
–13 Juni 3029–
“Itulah kisah kami… Bagaimana kami akhirnya bisa bertahan hidup menjadi perampok gunung,” kata Bohrneer, mengakhiri cerita masa lalunya.
Raquille dan Drakon hanya bisa terdiam tak bisa berkata apa-apa setelah mendengar cerita masa lalu kelam kedua orang itu.
“Bohrneer… Heinz… Aku tidak menyangka ternyata kalian telah mengalami hal seperti itu,” kata Drakon.
“Tapi, kenapa kalian tidak mengikuti orang yang menolong kalian itu? Pasti saat ini kalian menjadi lebih kuat dari yang sekarang,” lanjutnya, bertanya.
“Aku harus menjadi kuat dengan kemampuanku sendiri. Setidaknya walaupun tidak mengikuti orang yang menolongku, aku tetap bisa mencapai tingkatan Land Venerate,” jawab Bohrneer.
Mendengar perkataan dari Bohrneer, Raquille sontak tersenyum. “Heh… Ternyata kau masih belum berubah dan masih berpegang dengan tekadmu itu, saat kita terakhir kali bertemu.”
“Saat kita kita terakhir kali bertemu…? Apa maksudmu tuan Raquille?” Tanya Bohrneer, nampak penasaran.
“Iya… Dua belas tahun lalu. Apa kau sudah lupa tuan muda?”
Mendengar perkataan Raquille, yang menyebutnya tuan muda, pria itu pun nampak teringat akan sesuatu sambil memasang ekspresi terkejut.
“Jangan bilang… Anda adalah?” Tanya Bohrneer, menduga sesuatu.
“Tuan Bohrneer… Aku sekarang mengingatnya. Ternyata tuan Raquille adalah orang yang menyelamatkan kita dua belas tahun lalu. Dialah pria berambut putih yang memakai pedang berbilah ganda waktu itu,” Sambung Heinz, langsung mengenali Raquille.
“Tidak mungkin… Tuan Raquille…”
Mendengar bahwa Bohrneer dan Heinz kini mengingatnya, Raquille pun sontak tersenyum.
“Tuan Raquille…! Ternyata anda orangnya…!” Teriak Bohrneer sambil memeluk pemuda itu.
Begitu juga dengan Heinz, yang juga langsung memeluk Raquille saat mengetahui bahwa pemuda itulah yang telah menyelamatkan mereka dua belas tahun yang lalu.
“Hei… Hei… Kalian berdua. Lepaskan aku... Sangat memalukan dipeluk oleh dua pria seperti,” kata Raquille, mengeluh kedua orang itu memeluknya.
“Ini memanglah takdir…” Kata Bohrneer, tidak menyangka bahwa selama ini dia telah bertemu kembali dengan penyelamatnya.
“Ternyata kalian berdua sekarang telah tumbuh dewasa,” kata Raquille, terlihat bangga dengan kedua orang tersebut.
Seketika Bohrneer mengingat perbuatannya pada Raquille beberapa hari yang lalu, saat mereka berdua berhadapan.
Pria itu pun langsung melepaskan pelukannya pada Raquille dan berlutut di hadapannya.
“Tuan Raquille… Tolong maafkan aku tentang beberapa hari yang lalu. Aku tidak mengenalimu, dan telah bersikap tidak padamu waktu itu.”
Begitu juga dengan Heinz, yang juga mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
“Tuan Raquille, aku juga meminta maaf kepadamu.”
“Hei… Kalian berdua cepatlah berdiri sekarang,” Raquille pun langsung menarik Bohrneer dan Heinz untuk berdiri karena tidak mau melihat mereka berlutut dihadapannya.
“Tapi, ada yang aneh…” Kata Bohrneer.
“Eh… Memangnya apa yang aneh?” Tanya Raquille.
“Tuan Raquille, jika kau orang yang menyelematkan kami dua belas tahun yang lalu, seharusnya kau lebih tua dari kami… Kau tidak tampak berubah sedikitpun jika dilihat-lihat lagi,” jawab Bohrneer.
“Atau… Apa mungkin saja ras yang tinggal di utara memanglah awet muda?” Lanjutnya.
Mendengar pernyataan dari Bohrneer, Drakon pun seperti memikirkan sesuatu yang dia ketahui tentang Raquille.
“Hei kalian… Usia orang ini kan sekarang dua puluh tahun? Apa kalian berdua yakin orang yang menyelamatkan kalian itu bukanlah bocah berusia delapan tahunan.”
“Heh… Untuk Bohrneer dan Heinz kejadian itu memang sudah berlalu sekitar dua belas tahun yang lalu… Namun, bagiku itu barulah berlalu sekitar dua tahun yang lalu.”
“Baru berlalu dua tahun katamu?” Mendengar pernyataan dari Raquille, ketiga orang tersebut nampak terkejut bercampur ekspresi bingung.
“Iya… Karena aku adalah orang yang datang dari masa lalu, tepatnya sepuluh tahun yang lalu,” jawab Raquille.
“Dari masa lalu…? Sepuluh tahun yang lalu…? Apa maksudmu?” Tanya Drakon, menjadi lebih bingung lagi.
“Aku juga awalnya memang tidak percaya… Sekitar sepuluh tahun yang lalu, pada tahun 3019, aku ditarik masuk ke dalam lubang dimensi dan tiba-tiba saja sudah berada di kota D’Swano beberapa hari yang lalu,” kata Raquille, menjelaskannya pada mereka.
Walaupun tidak mengerti dengan penjelasan Raquille tersebut, namun mereka masih tetap mempercayai perkataannya.
“Sudahlah… Lupakan saja hal itu. Lebih baik kalian masuk dan tidur, karena turnamen sepertinya akan diadakan pada siang hari.” Raquille kemudian mendorong ketiga orang tersebut untuk masuk ke dalam paviliun.
“Bagaimana denganmu?” Tanya Drakon, yang melihat Raquille saja yang tidak masuk ke dalam.
“Aku mau bergadang malam ini,” jawab Raquille.
“Setahuku sejak kita pertama kali bertemu kau itu tidak pernah terlihat tidur.”
–14 Juni 3029–
Keesokan harinya, terlihat Drakon pergi keluar untuk menghirup udara pagi yang segar.
“Memang pagi hari yang indah,” ucap pria itu, nampak menikmati udara segar.
“Hei, sepertinya kau bangun kesiangan.” Tiba-tiba Raquille berbicara padanya.
“Eh… Memangnya ini sudah siang yah…?” Tanya Drakon.
“Kau lihat itu, para prajurit baru bahkan sudah bangun dari tadi pagi dan mulai latihan,” jawab Raquille, sambil menunjuk Bohrneer dan Heinz yang sedang melakukan pemanasan di dekat taman.
“Apa? Semangat juga mereka.”
Tak berselang lama, Neyndra datang menghampiri Raquille dan Drakon yang berada di tempat itu.
“Hei pria cantik, apa kau sudah siap? Ayo kita pergi ke arena turnamen sekarang.”
“Aku sudah siap bahkan dari hari-hari sebelumnya. Tapi, lebih baik kau tanyakan pada ketua tim kita, apakah dia sudah siap atau tidak,” kata Raquille, menunjuk Drakon.
Namun, saat mendengar perkataan Raquille, Neyndra nampak memalingkan wajahnya pada Drakon.
“Nona Neyndra, aku mau memanggil mereka berdua dulu…”
“Kalau begitu, aku pergi duluan saja.” Belum sempat Drakon menyelesaikannya, Neyndra langsung memotong pembicaraannya dan pergi meninggalkan Drakon.
Nampak raut wajah Drakon yang terlihat sedih akibat dicampakkan oleh perempuan tersebut.
“Hahaha… Kasian sekali kau dicampakkan olehnya.” Raquille sontak langsung mengejek pria itu saat melihat sikap Neyndra yang dingin terhadapnya.
“Diam kau…!” Kata Drakon dengan nada tinggi, kesal dengan ejekan dari pemuda itu.
“Aku mau bersiap dulu. Tunggu aku, kita pergi ke arena bersama-sama,” Lanjutnya, kemudian meninggalkan Raquille.
**
Beberapa saat kemudian, Bohrneer dan Heinz pun datang menghampiri Raquille.
“Tuan Raquille, ayo kita berangkat, sepertinya turnamen akan dimulai sedikit lagi,” kata Bohrneer.
“Kalian tidak memiliki senjata suci?” Tanya Raquille.
“Eh… Senjata suci? Senjata kami kan sudah disita oleh si tuan prajurit itu,” jawab Heinz.
“Benar juga yah… Bagaimana kalau kalian menggunakan senjataku saja?” Tanya Raquille, menawarkan mereka berdua untuk menggunakan senjatanya.
“Eh…?”
“Bohrneer… Henokh… Ini senjata kalian.” Belum sempat Bohrneer menyetujui penawaran dari Raquille, tiba-tiba Drakon kembali dengan membawa kapak dari Bohrneer dan Heinz.
“Apakah boleh kami memakainya?” Tanya Bohrneer, nampak ragu.
“Sudah ambil ini saja, sebelum aku berubah pikiran.”
“Baiklah…” Bohrneer dan Heinz pun akhirnya mengambil senjata mereka yang sebelumnya telah diambil oleh Drakon.
“Tuan World Venerate… Apa kau tidak memiliki senjata?” Tanya Drakon.
“Oh, benar juga yah… Aku harus memakainya supaya terlihat lebih meyakinkan lagi bahwa aku merupakan Venerate tingkatan bawah.”
Sebelum itu Raquille terlihat memperhatikan keadaan sekitar. Setelah dirasanya telah aman, Raquille pun mengangkat tangannya. Seketika muncul sebuah kapak kecil dari tangannya tersebut.
“Haah… Kapak juga…? Hei, apa kau yakin mau memakai senjata itu untuk bertarung?” Tanya Drakon, nampak meremehkan senjata yang dimunculkan oleh Raquille.
“Kau berani meremehkan senjata kesayanganku ini yah… Nanti saja kau lihat, pasti kau akan tercengang dengan kemampuan senjata ini,” kata Raquille.
“Benarkah…?” Kata Drakon, masih meremehkan senjata Raquille itu.
“Sudahlah… Ayo kita pergi sekarang,” kata Bohrneer.
Setelah berbicara cukup panjang, keempat orang itu akhirnya berangkat menuju arena untuk mengikuti turnamen akhir.
***
Berpindah di arena turnamen, yang kini telah dipenuhi oleh para penonton. Tak berselang lama, terlihat pembawa acara dalam turnamen tersebut memasuki area tengah arena.
“Para hadirin sekalian… Kembali lagi bersama saya Tomair Blonnes, yang akan memandu pada turnamen di babak terakhir ini.”
“Kalau begitu, langsung saja kita panggilkan para tim yang sudah berpartisipasi selama tiga hari lamanya, dimulai dari tim yang mendapatkan perolehan nilai terendah sampai yang tertinggi.”
“Kita sambut tim yang pertama… Tim Machora Tira… Yang telah mendapatkan perolehan dua poin.”
Kemudian terlihatlah tim Machora Tira yang beranggotakan Ascelin Wilmond, Maeve Wilmond, Aleron Wilmond, Zurbag Yarbil dan Morn Yarbil, tampak berjalan ke tengah arena.
Nampak ekspresi dari kelima anggota tim Machora Tira yang terlihat tidak senang dikarenakan poin yang mereka peroleh saat babak sebelumnya.
“Sial… Tim kitalah yang terlihat paling lemah disini,” kata Zurbag.
*
“Tunggu saja kau Elfman… Kali ini pasti kau yang mengalami kekalahan,” kata Ascelin dalam hati, masih kesal saat mengingat kekalahannya dari Raquille.
**
“Selanjutnya, kita sambut tim yang kedua… Tim Neodela… Yang telah mendapatkan perolehan tiga poin.”
Lalu telihat tim Neodela yang beranggotakan Eldriata Greydust, Brock Greydust, Novus Shores, Margo Shores dan Jarrah Shores memasuki area tengah arena dengan ekspresi yang hampir sama dengan tim Machora Tira sebelumnya.
“Tim yang ketiga, kita sambut… Tim Mormist… Yang telah mendapatkan perolehan empat poin.”
Tim Mormist yang beranggotakan Nolani Dolliford, Sereia Dolliford, Iezig Wakor, Aazir Wakor dan Zared Wakor juga terlihat memasuki area tengah arena setelah pembawa acara mengumumkan nama mereka.
“Heh… Memalukan sekali, kita bahkan hanya mendapatkan perolehan empat saja,” kata Nolani, nampak kesal.
“Hentikan ocehanmu itu, kau juga bahkan tidak memenangkan pertandingan sebelumnya,” kata Iezig.
**
“Tim yang keempat, kita sambut… Tim Asimir… Yang telah mendapatkan perolehan tujuh poin.”
Kemudian terlihat tim Asimir, yang beranggotakan Dossur Sebastia, Fegant Nomos, Essal Nomos, Rys Weagsai dan Stix Weagsai memasukki area tengah arena.
“Selanjutnya kita panggil dua tim sekaligus. Tim Vielass… Dan tim Cielas… Yang sama-sama mendapatkan perolehan delapan poin.”
Lalu terlihatlah kedua tim yang dipanggil oleh pembawa acara. Mereka beranggotakan Horner Bellyfirn, Messen Wycencor, Jenesyn Wycencor, Zengu Ekonji dan Sligo Ekonji pada tim Vielass, serta Saturno Redeglidei, Urano Redeglidei, Venere Redeglidei, Vaedor Calinarys dan Vaena Calinarys.
“Hmph… Si pendek-pendek itu ternyata memiliki perolehan poin yang sama dengan kita,” kata Urano.
“Berani-beraninya dia mengatakan hal itu saat kita dapat mendengarnya dengan jelas,” kata Horner, nampak kesal setelah mendengar perkataan pria Cielas itu.
**
“Selanjutnya, kita sambut… Tim Lightio… Dan tim Fuegonia A… Yang sama-sama mendapatkan perolehan dua belas poin.”
Setelah pembawa acara mengumumkan hal tersebut, kedua tim yang diumumkan nampak memasuki area tengah arena. Mereka adalah Zeidonas Magchora, Dimira Magchora, Erklis Magochora, Athira Magchora dan Gerhanther Zee pada tim Lightio, serta Dierill Drown, Elford Drown, Afucco Drown dan Yoford Drown dari tim Fuegonia A.
Saat kedua tim tersebut, memasuki tengah arena. Nampak terdengar suara sorakan dari para penonton.
“Sepertinya sorakan penonton masih belum hilang, walaupun kita tidak mendapatkan perolehan nilai paling banyak di babak sebelumnya,” kata Erklis.
“Tenang saja… Sorakan mereka akan lebih meriah lagi, saat kita memenangkan turnamen ini kembali,” kata Gerhanther dengan percaya dirinya.
**
“Kakak, kita hanya berempat. Apa kau yakin kita akan memenangkan turnamen ini?” Tanya Afucco, merasa ragu.
“Jangan khawatirkan hal itu, kita tim dengan beranggotakan tiga Land Venerate. Apa itu kurang meyakinkan? Benarkan kak Elford?” Kata Dierill, meyakinkan anggota timnya agar tidak kehilangan kepercayaan diri mereka.
“Itu benar…” Respon Elford.
**
“Kalau begitu, sekarang kita sambut tim yang sebelumnya merupakan pemenang dari babak pertama dalam jumlah poin. Ini dia, tim Fuegonia B… Yang mendapatkan perolehan tiga belas poin.”
Saat tim dari Raquille dan yang lain memasuki tengah arena, nampak terdengar teriakan serta sorakan dari penonton.
**
“Laventille… Laventille…” Sorakan para penonton menyoraki Raquille yang kini telah menjadi pusat perhatian.
**
“Hei... Hei… Apakah aku seterkenal itu?” Tanya Raquille, nampak kebingungan dengan hal tersebut.
“Sudah jelas kau itu memang akan disoraki seperti ini. Kau itu adalah suatu keajaiban, bisa menang dari empat petarung Land Venerate sekaligus,” kata Neyndra, menjelaskan hal tersebut pada Raquille.
*
“Itu bukan sebuah keajaiban… Bahkan dengan kedipan saja kemungkinan lawan-lawannya yang sebelumnya bisa mati ditangannya,” kata Drakon dalam hati.
**
“Baiklah… Semua peserta kini telah berada di tengah arena. Sebelumnya aku ingin mengatakan bahwa salah satu tim anggota Fuegonia A, tidak bisa melanjutkan turnamen ini dikarenakan masalah kesehatan. Namun, hal itu bukanlah menjadi penghalang, karena tim tersebut masih dapat diizinkan untuk mengikuti turnamen ini dengan hanya beranggotakan empat anggota saja.”
“Kalau begitu, untuk pertandingan babak kedua ini adalah pertarungan tim, dimana semua tim akan saling berhadapan untuk saling mengalahkan satu sama lain. Poin yang akan diberikan jika berhasil mengalahkan satu anggota tim adalah lima poin dan untuk anggota tim yang berhasil mengalahkan anggota terakhir dari tim lain, maka poin dari tim yang dikalahkan tersebut secara otomatis akan berpindah mereka. Bagi anggota tim yang bertahan sampai akhir dan tidak mengalami kekalahan maka tim tersebutlah yang akan menjadi pemenang dalam turnamen ini.”
“Untuk lokasi pertarungan pada babak kedua ini, akan menggunakan portal dimensi untuk mengirim para peserta ke daerah pegunungan Konyu, agar dapat bertarung dengan lebih leluasa disana.”
**
“Portal dimensi yah…?” Kata Raquille.
“Iya, dikarenakan tempat ini tidak cukup luas untuk pertarungan kita,” sambung Neyndra.
**
“Kalau begitu… Dipersilahkan untuk tuan Rox Drown dan tuan Rourke Drown agar dapat mengakses portal dimensi tersebut.”
**
“Ayo turun ayah,” kata Rourke, yang nampak berada di tribun khusus.
“Baiklah.”
Rourke dan Rox pun kemudian langsung melompat sampai ke tengah arena.
Saat sampai ke tengah arena, Rox dan Rourke langsung mengangkat tangan mereka. Tak berapa lama kemudian, muncul di sebuah lingkaran diagram sihir yang terukir di tanah tengah arena tersebut.
*
“Teknik ini kan adalah teknik ruang dimensi clan Noroh. Apakah kakak-kakakku yang mengajarkannya pada mereka,” kata Raquille dalam hati, nampak mengenali teknik yang dipakai oleh Rox dan Rourke.
**
“Dimohon untuk semua peserta masuk ke dalam lingkaran,” kata Pembawa acara tersebut.
Mendengar perintah dari pembawa acara, semua peserta kemudian masuk ke dalam lingkaran sihir.
**
“Lieferung zauberspruch…” Kata Rox dan Rourke secara bersamaan.
Tiba-tiba para peserta yang berada di dalam lingkaran sihir menghilang.