
“Kalau begitu, bagaimana denganmu?” Tanya Alyara.
“Bagaimana denganku…? Apa maksudmu?” Tanya balik Raquille.
“Iya, kisah cintamu… Aku sudah bercerita sedikit tentangku, sekarang ceritakan sedikit juga mengenaimu.”
“Jadi, aku juga harus menceritakannya yah…”
“Baiklah… Bisa dibilang kisah cintaku sedikit rumit. Aku adalah orang yang sudah merebut seseorang yang dicintai oleh saudaraku sendiri…”
“Merebut seseorang yang saudaramu cintai?” Tanya Alyara, lebih penasaran lagi.
“Ada perempuan bernama Hyphillia dari clanku yang telah bersama dengan kami sejak kecil…”
Raquille kemudian menceritakan kepada Alyara bahwa para ras Elfman yang menghuni daratan utama negeri Blueland sejak dulu memiliki jumlah populasi yang sangat sedikit.
Hal tersebut juga didasari dengan tradisi kuat para Elfman yang ingin terus menjaga garis keturunan asli mereka. Ras Elfman tidak takut untuk menikahkan laki-laki dan perempuan yang memiliki hubungan darah ataupun kerabat dekat mereka demi terlahir keturunan Elfman murni.
Suatu hari disaat Raquille telah mencapai tingkatan World Venerate, pemuda itu juga secara langsung menjadi putra mahkota yang akan mewarisi tahta kerajaan Blueland. Karena hal tersebut para tetua Blueland akhirnya menunjuk seseorang yang pantas menjadi pendampingnya kelak.
Ditunjuklah gadis Elfman bernama Hyphillia yang merupakan saudara sepupu dari pemuda itu. Raquille sebenarnya ingin menolak hal tersebut karena mengetahui bahwa gadis bernama Hyphillia itu saling memiliki perasaan dengan saudaranya yang tidak lain adalah Aguirre, namun karena mendedikasikan dirinya pada negeri Blueland, pemuda itu akhirnya terpaksa tidak bisa menolaknya.
Sejak saat itulah Raquille terus merasa bersalah kepada Aguirre, karena telah merebut seseorang yang dicintai oleh saudaranya tersebut.
“Tapi, sekarang aku yakin setelah sepuluh tahun menghilang, posisiku sebagai putra mahkota telah digantikan oleh kakakku… Aku harap kakakku dan kakak Hyphillia bisa bersama lagi…”
“Lagipula aku hanya menganggap kakak Hyphillia, hanya semata-mata sebagai saudaraku saja.” Ucap Raquille.
“Jadi seperti itu yah…” Respon Alyara.
“Aku belum selesai…”
“Haah… Apa maksudmu?”
“Aku masih memiliki satu cerita lagi, dan ini tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi padamu…”
Raquille melanjutkan ceritanya, dimana disaat dirinya juga telah masuk ke dalam organisasi Guardian, pemuda itu menaruh hati kepada salah satu anggota yang merupakan gadis dari ras Fairyman.
Akan tetapi, perasaan yang dimilikinya kepada gadis Fairyman itu tidak bisa disampaikan karena mengetahui bahwa gadis itu telah dekat dan saling memiliki perasaan dengan salah satu anggota mereka.
Sama seperti Alyara, pemuda itu juga akhirnya harus sendirian memendam perasaannya untuk menghargai perasaan yang dimiliki oleh salah satu rekan anggotanya kepada gadis Fairyman yang disukainya tersebut.
“Tapi, setelah kejadian sepuluh tahun yang lalu, aku akhirnya membuat dua orang itu menjadi terpisah untuk selamanya…”
Alyara tidak bisa berkata apa-apa setelah mendengar cerita dari Raquille, yang ternyata jauh dari perkiraan tersebut.
“Tunggu dulu…” Akan tetapi, putri Morseli itu seperti menduga sesuatu ketika mendengar hal terakhir yang dibicarakan oleh Raquille.
“Kau membuat mereka terpisah saat kejadian sepuluh tahun yang lalu… Kalau begitu berapa ras Fairyman yang ada saat kejadian itu?”
“Kenapa kau menanyakan hal itu?” Tanya Raquille, bingung.
“Sudah katakan saja yang kau ingat.”
“Hanya dia sendiri…”
Seketika Alyara pun terkejut karena seperti mengetahui sesuatu setelah mendengar jawaban yang dikatakan oleh Raquille.
“Gadis yang kau sukai itu bernama Erissa Flamo kan?” Tanya Alyara dengan ekspresi wajah yang serius.
“Apa? Bagaimana kau mengetahuinya?” Raquille pun terkejut ketika mendengar Alyara bertanya tentang Erissa.
“Gadis yang bernama Erissa itu sekarang menjadi salah satu World Venerate negeri Pavonas.”
Raquille seketika mengingat kejadian sepuluh tahun yang lalu, dimana pemuda itu tidak bisa menahan amarahnya dan membuat Erissa sangat ketakutan melihatnya.
***
Kemudian di negeri Pavonas, Erissa yang sedang duduk di sebuah kursi ayunan ditemui oleh pria bernama Ienin.
“Ienin, ada apa kau kemari?” Tanya Erissa.
“Erissa, aku sudah tahu bahwa kau dan beberapa Venerate Pavonas yang lain mencoba untuk melakukan kudeta terhadap Rumen.”
Erissa tidak terlalu terkejut mendengar rencana kudetanya telah diketahui oleh putra pemimpin negeri Pavonas itu.
“Jadi kau sudah mengetahuinya…”
Perempuan itu tidak merasa ragu sedikitpun untuk mengungkapkan rencana kudetanya kepada pria itu karena percaya bahwa Ienin juga akan memikirkan hal yang sama untuk menentang ayahnya sendiri.
“Apa kau yakin dengan keputusanmu? Aku tidak mau jika nanti kau sampai kenapa-napa…”
“Setidaknya kau bersabar dulu setelah ini… Aku juga sedang mengusahakan untuk meminta bantuan pada negeri Hriffinsyria.”
Ienin merasa rencana yang akan dilakukan oleh Erissa akan gagal. Dia tidak mau jika nantinya Erissa akan mendapatkan kesialan ketika Rumen mengetahui rencana mereka lebih dulu.
Putra dari pemimpin negeri Pavonas itu merupakan salah satu orang yang menentang Rumen selama ini. Dia juga sebenarnya memiliki sebuah rencana untuk menyingkirkan pemimpin Pavonas itu karena tidak menyukai apa yang telah dilakukan oleh ayahnya tersebut.
“Tenang saja… Aku sudah bukan lagi Venerate yang lemah saat pertama kali kita bertemu… Apa kau lupa bahwa aku sekarang adalah salah satu World Venerate negeri Pavonas?”
“Lagipula, aku yakin bahwa rencanaku akan berhasil karena kekuatan kubuh timur mulai berkurang…” Erissa pun meyakinkan Ienin bahwa pria itu tidak perlu khawatir tentang hal tersebut.
“Baiklah, aku percaya padamu… Aku juga akan ikut bersamamu jika kau menjawab apa yang pernah kutanyakan padamu,” ucap Ienin.
“Ini soal perasaanmu? Ienin sudah kubilang berkali-kali bahwa kita adalah saudara dan itu tidak mungkin terjadi. Tuan Rumen selama ini sudah menganggapku sebagai anaknya, jadi tolong lupakanlah hal itu,” balas Erissa, ternyata menolak pernyataan cinta dari Ienin.
Perempuan Fairyman itu lalu berdiri dari kursi ayunannya dan berjalan perlahan ke pintu keluar.
“Kau lebih baik melihat putri Alyara… Dia sangat tulus menyukaimu,” ucap Erissa kemudian pergi meninggalkan Ienin sendirian.
–14 Juli 3029–
Keesokan harinya, Raquille, Alyara serta Azouraz akhirnya bersiap untuk berangkat ke negeri Graina.
Akan tetapi, Raquille yang sebelumnya sangat bersemangat untuk menjalankan misi mereka kini terlihat murung dan seperti kehilangan semangatnya untuk melakukan hal tersebut.
Hal tersebut akibat pembicaraannya dengan Alyara semalaman yang membuat pikirannya terganggu setelah mengetahui keberadaan Erissa.
Entah apa yang harus dilakukan oleh Raquille nantinya jika bertemu dengan Erissa saat mereka menyerang negeri Pavonas kelak.
“Raquille, apa kau tidak apa-apa?” Melihat ekspresi dari pemuda Elfman itu, Alyara sontak bertanya.
“Iya…” Jawab Raquille, walaupun ekspresi wajahnya tidak mendukung apa yang dia katakan.
“Tenang saja, setelah kita selesai dengan negeri Graina, kita akan segera pergi ke Pavonas… Dan aku yakin kau bisa mengatasi apapun yang terjadi ketika kau bertemu dengan Erissa nantinya,” ucap Alyara, memberi semangat kepada Raquille.
Pemuda Elfman itu pun tersenyum dan sedikit mendapatkan semangatnya kembali akibat ucapan putri Morseli itu.
“Baiklah, kalau begitu ayo kita berangkat,” ucap Alyara.
“Tunggu sebentar…”
“Wechselzauber…” Sebelum mereka berangkat, Raquille terlebih dahulu menggunakan kekuatan sihirnya untuk mengubah penampilan berpakaiannya menjadi mirip seperti penampilan dari Azouraz dan Alyara agar nantinya tidak dapat dicurigai oleh para prajurit Graina.
Setelah selesai, ketiga Venerate itu pun dengan sekejap terbang ke langit menuju ke negeri Graina.