The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 218 - Dalam sebuah kendali



“Kalau begitu, biar kami yang mengurusnya. Apa kau keberatan?”


“Lakukan saja… Lagipula dia memang adalah musuh kita.”


Setelah mendengar jawaban dari Phyton, Guilmus dan Reminel pun perlahan-lahan berjalan mendekati Hazelisa yang sedang tersungkur.


“Sialan… Siapa yang…” Ketika Hazelise hendak kembali berdiri, tiba-tiba ucapannya terpotong ketika melihat dua Venerate Brizora berada di depannya.


“Halo tuan putri… Sepertinya kata-katamu itu tidak cocok dengan gelarmu,” ucap Guilmus, mengkoreksi ucapan dari putri mahkota negeri Ierua.


“Ada apa kalian datang kemari?” Tanya Hazelise.


“Untuk apa lagi? Tentu saja untuk melawanmu, karena kau adalah salah satu musuh yang harus kami lawan… Walaupun kami berdua nampak kurang adil harus melawan seorang perempuan,” jawab Guilmus sambil memperlihatkan ekspresi tersenyum.


“Kalau begitu, lawanlah aku sekarang…” Ucap Hazelise, dan seketika melancarkan serangan proyeksi energi ke arah dua Continent Venerate Brizora itu.


Dengan sigap, Guilmus maupun Reminel langsung melompat ke belakang untuk menghindari serangan dari putri negeri Ierua tersebut.


Hazelise pun dengan cepat kembali, kemudian bersiap untuk berhadapan dengan dua Continent Venerate pria tersebut.


***


Berpindah ke pertarungan antara Raquille dan Aisling, dimana dengan mudah Raquille dapat menghindari setiap serangan proyeksi energi yang dilancarkan oleh Aisling kepadanya.


“Aisling… Sepertinya kau baru saja menjadi World Venerate… Setahuku, saat terakhir kali tingkatanmu masih Continent Venerate…” Ucap Raquille sambil menghindari setiap serangan dari Aisling, karena merasa bahwa kemampuan perempuan itu masih mirip layaknya Venerate pada tingkatan Continent Venerate, berbeda dengan pemuda Elfman itu yang sudah lama berada pada tingkatan tertinggi, World Venerate.


“Tapi, setidaknya kau telah melampaui kakak Cyffredinol… Karena sampai sekarang dia masih terjebak pada tingkatan Continent Venerate,” lanjut Raquille berkata.


“Lebih baik kau fokus daja pada pertarunganmu sendiri, wahai Elfman…”


Merasa kesal karena terus membandingkan kemampuannya tersebut, Aisling seketika melancarkan serangan proyeksi energi dalam skala yang besar, hingga Raquille pun langsung terkejut, tidak memperkirakannya.


“Uwaah…!” Dengan sigap, Raquille pun langsung bergerak menghindarinya, walaupun sempat terkejut dengan hal tersebut.


Serangan yang melewati Raquille itu pun seketika menciptakan sebuah ledakan yang besar, yang langsung membuat pemuda Elfman itu merasa bahwa ucapannya sebelumnya ternyata sudah salah.


Masih belum puas, Aisling sontak melancarkan serangan yang sama ketika Raquille menoleh ke arahnya.


Dengan sigap, Raquille memunculkan pedang senjata sucinya, kemudian mengacungkannya kea rah serangan yang dilancarkan oleh Aisling.


Dalam sekejap, serangan proyeksi energi itu langsung terserap masuk hingga bilah pedang tersebut berubah menjadi warna hitam. Dengan sigap, pemuda Elfman itu langsung mengibaskan pedangnya ke arah Aisling, hingga serangan proyeksi yang diserap pedang itu pun diluncurkan.


Melihat serangan tersebut, serta mengetahui dampaknya, dengan cepat Aisling pun bergerak untuk menghindarinya.


Aisling dalam sekejap meluncur ke arah Raquille kemudian lebih memilih untuk bertarung tanpa melancarkan serangan proyeksi energi.


Dengan sigap, Raquille pun langsung meladeni serangan acungan tombak dari Aisling sambil terus menepisnya.


***


Disaat merasa kebingungan, Phyton pun seketika mengingat dengan tujuan mereka yang sebenarnya datang untuk mengambil salah satu dari ketiga belas harta karun yang berada di pulau tersebut.


Pemuda itu pun lebih memilih untuk pergi meninggalkan medan pertempuran menuju ke sebuah kastil tua yang berada di dekat tempat itu.


Phyton bergegas memasuki kastil tua tersebut untuk berusaha mengambil cawan harta karun sebelum pasukan Ierua mengambilnya lebih dulu.


**


Saat masuk ke dalam kastil tersebut, langkah Phyton tiba-tiba terhenti ketika melihat pasukan kesatria berbaju zirah yang menutupi seluruh tubuh mereka.


Dalam sekejap, pemuda itu langsung memunculkan pedang senjata sucinya yang merupakan salah satu dari ketiga belas harta karun. Dia pun langsung melancarkan serangan proyeksi elemen api berwarna hitam ke arah pasukan berzirah tersebut.


“Eh…” Tiba-tiba Phyton terkejut ketika melihat pasukan berzirah tersebut hancur berkeping-keping diserang olehnya.


Ternyata pasukan berzirah itu tidak terdapat manusia di dalamnya, dimana pasukan tersebut hanya bergerak dengan sebuah kekuatan proyeksi di dalamnya. Ketika Phyton melancarkan serangan dan menghancurkan pasukan tersebut, tampak sebuah proyeksi energi seketika keluar dari tumpukan baju zirah tersebut.


Hal itu pun langsung membuat Phyton kembali melangkahkan kakinya untuk berusaha mengikuti arah perginya dari proyeksi kekuatan tersebut.


Phyton terus mengikuti proyeksi kekuatan yang meluncur tersebut hingga membawahnya ke sebuah ruangan yang terdapat sebuah tangga berputar menuju ke atas.


Tanpa pikir panjang Phyton pun terbang ke arah karena mengetahui bahwa harta karun yang dicari olehnya kemungkinan berada di atas.


Setelah sampai di bagian paling atas dalam kastil tua tersebut, Phyton pun akhirnya melihat sebuah cawan yang terbuat dari tanduk makhluk suci berada di atas sebuah altar. Phyton perlahan-lahan berjalan mendekati altar tersebut, kemudian langsung mengambil cawan tersebut.


Tiba-tiba, saat pemuda itu memegang cawan yang terbuat dari tanduk makhluk suci tersebut, seketika sebuah energi yang berada di dalamnya langsung tersalur ke dalam tubuhnya sendiri.


“Akh…” Phyton pun menjerit kesakitan sambil jatuh tersungkur di lantai, ketika proyeksi energi dalam jumlah yang banyak terus menerus masuk ke dalam tubuhnya.


Sontak akibat hal tersebut, pedang yang masih dipegang oleh pemuda itu langsung memancarkan proyeksi elemen api hitam, yang dalam sekejap masuk ke dalam tubuhnya.


Phyton pun seketika berubah ke wujud pelepasan keduanya dengan memiliki penampilan mengenakan sebuah zirah berwarna hitam yang menutupi seluruh tubuhnya, serta memegang sebuah pedang berukuran cukup besar, memiliki kobaran api hitam yang terus menyala pada bilahnya.


Perbedaan yang terlihat pada wujud perubahan kekuatan pelepasan kedua miliknya, dimana baju zirah hitam dari pemuda kini memiliki aksen pijaran cahaya berwarna biru, serta memiliki sepasang tanduk di bagian kepalanya.


Setelah perubahan wujud Phyton selesai, pemuda itu kembali berdiri, dan nampak sedang dalam pengaruh yang kemungkinan merupakan kekuatan dari cawan yang terbuat dari tanduk makhluk suci tersebut.


Phyton yang sedang dalam kendali tersebut dalam sekejap meluncur ketika merasakan tekanan kekuatan, para Venerate yang masih sedang bertarung diluar kastil yang tak jauh dari tempat itu.


***


Berpindah pada pertarungan para Venerate yang berada padang rumput yang cukup luas, dimana seketika pertarungan mereka langsung terganggu ketika Phyton datang dan langsung menyerang secara membabi buta kedua belah pihak pasukan tersebut.


Pertarungan dari para Venerate tingkat atas pun seketika terhenti ketika melihat sesosok makhluk berzirah hitam, yang tidak diketahui oleh mereka merupakan Phyton.


“Itu Phyton…” Akan tetapi Aisling nampak mengetahui bahwa makhluk berzirah tersebut merupakan Phyton putranya.