
“Kalau mengenai hal yang pernah kualami beberapa tahun yang lalu, setidaknya aku sedang berusaha untuk bangkit kembali…” Jawab Arn.
“Bagus Arn… Aku ikut senang mendengarnya…” Mendengar hal tersebut, Drannor pun langsung meresponnya dengan memperlihatkan ekspresi tersenyum, ikut merasa senang bahwa pria itu bisa bangkit kembali dari keterpurukan.
“Tuan Drannor… Walaupun sekarang aku tengah mencoba untuk merelakan kepergian Freynile, namun aku tetap tidak akan melupakannya…” Ucap Arn.
“Aku yakin jika Freynile pasti akan merasa sedih jika melihatku terus saja menyalahkan diriku selama ini…” Lanjut Arn.
*
“Arn… Asalkan kau tahu bahwa Freynile sebenarnya masih hidup sampai sekarang…”
“Dia bahkan kemungkinan sering melihatmu…” Ucap Drannor dalam hati, nampak masih belum mau mengatakan kepada Arn mengenai kebenaran bahwa Freynile masih hidup sampai sekarang.
**
“Kau benar Arn… Setidaknya kau harus tidak boleh menyalahkan dirimu lagi,” respon Drannor pada ucapan Arn sebelumnya.
“Kalau begitu aku pergi dulu… Setidaknya kau harus berusaha menjadi lebih kuat lagi…” Drannor kemudian berpamitan pada Arn sambil memberikan semangat kepada pria itu.
***
Waktu pun berlalu, pada larut malam, Phyton yang sedang beristirahat tidua di sebuah kamar tiba-tiba terbangun karena mendengar suara ledakan yang cukup keras.
“Apa-apaan itu?” Dengan ekspresi terkejut serta penasaran, pemuda itu lantas berdiri dari tempat tidurnya kemudian kemudian perlahan-lahan keluar dari ruangan tempatnya berada untuk melihat ledakan yang baru saja didengar olehnya.
***
Tak berapa lama, sontak melihat bahwa Arn, Anhilde dan Asulf berada di sebuah balkon sedang menatap ke arah kota Nuku.
Merasa penasaran dengan ketiga saudara kembar tersebut, Phyton pun perlahan berjalan ke balkon tersebut untuk menghampiri mereka.
**
Phyton sedikit terkejut ketika melihat langit kota Nuku dipenuhi oleh kembang api, dimana pemuda itu nampak bertanya-tanya di dalam benaknya megenai apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Phyton… Kau pasti terbangun karena mendengar suara kembang api…” Ucap Anhilde, melihat pemuda itu datang menghampiri mereka.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Phyton, penasaran.
“Apa mungkin ada sebuah perayaan di kota ini?” lanjut Phyton.
“Ini sebenarnya hanyalah sebuah perayaan kecil-kecilan untuk para ras Elfman, yang sering dilakukan mereka hampir di setiap minggu,” jawab Anhilde.
“Setiap minggu… Memangnya perayaan untuk apa?” Tanya Phyton kembali, menjadi lebih penasaran mengenai penjelasan dari Anhilde.
“Bagi kami yang merupakan bagian dari negeri ini sudah sangat familiar dengan hal ini…” Sambung Arn.
Mereka bertiga kemudian menjelaskan kepada Phyton bahwa para ras Elfman selama lima ratus tahun lamanya selalu mengalami hal yang sama ketika memang tertidur. Para Elfman selalu saja mendapatkan sebuah mimpi buruk, dimana mereka sering didatangi oleh sesosok makhluk misterius yang sering meneror mereka.
Sebenarnya jika makhluk tersebut tidak memberikan dampak yang buruk, maka para ras Elfman tidak akan takut, namun banyak diantara para ras Elfman yang selalu meregang nyawa akibat tertidur, oleh karena itu merekapun harus menggunakan teknik sihir persepsi setiap harinya secara otomatis untuk tetap membuat diri mereka fokus walaupun tidak beristirahat tidur sedari mereka lahir.
“Aku pernah mendengar tentang informasi ini, namun aku tidak menyangka bahwa para ras Elfman memang benar-benar tidak bisa tertidur,” respon Phyton, nampak terkejut bahwa hal tersebut memang benar.
“Phyton walaupun kau juga memiliki darah keturunan ras Elfman, namun ternyata kau bisa tertidur dengan nyaman… Mungkin saja hal itu hanya berpengaruh kepada para ras Elfman generasi pertama,” ucap Arn.
***
Berpindah di sebuah ruangan, dimana para ras Elfman yang diantaranya merupakan Raquille, Lorainne, Ruvaen, Drannor, Ackerlind, serta Hyphilia.
“Raquille… Ibu rasa Pavonas ingin merekrut para Venerate tingkat atas karena mereka sedang diperhadapkan oleh beberapa konflik,” ucap Lorainne.
“Konflik apa yang kau maksud ibu?” Tanya Raquille, nampak penasaran.
Lorainne pun menjelaskan kepada semuanya bahwa setelah oerang benua Greune berakhir, dan Pavonas mengalami kekalahan serta kehilangan banyak Venerate tingkat atas mereka, negeri tersebut terlibar konflik dengan musuh-musuh mereka yang memanfaatkan kesempatan tersebut.
Salah satu negeri yang kini berkonflik dengan Pavonas merupakan negeri Tengal, negeri yang berada di benua Antikara dan berbatasan dengan wilayah Briseria, Pavonas.
Tengal yang memang sejak dulu tidak akur dengan Pavonas, mengambil kesempatan menyerang wilayah Briseria setelah Pavonas mengalami kekalahan dengan kubuh barat.
Lorainne menjelaskan bahwa organisasi GANCO telah menawarkan bantuan, namun negeri Pavonas lebih memilih untuk merekrut beberapa Venerate dari negeri anggota GANCO tersebut untuk menjadi Venerate mereka, sama seperti yang dilakukan oleh Phyton kemari.
“Dan negeri lain yang sedang berkonflik dengan Pavonas adalah Fuegonia… Walaupun sekarang kini berada di dalam kubuh yang sama, namun Fuegonia tidak akan melupakan Pavonas yang beberapa tahun lalu pernah mencoba mendominasi wilayah Akalsa.”
Mendengar hal tersebut, Raquille dan para Elfman yang berada di ruangan tersebut selain Ruvaen, sontak terkejut.
“Sebaliknya, Pavonas tidak ingin memaafkan negeri Fuegonia yang secara illegal masuk ke wilayah Briseria melewati daerah Akalsa… Aku yakin Fuegonia ingin melakukan pembalasan, atau mungkin mereka memiliki tujuan lain… Namun, yang pasti kubuh barat tidak bisa membantu dalam hal ini, karena baik Pavonas maupun Fuegonia merupakan anggota organisasi GANCO,” lanjut Lorainne.
Mendengar hal tersebut, Raquille pun sontak mengingat bahwa Phyton yang merupakan Venerate Pavonas, serta Cyffredinol, ayah dari pemuda itu, yang merupakan Venerate Fuegonia, secara otomatis harus bermusuhan.
“Tunggu dulu ibu… Kakak Cyffredinol, bahkan Achilles dan Aguirre adalah Venerate Fuegonia… Sedangkan Phyton adalah Venerate Pavonas… Ditambah Raquille, Hyphilia, serta ketiga saudara kembar akan bergabung ke Pavonas… Berarti secara tidak langsung mereka akan bermusuhan satu sama lain,” ucap Ackerlind, terkejut serta memikirkan yang sama seperti Raquille.
“Benar sekali… Karena Raquille dan yang lain akan menjadi Venerate Pavonas, maka hal itu membuat Blueland pun tidak bisa mendukung Fuegonia maupun Pavonas dalam konflik tersebut,” balas Lorainne.
“Raquille… Hyphilia… Saat kalian bergabung ke negeri Pavonas, kalian juga harus mencari tahu mengenai konflik kedua negeri tersebut, dan cobalah untuk mencari solusi perdamaian diantara Pavonas maupun Fuegonia, karena jika itu berlangsung, maka secara tidak langsung kalian akan bermusuhan dengan keluarga kalian sendiri.”
“Baik ibu…” Raquille dan Hyphilia pun mengerti dengan penjelasan Lorainne, dan berjanji akan mencoba mencari solusi untuk menghentikan konflik yang terjadi diantara Pavonas dan Fuegonia.
“Walaupun cukup sulit, namun aku pasti akan berusaha agar para Blueland tidak akan menjadi korban dalam konflik tersebut,” ucap Raquille dengan percaya diri.