
Tidak mau kalah, prajurit Gimoscha yang masih berdiri itu juga mengeluarkan tekanan kekuatannya, hingga menciptakan sebuah getaran yang cukup kuat disekitar tempat tersebut.
“Breaker wind…” Dengan hanya mengibaskan salah satu tangannya, prajurit Gimoscha sontak menciptakan sebuah pusaran angin yang cukup besar.
“Breaker ice…” Clava pun membalas serangan tersebut dengan menciptakan sebuah pusaran es berukuran sama besarnya.
“Semuanya, cepat menjauh dari tempat ini!” Merasakan sebuah bahaya, salah satu prajurit sontak berteriak memperingati para bawahannya untuk pergi dari tempat itu.
Mendengar perintah tersebut, dengan cepat semua prajurit berlari sekuat mungkin masuk ke dalam kota untuk berlindung.
Kedua serangan tersebut kemudian saling bertabrakkan hingga menerbangkan semua senjata-senjata artileri serta pepohonan yang berada di dekat tempat itu ke udara.
Setelah kedua serangan tersebut lenyap, prajurit Gimoscha yang berada di depan Clava sontak memunculkan sebuah tombak trisula.
Melihat lawannya tersebut memunculkan sebuah senjata, prajurit Serepusco itu lalu mengangkat tangannya memunculkan sebuah tongkat gada.
Dia kemudian menghantamkan tongkat gada tersebut ke tanah, hingga membuat wilayah pijakan dari prajurit itu sontak membeku.
Tak perlu berlama-lama, kedua pria itu seketika maju saling melancarkan serangan mereka secara bersamaan.
Dari tabrakan serangan tersebut, sontak menciptakan gelombang kejut hingga hempasan angin yang cukup kuat.
Tidak sampai disitu, kedua prajurit tersebut kemudian terbang ke atas dan saling membenturkan serangan mereka di udara.
**
Tak jauh dari tempat itu, terlihat para prajurit yang sebelumnya melarikan diri kini telah berada di dalam kota.
“Sial… Aku lupa bahwa ada yang lebih berbahaya dari pada kedua serangan itu.” Namun, karena terlalu panik dengan dua serangan sebelumnya, prajurit tersebut tidak memperhatikan bahwa naga es yang diciptakan oleh Raquille sedang terbang memutari kota tempat mereka berlindung.
Prajurit itu kemudian mengambil alat komunikasi dan menghubungi seseorang.
***
Beberapa saat kemudian di sebuah ruangan kontrol pesawat, sambungan komunikasi tersebut diangkat oleh seorang pria dengan wajah yang mirip dengan prajurit sebelumnya.
“Marte, ada apa?” Tanya pria itu.
“Mercurio, aku butuh bantuan disini… Serepusco menyerang balik,” jawab prajurit bernama Marte tersebut.
“Heh… Bukannya kak Neptuno yang bilang sendiri bahwa kali ini dia yang akan menaklukkan kota itu tanpa bantuan yang lain?” Namun, pria itu nampak beralasan untuk mengirim bantuan pada prajurit yang menghubunginya tersebut.
“Cepatlah… Kakak Neptuno sekarang sedang berhadapan dengan Clava Armadura. Dan ada Venerate kuat yang memiliki teknik aneh di pihak Serepusco.”
“Iya-iya, secepatnya kami kesana.” Setelah menyetujuinya, pria itu kemudian menutup sambungan komunikasi mereka.
Di tempat tersebut, terlihat dua orang pria dan orang perempuan yang bersamanya.
“Apa Serepusco menyerang balik?” Tanya salah satu pria.
“Iya, yang menyerang mereka adalah Clava Armadura… Dan sepertinya ada seorang Venerate dengan teknik aneh bersamanya,” jawab pria bernama Mercurio itu.
“Kalau begitu, kita menuju ke lokasi Neptuno dan Marte sekarang,” kata pria yang sebelumnya bertanya, memerintahkan para pilot menuju ke lokasi prajurit Gimoscha yang sedang berhadapan dengan Raquille dan Clava.
***
Kembali pada para prajurit Gimoscha yang berada di kota Ceabalte. Tiba-tiba saja mereka nampak terkejut melihat Raquille telah berada di hadapan mereka semua.
“Salam tuan-tuan sekalian,” sapa Raquille sambil tersenyum.
Tanpa pikir panjang, semua prajurit Gimoscha dengan cepat mengeluarkan senjata mereka bersiap melawan Elfman tersebut.
Namun, seketika lantai tempat pijakan dari pemuda Elfman itu membeku dan menyebar sampai ke arah para prajurit Gimoscha, hingga membuat kaki mereka semua ikut membeku.
*
“Sial… Kenapa aku tidak bisa bergerak,” ucap prajurit bernama Marte, tidak bisa menggerakkan kedua kakinya karena telah dibekukan.
**
Setelah membuat para prajurit Gimoscha itu tidak bisa bergerak lagi, Raquille seketika terbang ke atas dan kemudian melayang di atas kota.
Begitu juga dengan naga es yang sebelumnya diciptakan oleh pemuda itu nampak mendekatinya dan melayang tepat di belakangnya.
“Jadi, mereka memanggil bantuan yah…” Gumam pemuda itu, melihat sebuah pesawat tempur datang mendekat.
**
“Naga es…? Sepertinya Venerate yang berada depan kita bukanlah Seremoschan,” ucap salah satu pria yang sebelumnya.
“Dan juga, kelihatannya Neptuno sedang serius melawan prajurit Serepusco itu.” Pria itu lalu melihat pertarungan sengit antara salah satu rekannya bersama dengan Clava.
Dia kemudian keluar bersama dengan salah satu perempuan dari pesawat tersebut. Mereka berdua terlihat mengambil arah yang berbeda, dimana sang pria mendekati Raquille yang sedang melayang di atas kota. Sedangkan si perempuan tiba-tiba saja langsung menyerang Clava hingga membuatnya terhempas.
“Tezia… Apa yang kau lakukan?” Tanya prajurit Gimoscha, nampak tidak terlihat senang pertarungannya tersebut diganggu oleh perempuan itu.
“Tentu saja aku kemari untuk membantumu,” jawab perempuan bernama Tezia tersebut.
“Heh… aku tidak memerlukan bantuanmu. Aku bisa menangani orang Serepusco itu sendirian.” Namun, prajurit Gimoscha itu menolak bantuan dari perempuan tersebut.
“Lebih baik kau bantu saja saudara kembarmu itu. Sepertinya Venerate yang akan dilawannya itu lebih kuat dari kita.”
Prajurit itu kemudian menyuruh perempuan tersebut untuk membantu saudaranya, yang datang menghampiri Raquille.
**
“Hei, kau sepertinya kau bukan berasal dari Serepusco… Katakan darimana asalmu?” Tanya pria Gimoscha, yang berada di depan Raquille.
“Kalau begitu biar kuperkenalkan, namaku Raquille Noroh, pangeran dari Blueland… Aku kemari untuk membantu kubuh barat menundukkan kalian para kubuh timur,” jawab Raquille.
“Oh, begitu yah… Nampaknya kau telah salah paham. Karena sebenarnya yang sebentar lagi yang akan ditundukkan itu adalah kalian kubuh barat.” Pria itu kemudian mengangkat salah satu tangannya ke atas, hingga menciptakan sebuah pancaran elemen petir yang dengan cepat meluncur ke atas.
Hal tersebut sontak membuat awan yang berada di atas mereka tiba-tiba berubah menjadi hitam sambil mengeluarkan suara gemuruh yang cukup keras.
“Lightning breaker… Howling sky…”
Seketika sebuah petir yang sangat besar dari gumpalan awan hitam meluncur dengan cepat ke arah Raquille yang sedang melayang di bawahnya.
“Abwehrzauber… Holy eldritch shield…” Dengan refleks, Raquille memainkan jari-jarinya, menciptakan sebuah lingkaran sihir dengan ukuran lebih dari seratus meter menahan serangan elemen petir masif tersebut.
Namun, karena fokus menahan serangan tersebut, Raquille tidak memperhatikan bahwa pria Gimoscha yang melancarkan serangan elemen petir itu kini telah berada tepat dihadapannya.
“Lightning breaker…” Pria itu seketika melancarkan serangan elemen petir pada pemuda Elfman itu hingga membuatnya terhempas jauh ke bawah.
Tetapi, hal yang diperbuatnya tersebut langsung memicu naga es Raquille untuk melakukan sebuah serangan. Naga tersebut seketika mengayunkan sayapnya ke arah pria itu hingga membuatnya terhempas.
“Breaker wind…” Masih dapat bertahan, pria itu kemudian melancarkan serangan pusaran angin ke arah naga es tersebut.
Namun, naga itu sontak membalasnya dengan meraung, hingga membuat serangan yang dilancarkan oleh pria tersebut nampak percuma.
Efek hempasan angin dari raungan naga es itu seketika mengarah padanya, yang langsung membuatnya dengan refleks menghindar.
Seketika dengan satu kepakkan dari sayapnya, naga es itu meluncur mengejar pria Gimoscha tersebut.
“Sial…” Baru saja pria itu sadar, naga tersebut kini telah berada tepat di belakangnya.
“Akh…!” Seketika naga es itu langsung mengayunkan salah satu sayapnya hingga membuat pria itu terhempas ke bawah dan menghantam tanah dengan kerasnya.
“Sial… Padahal itu bukanlah naga asli. Tapi, kenapa benda itu sangat kuat?” Pria yang telah terkapar itu nampak terkejut dengan kekuatan dari naga es tersebut yang bisa membuatnya tersudut.
“Dagon, kulihat kau sangat kesulitan menjinakkan hewan liar itu.” Tiba-tiba saudara kembar dari pria itu datang menghampirinya dan langsung mengulurkan tangannya.
“Kau tidak akan tahu jika tidak mencobanya… Naga itu tidak bisa diremehkan.” Pria bernama Dagon itu kemudian meraih tangan perempuan itu untuk berdiri.
Naga es itu kembali mengepakkan kedua sayapnya, meluncur dengan cepat ke arah dua prajurit Gimoscha itu.
“Begitu yah… Apa mungkin serangan gabungan akan menghancurkan benda itu?” Kata Tezia.
“Tak usah bertanya lagi…” Melihat naga itu lama-kelamaan semakin mendekati mereka, dengan sigap pria bernama Dagon itu mengangkat salah satu tangannya ke arah naga yang sedang meluncur tersebut.
Perempuan yang bersama Tezia itu pun kemudian mengikutinya, mengangkat salah satu tangan ke arah naga tersebut.
“Breaker storm… Deadly valley tornado…”
Sontak sebuah angin tornado dengan tinggi seribu meter lebih dan berdiameter tujuh kali lebih besar dari naga es tersebut tercipta.
Hal tersebut langsung membuat naga es itu perlahan-lahan hancur hingga tak bersisa akibat tergesek angin tornado raksasa tersebut.
**
“Sial… Apa mereka tidak tahu kita berada di tempat ini.”
Di dalam kota, terlihat para prajurit Gimoscha tiba-tiba menjadi panik melihat tornado tersebut mengarah ke kota. Mereka nampak tidak bisa bergerak karena kaki mereka sebelumnya telah dibekukan oleh Raquille.
“Breaker wind… Wind slash…” Di saat yang bersamaan, pria yang sebelumnya dihubungi untuk meminta bantuan tiba di tempat itu dan langsung melancarkan serangan tebasan elemen angin hingga membuat kaki para prajurit itu terbebas.
Pria itu datang bersama dengan ketiga rekannya, yang sebelumnya berada di dalam ruang kendali pesawat.
“Ayo, pergi dari sini,” kata pria tersebut.
“Tunggu dulu… Apa itu?” Namun, saat mereka hendak meninggalkan kota itu, tiba-tiba salah satu dari mereka menunjuk sebuah cahaya biru mendekati tornado raksasa itu.
**
“Wah… Akan bahaya jika tornado ini mendekati kota.” Nampak cahaya biru yang sebelumnya mendekati angin tornado tersebut merupakan Raquille.
Pemuda itu memunculkan kembali pedang yang pernah digunakannya saat melawan Bohrneer, dan mengangkat pedang tersebut ke arah angin tornado itu.
Dalam sekejap angin tornado berukuran raksasa itu terserap masuk ke dalam pedang pemuda itu dengan mudahnya, hingga mengubah warna bilah senjatanya tersebut menjadi hitam.
Raquille kemudian dengan cepat meluncur ke arah dua prajurit Gimoscha, yang menciptakan tornado sebelumnya.
“Breaker wind…” Melihat pemuda itu datang mendekat, kedua prajurit Gimoscha itu seketika melancarkan serangan pusaran angin secara bersamaan.
Namun, hal itu percuma saja karena Raquille tiba-tiba mengibaskan pedang hingga tornado raksasa yang sebelumnya terserap ke dalam pedangnya tersebut kembali keluar.
“Aaah…!” Teriak dua prajurit Gimoscha itu, terbawah oleh tornado raksasa itu sampai ke jarak yang cukup jauh.
**
Di sisi lain, nampak Clava kini kembali menghampiri lawannya untuk melanjutkan pertarungan mereka yang sempat terhenti sebelumnya.
“Sepertinya aku harus serius sekarang,” kata pria Serepusco itu.
“Hmph… Kalau begitu, ayo kita lanjutkan pertarungannya,” balas pria Gimoscha.
Sontak kedua orang itu berkonsentrasi mengaktifkan kekuatan pelepasan kedua mereka masing-masing.
“I defteri ekdosi… Nievazul the blue snow winter ruler…”
“I defteri ekdosi… Leverrier the blue invisible trouble maker…”
Secara bersamaan, sebuah proyeksi energi berwarna biru yang sangat menyilaukan terpancar dari masing-masing senjata mereka.
Seketika kedua orang itu kini memiliki wujud yang berbeda. Tubuh dari Clava nampak dilapisi oleh zirah es yang berduri di bagian kedua pundaknya. Rambut pria itu yang sebelumnya berwarna abu-abu kini berubah menjadi biru, serta pancaran cahaya biru memancar dari kedua matanya.
Sedangkan prajurit Gimoscha itu berubah menjadi makhluk dengan sisik berwarna biru, bersenjatakan tombak trisula emas.
Tanpa berlama-lama lagi, Clava melancarkan serangan pusaran elemen es. Prajurit Gimoscha itu langsung membalasnya dengan melancarkan serangan pusaran elemen air bertekanan tinggi.
Tabrakan dari kedua serangan tersebut sontak menciptakan sebuah gelombang kejut yang sangat besar.
Di saat yang bersamaan, kedua orang itu dengan cepat bergerak dan saling melancarkan serangan mereka, baik saat masih berpijak di tanah maupun saat berada di udara.
Saking cepatnya pergerakkan dari kedua orang tersebut, hingga hanya terlihat dua cahaya yang saling bertabrakan satu sama lain.
**
Di sisi lain terlihat dua prajurit Gimoscha yang sebelumnya dihempaskan oleh Raquille kini kembali menghampirinya.
Kedua orang itu kemudian mengangkat salah satu tangan mereka masing-masing dan mengepalkannya dengan kuat. Tiba-tiba sebuah cahaya memancar keluar dari cincin yang dipakai oleh kedua orang itu.
“I defteri ekdosi… Fomalhaut the softest being…”
“I defteri ekdosi… Geminollux the vegetative being…”
Merasa bahwa perbedaan kekuatan pemuda yang berada di hadapan mereka nampak jelas berbeda, kedua prajurit itu seketika berkonsentrasi mengaktifkan kekuatan pelepasan kedua mereka.
Seketika pancaran cahaya dari cincin mereka menjadi sangat menyilaukan, hingga Raquille langsung menghalangi matanya dari pancaran cahaya tersebut.
“Wah… Sungguh eksotis.” Setelah cahaya yang sangat menyilaukan itu redup, Raquille nampak memuji perubahan wujud dari dua prajurit Gimoscha itu.
Pria itu tampak berdiri di atas sebuah cakram besi dengan seluruh tubuh berubah layaknya sebuah permata. Sedangkan kulit dan rambut dari perempuan bernama Tezia itu kini menjadi ungu.
“Feuerzauber… Long way fire…” Seketika Raquille langsung melancarkan serangan elemen api ke arah mereka.
Namun, serangan tersebut tiba-tiba kembali mengarah pada Raquille ketika pria bernama Dagon itu menepis serangan api tersebut.
Seketika, dengan sigap Raquille langsung melompat ke samping menghindari serangan elemen api tersebut.
Perempuan bernama Tezia tiba-tiba mengeluarkan pancaran api berwarna ungu dari tubuhnya.
“Akh…” Mendadak Raquille menjadi sesak nafas dan jatuh berlutut.
*
“Apa-apaan ini?” gumam pemuda Elfman itu, tidak bisa bernafas.
**
Kedua prajurit Gimoscha itu kemudian mendekati Raquille yang nampak tak bisa berbuat apa-apa lagi karena kesulitan untuk bernafas.
“Jadi, apakah ada kata terakhir yang ingin kau sampaikan?” Tanya Dagon.