
Pria Elfman itu mengakses kekuatan elemen esnya, membentuk sebuah anak panah es, yang langsung dilancarkannya, dan dengan kecepatan penuh meluncur ke arah Cadhan yang berada di padang rumput.
***
Ketika merasakan sesuatu yang datang, Cadhan seketika menoleh, dan lantas terkejut melihat sebuah anak panah es meluncur dengan kecepatan penuh ke arahnya.
Tanpa pikir panjang Cadhan pun langsung menepis panah es tersebut hingga hancur berkeping-keping jatuh ke tanah.
*
“Anak panah es... Sepertinya aku mengetahui teknik ini...” Gumam Raquille dalam hati, melihat sebuah anak panah es meluncur yang langsung ditepis oleh perdana menteri Ierua itu.
Raquille pun langsung berpikir dengan cepat, dimana Barbiond yang merupakan World Venerate Fuegonia tersebut tidak mungkin datang ke tempat itu sendirian, dan karena melihat anak panah es tersebut Raquille pun langsung mengambil kemungkinan bahwa teknik itu sering digunakan olehnya juga, selain dirinya Elfman yang biasa menggunakan teknik tersebut tidak lain adalah Cyffredinol, yang merupakan Venerate pemanah terbaik dibandingkan para Venerate yang berasal dari negeri Blueland.
“Apa mungkin itu teknik es mekar?”
**
Raquille terkejut melihat Barbiond tiba-tiba dengan cepat terbang ke atas layaknya sedang menghindari sesuatu, pemuda Elfman itu pun lantas langsung yakin bahwa perkiraan tersebut memanglah benar bahwa Cyffredinol-lah yang meluncurkan anak panah es tersebut.
“Semuanya...! Cepat menghindar ketempat lain sejauh mungkin!” Raquille pun langsung berteriak memperingati para Venerate yang berada disekitar tempat tersebut.
Tanpa pikir panjang, semua Venerate yang ada dengan cepat pergi menghindar sesuai dengan peringatan uang yang diberikan oleh pemuda Elfman itu. Begitu juga dengan Raquille yang langsung terbang ke atas untuk mengantisipasinya.
Dalam sekejap, anak panah es yang hancur berkeping-keping di tanah tersebut langsung menumbuhkan sebuah duri-duri berukuran cukup besar, yang langsung meluas, menyebar ke setiap bagian dari padang rumput tersebut.
Cadhan yang berada di dekat tempat tersebut langsung dengan cepat berlari menghindari duri-duri es yang terus tumbuh bermekaran tersebut.
Sambil menghindar, perdana menteri Ierua itu menyimpan kedua tombak senjata sucinya tersebut, kemudian langsung memungut pedang milik Sheafear yang tegeletak di tanah. Cadhan terus berlari ke arah Sheafear yang tengah dalam keadaan lemah, kemudian langsung memegangnya untuk terbang ke langit menghindari teknik es mekar dari Cyffredinol.
Tampak duri-duri es bermekaran tersebut, kini telah menutupi permukaan padang rumput itu, dan langsung membuat semua Venerate yang ada seketika terkejut dengan teknik elemen es seperti itu.
Semuanya berhasil selamat dari terjangan duri-duri es tersebut karena sempat diperingati oleh Raquille untuk segera menghindar secepatnya.
**
“Yang mulia, kurasa kita harus mundur terlebih dahulu... Lagipula aku sudah mendapatkan dua harta karun sekaligus, yang berhasil kuambil dari tangan Phyton...” Di udara, Cadhan yang lantas menyarankan mereka untuk segera kembali terlebih dahulu ke negeri mereka.
“Kita harus memancing Elfman itu untuk datang ke wilayah kita untuk selanjutnya memikirkan rencana mengancamnya untuk mau mengakses dimensi Valenhall,” lanjut Cadhan berkata, menjelaskannya kepada raja negeri Ierua itu.
“Sepertinya kau benar... Dengan keadaanku yang seperti ini, aku tidak bisa melawan lagi para World Venerate itu.” Sheafear pun langsung menyetujui usulan dari Cadhan, karena mengingat bahwa keadaannya sudah tidak memungkinkan untuk bertarung lagi setelah menerima serangan telak dari Barbiond sebelumnya.
“Yang mulia... Ini pedangmu.”
Setelah memberikan pedang milik raja Ierua itu, Cadhan dan Sheafear pun seketika terbang dengan kecepatan tinggi meninggalkan para prajurit mereka untuk lebih dahulu menuju ke negeri Ierua.
Ketika sedang melaju dengan kencang, dalam sepersekian detik Cadhan pun terkejut melihat Cyffredinol berada juga di tempat itu sambil menatapnya dengan tatapan yang tajam.
*
**
Cyffredinol yang tengah membidik kedua World Venerate itu lantas menurunkan kembali busur panahnya, mengurungkan niat karena sulit untuk bisa membidik tepat mereka dalam kecepatan yang hampir mencapai seribu kilometer per jam tersebut.
***
“Yang mulia... Maaf jika terpaksa kita harus meninggalkan tuan putri disana,” ucap Cadhan.
“Jangan khawatir... Aku yakin Hazelise tidak akan apa-apa,” respon Sheafear, merasa yakin bahwa Hazelise akan baik-baik saja karena pasukan Ierua yang lain masih tetap berada dengan putrinya tersebut.
***
Akan tetapi, perkiraan Sheafear pun nampak sedikit salah, dikarenakan putri mahkota negeri Ierua itu tampak tidak bisa berkutik berhadapan dengan dua Continent Venerate sekaligus.
“Sial... Kenapa ayah dan tuan Cadhan meninggalkan kami disini?” Umpat Hazelise sambil bertanya-tanya melihat Sheafear dan Cadhan meninggalkan prajurit Ierua di pulau itu, termasuk dirinya juga.
***
Setelah Sheafear dan Cadhan meninggalkan para prajurit Ierua, mereka pun tampak tidak lagi bisa berkutik. Para prajurit Ierua pun tidak berani untuk melawan pasukan musuh karena memiliki tiga World Venerate dipihak mereka. Walaupun masih memiliki Aisling sebagai prajurit World Venerate, namun mereka juga tahu bahwa kemampuan Aisling sendiri masih sedikit jauh dibawah Raquille, Barbiond serta Magelline.
**
“Aisling Naisitorach... Menyeralah sekarang... Kau dan prajurit Ierua tidak bisa lagi memiliki harapan untuk menang melawan kami.” Nampak Raquille datang menghampiri Aisling sambil memegang dua senjata suci, dimana merupakan pedang biru berbilah ganda miliknya, serta pedang yang sebelumnya dicabut olehnya.
“Menyerah... Walaupun tidak memiliki harapan untuk menang sekalipun, namun aku tidak akan menyerah melawan kalian.” Akan tetapi, Aisling masih saja bersikeras tidak mau menyerah dari pasukan Venerate empat negeri tersebut.
Tanpa pikir panjang, Aisling pun langsung meluncur ke arah Raquille dan melancarkan tombaknya secara beruntun kepada pemuda Elfman itu.
Namun, dengan mudah Raquille dapat menghindari serta menepis segala serangan yang dilancarkan oleh perempuan itu.
“Akh...” Tiba-tiba Raquille melancarkan sebuah tendangan yang cukup kuat hingga membuat Aisling pun langsung terhempas dan tersungkur di tanah.
Ketika Aisling akan berdiri kembali, Raquille dengan cepat mengacungkan salah satu pedang yang dipegangnya ke arah Aisling, hingga membuat perempuan itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
“Tunggu Raquille...” Seketika Cyffredinol datang menghampiri Raquille yang sedang mengacungkan pedang ke arah Aisling.
Melihat saudaranya tersebut Raquille pun mengurungkan niatnya dan langsung menurunkan pedangnya.
Ketika menoleh pada seseorang yang berbicara pada Raquille, Aisling pun langsung terkejut melihat Cyffredinol datang menghampirinya.
“Aisling... Kau tidak apa-apa?” Tanya Cyffredinol sambil membantu perempuan itu berdiri kembali.
“Apa-apaan kau?” Namun, Aisling sontak menepis tangan Cyffredinol sambil menunjukkan ekspresi wajah yang kesal.
Melihat hal tersebut, Cyffredinol pun langsung terdiam tidak tahu harus berbuat apa.
“Percuma saja kau bersikap baik kepadaku, karena kita sekarang berada di pihak yang berlawanan,” ucap Aisling.