The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 227 - Rencana penyerangan ke wilayah Fuegonia



–10 Desember 3011–


Tujuh belas tahun yang lalu, di sebuah kastil yang berada di kota Nuku, ibukota dari negeri Blueland, tampak Cyffredinol yang masih berusia sekitar dua puluh empat tahun memasuki sebuah ruangan yang luas, dimana di dalamnya berada sang raja negeri Blueland, Razoranos I, yang sedang duduk di atas kursi tahta.


“Salam ayah… Ada apa kau memanggilku?” Ucap Cyffredinol, menyapa ayahnya tersebut, kemudian bertanya.


“Beberapa hari yang lalu kita berhasil mengusir para bangsa api itu dari tanah kita… Aku ingin kau memimpin pasukan kita untuk menyerang balik mereka juga,” jawab Razoranos, memerintahkan anak pertamanya itu untuk menyerang para bangsa api yang dimaksudnya merupakan negeri Fuegonia.


Sebelum menjalin aliansi pada beberapa tahun ke depan, negeri Blueland serta negeri Fuegonia sebenarnya merupakan musuh bebuyutan yang sering terlibat konflik sudah sejak lama akibat sejarah panjang mereka, dimana pada jaman dahulu dari sudut pandang para bangsa Blueland, bangsa Fuegonia tersebut telah merebut wilayah Blueland yang sebelumnya mendiami daratan utama benua Aizolica di bagian utara.


Akan tetapi, dalam sudut pandang bangsa Fuegonia, negeri Blueland, khususnya para ras Elfman sering melakukan hal semena-mena terhadap bangsa Fuegonia, yang membuat bangsa api tersebut bangkit dan melawan para Elfman, hingga memukul mundur para ras keturuan campuran tersebut sampai ke wilayah pulau paling utara benua Aizolica, yang saat ini menjadi wilayah daratan utama negeri Blueland.


“Secepat ini kita akan menyerang mereka ayah?” Tanya Cyffredinol, ingin mendengar dengan yakin bahwa perintah ayahnya tersebut memang benar.


“Iya… Akan lebih baik jika kita mengancam mereka terlebih dahulu agar tidak mengusik kita… Ini saat terbaik saat negeri itu masih belum memiliki World Venerate mereka setelah kematian sang jendral api bebera bulan yang lalu,” jawab Razoranos.


Ketika sedang berdiskusi mengenai penyerangan mereka, tiba-tiba keempat saudara dari Cyffredinol, yaitu Raquille, Aguirre, Achilles dan Ackerlind datang memasuki ruangan tersebut.


“Ada apa ini? Kenapa kalian semua berada disini?” Tanya Razoranos, terkejut melihat keempat anaknya tersebut datang, padahal setahunya bahwa Raquille dan yang lain berada di akademi sihir, yang terletak di sebuah pulau terpencil yang berada diantara pulau utama Blueland dan pulau Whiteland.


“Mengenai itu… Kami sebenarnya kabur dari akademi sihir karena mengetahui bahwa kakak Cyffredinol dipanggil kemari… Aku yakin bahwa kali ini dia akan diberikan sebuah misi untuk menyerang negeri Fuegonia,” ucap Achilles.


“Haah… Dasar kalian… Memangnya kenapa jika hal itu benar?” Tanya Razoranos lagi.


“Tentu saja kami ingin ikut… Lebih banyak Continent Venerate yang ikut, maka itu akan menambah kekuatan dari pasukan kita,” jawab Ackerlind.


“Dasar anak-anak ini… Baiklah jika kalian memaksa, ayah juga bisa percaya dengan kemampuan kalian semua,” ucap Razoranos, terpaksa memberikan ijin kepada keempat anaknya tersebut untuk pergi menyerang negeri Fuegonia bersama dengan kakak pertama mereka, Cyffredinol.


“Kakak, aku tidak bisa sepenuhnya mengijinkan mereka semua untuk ikut bersama dengan Cyffredinol.” Tiba-tiba sang ratu Lorainne, ibu dari kelima Elfman itu datang, dan langsung tidak menyetujui ijin yang diberikan oleh raja Blueland tersebut.


“Eh, Lorainne… Memangnya ada apa?”


“Tiga dari kalian bisa ikut bersama dengan Cyffredinol, tapi ibu tidak akan mengijinkan Raquille untuk ikut,” jawab Lorainne, ternyata hanya ingin anak bungsunya tidak ikut dalam penyerangan kali ini.


“Ibu kenapa hanya aku yang tidak bisa… Ini tidak adil…” Ucap Raquille, mengeluh karena hanya dirinya saja yang tidak mendapatkan ijin dari ibunya tersebut.


“Tentu saja kau tidak bisa ikut karena kau baru saja masuk ke dalam akademi sihir, tapi sudah berani kabur dari sana…”


“Bukannya jika murid Continent Venerate mendapatkan hak khusus untuk bisa memilih kemana dia akan pergi tanpa harus menetap lama di dalam akademi sihir…”


“Namun hal itu tidak berlaku untukmu yang baru saja menjalani tahun pertama di dalam akademi sihir…”


“Haah… Sudah kuduga akan seperti ini,” ucap Raquille.


“Ayo kita pergi kembali ke akademi sihir… Ibu akan mengantarmu dan memohon kepada para tetua agar kau tidak akan mendapatkan hukuman karena sudah berani kabur dari sana,” Lorainne pun langsung mengajak Raquille untuk beranjak dari ruangan tersebut untuk berangkat kembali ke akademi sihir.


“Kakak, jika kalian nantinya memerlukan bantuanku, setidaknya gunakan teknik itu.” Sebelum pergi bersama dengan Lorainne untuk kembali ke akademi sihir, Raquille pun sejenak berbisik kepada Aguirre mengenai sebuah teknik yang harus digunakannya untuk kemungkinan memanggil Raquille.


“Kalau begitu, semoga kalian semua berhasil…” Ucap Raquille melambaikan tangannya kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut bersama dengan Lorainne.


–11 December 3011–


Waktu pun berlalu, keesokan harinya Cyffredinol bersama dengan pasukan Blueland, serta ketiga saudaranya telah berada di sebuah pelabuhan untuk bersiap berangkat ke wilayan negeri Fuegonia.


Di tempat itu juga terlihat raja dan ratu Blueland, yang tidak lain merupakan Razoranos serta Lorainne, yang akan mengantarkan keberangkatan mereka untuk menyerang wilayah negeri Fuegonia.


“Apa kalian semua siap?” Tanya Razoranos megenai kesiapan dari pasukan Blueland yang dipimpin oleh anak tertuanya tersebut.


Semuanya pun langsung menganggukkan kepala mereka, merespon bahwa mereka sudah siap untuk berangkat ke Fuegonia.


Tak berapa lama, satu per satu prajurit Blueland naik ke atas armada kapal mereka masing-masing.


Setelah semua prajurit Blueland telah masuk ke dalam armada kapal mereka, tampak Cyffredinol masih berdiam memperhatikan ke sekitaran seperti mencari seseorang.


“Kakak, apa yang tunggu? Ayo kita masuk,” melihat Cyffredinol masih berdiam, Ackerlind pun langsung menyuruh kakaknya tersebut untuk masuk ke dalam kapal.


Ketika menoleh ke salah satu arah, Cyffredinol tiba-tiba tersenyum karena melihat seseorang datang.


“Akhirnya dia datang juga…” Ucap Cyffredinol.


“Drannor…” Ackerlind pun terkejut melihat seseorang yang datang tersebut merupakan salah satu Elfman yang sebenarnya disukai olehnya.


“Kakak Cyffredinol, maaf aku terlambat,” ucap Elfman bernama Drannor tersebut.


“Jangan khawatir, kami baru saja akan berangkat,” balas Cyffredinol.


“Eh, Ackerlind… Kau juga akan ikut bersama dengan kami,” ucap Elfman bernama Drannor tersebut, nampak terkejut ketika melihat Elfman perempuan itu.


“Baiklah, ayo kita masuk…” Ucap Cyffredinol, kemudian masuk terlebih dahulu.


Elfman bernama Drannor itu pun lantas kebingungan ketika hendak memasuki kapal, namun melihat bahwa Ackerlind hanya terdiam.


“Ackerlind, ayo masuk…”


“Eh…” Karena didorong oleh Elfman tersebut untuk masuk ke dalam kapal, Ackerlind pun lantas langsung tersipu malu.


“Yang mulia… Kami berangkat dulu.” Sebelum masuk bersama dengan Ackerlind ke dalam kapal, Elfman bernama Drannor tersebut menyempatkan berpamitan kepada Razoranos dan Lorainne.