
“Dari pada kita membuang waktu di tempat ini, lebih baik kita sudah bergerak sedari tadi,” ucap Raquille.
“Kami pergi dulu…” Lanjut Raquille, berpamitan kepada perempuan bernama Magelline serta sang tetua akademi sihir tersebut.
Setelah Arn, Anhilde serta Asulf memunculkan sayap proyeksi energi sihir mereka, para Venerate Blueland itu kemudian terbang ke langit dengan kecepatan penuh meninggalkan akademi sihir tersebut menuju ke tempat yang selanjutnya.
***
Berpindah ke kota Lenond, yang merupakan ibukota dari negeri Brizora, terlihat sebuah pesawat berada di datang mendekat di atas kastil yang berada di dalam kediaman dari pemimpin negeri tersebut.
Melihat pesawat yang tampak dikenali oleh mereka, Venerate bernama Wilrock bersama beberapa prajurit negeri Brizora sontak berkumpul sambil hendak bersiaga.
“Eh… Itu kan…” Wilrock pun sedikit terkejut melihat lambang seekor burung merak dengan memiliki bulu berwarna merah di ujung kedua sayapnya tersebut.
“Apakah mungkin itu pasukan Pavonas?” Ucap Wilrock, menebak bahwa pesawat tersebut merupakan pesawat dari pasukan negeri Pavonas.
**
Hingga tak berapa lama Phyton bersama Venerate bernama Sciath serta Venerate bernama Jack keluar dan melayang di udara. Mereka kemudian meluncur ke bawah dan mendarat di depan Wilrock dan para prajurit negeri Brizora.
“Kalian…” Ucap Wilrock tampak mengenali ketiga Venerate tersebut.
“Salam tuan Wilrock…” Balas Venerate bernama Jack, menyapa salah satu prajurit Contient Venerate Brizora itu.
“Ada perlu apa kalian datang kemari? Bukankah kalian sudah menjadi bagian dari negeri Pavonas?” Tanya Wilrock sambil menunjukan ekspresi yang serius, nampak sedikit kurang senang melihat kehadiran dari ketiga Venerate tersebut.
“Memanng benar kami kini telah bergabung dengan negeri Pavonas… Akan tetapi, kehadiran kami kemari adalah untuk menemui Yang mulia ratu Harmae,” jawab Venerate bernama Jack.
“Kenapa kalian ingin menemui Yang mulia? Ada perlu apa?” Tanya Wilrock kembali.
“Kami akan menjelaskannya setelah bertemu dengan Yang mulia ratu… Lagipula, kau tidak perlu tegang seperti itu. Bukankah kau sudah sangat mengetahui bahwa Pavonas sekarang sudah berada dalam oraganisasi GANCO, yang artinya kami sebagai pasukan Pavonas sekarang adalah aliansi kalian.”
“Benar juga… Mungkin kalian datang kemari sebagai perwakilan dari negeri Pavonas untuk sebuah kerjasama.” Mendengar ucapan dari Venerate bernama Jack tersebut, Wilrock pun nampak mulai percaya.
“Kalau begitu, ayo ikut aku…”
Pasukan Brizora yang sedang menghadang tiga Venerate tersebut lantas membukakan jalan untuk mereka agar bisa mengikuti Wilrock masuk ke dalam kastil.
***
Beberapa saat kemudian, Wilrock pun membawa Phyton, Sciath serta Jack ke hadapan ratu Brizora.
“Jack… Sciath… Phyton… Apa kabar kalian?” Tanya Harmae.
“Sepertinya yang Yang mulia lihat, kami baik-baik saja setelah perang tersebut berakhir,” jawab Jack mewakili Phyton dan Sciath.
“Kurasa aku tidak menanyakan kabar dari Yang mulia, karena sepertinya anda masih tidak berubah seperti yang dulu,” ucap Jack.
“Tidak seperti itu Yang mulia, mana mungkin aku berani menyinggung anda… Aku mengatakan hal tersebut karena melihat bahwa Yang mulia masih sehat-sehat saja.” Jack pun langsung meluruskan perkataannya sebelumnya agar ratu Brizora itu tidak berpikir tentang apa yang sedang dipirkannya.
“Iya, aku mengerti… Kalau begitu apa tujuan kalian kemari?” Tanya Harmae.
“Maksud kedatangan kami kemari adalah ingin menjalin hubungan aliansi agar Yang mulia bisa mengijinkan pasukan Brizora membantu kami serta negeri Blueland untuk melawan pasukan Ierua,” jawab Jack.
Mendengar hal tersebut, Harmae lantas tersenyum, karena hal tersebut sebenarnya sudah tercapai setelah Raquille dan para Venerate Blueland datang menemuinya sebelumnya.
“Kurasa kalian sedikit terlambat tentang itu…” Ucap Harmae.
“Eh… Apa maksud anda, Yang mulia?” Tanya Jack, sedikit terkejut, walaupun dirinya sebenarnya kurang paham mendengar pernyataan dari ratu Brizora itu.
“Maksudku sepertinya kalian bersama para Venerate Blueland tidak saling menghubungi untuk datang bersama-sama kemari…” Jawab Harmae.
“Baru saja, seorang pangeran yang merupakan putra mahkota Blueland bersama beberapa Venerate dari negeri tersebut datang kemari dan mengajukan hal yang sama,” lanjut Harmae, menjelaskan kepada Jack dan yang lain.
“Jadi para Venerate Blueland sudah datang lebih dulu dan membuat permohonan untuk beraliansi?”
Harmae pun langsung menganggukan kepalanya, merespon bahwa pertanyaan dari Venerate bernama Jack itu benar adanya.
“Lalu mereka sekarang sedang berada dimana? Aku tidak melihat mereka berada disini…” Tanya Jack sambil melihat-lihat ke sekitaran.
“Mereka belum lama ini pergi untuk mengumpulkan sebagian dari ketiga belas harta karun yang berada di wilayah negeri ini.”
“Apa?” Mendengar pernyataan dari Harmae, Phyton pun sontak terkejut.
“Yang mulia… Kenapa mereka mencari ketiga belas harta karun tersebut?” Tanya Phyton.
Harmae kemudian menjelaskan bahwa setelah mendengar perseteruhan antara negeri Brizora dan negeri Ierua yang berhubungan mengenai hal tersebut, Raquille pun langsung tertarik untuk mengumpulkan ketiga belas harta karun tersebut karena ingin melakukan sebuah permintaan jika semua harta karun tersebut terkumpul.
Disaat itu pun Harmae langsung mengijinkan hal tersebut, karena secara tidak langsung pasukan Ierua akan datang ke negeri Brizora untuk merebut harta karun tersebut dari tangan orang yang telah mengambilnya lebih dulu, serta hal tersebut akan membuat rencana penyerangan pasukan Ierua ke negeri Blueland akan tertunda.
“Para Venerate Blueland juga tidak sendirian mengumpulkan harta karun tersebut… Mereka juga dibantu oleh Venerate Brizora yang kini sedang mencari ke tempat yang lain,” ucap Harmae.
“Jadi seperti itu yah…” Phyton pun menjadi paham setelah mendengar penjelasan dari ratu Brizora itu.
“Yang mulia… Sebenarnya salah satu harta karun itu berada di tanganku juga,” ucap Phyton sambil memunculkan sebuah pedang yang selama ini menjadi senjata suci miliknya.
“Pedang Saforian… Sejak kapan pedang itu ada bersamamu?” Tanya Harmae, sedikit terkejut mengetahui bahwa pemuda itu memiliki salah satu dari harta karun tersebut.
“Sebelum aku membelot ke negeri Brizora, aku sempat mencuri pedang ini dari dari kakekku…”
Phyton kemudian menjelaskan bahwa pedang tersebut dicurinya dari perdana menteri Ierua karena untuk mengagalkan rencana dari kakeknya tersebut.
Sebenarnya, setelah membelot ke negeri Brizora, Phyton masih merasa khawatir karena kakeknya masih tetap bisa menemukannya. Disaat perang antara kubuh barat dan kubuh timur pecah, Phyton tiba-tiba ditunjuk menjadi prajurit Brizora yang akan membantu peperangan di pihak kubuh barat.
Pada saat itu, Phyton pun lantas memiliki sebuah ide untuk dengan sengaja kalah dari pasukan Pavonas dan rela untuk menjadi tawanan negeri tersebut agar bisa pergi jauh-jauh membawa pedang tersebut bersama dirinya, hingga sulit untuk ditemukan oleh kakeknya.