The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 35 - Derts Flaus



–17 April 3017–


Di sebuah hutan terlihat seorang pemuda nampak sedang bersembunyi dibalik semak-semak. Pemuda itu tampak sedang membidik seekor rusa kutub yang berada di kejauhan dengan senapannya.


“Hei… Kau perhatikan, aku akan menembak rusa itu tepat mengarah langsung ke kepalanya,” kata pemuda itu dengan agak berbisik pada seseorang yang berada disampingnya.


“Kakak… Kenapa tidak kita serang langsung saja rusa itu?” Nampak seseorang yang berbicara pada pemuda tersebut adalah Bohrneer, yang masih berumur lima belas tahun.


“Haah…? Apa kau bodoh? Jika kita bisa melakukan hal itu, untuk apa juga aku membawa senapan untuk berburu rusa kemari?” Kata pemuda itu, melarang Bohrneer melakukan sesuatu yang dapat membuat usahanya menjadi sia-sia.


“Kita tidak akan tahu jika tidak mencobanya.” Bohrneer kemudian langsung keluar dari balik semak-semak dan berlari sekencang mungkin ke arah rusa tersebut.


“Hei… Tunggu dulu…” Kata pemuda itu.


“Hiyaah…!” Teriak Bohrneer, langsung melemparkan sebuah kapak kecil ke arah rusa itu.


Namun sayangnya lemparan kapak itu meleset dan hanya menancap pada pohon yang berada di dekat rusa tersebut. Hal tersebut sontak membuat rusa kutub itu seketika langsung melarikan diri.


“Dasar bodoh… Sudah kubilang kan untuk tidak melakukan hal itu.” Pemuda itu sontak memarahi Bohrneer karena telah melakukan hal yang tidak berguna.


Bohrneer lalu mendekati kapak yang dia lemparkan sebelumnya kemudian mencabutnya dari pohon.


“Bohrneer…! Cepat kembali kesini…!” Tiba-tiba pemuda itu berteriak memperingati Bohrneer.


“Hah… Ada apa kakak?” Tanya Bohrneer, bingung mendengar saudaranya itu berteriak padanya.


Seketika rusa kutub yang sebelumnya kabur kembali dan mendekatinya.


Dengan cepat Bohrneer langsung melemparkan kapak yang dipegangnya itu pada rusa tersebut.


Tetapi, kapak yang dilemparnya itu sontak hanya mengenai tanduk rusa tersebut. Binatang itu pun kini menjadi lebih agresif dan berniat untuk menyeruduknya.


Saking takutnya melihat rusa itu akan menyeruduknya, Bohrneer pun seketika menjadi panik sehingga membuatnya terjatuh ke tanah.


“Sial…” Kata pemuda itu, yang langsung keluar dari semak-semak mendekati Bohrneer.


Dengan sigap dia langsung membidik rusa kutub itu dan melepaskan dua tembakan hingga membuat binatang tersebut hingga tersungkur tak berdaya di depan Bohrneer.


“Jadi… Kau sudah mengerti sekarang kenapa dari tadi aku tidak mau menyerang binatang ini secara langsung?”


“I… Iya… Aku mengerti,” kata Bohrneer nampak masih terkejut.


“Untung saja aku lebih cepat menembaknya… Jika terlambat sedikit saja kau pasti sudah dibuat daging tusuk oleh rusa ini,” kata pemuda itu, agak saudaranya tersebut.


Pemuda itu lalu mengeluarkan sebuah belati dan kemudian mulai menguliti serta memotong beberapa bagian tubuh dari rusa tersebut.


“Ayo bantu aku mengangkat buruan kita.” Setalah selesai, pemuda itu menyuruh Bohrneer untuk membantunya membawa buruan tersebut.


Mereka berdua pun kemudian memikul daging rusa tersebut dan keluar dari hutan.


**


Setelah berjalan cukup lama keluar dari hutan, mereka berdua kemudian menaruh buruan mereka tersebut pada bak yang berada di belakang kendaraan mereka.


Setelah menaruh buruan tersebut, pemuda yang bersama Bohrneer itu kemudian naik ke kendaraan tersebut.


“Bohrneer ada apa? Ayo cepat naik,” kata pemuda itu, menyuruh Bohrneer untuk naik ke kendaraan.


Tampak Bohrneer terdiam melihat pakaiannya tersebut berceceran darah setelah mengangkat daging rusa tadi.


“Kakak, lihat ini… Aku terlihat seperti baru saja membunuh seseorang.”


“Hmph… Iya-iya… Hentikan ocehanmu itu dan cepatlah naik sekarang, ibu pasti akan segera mencarimu karena kau secara diam-diam mengikutiku berburu di hutan.”


“Baiklah…” Tanpa pikir panjang, Bohrneer pun mengikuti perintah kakaknya itu naik ke dalam kendaraan.


Setelah Bohrneer naik, pemuda itu pun langsung menjalankan kendaraan tersebut dan pergi dari tempat itu.


***


Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh kilometer, mereka akhirnya sampai di kota Hargocane, kota terbesar dan merupakan pusat pemerintahan yang berada di daerah Akalsa, negeri Fuegonia.


Layaknya kota Novacurve, kota ini merupakan tempat tinggal dari salah satu clan besar negeri Fuegonia. Clan yang mendiami kota tersebut tidak lain adalah clan Flaus.


“Hei, lihat itu… Mereka kembali.” Saat kendaraan mereka melintas, beberapa remaja yang melihat sontak menjadi antusias.


Para remaja yang nampak sebaya dengan Bohrneer saat itu kemudian berlari mengikuti kendaraan mereka dari belakang.


**


Ketika sampai pada tujuannya pemuda itu sontak menghentikan kendaraannya dan kemudian turun.


“Kakak Derts… Ini tidak adil, kau hanya membawa Bohrneer saja. Kami juga igin ikut denganmu berburu di hutan,” ucap salah satu anak.


“Nanti saja jika kalian sudah bertambah dewasa. Sebenarnya aku tidak mengajak Bohrneer, dia diam-diam telah naik di belakang kendaraan tanpa sepengetahuanku. Jika sebelumnya aku tahu, pasti aku tidak akan mengijinkannya.”


Pemuda yang bernama Derts itu kemudian mengangkat buruan yang dikulitinya itu dari bak belakang kendaraanya dan kemudian membawanya.


“Asal kalian tahu saja, ternyata berburu di hutan itu tidak semudah yang kalian kira.” Kemudian dengan agak berlagak keren Bohrneer turun dari kendaraan.


Para remaja itu pun sontak terkejut melihat pakaian dari Bohrneer yang berceceran darah rusa hasil buruan mereka.


“Kalian pasti penasaran bagaimana bisa penampilanku seperti ini?”


Mereka pun langsung mengangguk secara bersamaan karena ingin mendengar apa yang sebenarnya terjadi pada Bohrneer saat dia sedang berburu di hutan bersama dengan saudaranya yang bernama Derts.


“Saat kakak Derts menyerang rusa itu… Rusa itu sontak langsung mengamuk dan menyerang balik kakak Derts.” Nampak anak-anak terlihat mempercayai bualan dari Bohrneer itu.


“Rusa itu menyeruduk kakak Derts sampai membuatnya terpental. Untung saja, kakak Derts dengan cepat menangkis tanduk rusa itu dengan senapannya sehingga tidak membuatnya sampai terluka,” lanjut Bohrneer, masih menceritakan cerita bualannya tersebut.


“Melihat kakak Derts yang tersudut, dengan sigap aku langsung melompat ke atas rusa itu dan menebasnya dengan kapakku sampai membuat rusa itu terkapar tak berdaya.”


Tiba-tiba saja pemuda bernama Derts itu langsung memukul kepala Bohrneer.


“Akh…!” Teriak Bohrneer.


“Kau memang tidak pandai berbohong yah…? Bagaimana bisa bocah sekecilmu ini, yang bahkan belum mencapai tingkatan Division Venerate bisa membunuh rusa?”


“Urgh… Kakak… Kau mempermalukanku saja,” kata Bohrneer dengan kesal, setelah saudaranya itu mengungkapkan kebohongannya.


“Kau yang mempermalukan dirimu sendiri…” Kata pemuda bernama Derts.


“Ayo cepat naik lagi… Aku akan mengantarkanmu pulang.” Lanjutnya, menyuruh Bohrneer kembali naik ke kendaraan.


“Iya-iya…”


Mereka berdua pun kemudian naik ke kendaraan dan meninggalkan para remaja disana.


**


Setelahnya, mereka berdua sampai di kediaman dari clan Flaus yang berada di pinggir kota tersebut.


Nampak para anggota dari clan Flaus yang berjaga langsung membukakan pintu gerbang di depan kediaman itu. Saat melewati pintu gerbang, mereka kemudian turun dari kendaraan. Salah satu dari anggota clan Flaus itu kemudian mendekati Bohrneer dan pemuda bernama Derts tersebut.


“Tuan Derts, ketua clan ingin segera bertemu denganmu,” kata salah satu anggota clan tersebut.


“Paman ingin segera bertemu denganku? Apa kau tahu apa yang ingin katakan?” Tanya Derts.


“Aku juga tidak mengetahuinya.”


“Eh, iya… Pergilah sana.”


Derts kemudian meninggalkan Bohrneer untuk menemui pamannya, yang merupakan ketua clan Flaus.


Setelah Derts pergi, pandangan Bohrneer tertuju pada seorang anak laki-laki yang berada di dekat sebuah taman. Melihat anak laki-laki itu, Bohrneer pun sontak mendekatinya.


“Hei… Kenapa kau sendirian disini?” Tanya Bohrneer pada anak laki-laki tersebut.


Anak laki-laki tersebut merupakan Heinz, yang masih berumur tiga belas tahun. Heinz merupakan anak satu-satunya dari ketua clan Flaus dan merupakan sepupu dari Bohrneer serta Derts.


Tampak Heinz merespon pertanyaan Bohrneer dengan hanya memperlihatkan ekspresi sinis pada Bohrneer.


“Hei, kau pikir kau siapa hah…? Aku hanya bertanya baik-baik padamu.” Melihat ekspresi dari Heinz itu, Bohrneer sontak menjadi kesal dan langsung menarik rambut anak itu.


“Urgh…! Lepaskan aku…!” Teriak Heinz saat rambutnya ditarik oleh Bohrneer.


Mendengar teriakan dari Heinz, seorang wanita seketika datang dan langsung melepaskan tangan Bohrneer yang menarik rambut Heinz.


“Bohrneer apa yang kau lakukan padanya?” Tanya wanita itu.


“Ibu… Aku bertanya baik-baik padanya, tapi dia hanya memasang ekspresi seperti itu… Seakan-akan dia memang membenciku,” jawab Bohrneer pada wanita tersebut yang merupakan ibunya, sambil menunjuk Heinz.


Terlihat Heinz langsung menatap tajam Bohrneer saat dirinya ditunjuk olehnya.


“Lihat dia… Beraninya kau, mau menantangku yah…?” Kata Bohrneer dengan kesal, ingin memukul anak itu.


“Bohrneer…. Hentikan itu, Heinz lebih muda darimu, jadi kau tidak boleh kasar padanya,” kata Ibu Bohrneer, menasehatinya.


“Ibu, kau selalu saja membelanya. Padahal aku ini adalah putramu sendiri.” Karena kesal Bohrneer terlihat melangkah pergi meninggalkan mereka.


“Bohrneer… Aku belum selesai. Kemana saja kau dari tadi? Apa kau diam-diam ikut bersama Derts berburu di hutan?” Tanya ibu Bohrneer.


Mendengar kata dari ibunya tersebut, Bohrneer langsung menghentikan langkahnya dan menjadi ketakutan.


“Eh… Itu… Ibu… Maafkan aku…” Nampak Bohrneer langsung lari menjauhi ibunya, setelah mengatakan hal tersebut.


“Bohrneer… Mau kemana kau? Hei, kemari….” Ibunya pun sontak langsung mengejarnya.


**


Kemudian tampak pemuda bernama Derts tersebut menemui pamannya yang berada di sebuah hutan, di dekat tempat kediaman mereka.


Terlihat pamannya tersebut sedang membelah beberapa batang pohon dengan menggunakan sebuah kapak besar.


“Paman… Padahal hanya membelah sebuah batang kayu, tapi kau malah memakai kapak Tandsliber,” kata Derts.


“Sudah lama kapak ini disimpan, jadi aku berinisiatif untuk memakainya, walaupun hanya dipakai untuk memotong kayu saja,” kata pamannya itu.


“Derts… Kau juga seharusnya mengikuti wasiat dari ayahmu dengan memakai kapak Tandvark sebagai senjata sucimu. Kau ini sudah berada ditingkatan Land Venerate, akan lebih baik lagi jika kau bisa menguasai kekuatan ekdosi,” lanjut pamannya.


“Paman… Aku sudah tidak tertarik lagi menjadi prajurit ataupun ketua clan Flaus. Lebih baik Bohrneer atau Heinz sajalah yang menjadi penerusmu.”


“Hmph… Sejak ayahmu meninggal beberapa tahun yang lalu, kau menjadi tidak bersemangat lagi. Padahal kau ini merupakan orang yang berbakat, kenapa kau menyia-nyiakannya?”


“Paman… Apa kau memanggilku hanya untuk mengatakan hal ini?” Tanya Derts.


“Eh, iya juga, aku hampir lupa bahwa aku memiliki maksud lain memanggilmu kemari. Aku mendapatkan sebuah informasi bahwa ada tiga orang yang datang ke kota ini kemarin,” kata paman Derts, mengatakan maksudnya memanggil pemuda itu.


“Siapa mereka? Dan dari mana asal mereka?” Tanya Derts, penasaran.


“Aku tidak tahu darimana asal mereka. Tapi, yang pasti para penjaga gerbang kota mengatakan bahwa penampilan mereka agak berbeda dengan kita.”


“Pokoknya Derts, aku ingin kau menemui mereka untuk mengetahui tujuan mereka sebenarnya datang ke kota ini. Menurut informasi mereka sekarang menginap di sebuah penginapan yang berada di Midtown... Apa kau mau melakukannya?”


“Tenang saja paman… Aku pasti akan melakukannya. Kau tidak perlu khawatir, kau pasti akan segera mengetahui apa tujuan mereka.” Derts kemudian meninggalkan pamannya untuk pergi menemui orang-orang yang dikatakan oleh pamannya tersebut.


*


“Lihat anak itu… Baru saja dia mengatakan tidak tertarik dengan hal seperti itu. Tapi, ketika ada sesuatu yang membuatnya khawatir, dia langsung ingin bertindak,” kata paman Derts dalam hati.


***


Beberapa saat kemudian, terlihat Derts telah sampai di depan sebuah gedung penginapan yang berada di tengah kota tersebut. Nampak Derts turun dari kendaraannya dan memasuki penginapan tersebut.


Di dalam penginapan tersebut, pemuda itu kemudian mendekati tempat resepsionis untuk bertanya.


“Eh… Anda dari clan Flaus kan? Ada yang bisa kubantu?” Tanya resepsionis di penginapan tersebut.


“Menurut informasi ada tiga orang yang memiliki penampilan berbeda dengan yang lain menginap di tempat ini, apa aku benar?” Jawab Derts.


“Tiga orang yang memiliki penampilan berbeda…? Siapa mereka?” Resepsionis itu nampak merasa bingung setelah mendengar jawaban dari Derts.


“Aku juga tidak tahu siapa mereka… Tapi, aku diberi tugas oleh pemimpin clanku untuk menemui mereka di tempat ini,” kata Derts, menjelaskan hal tersebut para resepsionis itu.


“Maafkan aku, karena hari kemarin aku tidak berada di tempat ini. Aku tidak tahu tamu yang anda maksud karena pada daftar tamu tidak tertulis keterangan seperti yang anda katakana,” kata resepsionis tersebut.


*


“Benar juga… Paman tidak memberikan informasi yang lebih jelas,” gumam pemuda itu dalam hati.


**


Kemudian terlihat dua orang laki-laki dan perempuan datang menghampirinya.


“Hei… Apa orang-orang yang kau cari adalah kami?” Tanya laki-laki yang berada dibelakang Derts.


*


“Eh… Apa ini? Kenapa aku merasakan tekanan kekuatan yang kuat?” Kata Derts dalam hati, merasa terintimidasi.


**


“Ada apa dengannya?” Tanya kembali orang itu, melihat Derts yang terdiam saat dia berada di belakangnya.


Terlihat seorang laki-laki dengan rambut abu-abu serta seorang perempuan berambut pirang, dengan postur tubuh kecil berada di belakang pemuda itu.


“Tuan, apa kau baik-baik saja?” perempuan berambut pirang tersebut kemudian mendekati Derts dan memegang pundaknya.


“Eh… Iya…” Jawab Derts pada perempuan tersebut.


“Apa kalian merupakan tiga orang yang datang ke kota ini kemarin hari?” Lanjutnya, bertanya pada mereka berdua.


“Benar sekali, itu adalah kami,” jawab salah satu dari mereka.


“Tapi, kalian hanya berdua saja? Dimana satu orang lagi?”


“Oh… Dia sekarang berada di tempat yang lain…”


“Kalau begitu… Aku langsung saja. Siapa kalian ini? Dan apa tujuan kalian datang ke kota ini?” Tanya Derts dengan serius.


“Tuan… Aku belum selesai berbicara. Kurasa kita harus membicarakan ini dengan dengan atasan kami.”


“Siapa dia? Apa dia satu orang yang kalian bicarakan berada di tempat lain?”


“Iya tuan. Dan lebih baik kau mengikuti kami terlebih dahulu untuk bertemu dengannya,” kata laki-laki, yang merupakan salah satu dari orang-orang misterius tersebut.


“Baiklah… Kalau begitu tunjukkan jalannya.” Tanpa pikir panjang, Derts kemudian langsung menyetujui orang-orang itu.