
“Gold instrict mode…” Raquille seketika mengaktifkan mode insting emas dari kekuatan makhluk suci yang berada pada dirinya, membuat matanya berubah menjadi berwarna emas, hingga dapat melihat keadaan dari tempat tersebut.
“Ah sial…” Ucap Raquille, tiba-tiba mengumpat.
“Ada apa Raquille?” Mendengar Raquille mengumpat, Hyphilia lantas bertanya karena merasa bahwa sebuah labirin dimana mereka berada sekarang nampak sulit untuk diatasi oleh pemuda Elfman itu.
“Labirin ini ternyata adalah sebuah dimensi spasial dari bola kristal yang sebelumnya… Ditambah lagi, aku masih belum bisa mengetahui keberadaan dari cincin yang menjadi salah satu dari harta karun tersebut.”
Raquille pun mengambil kesimpulan bahwa mereka harus menemukan sebuah bola kristal yang berada di dalam labirin tersebut untuk bisa masuk ke dalam dimensi spasial yang berikut, yang masih memiliki kemungkinan bahwa pada dimensi tersebut terdapat cincin yang mereka cari.
“Aku ingin pulang saja…” Ucap Hyphilia, tidak percaya bahwa harus sesulit itu untuk menemukan cincin tersebut.
“Eh…” Raquille tiba-tiba memegang tangan Hyphilia, yang membuat Elfman perempuan itu nampak sedikit terkejut.
“Tenang saja sayang, aku akan menjagamu… Aku akan terus memegang tanganmu selama kita berada di dalam labirin ini.” Mendengar pernyataan tersebut, Raquille pun langsung mengambil kesempatan tersebut untuk berusaha menggoda Elfman perempuan itu.
“Ayo, kawan-kawan ikuti aku…” Ucap Raquille, mengajak semua Venerate yang datang bersamanya untuk mulai berjalan menyusuri labirin tersebut.
Raquille berjalan paling depan sembari terus memegang tangan Hyphilia yang berada di belakangnya. Hal itu pun lantas merasa canggung dilihat oleh keempat orang yang berjalan bersama mereka.
“Kakak, jika kau merasa canggung memegang tangan kakak Raquille, kau boleh memegang tanganku,” ucap Haltyrg, menghapiri Hyphilia.
Namun tanpa mendapatkan ijin dari Elfman perempuan itu, Haltryg langsung memegang tangan Hyphilia yang satunya.
“Hei, kenapa kau juga ikut-ikutan.”
Hyphilia pun merasa malu serta menjadi lebih canggung hingga membuat wajahnya menjadi memerah ketika kedua laki-laki itu memegang kedua tangannya. Elfman perempuan itu mencoba melepaskan tangannya, namun tetap tidak berhasil dikarenakan cengkraman tangan dari Raquille dan Haltryg tampak sangat kuat.
“Dasar bocah-bocah…” Arn pun tidak habis pikir dengan kelakuan dari kedua pemuda itu, yang dengan sengaja membuat Hyphilia merasa canggung.
**
“Ayo lebih cepat, kristal yang sama sudah dekat.” Disaat sedang menelusuri labirin yang bercabang tersebut, dalam sudut pandang mampu melihat menembus dinding-dinding labirin, Raquille pun akhirnya menemukan kristal yang sama seperti sebelumnya.
Mereka pun langsung menambah kecepatan berjalan mereka menelusuri labirin, yang bahkan memiliki sebuah percabangan, namun Raquille dengan mudah mampu memilih jalan yang tepat.
“Eh…”
Tiba-tiba lantai yang menjadi pijakan ketiga bersaudara tersebut bergerak menjauh dari Raquille, Hyphilia serta Haltryg.
Bersamaan dengan hal itu, dinding-dinding yang berada di sekitar mereka seketika juga bergerak mengubah struktur dari labirin tersebut. Raquille, Hyphilia dan Haltryg pun lantas langsung mengejar ketiga saudara kembar tersebut yang semakin lama semakin menjauh.
Akan tetapi, Raquille dan Hyphilia terlambat mencapai Arn, Anhilde dan Asulf karena dinding-dinding labirin yang bergerak sebelumnya kini telah menghalangi mereka.
“Feuerzauber… Long way fire…” Disaat itu, Raquille seketika melancarkan serangan elemen api dalam skala yang besar, bertujuan ingin meghancurkan dinding yang menghalangi mereka.
Namun, hal tersebut percuma, karena dinding-dinding itu tidak dapat hancur setelah menerima serangan dari pemuda Elfman itu.
“Geheimer zauberspruch… Heilog springing…” Raquille kemudian melancarkan serangan yang lebih kuat, hingga meledak-ledak, tetapi dinding tersebut tetap saja tidak bisa hancur.
Belum menyerah, Raquille memunculkan palunya lalu menghantamnya berkali-kali ke dinding tersebut dengan kuat, namun hal tersebut tetap masih tidak bisa menghancurkan dinding yang sangat kokoh itu.
“Raquille… Sudah hentikan… Kau harus tenangkan dirimu terlebih dahulu.” Melihat pemuda Elfman itu, nampak khawatir karena telah terpisah dengan rekan-rekannya, Hyphilia pun langsung menghentikan perbuatannya yang sia-sia.
“Arn! Anhilde! Apa kalian bisa mendengarku?” Teriak Raquille.
“Setidaknya Haltryg masih bersama mereka… Aku yakin kepadanya, karena dia memiliki kemampuan sihir persepsi yang lebih hebat dibandingkan Venerate yang lain,” ucap Hyphilia, meyakinkan Raquille.
“Kau benar kakak… Setidaknya aku masih bisa melihat mereka, hanya saja rute yang akan mereka lewati sedikit lebih panjang… Aku khawatir jika tersesat nantinya.”
“Kalau begitu, kita harus megambil bola kristal itu terlebih dahulu.”
Raquille pun bersama Hyphilia kemudian melanjutkan perjalanan mereka untuk mengambil terlebih dahulu bola kristal yang sebelumnya dapat dilihat oleh pemuda Elfman itu sebelumnya.
***
Berpindah ke sisi, Arn dan yang lain, dimana mereka kini hanya bisa percaya dengan kemampuan Haltryg sebagai pemandu mereka menelusuri lorong-lorong labirin tersebut.
“Aku takut jika kita nantinya akan tersesat…” Ucap Anhilde, tampak khawatir sambil merangkul Haltryg.
“Tenang saja kakak, percayakan padaku saja… Aku pasti akan berusaha agar kita tidak tersesat… Jangan lepaskan peganganmu, maka kita berdua tidak akan terpisah.” Haltryg pun langsung memanfaatkan keadaan disaat Anhilde merasa takut serta khawatir, dengan sedikit menggoda perempuan itu.
“Hei bocah, setidaknya perhatian jalan yang kita pilih nantinya.” Melihat godaan Haltryg terhdap saudara kembarnya, Arn pun lantas langsung meyuruh pemuda itu untuk fokus memperhatikan lorong-lorong labirin yang mereka lewati.
***
Berpindah ke sisi Raquille dan Hyphilia, dimana kedua Elfman tersebut akhirnya berhasil mencapai tempat dimana sebuah bola kristal tersebut berada.
Raquille sontak langsung mengambil benda tersebut, lalu memegang tangan Hyphilia kembali masuk ke dalam lorong-lorong labirin untuk mencari Arn dan yang lain.
Disaat berlari dalam menelusuri lorong-lorong labirin, Hyphilia yang terus melihat Raquille dari belakang tiba-tiba membayangkan Aguirre, saudara dari pemuda Elfman itu.
*
“Eh… Sadar Hyphilia… Dia bukan Aguirre,” gumam Hyphilia, menolak bayangan sosok Aguirre yang dia lihat pada Raquille.
***
“Arn…!”
Hingga tak berapa lama, Arn dan yang lain tiba-tiba bisa mendengar suara panggilan dari Raquille.
Mereka pun dengan sigap langsung berlari mendekati sumber suara dari Raquille tersebut.
Melihat Raquille dan Hyphilia menemukan mereka, Arn dan yang lain pun akhirnya merasa legah.
“Kakak…” Anhilde yang sempat khawatir mengira dirinya telah tersesat, sontak berlati ke arah Raquille, lalu memeluknya.
“Eh…” Melihat perempuan itu tiba-tiba memeluknya, Raquille pun sejenak menjadi terkejut.
“Aku sempat mengira bahwa sebelumnya akan tersesat,” ucap Anhilde.
“Jangan khawatir lagi… Kita sekarang sudah berkumpul kembali.” Raquille yang sebelumnya terkejut tiba-tiba dipeluk oleh Anhilde, perlahan-lahan mulai mencari kesempatan.
Pemuda Elfman itu menenangkan Anhilde, sambil menepuk-nepuk bagian belakang perempuan sambil menunjukan ekspresi menyeringai ke arah Arn, Asulf dan Haltryg.
Melihat hal tersebut Arn dan Asulf, bahkan Haltryg lantas menjadi kesal, karena masih sempat-sempatnya, pemuda Elfman itu mencari kesempatan dalam situasi seperti itu.