The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 41 - Awal kisah perampok gunung



Bohrneer dan Heinz yang hanyut di sungai akhirnya sampai ke teluk yang berada di depan kota Hargocane.


Namun, kesialan mereka pun masih belum berakhir, karena tepat di depan kedua anak itu terdapat kapal dari pasukan Pavonas.


Di atas kapal tersebut, nampak Vahal telah memperhatikan Bohrneer serta Heinz yang masih berada di perairan.


“Cepat… Tarik mereka ke daratan sekarang,” kata pria itu memerintahkan para bawahannya.


**


Tak perlu berlama-lama lagi, para prajurit Pavonas sontak menarik Bohrneer dan Heinz naik ke daratan.


Kemudian terlihat Vahal pun langsung mendekati kedua anak tersebut, yang nampak telah pasrah dengan nasib mereka kedepannya.


“Hmph… Sepertinya kalian anak-anak dari ketua clan itu. Dilihat dari kapak yang kalian bawa, sepertinya salah satunya merupakan miliknya,” kata Vahal, nampak mengenali Bohrneer dan Heinz, yang merupakan anggota clan Flaus.


“Kalau begitu… Apakah ada kata-kata terakhir untuk kalian diucapkan sekarang?” Tanya Vahal pada kedua anak tersebut, sambil memunculkan pedang yang sebelumnya dipakai saat bertarung dengan Argis.


“Tuan Vahal… Apa kau serius mau membunuh anak-anak ini?” Tanya salah satu prajurit, nampak tidak tega dengan yang akan dilakukan oleh atasannya tersebut.


“Diam kau…” Vahal pun langsung menyuruh salah satu prajuritnya itu untuk tidak ikut campur.


Seketika pria itu pun langsung mengayunkan pedangnya tersebut ke arah Bohrneer dan Heinz.


Hal tersebut itu membuat beberapa prajurit Pavonas langsung menutup mata mereka karena tidak tegah melihat hal tersebut.


Tetapi, keberuntungan akhirnya memihak pada kedua anak itu. Tiba-tiba saja sebuah dinding es muncul di depan mereka hingga menahan ayunan pedang pria tersebut.


*


“Dinding es…?” Kata Vahal dalam hati, kebingungan melihat dinding es tiba-tiba muncul menghalangi serangannya.


**


Dengan sekejap mata Raquille telah berada di hadapan Vahal. Dia pun dengan cepatnya menendang Vahal dengan kuatnya hingga membuat pria tersebut terhempas masuk ke dalam air.


Saat dinding es yang berada di depan Bohrneer dan Heinz lenyap, mereka nampak terkejut setelah melihat Raquille berada di depan mereka.


*


“Rambut putih…? Bukankah orang ini, orang yang kulihat kemarin hari?” Kata Bohrneer dalam hati, nampak mengenali Raquille karena pernah melihatnya sebelumnya.


**


Melihat atasan mereka diserang oleh Raquille, para prajurit yang berada di tempat itu pun sontak mengeluarkan pedang mereka secara bersamaan dan mengayunkannya ke arah Raquille.


Namun, seketika pedang dari para prajurit tersebut berubah bentuk menjadi dedaunan.


Dengan hanya mengeluarkan tekanan kekuatannya, Raquille mampu menghempaskan para prajurit Pavonas yang akan menyerangnya tersebut. Raquille kemudian langsung membalikkan badannya menghadap Bohrneer dan Heinz.


“Kalian berdua… Tenang saja, kalian sekarang sudah aman,” kata Raquille, sambil tersenyum.


“Te… Terima kasih…” Bohrneer yang nampak kebingungan hanya bisa mengatakan hal seperti itu.


“Tunggu… Dimana ayah kalian?” Tanya Raquille.


“Dia… Dia sudah tidak ada…!” Jawab Heinz, sambil menangis.


Mendengar hal tersebut, ekspresi Raquille sontak berubah menjadi terkejut. Disamping itu, kini terlihat Vahal telah keluar dari dalam air dan melayang di udara.


“Hei… Siapa kau ini, beraninya menyerangku,” kata Vahal dengan ekspresi kesal.


Mendengar hal tersebut, Raquille pun sontak menengok pria yang dibelakanginya itu dengan tatapan yang tajam. Tanpa pikir panjang pun Vahal dengan cepat terbang ke arah Raquille sambil mengayunkan pedangnya.


“Hati-hati…!” Teriak Bohrneer, melihat Vahal akan melancarkan serangan pada Raquille.


Namun, pemuda itu hanya menanggapinya dengan santai tanpa berniat untuk menghindari serangan pria tersebut.


Seketika Morten dan Demesa muncul menahan serangan pria itu hingga membuatnya terhempas kembali. Namun, Vahal yang sempat terhempas itu, kini tidak sampai tercebur ke dalam air kembali.


“Biar kuperkenalkan, kami adalah Guardian… Pahlawan yang melindungi benua ini dari ancaman orang-orang luar benua seperti kalian,” kata Raquille.


“Guardian katamu…? Hmph… Aku pernah mendengar kalian sebelumnya. Bukankah kalian itu yang sering berseteru dengan orang-orang dari benua Avanca itu?” Tanya Vahal.


“Hah… Sepertinya kita cukup terkenal,” kata Raquille, nampak tersenyum.


“Lebih baik kalian pergi dari sini, dan jangan mencampuri urusan kami disini wahai para ras kotor,” Vahal pun langsung menghina Raquille dan kedua rekannya.


“Kalau begitu, mari kita buktikan siapa yang kotor disini,” kata Raquille.


Sontak Morten bersama dengan Demesa seketika bergerak mendekati Vahal dan menyerangnya secara bersamaan. Hal tersebut nampak membuat Vahal sedikit kesulitan karena perbedaan kekuatan yang tidak terlalu jauh diantara mereka.


**


Dari sisi Raquille terlihat beberapa prajurit Pavonas yang kini mulai mendekatinya.


“Oh… Jadi kalian mau menjadi lawanku yah…?” Tanya Raquille.


Para prajurit Pavonas itu terlihat mengeluarkan pedang mereka masing-masing dan mulai berkonsentrasi. Tampak sebuah pancaran cahaya berwarna biru terpancar keluar dari pedang para prajurit Pavonas itu.


Melihat hal tersebut, dengan sekejap Raquille memunculkan sebuah pedang berwarna biru dengan memiliki dua bilah di kedua ujungnya.



“Baiklah, majulah kalian semua,” Raquille pun langsung menantang para prajurit tersebut untuk maju bersamaan menyerangnya.


Tanpa berlama-lama, prajurit-prajurit itu langsung melancarkan serangan mereka secara bersamaan ke arah Raquille.


Melihat serangan tersebut, Raquille dengan sigap langsung menghindarinya. Beberapa diantara serangan tersebut pun sontak ditangkisnya dengan menggunakan pedangnya. Raquille juga melancarkan serangan dengan memutar-mutar pedang berbilah gandanya itu hingga membuat para prajurit Pavonas itu menerima serangannya.


“Ice spring… Ice thorns…” Raquille kemudian menciptakan bongkahan duri es disekitarnya, yang membuat beberapa dari prajurit Pavonas itu terpental saat mencoba menangkisnya.


**


Di sisi lain, terlihat pertarungan Vahal melawan Morten dan Demesa. Prajurit Pavonas itu nampak terlihat sedikit kesulitan menangani serangan dari kedua rekan Raquille tersebut.


*


“Sial… Nampaknya kedua orang ini memiliki kekuatan yang setara denganku. Dan juga, pergerakkan mereka sangatlah lincah,” kata Vahal dalam hati, terkejut dengan kemampuan kedua rekan Raquille itu.


**


Tiba-tiba saja, Viecion muncul dan langsung menyerang Demesa secara mendadak dengan melancarkan sebuah tendangan.


Demesa yang fokus menyerang Vahal, tidak mengira akan serangan tersebut, sehingga membuatnya langsung terhempas.


“Viecion… Bagus sekali… Kau lawan perempuan itu, biar aku yang menangani yang satu ini,” kata Vahal.


**


Demesa yang sempat terhempas dengan cepat langsung berdiri kembali.


“Eh… Boleh juga seranganmu itu,” kata Demesa.


*


“Perempuan ini sepertinya lebih kuat dariku. Aku harus berhati-hati,” Gumam Viecion dalam hati, sepertinya merasakan perbedaan kekuatan diantara mereka berdua.


**


“Tekhnika ekzortsista… Dark hound flame…” Tanpa pikir panjang, Viecion langsung melancarkan serangan proyeksi elemen api hitam mengarah ke Demesa.


Namun, serangan tersebut dengan mudahnya ditangani oleh Demesa, dengan langsung mengubahnya menjadi dedaunan.


“Apa…? Kekuatan macam apa itu…?” Kata Viecion tampak terkejut melihat apa yang baru saja dia lihat.


“Tekhnika ekzortsista… Dark hound flame…” Tidak gentar akan hal tersebut, Viecion kembali melancarkan serangan elemen apinya untuk kedua kali.


Namun, hal tersebut percuma karena dengan sekejap Demesa dapat mengubah serangannya itu menjadi dedaunan kembali.


**


Kembali pada pertarungan antara Morten dan Vahal. Terlihat Vahal kini mulai bisa mendominasi pertarungan dikarenakan hanya tersisa Morten yang melawannya.


“Hmph… Sepertinya inilah waktunya untuk membalikkan keadaan,” kata Vahal.


“Membalikkan keadaan katamu?” Tanya Morten.


Tak mau membuang waktu, Morten dengan cepat bergerak mendekati Vahal. Namun, saat pemuda hampir saja mendekatinya, tiba-tiba saja pergerakannya terhenti.


*


**


“Hahaha… Sepertinya kau sekarang sedang terpuruk.”


Vahal perlahan-lahan mendekati Morten sambil mengangkat pedangnya, bersiap untuk menyerang pemuda itu.


“Heh… Terpuruk katamu?” Namun, tiba-tiba saja Morten bergumam seakan meremehkan perkataan pria itu.


“Dasar bodoh… Lebih baik kau meminta ampunan dariku, agar nyawamu itu tidak sia-sia.” Mendengar perkataan Morten tersebut, Vahal pun langsung memperingatinya.


“Hei… Setidaknya perhatikan sekitarmu dahulu. Apakah memang posisimu itu memang sudah aman.”


Tanpa prajurit Pavonas itu sadari, ternyata Raquille telah berada tepat di belakangnya. Dengan cepat pemuda Elfman itu melancarkan serangan tebasan pada prajurit Pavonas itu hingga jatuh terkapar di tanah.


“Akh…!” Teriak Vahal, mendapatkan serangan dari Raquille.


“Sialan kau...!” Teriak Vahal sekali lagi, mengumpat pada Raquille.


Masih belum puas dengan itu, saat melihat Vahal terkapar tak berdaya, Raquille dan Morten secara bersamaan menganiaya prajurit Pavonas dengan menendang-nendangnya secara berulang kali.


Raquille kemudian mengangkat pria itu dengan mencekik lehernya dengan erat.


“Bukan aku yang berhak membunuhmu. Anak-anak itulah yang akan membalaskan dendamnya padamu dikemudian hari. Ingatlah itu…” Kata Raquille memperingati Vahal dengan tatapan yang tajam.


“Sial kau… Aku juga tidak akan melupakan hari ini…”


“Kau telah salah karena berurusan dengan Pavonas. Kami tidak akan menyerah begitu saja sampai kami mendapatkan apa yang kami mau.”


“Kalau begitu berusahalah,” kata Raquille, langsung melepaskan cengkramannya pada pria itu.


“Feuerzauber… Long way fire…” Tetapi, dengan sekejap Raquille langsung menyerangnya dengan serangan proyeksi elemen api hingga membuat Vahal terhempas sangat-sangat jauhnya.


“Aaahhh…!” Teriak Vahal, terhempas.


**


Setelah melihat Vahal terhempas, perhatian Raquille dan Morten kini mengarah pada Viecion, yang nampaknya telah mengalami kekalahan di tangan Demesa.


Mereka berdua datang menghampiri Demesa yang telah mengalahkan prajurit Pavonas tersebut.


“Kalian semua, hei para bangsa Greune… Akan kuhitung sampai sepuluh… Jika tidak meninggalkan tempat ini, maka aku tidak akan yakin dengan nasib kalian akan seperti apa,” kata Raquille memperingati Viecion serta para prajurit Pavonas yang lain untuk segera angkat kaki dari kota itu.


“Satu… Dua… Tiga…”


Saat mendengar hitungan dari Raquille Viecion serta para prajuritnya yang lain dengan cepat melarikan diri kembali ke kapal mereka.


“Sembilan… Sepuluh…”


Setelah Raquille selesai dengan hitungannya, kapal Pavonas tersebut nampak pergi meninggalkan kota tersebut.


**


Setelah pasukan Pavonas pergi, Raquille kemudian mendekati Bohrneer dan Heinz. Dia terlihat membantu kedua anak itu untuk berdiri.


“Sepertinya hanya kalian yang berhasil selamat di kota ini… Lebih baik kalian ikut denganku?” Kata Raquille, menawarkan untuk mengikutinya.


“Maaf tuan, tapi aku menolaknya.” Tiba-tiba saja Bohrneer langsung menolak tawaran dari pemuda itu tersebut.


“Hah…? Memangnya kenapa?” Tanya Raquille penasaran.


“Entah kenapa aku merasa harus menempuh jalanku sendiri tanpa bantuan seseorang. Karena itu aku menolak tawaranmu,” kata Bohrneer, sambil melihat kapak besar yang dipegangnya.


Mendengar perkataan dari Bohrneer tersebut, Raquille sontak langsung tersenyum.


“Baiklah… Aku tidak akan memaksa kalian. Tapi, kalian harus pergi dari tempat ini.”


“Eh… Memangnya kenapa kami harus pergi?” Tanya Bohrneer.


“Para pasukan itu kemungkinan akan kembali lagi dengan pasukan yang lebih kuat. Aku tidak bisa menjamin keselamatan kalian, karena kami harus segera meninggalkan negeri sekarang juga,” jawab Raquille, menjelaskan hal tersebut pada Bohrneer.


“Kalian berdua harus mengungsi ke daerah Fuegonia yang lain. Daerah ini sebentar lagi akan menjadi medan peperangan,” lanjutnya.


Mendengar hal tersebut dari Raquille, Bohrneer nampak memikirkan sesuatu.


“Baiklah… Terima kasih atas bantuan kalian. Jika tidak ada kalian kami pasti tidak akan selamat.”


Setelah mengatakan hal tersebut pada Raquille, Bohrneer serta Heinz pun meninggalkan mereka sambil membawa kedua kapak tersebut.


**


“Hei Heinz… Apa kapak itu berat? Mau kubawakan?” Tanya Bohrneer.


“Tidak… Ini tidak terlalu berat. Aku bisa membawanya,” jawab Heinz.


**


“Jadi, apakah kita berangkat sekarang?” Tanya Demesa.


“Iya… Urusan kita ditempat ini sudah selesai,” kata Raquille.


“Lagipula, sebentar lagi pasukan Fuegonia akan segera kemari. Aku telah mengirim isyarat kepada mereka dengan mengeluarkan tekanan kekuatan yang cukup besar.”


“Pasti salah satu dari World Venerate Fuegonia akan merasakannya.”


***


Di lain tempat, tepatnya di kota Wattao, ibukota dari negeri Fuegonia. Terlihat Barbiond berjalan keluar ruangan bersama dengan beberapa prajurit Fuegonia.


“Aku sempat merasakan tekanan kekuatan itu. Aku rasa ada hal yang tidak beres di daerah Akalsa sana,” kata Barbiond.


“Sial… Seharusnya aku menduganya lebih cepat saat nyonya Gwell Flaus menghubungi kita kemarin hari,” lanjutnya.


“Jadi tuan Barbiond, apa kita akan pergi kesana?” Tanya salah satu prajurit yang bersama Barbiond.


“Aku ingin kalian menghubungi setidaknya pimpinan clan Drown dan clan Tarbolt agar menemuiku di Akalsa.”


“Baik… Tapi, bagaimana dengan anda? Apakah kita juga akan segera berangkat?”


“Yah…? Aku akan duluan kesana.” Setelah mengatakan hal tersebut, Barbiond tiba-tiba langsung terbang dengan kecepatan tinggi.


“Eh… Tuan Barbiond…”


–April sampai Mei 3017–


Sepuluh hari kemudian pasukan Pavonas kembali mendatangi daerah Akalsa dengan dipimpin oleh Ienin Sayruz, salah satu World Venerate negeri Pavonas.


Hal tersebut membuat pasukan Pavonas dapat menginvasi daerah pantai barat Akalsa dan berhasil mendapatkan kristal berpijar dalam jumlah yang cukup banyak.


Akibatnya banyak korban berjatuhan dari para warga Akalsa yang tinggal di wilayah pantai barat daerah Akalsa. Para warga yang selamat terpaksa mengungsi ke daerah Fuegonia yang lain.


Namun, kekuasaan negeri Pavonas tidak berlangsung lama dikarenakan para pasukan Fuegonia, yang dipimpin oleh Barbiond Cane, dibantu dengan dua pemimpin clan Fuegonia dapat mengusir pasukan tersebut dalam beberapa minggu saja.


Sejak kejadian itu, daerah Akalsa kini menjadi daerah yang kosong karena sudah tidak lagi dihuni oleh para manusia.


Walaupun daerah tersebut tidak jadi dikuasai oleh negeri Pavonas, Namun pasukan negeri itu telah berhasil merebut kristal berpijar, dan sejak saat itu, negeri Pavonas menjadi negeri yang sangat disegani di benua Greune.


–21 April 3017–


Lebih dari sebulan kemudian, Bohrneer dan Heinz, yang berada di daerah Barat Laut bertemu dengan para pengungsi Akalsa. Para pengungsi tersebut mengenali mereka berdua sebagai anggota clan Flaus dengan melihat dua senjata suci yang dipegang oleh kedua anak itu.


Dikarenakan sedikit mendapatkan harapan untuk hidup karena melihat anggota clan Flaus masih selamat, para pengungsi tersebut akhirnya menjadi loyal terhadap Bohrneer dan Heinz, dan kemudian mengangkat Bohrneer menjadi pemimpin mereka.


Dimulai dari hari itu, Bohrneer, Heinz, serta para warga Akalsa yang tersisa bertahan hidup dengan menjarah harta dan makanan para warga yang berada di kota-kota daerah Barat Laut tersebut.


–7 Maret 3029–


Di kota D’Swano tampak Bohrneer serta para anak buahnya berhasil menyandera para warga dan mendapatkan barang jarahan mereka dari kota tersebut.


Tiba-tiba saja, pria berambut putih dengan tinggi mencapai dua meter sampai di kota tersebut diikuti oleh pasukannya yang memiliki penampilan hampir mirip, berada dibelakangnya.


“Bohrneer Flaus… Pimpinan perampok gunung. Sepertinya ini bukan hari keberuntunganmu.” Orang itu tidak lain merupakan Achilles Noroh, saudara dari Raquille.


Dia nampak datang bersama dengan pasukan ras Elfman untuk mengalahkan Bohrneer dan para perampok gunung.


“Oh… Sepertinya orang yang kuat telah datang.”


Bohrneer pun berdiri dengan gagahnya mengambil kapaknya, yang ditancapkan ke tanah. Perlahan-lahan dia mulai berkonsentrasi sehingga muncul kobaran api pada kapaknya tersebut.


“Hiyaaah…!” Teriak Bohrneer, maju menyerang Achilles.