
“I defteri ekdosi… Zohal the solar system’s fertile sky…” Sontak sebuah pancaran energi berwarna kuning kecoklatan keluar dari dua pedang Saturno dan langsung menyelimuti seluruh tubuhnya.
“I defteri ekdosi… Boraender the god’s messenger…” Sedikit berbeda dengan yang lain, Horner mengaktifkan kekuatan pelepasan keduanya dari sebuah gelang yang berada pada salah satu tangannya.
Gelang tersebut sontak memancarkan pancaran energi listrik yang sangat menyilaukan sehingga membuatnya seketika berubah menjadi sosok memiliki ekor, cakar serta telinga yang meruncing ke atas menyerupai seekor tupai.
“Kau sekarang nampak lebih mirip seperti Beastman saja,” kata Dierill melihat perubahan dari Gnomeman itu.
Disamping itu, terlihat juga Saturno telah selesai mengaktifkan kekuatan pelepasan keduanya. Pria itu kini terlihat diselimuti zirah perunggu di seluruh tubuhnya. Nampak sebuah cincin emas berdiameter seratus sentimeter melayang melingkari tubuhnya, serta delapan puluh dua buah bola besi mengorbit di atasnya.
“Kurasa kalian sudah siap sekarang,” kata Dierill.
“Massive flame projection… Straight punch…” Tanpa berlama-lama, Dierill pun langsung melompat ke arah Saturno sambil melancarkan pukulan apinya.
Sontak bola-bola besi yang berada di atas Saturno berbaris membentuk pertahanan di depannya untuk menahan serangan pukulan api dari pemuda Fuegonia itu.
Bola-bola besi itu nampak tak bergeming menahan serangan Dierill yang memancarkan kobaran api cukup besar tersebut hingga membuat pepohonan di sekitarnya pun seketika terbakar.
Tiba-tiba saja Dierill terkejut dan sontak menghentikan serangannya karena menerima serangan kejut elemen petir yang dilancarkan oleh Horner. Penglihatan pemuda itu sejenak menjadi buram akibat serangan elemen petir tersebut.
*
“Sial… Aku terlalu fokus pada pria Cielas ini,” keluh Dierill dalam hati.
**
Melihat kesempatan tersebut, Horner sontak melompat ke arah Dierill hendak melancarkan serangan elemen petir susulan pada pemuda itu.
Namun, hal itu digagalkan oleh Saturno dengan langsung melayangkan dua buah bola besinya ke arah Horner hingga menghamtannya sampai terhempas.
Tetapi, dalam sekejap juga Gnomeman itu langsung berada kembali di tempatnya berdiri sebelumnya.
Tanpa pikir panjang, Gnomeman itu langsung melancarkan serangan petir ke arah Saturno. Dengan sigap pria itu juga sontak melayangkan beberapa bola besinya untuk menahan serangan tersebut.
Secara bersamaan juga Dierill pun melancarkan serangan proyeksi elemen apinya hingga ketiga serangan tersebut sontak menciptakan sebuah ledakan yang cukup besar.
**
Berpindah pada Drakon, Neyndra dan Heinz. Terlihat keadaan dari Neyndra nampak telah lebih baik karena tidak dibantu berjalan oleh Drakon.
“Sepertinya kita harus mencari Bohrneer dan Laventille sekarang,” kata Drakon.
“Benar sekali, dengan berkumpulnya tim kita itu pasti akan lebih mudah mengalahkan peserta yang tersisa,” sambung Heinz.
*
“Iya, walaupun begitu tim ini akan tetap mendapatkan kemenangan, karena tidak ada peserta yang bisa menandingi kekuatannya,” gumam Drakon dalam hati.
**
“Drakon…!” Tiba-tiba seseorang berteriak memanggil Drakon dari belakang.
Mendengar teriakan tersebut ketiga orang tersebut sontak menoleh ke belakang.
“Apa…?” Drakon seketika terkejut melihat orang yang memanggilnya adalah Zeidonas.
Dengan sigap Neyndra dan Heinz bersiaga setelah melihat pria tersebut perlahan-lahan mendekati mereka.
“Ayo kita satukan kekuatan untuk melawannya,” kata Neyndra.
“Tidak nona Neyndra, kau dan Henokh pergi saja dari sini,” kata Drakon.
“Eh… Kenapa?” Tanya Neyndra.
“Iya ada apa?” Tanya Heinz juga.
“Biar aku yang menghadapinya, ini akan menjadi masalah pribadiku. Kalian lebih baik cepat cari Bohrneer dan Laventille sekarang, karena jika aku kalah kalian tetap akan memenangkan turnamen ini jika bersama dengan mereka,” jawab Drakon.
“Baiklah…” Tanpa pikir panjang, Neyndra sontak menyetujui permintaan Drakon dan langsung beranjak dari tempat itu bersama dengan Heinz.
“Henokh… bukan, Heinz tolong jaga nona Neyndra untukku,” kata Drakon.
“Baik tuan prajurit,” balas Heinz.
“Nona Neyndra hati-hati,” lanjut Drakon.
Namun, perempuan tersebut tidak membalas perkataan Drakon dan langsung memalingkan wajahnya.
*
“Drakon, semoga kau tidak terluka.” Namun, walaupun bersikap dingin pada pria itu, Neyndra nampak masih mengkhawatirkan orang yang disukainya tersebut.
**
Setelah Neyndra dan Heinz pergi meninggalkannya, Zeidonas pun sampai di hadapan Drakon.
“Sepertinya sekarang saatnya membuktikan siapa yang lebih hebat diantara kita,” kata Zeidonas.
“Zeidonas kau seharusnya jangan terpengaruh oleh perkataan dari orang itu,” kata Drakon menasehati Zeidonas.
“Heh, kau dengan mudahnya mengatakan hal itu karena tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar dari ayah, sedangkan aku yang sering disebut sebagai produk gagal ini berusaha untuk menjadi lebih baik namun tidak pernah mendapatkan perhatian olehnya.” Namun, Zeidonas tidak perduli dengan nasehat tersebut dan malah mengungkit masa lalu mereka.
“Asal kau tahu tidak semua menganggapmu seperti itu... Aku salah satunya!” Kata Drakon dengan nada tinggi.
“Kalau begitu, buktikan dengan hadapi sekarang,” kata Zeidonas menantang Drakon.
“Baiklah…” Drakon pun sontak mengiyakan permintaan dari pria itu.
Seketika kedua orang tersebut secara bersamaan mengeluarkan proyeksi energi emas menjadi zirah. Kurang dari hitungan ketiga keduanya seketika bergerak dengan cepatnya saling melancarkan serangan pukulan mereka.
Sontak tabrakan dari kedua serangan tersebut seketika menciptakan sebuah gelombang kejut yang cukup kuat hingga menghempaskan pepohonan yang berada di dekat mereka. Keduanya kemudian saling melancarkan dan menghindari serangan satu sama lain.
**
Di sisi lain terlihat Raquille dan Bohrneer sedang berjalan menyusuri hutan. Tiba-tiba pemuda itu berhenti yang langsung membuat Bohrneer pun ikut berhenti.
“Ada apa tuan Raquille?” Tanya Bohrneer.
“Bohrneer, kurasa kita harus berpencar disini, aku akan ke arah sini dan kau lebih baik ke arah sana,” kata Raquille langsung berlari dengan kencangnya ke arah yang dikatakannya.
“Tuan, tunggu dulu…!” Teriak Bohrneer.
“Kenapa dia…? Sudahlah, lebih baik aku ikuti perintahnya saja.” Bohrneer pun berjalan mengarah ke arah yang dikatakan oleh Raquille sebelumnya.
**
Kembali ke pertarungan Zeidonas dan Drakon. Nampak pria Lightio itu dengan brutalnya melancarkan serangan pukulan dengan kedua tangannya secara bergantian. Hal itu sontak membuat Drakon hanya bisa menangkis serangan tersebut dengan pedangnya.
Saking kuatnya serangan dari Zeidonas itu sampai akhirnya membuat pedang yang digunakan oleh Drakon seketika hancur berkeping-keping hingga membuatnya terpental sampai menabrak pepohonan.
“God aura… Deadly superior punch…” Tidak sampai disitu, Zeidonas kemudian berlari menghampiri Drakon sambil melancarkan serangannya lagi.
“Ice aura… Gripping cold kick…” Tiba-tiba Raquille muncul dan langsung melancarkan tendangannya pada pria Lightio itu hingga membuatnya terhempas.
Tampak efek dari tendangan pemuda Elfman itu memancarkan uap es yang cukup besar sehingga membuat tanah dan pepohonan disekitarnya seketika membeku.
“Kau…” Kata Drakon tiba-tiba melihat Raquille di depannya.
“Tuan prajurit, sepertinya aku tidak bisa memegang janjiku untuk membiarkanmu sendirian menghadapi orang itu,” kata Raquille.
“Heh, kau sepertinya memang orang yang suka mengingkari janji,” kata tuan prajurit itu sambil berdiri kembali.
“Tunggu dulu… Bukannya kapakmu itu tidak sebesar ini?” Mendadak Drakon terkejut melihat kapak yang dipegang oleh Raquille nampak jauh lebih besar dari yang dia ketahui sebelumnya.
“Sudahlah… Lihat dulu itu sepertinya serangan yang kulancarkan tadi tidak terlalu berpengaruh padanya,” lanjutnya menunjuk Zeidonas yang kini telah kembali berdiri.
“Tuan Elfman, lebih baik kau tidak mencampuri urusan kami disini,” kata Zeidonas.
Pria itu kemudian meningkatkan kekuatannya, yang membuat sarung tangan besinya memancarkan energi berwarna emas.
“Memangnya kalian berdua sedang berkencan di tempat ini sehingga aku dilarang untuk mengganggu?” Raquille sontak membalas perkataan pria Lightio itu dengan meledeknya.
Tanpa menggubris ledekan pemuda Elfman itu, Zeidonas seketika maju dan langsung melancarkan serangan pukulannya. Raquille pun maju mendekatinya dan mengayunkan kapaknya menangkis serangan tersebut hingga menciptakan sebuah gelombang kejut yang cukup kuat. Hal tersebut seketika membuat kedua orang itu terdorong ke belakang secara bersamaan akibat tekanan kekuatan yang kuat.
Tiba-tiba empat buah belati meluncur ke arah pemuda itu. Dengan sigap, Raquille mengibaskan kapaknya menciptakan hempasan angin yang langsung membuat belati-belati itu terhempas ke segala arah.
Seketika sebuah belati yang tidak dikira Raquille meluncur dan langsung menancap ke pundaknya.
“Ukh…” Belati yang menancap pada pundaknya itu sontak memancarkan energi listrik yang cukup kuat sehingga membuat pemuda itu jatuh berlutut di tanah.
“Hahahah… padahal serangan itu tidak seberapa, tapi sangat berpengaruh padamu.” Tiba-tiba Gerhanther, rekan tim Zeidonas datang menghampiri mereka.
“Gerhanther ada apa kau kemari?” Tanya Zeidonas.
“Tentu saja untuk membantumu. Biar aku saja yang melawan Elfman lemah itu dan kau fokus saja dengan satu clanmu itu,” kata Gerhanther.
*
“Sial, karena totalitas menjadi Regional Venerate aku bahkan harus berpura-pura kesakitan menerima serangan tadi. Padahal merasa geli saja tidak,” gumam Raquille dalam hati sebenarnya tidak membuatnya bergeming pada serangan dari Gerhanther sebelumnya.
**
“Hei, coba serang aku lagi dengan belatimu itu.” Terlihat Raquille kemudian berdiri kembali dan menantang pemuda Lightio itu.
“Baiklah, sesuai yang kau inginkan.” Tak tangung-tangung, pemuda itu langsung mengeluarkan delapan buah belati seperti yang dilakukannya sewaktu latihan di pegunungan sebelumnya.
Dia kemudian mengaliri energi listrik pada belati-belati tersebut dan langsung meluncurkannya ke arah Raquille dan Drakon.
Drakon yang melihat hal tersebut sontak langsung mengeluarkan pancaran energi emas dari tangannya hendak menepis serangan dari pemuda Lightio itu.
“Tunggu tuan prajurit, biar aku saja yang menangani ini,” kata Raquille.
Pemuda Elfman itu seketika menancapkan kapaknya ke tanah dan mengangkat kedua tangannya mengarah pada belati-belati yang meluncur tersebut.
“Sabotagezauber…” Seketika sebuah proyeksi energi sihir keluar dan langsung menghentikan pergerakkan dari belati-belati tersebut.
Dengan menggunakan proyeksi energi sihir tersebut, Raquille kemudian mengendalikan belati-belati tersebut dan meluncurkannya ke arah Gerhanther dan Zeidonas.
Saking cepatnya belati-belati tersebut meluncur ke arah mereka, sampai membuat kedua orang itu terlambat untuk merespon.
“Akh…!” Seketika belati tersebut menyambar mereka berdua higga terhempas menghantam pepohonan.
*
“Kuharap serangan itu tidak akan membunuh mereka,” gumam Drakon merasa khawatir pada kedua orang tersebut.
**
“Sialan kau…” Saking kesalnya Gerhanther sampai mengumpati pemuda Elfman itu.
Namun, Raquille sontak membalas umpatan itu dengan tersenyum menyeringai.
Zeidonas yang berdiri lebih dulu kemudian membantu Gerhanther untuk berdiri.
“Karena itu sudah kukatakan untuk jangan meremehkan Elfman itu,” kata Zeidonas.
“Kau benar, sepertinya kita harus serius sekarang,” kata Gerhanther.
“Jadi kau mau memakai kekuatan itu?” Tanya Zeidonas.
“Bagaimana denganmu?” Tanya balik Gerhanther.
“Jelas saja, karena aku mau mengalahkan pria di depan itu.” Seketika Zeidonas langsung meningkatkan kekuatannya untuk mengaktifkan kekuatan pelepasan mereka.
Melihat hal tersebut, Gerhanther sontak mengeluarkan pedangnya dan mengikuti Zeidonas mengaktifkan kekuatan pelepasan keduanya.
“Hei Laventille, sepertinya mereka akan menggunakan Ekdosi. Kuharap kau tidak menggunakannya juga,” kata Drakon.
“Tenang saja, aku tidak memiliki kekuatan seperti itu. Kekuatanku sekarang hanya bergantung pada kapak ini.” Pemuda Elfman itu kemudian mengambil kapak yang ditancapkannya ke tanah tadi.
“Heh, dasar pembohong... Kalau begitu aku saja.” Seketika Drakon meningkatkan kekuatannya untuk mengaktifkan kekuatan pelepasan keduanya juga.
Terlihat ketiga petarung itu masing-masing mengeluarkan proyeksi energi yang langsung menyelimuti tubuh mereka. Proyeksi energi berwarna emas nampak menyelimuti tubuh Drakon dan Zeidonas, sedangkan Gerhanther terlihat diselimuti oleh proyeksi energi berwarna ungu, yang keluar dari pedangnya.
“I defteri ekdosi… Misorus the lord of sky…” Ucap Drakon.
“I defteri ekdosi… Sedis the lord of chaos” Ucap Zeidonas.
“I defteri ekdosi… Cheyonrax the Lizardfolk empress…” Ucap Gerhanther.
Setelah mengatakan hal tersebut, ketiga petarung itu kini dilapisi dengan zirah diseluruh tubuh mereka. Drakon terlihat dilapisi zirah berwarna emas menyerupai elang dengan memiliki sepasang sayap dipunggung dan paruh melengkung di wajahnya.
Begitu juga dengan Zeidonas yang terlapisi zirah emas, namun memiliki perawakan yang berbeda dengan Drakon. Bentuk kepala dari pria itu kini menyerupai layaknya seekor serigala dengan sepasang sayap di punggung, serta sebuah tombak emas yang dipengangnya.
Berbeda lagi dengan kedua petarung clan Magchora itu, Gerhanther terlihat dilapisi oleh zirah perak bertudung merah dengan sepasang tanduk di kepala, serta sebuah ekor kadal, dan kini bersenjatakan tongkat sabit.
“Huuh… Apa tidak ada perubahan yang lain? Wujud kalian semua ini terlihat menyeramkan,” gumam Raquille menyindir perubahan dari ketiga petarung tersebut.
Namun disamping itu, karena tidak mau kalah dengan petarung lainnya yang telah mengaktifkan kekuatan Ekdosi mereka.
Raquille pun nampak menciptakan sepasang sayap dan zirah dari proyeksi energi sihirnya.
“Kalau begitu mari kita mulai,” kata Raquille.
Tiba-tiba keempat petarung itu secara bersamaan maju dan melancarkan serangan mereka hingga menciptakan gelombang yang cukup kuat.
***
“Hmph… Sepertinya turnamen ini menjadi menarik, melihat pertarungan antara Dierill, Gnomeman dan petarung Cielas itu, serta di sisi lain Drakon bersama dengan pemuda Elfman itu berhadapan dengan dua petarung Lightio,” kata Rox nampak bersemangat menonton pertarungan dari beberapa peserta.
“Tapi, kurasa tim Fuegonia B akan tersudut karena harus melawan dua pengguna pelepasan kedua, sedangkan diantara mereka berdua, hanya Drakon lah yang bisa menggunakan kekuatan tersebut,” kata Ailene.
“Heh, kita lihat saja bagaimana hasilnya. Setahuku Elfman itu pernah mengalahkan Land Venerate yang menggunakan kekuatan Ekdosi,” sambung Rourke.
***
Berpindah pada Neyndra dan Heinz, yang nampak telah keluar dari dalam hutan.
“Nona, bagaimana jika kita bertemu dengan petarung lain sebelum menemukan mereka?” kata Heinz terlihat khawatir.
“Tenang saja, kita pasti akan bertemu dengan Boron dan Laventille sebelum petarung lain menemukan kita,” kata Neyndra.
“Argh…!” Baru saja perempuan itu mengatakan hal tersebut, tiba-tiba saja Eldriata, satu-satunya anggota tim Neodela yang masih bertahan terhempas dan langsung tak sadarkan diri di depan mereka.
“Sepertinya ini akan mudah.” Tiba-tiba Dossur dari tim Asimir muncul, yang sontak membuat membuat Neyndra dan Heinz terkejut.
***
“Dossur Sebastia dari tim Asimir berhasil mengalahkan Eldriata Greydust dari tim Neodela… Tim Neodela keluar.” Kemudian di arena turnamen terdengar pengumuman hasil pertarungan mereka.
Setelah itu layar yang berada di dalam arena turnamen tersebut langsung memperlihatkan perolehan poin dari semua tim.
Fuegonia B (53), Fuegonia A (39), Lightio (27), Vielass (22), Asimir (22), Cielas (18), Neodela (keluar), Machora Tira (keluar), Mormist (keluar).