
–8 sampai 9 Juli 3029–
Pasukan kubuh barat dibantu dengan pasukan negeri Tsureya dan negeri Ledyana melanjutkan penyerangan mereka ke kota-kota yang berada di jalur menuju ke ibukota Nascunia.
Selama dua hari penyerangan tersebut, pasukan kubuh barat berhasil merebut kota-kota yang dikuasai oleh pasukan negeri Geracie, serta membebaskan para Venerate Nascunia yang tertangkap.
Kubuh barat lalu melanjutkan perjalanan menuju ke ibukota Nascunia yang kini telah dikuasai oleh pasukan Geracie.
–10 Juli 3029–
Sehari kemudian pasukan kubuh barat dengan kendaraan-kendaraan tempur, yang berasal dari negeri Tsureya maupun Ledyana akhirnya sampai beberapa kilometer di depan kota Dupstepa.
Tampak di depan kota itu, pasukan Geracie sudah siap juga dengan kendaraan-kendaraan tempur mereka untuk menghalangi pasukan kubuh barat.
Dalam sekejap peluru-peluru proyektil dari kendaraan-kendaraan tempur Geracie diluncurkan, menghujani barisan pasukan kubuh barat.
“Abwehrzauber… Eldritch shield…” Tembakan tersebut terus saja datang, hingga membuat Raquille harus menciptakan sebuah lingkaran sihir untuk menghalanginya.
“Sabotagezauber…” Raquille kemudian menggunakan kekuatan sihirnya untuk mengendalikan peluru-peluru proyektil tersebut kembali mengarahkannya ke pasukan Geracie, hingga membuat beberapa kendaraan-kendaraan tempur mereka seketika hancur.
Melihat sebuah kesempatan, kendaraan-kendaraan tempur dari pihak kubuh barat yang masih tersisa, sontak meluncurkan serangan balasan mereka.
Pasukan Venerate dari kedua belah pihak, baik kubuh timur maupun Geracie kemudian secara bersamaan maju dan saling menyerang satu sama lain.
Sedangkan Venerate tingkat atas kubuh barat seketika terbang mencapai kota Dupstepa.
Saat berada di dalam kota, mereka langsung dihadang oleh petinggi dari clan Magchora, serta lima Continent Venerate yang pernah menyerang kota Dupstepa sebelumnya.
Clava, Vingto, Kurmer dan Azouraz terpaksa harus melawan Venerate tingkat atas Geracie tersebut, yang jumlahnya dua kali lebih banyak dari mereka.
Sedangkan Zitkavena melewati mereka, bersama dengan Raquille, Zero dan Grelic ke suatu tempat.
Clava dan yang lain semakin mengalami kesulitan ketika sembilan Venerate Geracie yang lain dengan tingkatan kekuatan yang sama seperti mereka datang membantu.
Asseios beserta dua Venerate Geracie yang dikendalikan oleh Azouraz kemudian datang membantu para Continent Venerate kubuh barat.
“Asseios…!” Salah satu petinggi clan Magchora sontak terkejut melihat pria itu bertarung di sisi kubuh barat.
“Asseios, ada apa denganmu? Kenapa kalian berada di pihak mereka?” Petinggi clan Magchora tersebut, yang merupakan ayah dari Asseios terus menanyakan alasan mengapa pria itu dan dua orang lainnya membantu Venerate kubuh barat.
Akan tetapi, baik Asseios maupun kedua Venerate Geracie itu tidak melayangkan sepatah kata apapun kepada petinggi clan Magchora tersebut.
*
“Ada yang aneh dari mereka… Layaknya seperti dikendalikan oleh sesuatu…” Ucap pria itu, menduga sesuatu melihat ekspresi ketiga orang itu juga tampak datar.
**
Continent Venerate dari sisi kubuh barat, yang kini berjumlah tujuh orang, terus berusaha menahan Continent Venerate dari sisi musuh, namun hanya menunggu waktu mereka akan kalah ditangan para Venerate tersebut, dikarenakan perbedaan jumlah yang hampir tiga kali lebih banyak.
***
Di sisi lain, tiga World Venerate kubuh barat bersama Zitkavena, menerobos ke dalam sebuah penjara, membebaskan para tahanan yang merupakan Venerate dari Nascunia.
“Ibu… Ayah…” Zitkavena langsung menemui kedua orangtuanya, yang juga merupakan Venerate tingkat atas, sama seperti perempuan itu.
“Dimana kakek?” Dia kemudian bertanya tentang keberadaan dari kakeknya, Dovian Sirozov, yang merupakan pemimpin dari negeri Nascunia.
“Dia tidak ada disini,” jawab ayah dari Zitkavena.
Mendengar jawaban dari ayahnya tersebut, Zitkavena sontak langsung berlari meninggalkan penjara tersebut.
“Hei, mau kemana kau…?!” Teriak ayahnya.
“Tenang saja, biar aku yang mengejarnya…” Melihat perempuan itu berlari, Grelic seketika langsung mengejarnya bersama Raquille dan Zero.
***
Tak berapa lama setelah Zitkavena pergi meninggalkan penjara, perempuan itu tiba-tiba hampir menerima sebuah serangan proyeksi.
Saat Penkanor hendak menyerangnya, seketika Raquille muncul dan langsung menendang pria Geracie itu hingga terhempas.
“Nona, aku tahu kau pasti ingin menolong kakekmu… Jangan khawatir, pergilah biar aku menangani pria itu,”
Tidak mendengar jawaban dari Zitkavena, Raquille sontak menoleh ke belakang melihat perempuan itu.
“Eh…” Pemuda Elfman itu terkejut melihat Zitkavena seketika sudah menghilang dari tempat itu.
“Haah… Padahal aku mau menunjukkan kegagahanku didepannya,” gumam Raquille.
Tak berapa lama, Penkanor kembali menghampiri Raquille dengan wajah yang kesal.
“Hei, rambut putih… Kali ini kau akan menerima pembalasanku,” ucap pria itu.
“I defteri ekdosi… Adivis the first son lord of dead…”
Penkanor kembali berubah ke wujud pelepasan keduanya dengan berwujud makhluk berzirah hitam.
“Supreme deity aura… Deadly hell storm…” Tanpa berlama-lama pria itu langsung melancarkan serangan proyeksi energinya.
Untung saja Raquille dengan sigap langsung menghindari serangan yang dilancarkan ke arahnya tersebut.
Pemuda Elfman itu kemudian memunculkan kapak dan mengubah ukuran senjata tersebut menjadi lebih besar.
***
Di sisi lain, para Continent Venerate dari kubuh barat yang hampir mengalami kekalahan sontak langsung dibantu oleh delapan orang Continent Venerate dari Nascunia, termasuk ayah berserta ibu dari Zitkavena.
Kedatangan para Venerate tersebut membuat Clava dan yang lain menjadi tertolong, serta membuat keadaan dari kedua belah pihak kini menjadi setarah.
***
Sedangkan pasukan kubuh barat yang masih berhadapan dengan pasukan Geracie di depan kota Dupstepa, mendapatkan bantuan dari para Venerate Nascunia yang sebelumnya dibebaskan oleh Raquille dan yang lain.
Para Venerate Nascunia menyerang pasukan Geracie dari arah dalam kota, sehingga membuat pasukan dari negeri musuh itu kesulitan untuk menangani serangan dari dua arah tersebut.
***
“Ukh…”
Sementara itu, Zitkavena yang sedang menuju ke kastil kota Dupstepa, tiba-tiba mendapatkan serangan hingga membuat perempuan itu terkapar.
Perlahan-lahan seorang pria datang mendekatinya. Pria itu lalu menginjak Zitkavena dengan kerasnya.
“Akh…!” hal tersebut membuat Zitkavena menjerit kesakitan.
Tanpa ampunan, pria itu kemudian melancarkan serangan proyeksinya secara berulang kali sampai membuat Zitkavena pun menjadi tak berdaya.
Saat perempuan itu sudah tak sadarkan diri, dia kemudian mengangkatnya dan pergi meninggalkan tempat itu.
***
Pria itu membawa Zitkavena ke kastil dan melemparnya tepat di hadapan Chrolexius, yang sedang mengintrogasi pemimpin negeri Nascunia.
“Zitkavena…” Dovian tampak panik melihat cucunya tersebut tak sadarkan diri saat diserahkan kepada Chrolexius.
Dengan kondisi yang lemah, pria itu tetap berusaha bergerak untuk menghampiri Zitkavena.
“Ada apa? Kenapa kau membawa perempuan ini kemari?” Tanya Chrolexius.
“Inilah senjata rahasia itu… Pemegang dari kekuatan makhluk suci yang diincar oleh aliansi GSG,” jawab pria itu.
Dia kemudian mengatakan pada Chrolexius bahwa selama mereka berada di kota tersebut, pria itu telah mencari informasi tentang pemegang kekuatan dari makhluk suci yang memiliki kemampuan untuk mengekang kekuatan dari para Venerate.
Pria itu menjelaskan bahwa saat dia membaca sebuah buku yang berada di dalam perpustakaan kastil, dia mendapatkan informasi bahwa kekuatan kekangan surgawi yang diincar mereka sejak dulu hanya bisa diwariskan oleh seorang perempuan dari garis keturunan utama dari clan Sirosov.
Berhubung Dovian Sirozov hanya memiliki satu orang anak, dan itu juga merupakan seorang laki-laki, pria itu pun langsung mengetahui bahwa kekuatan tersebut terwariskan kepada satu-satunya cucu dari pemimpin negeri Nascunia, yang tidak lain adalah Zitkavena.