah… Akan segera kulakukan,” respon Venerate bernama Eiseach tersebut, setuju dengan peintah dari Barnedict.
Sebelum perempuan bernama Eiseach tersebut pergi, Barnedict menyempatkan memunculkan sebuah tongkat sihir senjata sucinya kemudian memberikannya kepada perempuan itu.
“Gunakan kekuatan dari tongkat itu untuk membuka pintu berankas yang berada di salah satu ruangan dalam bangunan tersebut,” ucap Barnedict.
Setelah paham dengan penjelasan Venerate tersebut, Eiseach pun langsung bergegas pergi ke bangunan tersebut.
Ketika melihat penjaga berada di depan pintu masuk yang masih terbuka, perempuann itu menggunakan kemampuannya, hingga membuatnya menjadi tak kasat mata, serta membuat tekanan kekuatannya tersamakan, tidak bisa dirasakan oleh para penjaga yang merupakan seorang Venerate walaupun dirinya sudah berada dekat dengan mereka.
Eiseach dalam wujud tak kasat mata melewati para penjaga tersebut dan dengan mudahnya masuk ke dalam bangunan tanpa diketahui.
**
Ketika sudah berada di dalam, dengan bantuan komunikasi bersama Barnedict melalui kemampuan telepati, perempuan itu berjalan menuju sebuah ruangan yang sebelumnya dilihat oleh Barnedict.
Tak berapa lama, Eisaech pun sampai ke ruangan tersebut, dan sontak mendekati pintu berankas yang berada di dalamnya.
Dengan mengakses kekuatan dari tongkat sihir yang dberikan oleh Barnedict, Eiseach pun dengan mudah membuka kunci dari pintu berankas tersebut.