
Setelah pertandingan usai Neyndra pun datang menghampiri para anggota timnya di tribun peserta. Nampak raut wajah kesal terlihat dari wajah Raquille, Bohrneer serta Heinz.
“Hei… Kenapa dengan kalian…? Apa ada yang salah?” Tanya Neyndra pada mereka bertiga.
“Ada yang salah katamu…? Apa kau itu bodoh…? Padahal tinggal sedikit lagi kita bisa mendapat poin lebih, tapi kau malah menyerah begitu saja,” kata Bohrneer.
“Kau itu memang pantas kusebut sebagai gadis aneh karena kelakuanmu itu memang sangat aneh,” kata Raquille.
“Maafkan aku… Lagipula jika aku melanjutkan pertarungan dengan petarung yang tersisa… Aku pasti akan tetap mengalami kekalahan,” kata Neyndra.
“Heh… Terserah kau saja...” Kata Bohrneer.
Kemudian Drakon datang mendekati Neyndra.
“Drakon… Maafkan aku karena tidak bisa memenangkan pertandingannya, padahal aku sudah berjanji pada…” Belum selesai dia berbicara, tiba-tiba Drakon langsung memeluknya.
“Nona Neyndra… Aku tetap bangga padamu… Kau sangat keren saat mengalahkan dua pria tadi.”
“Tidak apa-apa… Yang penting kau sekarang baik-baik saja,” kata Drakon.
“I…ya…” Kata Neyndra, yang terlihat memerah saat dipeluk oleh Drakon.
Karena Neyndra tersipu malu saat dipeluk oleh Drakon, Neyndra pun seketika langsung melepaskan pelukan Drakon.
“Maafkan aku… Aku mungkin sudah berlebihan,” kata Drakon, yang juga tersipu malu.
“Eh… tidak apa-apa… Terima kasih juga sudah mencemaskan keadaanku,” kata Neyndra, masih tersipu malu.
“Lihat kelakuannya, aneh sekali… Bahkan dia tidak memarahi perempuan itu dan malah memeluknya,” kata Bohrneer.
“Mungkin saja dia menyukai perempuan itu?” Kata Heinz.
“Tidak… Sebenarnya dia ingin memarahinya, namun dia takut akan dipecat dan ditendang dari negeri ini jika harus memarahi gadis aneh itu, hahaha…!” Kata Raquille, meledek Drakon.
“Hahaha…!” Begitu juga dengan Bohrneer serta Heinz yang ikut tertawa melihat Drakon dan Neyndra.
Tiba-tiba Rourke datang menghampiri para tim Fuegonia B.
“Kakak, ayo kita lihat keadaan dari Nizale,” kata Rourke pada Neyndra.
“Ah… Nizale...” Nampak Neyndra kemudian langsung berlari meninggalkan mereka setelah Rourke mengatakan hal tersebut.
**
Di ruangan medis, terlihat Nizale sedang terbaring. Terlihat juga di ruangan tersebut telah ada Dierill, Afucco, Elford, Yoford serta Rox.
Kemudian Neyndra masuk dengan tergesa-gesa ke ruangan itu, disusul Rourke.
“Nizale…”
“Bagaimana dengan keadaannya?” Tanya Neyndra.
“Seperti yang kau lihat, dia masih terbaring disini sejak tadi, jika dia baik-baik saja, dia pasti sudah langsung kembali setelah pertarunganya tadi,” kata Dierill.
“Dierill… Kau itu jangan hanya menyalahkan Neyndra saja, hal yang buruk tidak akan terjadi jika kau tidak mengikut sertakan Nizale dalam turnamen ini.” Nampak Rox kemudian menasehati anaknya agar tidak terus menyalahkan saudara tersebut.
“Ayah… Tapi kau juga yang mengizinkan Nizale untuk ikut, berarti ini adalah salahmu juga.” Namun, Dierill malah mencari kesalahan ayahnya karena mengizinkan putrinya mengikuti turnamen tersebut.
*
“Kenapa orang-orang ini malah saling menyalahkan?” Gumam Rourke dalam hati, melihat perdebatan Dierill dengan Rox.
**
“Sudah-sudah… Lebih baik kalian berdua keluar dulu sana. Nizale perlu untuk istirahat.” Melihat perdebatan mereka berdua, Rourke sontak mendorong Rox dan Dierill untuk keluar dari ruangan medis tersebut.
“Ini semua karena salahku, kalau saja waktu itu aku tidak menolak untuk bergabung pasti sekarang dia masih baik-baik saja,” kata Neyndra menyalahkan dirinya sendiri.
“Kakak… Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, lagipula ini juga adalah kemauan dari Nizale sendiri,” kata Rourke.
“Iya… Tapi, aku juga tidak mengetahui kalau penyakitnya ini semakin memburuk hari demi hari,” kata Neyndra dengan raut wajah yang terlihat sedih.
Lalu setelah itu, mereka semua meninggalkan ruangan medis tersebut, untuk membiarkan Nizale beristirahat.
**
“Bagaimana dengan keadaannya? Apa dia masih bisa untuk melanjutkan turnamen ini?” Di luar ruangan terlihat Rox berbicara dengan petugas medis yang berada di arena turnamen tersebut.
“Tuan Rox… Maaf sekali jika aku mengatakan ini, tapi nona Nizale tidak bisa untuk melanjutkan turnamen ini dikarenakan kondisinya sekarang. Kami akan segera memindahkannya ke institut kesehatan agar bisa merawatnya lebih baik lagi disana,” kata petugas medis tersebut.
“Baiklah… Kalau begitu terima kasih atas informasinya, aku percayakan putriku agar bisa dirawat dengan baik oleh kalian disana,” kata Rox.
“Baik tuan Rox… Kalau begitu saya pamit dulu.” Setelah itu petugas medis tersebut kemudian pergi meninggalkan mereka.
“Jadi… Kita terpaksa harus melanjutkan turnamen ini, dengan hanya tersisa empat anggota saja?” Kata Afucco.
“Yah… Sepertinya begitu,” kata Dierill.
Kemudian terlihat Rourke dan Neyndra keluar daari ruangan medis.
“Memangnya apa aku harus bergabung untuk menggantikan Nizale agar kalian bisa menang dalam turnamen ini?” Tanya Rourke, sedikit bergurau.
“Heh… Itu tidak lucu… Lagipula bahkan hanya tersisa aku saja di dalam tim, aku tetap akan melanjutkan turnamen ini bagaimana pun caranya,” kata Dierill yang nampak percaya diri dengan perkataanya tersebut.
“Itu baru semangat adik… Ternyata kau itu memang tidak akan patah semangat dalam keadaan seperti ini,” kata Rourke dengan menepuk-nepuk bagian belakang Dierill.
“Hei… Hentikan itu,” kata Dierill, menghentikan Rourke menepuk-nepuk bagian belakangnya.
“Baiklah, ayo kita pulang sekarang, lagi pula kedua tim kita ini perlu istirahat untuk turnamen besok malam.”
Setelah Rourke mengatakan hal tersebut, mereka semua kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.
***
Di lain tempat tepatnya di negeri Pavonas, yang berada di benua Greune. Nampak di sebuah kastil terlihat Cyffredinol dan Achilles yang telah terborgol bersama dengan seorang World Venerate, yang sebelumnya telah mengalahkan kedua Elfman tersebut.
Lalu terlihat sebuah rombongan prajurit negeri Pavonas, nampak memasuki kastil tersebut.
“Sambutlah… Pemimpin agung negeri Pavonas… Tuan Rumen Sayruz…” Kata para prajurit-prajurit itu, yang hampir di setiap langkah mereka terus mengulangi perkataan tersebut.
Tampak di belakang para prajurit tersebut terlihat pemimpin mereka yang bernama Rumen Sayruz bersama dengan seorang pria di samping kiri serta seorang wanita di samping kanannya.
“Gazou… Siapa dua orang tawanan berambut putih yang kau bawa ini?” Tanya pria bernama Rumen tersebut melihat kedua Elfman tersebut.
“Hmph… Mereka sepertinya adalah para ras campuran,” lanjutnya dengan memperhatikan Achilles dan Cyffredinol lebih seksama.
“Tuan Rumen… Mereka adalah para ras Elfman yang kutangkap di kota Swaraw beberapa hari yang lalu. Kurasa mereka berdua akan berguna jika berada di pihak kita,” jawab seorang World Venerate yang bernama Gazou tersebut.
“Wah… wah… Kurasa juga seperti itu… Pasti mereka akan berguna jika berada di pihak kita.”
“Tapi… Mereka berdua ini tinggi sekali… Turunkan kepala mereka berdua Gazou.” Nampak pria bernama Rumen tersebut merasa risih melihat kepala dari Cyffredinol serta Achilles yang lebih tinggi darinya, karena perbedaan tinggi badannya dengan kedua Elfman tersebut.
“Hmph… Beginilah seharusnya, tunduklah di depanku,” kata Rumen dengan tersenyum menyeringai.
Lalu terlihat Cyffredinol menatap perempuan cantik berambut rambut pirang yang berada di samping Rumen.
“Achilles, kurasa aku pernah melihat perempuan itu… Tapi dimana aku pernah melihatnya yah?” Tanya Cyffredinol pada Achilles, seperti mengenali perempuan tersebut.
“Perempuan itu…? Kau benar… Wajahnya tidak asing juga bagiku,” kata Achilles yang juga terasa tidak asing melihat perempuan itu.
Melihat Achilles dan Cyffredinol menatap perempuan yang berada di sampingnya itu, Rumen pun langsung terlihat kesal.
“Hei kalian berdua… Beraninya kalian menatap putriku seperti itu,” kata Rumen dengan tatapan yang tajam.
Setelah Rumen mengatakan hal tersebut, nampak perempuan itu pun langsung mendekati Cyffredinol dan Achilles.
“Cyffredinol dan Achilles dari clan Noroh, senang berjumpa dengan kalian kembali, ternyata kalian berdua tidak banyak berubah yah…?” Kata perempuan tersebut nampak mengenal mereka berdua.
“Memang jelas wajahmu ini tidak asing bagiku. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Tanya Cyffredinol.
“Bagaimana mungkin kau tidak mengenalku…? Aku adalah mantan pacar dari adikmu, apa kau sudah lupa?” Tanya balik perempuan itu.
“Mantan pacar adikku katamu…? Aku tidak tidak pernah tahu kalau Aguirre pernah memiliki seorang pacar.” Tampak Cyffredinol terlihat bingung setelah perempuan itu mengatakan hal tersebut.
“Bukan Aguirre… Tapi adikmu yang satunya lagi.”
“Apa maksudmu Raquille…?” Kata Cyffredinol terkejut.
“Aku tetap masih belum mengingatmu... Tapi, jika benar kau itu adalah mantan pacar dari Raquille, pasti kau salah satu orang yang pernah dicampakkan olehnya,” lanjutnya agak bergurau pada perempuan itu.
Mendengar Elfman tersebut mengatakan sesuatu yang tidak dimengerti, Rumen pun menjadi nampak bertambah kesal.
“Erissa… Tidurkan mereka berdua, aku benci mendengar ocehan dari orang itu,” kata Rumen memerintah perempuan bernama Erissa tersebut.
Sontak perempuan bernama Erissa itu langsung memegang kepala dari Cyffredinol, dan tak lama kemudian Elfman itu dengan sekejap langsung tertidur.
Melihat perbuatan perempuan itu, Achilles sontak terkejut dan seperti menyadari sesuatu.
Perempuan bernama Erissa itu pun kemudian langsung berpindah pada Achilles dan lalu memegang kepalanya.
“Kekuatan pengendali pikiran… Berarti tidak salah lagi kalau ini adalah salah satu dari ras Fairyman.” Terlihat Achilles langsung mengenali identitas asli dari perempuan tersebut, yang merupakan seorang Fairyman.
“Kau mengatakan bahwa kau adalah mantan pacar dari Raquille kan… Apakah kau mau melihat ke dalam kepalaku, mungkin rindumu akan terobati jika melihat seseorang yang ada dalam ingatanku beberapa hari yang lalu,” kata Achilles.
“Diam kau…” kata perempuan bernama Erissa tersebut, yang langsung membuat Achilles tertidur.
Namun, disamping membuat Achilles tertidur, karena penasaran perempuan itu kemudian melihat ingatan dari Elfman tersebut.
Perempuan itu lalu melihat potongan-potongan memori dari Achilles, dimulai saat Achilles berada di kota Swaraw, dimana dia dikalahkan oleh pria bernama Gazou tersebut, kemudian pada saat Achilles akan berangkat ke benua Greune, dan sampai pada Achilles menghubungi Raquille yang berada di kota D’Swano sebelumnya.
Saat melihat Raquille dalam ingatan Achilles, perempuan bernama Erissa itu sontak terkejut dan kemudian terjatuh.
“Erissa, ada apa denganmu…?” Tanya Rumen.
“Ienin… Bantu dia berdiri,” lanjutnya, menyuruh pria disampingnya untuk membantu Erissa berdiri.
Setelah mendengar perintah dari pemimpinnya, pria bernama Ienin itu langsung membantu Erissa untuk berdiri.
“Ada apa…? Kau pasti melihat sesuatu di dalam ingatan orang ini. Apa yang sebenarnya kau lihat itu?” Tanya pria bernama Ienin.
“Aku melihat seseorang yang kukenal dalam ingatan orang itu.”
“Siapa dia…?” Tanya kembali pria bernama Ienin tersebut.
“Raquille Noroh… Orang itu akan segera kemari,” kata perempuan itu.
***
Kembali di kota Novacurve, nampak Raquille sedang duduk di taman Sprintrobe menatap langit malam yang dipenuhi bintang-bintang.
Tak berselang lama, terlihat Drakon datang menghampiri pemuda itu.
“Hei… Kenapa kau berada disini? Kau tidak masuk?” Tanya Drakon.
“Tidak, aku sekarang sedang menghirup udara malam hari yang segar,” kata Raquille.
“Karena kau sudah disini ayo kita berbincang sedikit, ada yang aku ingin kubicarakan denganmu,” lanjutnya.
“Apa yang ingin kau bicarakan…?” Tanya Drakon yang kemudian ikut duduk bersama dengan Raquille.
“Tuan prajurit apa kau menyukai gadis aneh itu?” Tanya Raquille.
“Gadis aneh? Maksudmu nona Neyndra…? Beraninya kau mengatakan hal tersebut pada nona Neyndra,” kata Drakon dengan nada tinggi mendengar Raquille menyebut Neyndra dengan sebutan itu.
“Tuan prajurit jawab saja apakah kau menyukai gadis itu?”
“Memangnya… Kenapa kau menanyakan hal seperti itu…?” Tanya balik Drakon agak tersipu malu.
“Heh, lihat kau sekarang… Kukira kau itu orang yang tidak pekah. Tapi, setelah aku mengatakan hal itu ternyata kau bisa tersipu malu juga yah...?”
“Aku… tidak…” Nampak wajah pria itu terlihat memerah setelah Raquille mengatakan hal tersebut.
“Lebih baik kau utarakan saja perasaanmu itu padanya, karena kulihat nona Neyndra-mu itu juga seperti sudah lama menyukaimu.”
“Eh… Aku… Mengutarakan perasaanku… Pada nona Neyndra?” Tanya Drakon yang tersipu malu sampai membuatnya terbata-bata saat berbicara.
“Itu hanya saran dariku saja, karena sebenarnya kau pasti akan menyesal jika semuanya sudah terlambat.”
“Apa maksudmu, aku akan menyesal?” Tanya Drakon lagi.
“Lebih baik cepat saja nyatakan perasaanmu padanya, karena jika kudengar-dengar gadis aneh itu akan segera dijodohkan,” jawab Raquille.
“Hah… Darimana kau mengetahuinya?” Tanya Drakon lagi, kebingungan.
“Hei bodoh… Aku ini adalah keturunan Elf, indera pendengaranku itu sangatlah tajam. Barusan saja aku mendengar pemimpin clan Drown itu berbicara dengan istrinya bahwa gadis aneh itu akan segera mereka jodohkan.”
“Apa katamu…?” Kata Drakon terkejut.
“Itu benar… Aku tidak berbohong.”
Setelah Raquille mengatakan hal tersebut, pria itu nampak terlihat murung.
“Tapi… Kenapa kau mengatakan hal ini padaku?”
“Aku mengatakannya sebagai sesama pria yang juga menyukai seorang wanita.”
“Karena aku juga memiliki orang yang kusukai sebelumnya, yang sampai sekarang belum kukatakan perasaanku pada orang itu.”
“Sampai sekarang juga aku juga tidak tahu… Ada dimana dia sekarang? Apakah dia sekarang sudah mengetahui bahwa aku telah kembali sekarang?”