
“Jadi begitu yah…” Ucap Chrolexius dengan senyuman menyeringai, merasa senang mengetahui kebenaran dari kekuatan yang diincarnya selama ini.
Chrolexius mendekat ke arah Zitkavena yang sudah sadar dan mendorong Dovian menggunakan kakinya, hingga pria itu pun tersungkur.
“Ternyata kau pemegang kekuatan dari makhluk suci itu.” Pria itu kemudian mencengkram leher Zitkavena dengan kerasnya.
“Chrolexius… Hentikan…” Sekali lagi Dovian berdiri kembali, walau dalam keadaan yang lemah saat melihat cucunya tersebut dicekik oleh pemimpin negeri Geracie.
Meskipun sudah dengan sekuat tenaga berusaha menarik tangan pria itu dari Zitkavena, namun kekuatan Dovian masih belum cukup untuk bisa menandingi kekuatan Chrolexius untuk melepaskan cengkramannya.
“Ukh…” Seketika Zero muncul, langsung melancarkan sebuah serangan hingga cengkraman tangan Chrolexius pada Zitkavena terlepas, dan membuat pemimpin Geracie itu terhempas keluar kastil.
Disaat yang bersamaan, pria Geracie yang satunya, sontak diserang oleh Grelic sampai membuatnya juga terhempas keluar dari dalam kastil, sama seperti Chrolexius.
“Tuan Dovian, anda tidak apa-apa?” Tanya Grelic.
Mereka berdua kemudian membantu Dovian dan Zitkavena berdiri kembali.
Zero dan Grelic seketika melompat keluar dari kastil, menghampiri kedua World Venerate dari Geracie tersebut.
Tanpa pikir panjang, Grelic langsung melancarkan sebuah serangan pada pria Geracie yang sedang bersama Chrolexius hingga terhempas ke jarak yang jauh.
Grelic lalu meluncur dengan cepat mengikuti World Venerate Geracie yang terhempas.
Ditempat itu pun kini hanya tersisa Zero dan Chrolexius saja. Zero memunculkan dua kapak sucinya bersiap untuk melawan pemimpin negeri Geracie itu.
“Pengendali musim, lebih baik kau tidak usah mencampuri urusanku disini,” ucap Chrolexius dengan raut wajah yang tampak kesal.
“Apa kau bodoh yah? Selama negeri Nascunia masih menjadi anggota aliansi dari kubuh barat, itu tetap akan menjadi urusanku juga,” balas Zero.
Pria Calferland itu kemudian meluncur sambil mengayunkan kedua kapaknya, tetapi saat serangan tebasannya tersebut mengenai Chrolexius, tiba-tiba saja pria Geracie itu seketika berubah menjadi butiran-butiran cahaya emas.
Cahaya-cahaya tersebut dengan cepat terbang ke atas, berkumpul dan kembali berubah menjadi Chrolexius.
“God aura… Holy projection…” Chrolexius yang berada di atas Zero, sontak langsung melancarkan sebuah serangan proyeksi energi berwarna emas dengan skala yang besar.
Zero yang baru saja menyadari serangan tersebut hanya bisa menangkis dengan kedua kapaknya. Hal itu pun membuatnya langsung terdorong ke tanah.
Saking kuatnya serangan proyeksi tersebut hingga menciptakan sebuah lubang yang cukup besar.
Chrolexius seketika meluncur masuk ke dalam lubang tersebut, hendak melancarkan sebuah serangan lagi pada Zero yang sedang terkapar di dasar lubang itu.
Saat sebuah serangan proyeksi energi emas hampir mengenainya, Zero dengan sigap membalikan badannya dan berdiri kembali.
“Breaker lightning…” Dia langsung melancarkan serangan elemen petir kepada Chrolexius, sampai membuat pria itu pun terhempas keluar dari lubang tersebut.
Zero kemudian dengan cepat terbang mendekati Chrolexius. Dia kembali melancarkan serangan elemen petirnya, namun berhasil dihindari oleh pria Geracie itu.
“God aura… Superior boost…” Seketika Chrolexius memancarkan energi emasnya, yang langsung membuat Zero terhempas.
Zero yang terhempas mengontrol tubuhnya sehingga tidak membuatnya tersungkur, namun pada waktu yang bersamaan Chrolexius dengan sekejap muncul dihadapannya, hendak melancarkan sebuah serangan lagi.
“Breaker lightning… Twin axes lightning slash…” Untungnya Zero dengan refleks langsung menangkis serangan proyeksi dari Chrolexius.
Tabrakan dari kedua serangan tersebut, sontak menciptakan ledakan yang sangat besar hingga menghancurkan bangunan-bangunan yang berada di dekatnya.
***
Tak jauh dari tempat itu, para Venerate Nascunia yang tidak sedang berhadapan dengan pasukan Geracie, terlihat menuntun para warga untuk keluar dari kota tersebut.
Pilihan yang diambil para Venerate tersebut sangat tepat, karena kini kota tersebut telah menjadi medan pertempuran bagi para Venerate tingkat atas baik dari kubuh barat maupun Geracie. Jika membiarkan para warga terus berada di dalam kota, hal tersebut akan berdampak buruk bagi mereka.
***
Dua Venerate itu secara bergantian melancarkan serangan mereka masing-masing, hingga keduanya pun juga secara bergantian terhempas menerima serangan satu sama lain.
Sejenak Grelic maupun pria tersebut berhenti untuk saling menyerang.
“Kali aku akan serius…” Ucap pria yang sedang berhadapan dengan Venerate Nascunia tersebut.
Dia kemudian berkonsentrasi untuk mengaktifkan kekuatan pelepasan keduanya.
“I defteri ekdosi… Adivis the first son lord of dead…” Seketika pancaran energi berwarna merah keluar dan langsung menyelimuti tubuh pria itu.
Pria Geracie itu pun berubah wujud menjadi makhluk berzirah hitam sama seperti wujud kekuatan pelepasan kedua dari Penkanor, namun yang membedakan hanya pada senjatanya, dimana pria itu memegang sebuah tongkat sabit.
Melihat pria itu telah berhasil mengaktifkan pelepasan keduanya, Grelic pun nampak khawatir jika pertarungannya kali ini dengan pria Geracie itu akan merugikan orang-orang yang masih berada di dalam kota tersebut.
Dia kemudian memejamkan kedua matanya, mencoba untuk merasakan hawa keberadaan dari orang-orang yang masih berada di dalam kota.
“Sepertinya semuanya sudah aman sekarang…” Tak berapa lama, Grelic kembali membuka matanya, setelah merasakan hawa keberadaan yang berada di dalam kota tersebut hanya tersisa para Venerate tingkat tinggi saja.
Grelic mengangkat salah satu tangannya ke depan, memperlihatkan sebuah cincin yang dipakainya lalu berkonsentrasi mengaktifkan kekuatan pelepasan keduanya.
“I defteri ekdosi… Morviziu the lord of phantom army…” Tak berapa lama kemudian cincin yang dipakai oleh pria Nascunia itu berubah menjadi sebuah kepungan asap berwarna putih.
Asap putih itu lalu memisah menjadi beberapa bagian, terbang memutari Grelic secara terus-menerus.
Tidak terlihat perubahan wujud dari pria Nascunia itu seperti pada bentuk kekuatan pelepasan kedua yang dilakukan oleh para Venerate lainnya, namun asap-asap yang mengelilinginya berubah menjadi sosok makhluk astral dengan sorot mata yang tajam.
“Hahaha… Sepertinya pelepasan keduamu itu terlihat lemah.” Pria dari Geracie itu pun seketika tertawa melihat wujud pelepasan kedua dari Grelic.
Akan tetapi tawa ejekan dari pria Geracie itu tidak membuat Grelic meradang. Seketika para makhluk astral di sekitarnya meluncur mendekati pria Geracie itu.
Pria itu sontak mengayunkan tongkat sabitnya menyerang semua makhluk-makhluk astral yang datang ke arahnya.
Betapa terkejut pria itu ketika serangan ayunan tongkat sabitnya hanya melewati makhluk-makhluk astral tersebut.
“Ukh…” Disaat yang bersamaan makhluk-makhluk tersebut menyerangnya hingga terhempas.
Pria itu kembali berdiri setelah terhempas sebelumnya. Dia kemudian meningkatkan kekuatannya, hingga membuat senjata yang dipegang olehnya memancarkan proyeksi energi berwarna merah.
“God aura… Superior slash…” Saat beberapa makhluk astral tersebut mendekatinya, pria itu langsung melancarkan serangan proyeksi tebasannya, yang langsung membuat makhluk-makhluk tersebut seketika lenyap.
“Akhirnya aku mengetahui kelemahan dari kekuatan pelepasan kedua ini…” Ucap pria itu dengan senyuman menyeringai.
***
Sementara itu, tampak Penkanor terlihat telah mendominasi pertarungannya melawan Raquille.
Pemuda Elfman itu berkali-kali mendapat serangan dari Wolrd Venerate Geracie tersebut sehingga membuatnya beberapa kali harus terhempas.
Entah kenapa Raquille terus-terusan saja hanya berusaha untuk menangkis serangan yang diluncurkan oleh Penkanor tanpa membalasnya.
“Ada apa denganmu ras campuran?” Tanya Penkanor, yang juga nampak bingung melihat pemuda itu sepertinya tidak serius melawannya.
Raquille berdiri kembali dan kemudian membersihkan pakaiannya yang kotor akibat selalu terhempas menerima sebuah serangan sejak tadi.
“Memangnya kenapa? Apa kau sudah bosan?” Tanya balik Raquille.