The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 60 - Divine ice cursed



Api berwarna ungu yang memancar dari tubuh Tezia seketika berpindah pada salah tangannya dan kemudian semakin membesar.


Perempuan itu seketika melancarkan kobaran api ungu tersebut ke arah Raquille yang sedang berlutut di hadapannya.


Tanpa henti kobaran api itu terus keluar dari tangan perempuan itu membakar Raquille hingga tak bersisa.


“Orang itu tidak sekuat yang kukira,” kata Tezia nampak kecewa ternyata lawannya tersebut dapat dikalahkan dengan mudah.


“Mau bagaimana pun kubuh barat tidak akan bisa mengalahkan kita,” sambung Dagon.


Setelah mengalahkan Raquille, padangan kedua orang itu kemudian terarah pada Clava yang sedang berhadapan dengan rekan mereka.


“Kau mau membantu Neptuno?” Tanya Dagon.


“Biarkan saja dia… Lagipula prajurit Serepusco itu tidak akan bertahan lama,” kata Tezia dengan percaya dirinya memprediksi pertarungan dari Clava dan pria bernama Neptuno itu.


“Memangnya kau yakin jika Clava tidak menang melawan rekanmu itu?” Tiba-tiba tanpa mereka sadari, Raquille telah berada diantara kedua orang itu.


Layaknya melihat sesosok hantu, pandangan mata kedua orang itu nampak melotot melihat pemuda Elfman itu masih hidup sambil merangkul pundak mereka berdua.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Raquille memegang erat kepala dua orang itu dan saling membenturkannya dengan keras.


“Akh…!” Dia kemudian membanting Dagon dan Tezia ke tanah dengan kerasnya, hingga membuat dua prajurit Gimoscha itu menjerit kesakitan.


Tidak mau menyerah setelah mendapatkan serangan dari pemuda itu, Dagon dan Tezia pun seketika kembali berdiri.


“Mustahil… Bagaimana bisa kau masih hidup?” Ucap Tezia.


“Hmph… Aku melakukan trik ini.” Dalam sekejap Raquille berubah menjadi butiran-butiran es halus dan meluncur ke arah dua prajurit Gimoscha itu.


Tezia langsung melancarkan api ungunya saat melihat wujud Raquille dalam butiran-butiran es meluncur ke arah mereka berdua.


Namun, butiran-butiran es tersebut menyebar menghindari serangan elemen api ungu itu dan dengan mudah melewati Dagon dan Tezia. Butiran es itu lalu menyatu kembali ke wujud Raquille semula.


“Ice spring…”


“Akh...!” Seketika sebuah bongkahan es berduri muncul dari bawah Dagon dan Tezia, hingga membuat kedua tertusuk.


Masih belum kalah setelah mendapatkan serangan fatal tersebut, Dagon dan Tezia yang terlihat sudah mulai geram langsung mengeluarkan tekanan kekuatan mereka hingga menggoncangkan tempat tersebut.


“Hahaha… Boleh juga ternyata.” Namun, Raquille malah menanggapi kegeraman mereka dengan tertawa.


Tezia kemudian kembali memancarkan kobaran api ungu dari tubuhnya, hingga membuat Raquille kembali lagi merasakan sesak nafas.


“Feuerzauber… Tactical fire bullet” Walaupun kesulitan untuk bernafas, Raquille sontak menahannya untuk melancarkan sebuah sebuah serangan elemen api ke arah Tezia, dengan tujuan agar dapat menghentikan teknik perempuan itu.


Tetapi, dengan mudah perempuan itu menghindari serangan api Raquille. Serangan tersebut kemudian dibelokkan oleh Dagon mengarah pada pemuda Elfman itu, dengan hanya sekali mengibaskan tangannya.


“Ukh…” Seketika Raquille terpental menerima serangannya sendiri hingga membuatnya terkapar.


Masih tidak kehabisan akal, pemuda itu dengan cepat berdiri kembali dan memunculkan kapak kecil, yang pernah digunakannya saat mengikuti turnamen Venerate.


Seketika senjata tersebut membesar sampai berukuran setidaknya tiga puluh kaki panjangnya.


“Apa-apaan itu?” Dagon yang melihat hal tersebut sontak terkejut dengan mata yang melotot.


“Elfman axe technique… Super great axe swing…” Raquille seketika mengayunkan kapak itu ke bawah tanpa merasa berat sedikitpun dengan ukuran senjata yang super besar tersebut.


Layaknya sebuah benda raksasa jatuh menghantam permukaan, tanah yang berada di sekitar mereka seketika terbongkar dan menciptakan sebuah hempasan angin yang sangat kencang.


Hal tersebut juga membuat Dagon dan Tezia terhempas ke atas akibat efek serangan dari kapak tersebut.


Tak mau membuang kesempatan, Raquille seketika mengubah kapak yang masih berukuran raksasa itu ke ukurannya semula dan memanjangkan gagangnya, layaknya sebuah tali yang lentur.


“Elfman axe technique… Whip axe consecutive slashes…” Kapak yang kini seperti cambuk itu pun diayunkan oleh Raquille ke arah dua prajurit Gimoscha yang terhempas ke udara tersebut secara berulang-ulang kali tanpa ampun.


“Akh…!” Tezia yang menerima serangan tebasan beruntun itu sontak menjerit kesakitan.


Namun, saudara kembar dari perempuan itu tampak tidak merasa sakit dengan serangan tebasan tersebut karena pertahanan dari wujud pelepasan keduanya.


Raquille pun tidak kehilangan cara. Dia mengendalikan kapak tersebut, sehingga gagang dari senjata itu langsung melilit salah satu kaki Dagon. Pria Gimoscha itu lalu ditariknya dengan kuat hingga menghantam permukaan dengan kerasnya.


“Haah… Haah…” Namun, akibat sedari tadi tidak dapat menghirup udara dengan baik karena teknik dari Tezia, pemuda Elfman itu nampak kelelahan dan jatuh berlutut.


Di saat yang bersamaan, Dagon dan Tezia nampak telah kembali pulih dari serangan yang dilancarkan oleh pemuda itu sebelumnya.


“Haah… Sial… Ternyata kalian kuat juga,” ucap Raquille.


Dagon yang mulai kesal dipermainkan terus oleh pemuda itu tampak mengeluarkan sebuah bola energi dari salah satu tangannya yang diangkat ke atas.


Tanpa perlu menunggu lagi, pria itu langsung meluncurkan bola energi tersebut ke arah Raquille.


*


“Sepertinya aku terlalu meremehkan dua orang itu… Baiklah, waktunya untuk serius sekarang,” gumam pemuda Elfman itu dalam hati.


**


Raquille melihat serangan bola energi itu dengan cepat datang ke arahnya tersebut seketika memejamkan kedua matanya sejenak.


Tiba-tiba pancaran sinar berwarna biru, terpancar dari kedua mata pemuda itu, seperti pada sebelumnya.


“Divine ice mode…”


Mendadak serangan bola energi yang meluncur dengan cepatnya itu langsung membeku dan tiba-tiba lenyap dalam sekejap.


Hal tersebut sontak membuat Dagon berserta dengan Tezia kembali dikejutkan oleh perbuatan pemuda itu.


Raquille kemudian berdiri dan nampak tidak kelelahan lagi. Dia kini terlihat dapat menghirup udara tanpa kesulitan.


“Bagaimana bisa?” Melihat hal tersebut, Tezia pun terheran-heran karena selama perempuan memancarkan kobaran api ungu dari tubuhnya, udara di disekitar mereka akan menipis.


Tidak mau memikirkan hal itu terlalu lama, Tezia seketika melancarkan serangan api ungunya ke arah Raquille.


Dengan santai Raquille berjalan perlahan-lahan mendekati dua orang itu, bersamaan serangan api ungu yang datang kepadanya langsung membeku dan lenyap dalam sekejap.


Selain pancaran sinar berwarna biru dari kedua mata pemuda itu, terlihat juga uap es keluar terus-menerus dari tubuhnya.


Dagon yang masih belum menyerah kembali melancarkan serangan bola energinya ke arah pemuda itu. Namun, dalam sekejap serangan itu kembali membeku dan lenyap sama seperti serangan-serangan yang sebelumnya dia dan saudara kembarnya lancarkan barusan.


“Iya… Sepertinya pria itu memang jauh lebih kuat dari kita,” kata Tezia, nampak merinding merasakan tekanan kekuatan dari Raquille.


Raquille yang telah berada dihadapan mereka tiba-tiba mengeluarkan tekanan kekuatannya, yang sontak membuat area permukaan di sekitar pemuda itu dalam sekejap membeku. Hal tersebut juga langsung membuat Dagon dan Tezia pun terhempas menahan tekanan kekuatan yang besar tersebut.


“Akh...!” Mereka berdua pun jatuh menggelinding dan terkapar.


Namun, dengan sigap Dagon maupun Tezia yang masih belum menyerah dengan keadaan mereka, kembali berdiri hendak melancarkan serangan secara bersamaan.


Tiba-tiba Raquille kini telah berada tepat di depan dua prajurit Gimoscha itu. Dagon dan Tezia yang baru saja menyadari hal tersebut sontak langsung terheran-heran. Mereka berdua nampak tidak bisa bergerak karena pancaran tekanan kekuatan Raquille yang sangat mengintimidasi mereka.


“Divine ice cursed...” Secara bergantian Raquille membisikkan sebuah kata kepada Dagon dan Tezia, yang membuat kedua mata mereka sejenak memancarkan sinar cahaya berwarna biru, sama seperti pemuda itu.


Setelah kata tersebut diucapkan oleh Raquille, kedua orang itu seketika kembali wujud awal mereka, menjadi terdiam memaku dengan ekspresi wajah yang datar.


“Haah... Akhirnya selesai juga,” ucap Raquille.


****


Di dalam alam bawah sadar kedua orang itu yang berada di sebuah gurun es dengan cuaca yang sangat ekstrim, nampak kedua tangan mereka telah terikat sebuah rantai es.


“Dimana ini?” Tanya Dagon, tampak heran tiba-tiba berada di tempat itu.


“Sebenarnya apa yang telah terjadi?” Begitu juga dengan Tezia yang kebingungan melihat dia tiba-tiba berada di tempat itu.


“Hmph... Sepertinya bocah Elf itu sudah menjebak kalian disini.” Tiba-tiba terdengar suara misterius yang bergumam.


“Siapa yang disana?!” Teriak Dagon, bertanya ke suara misterius itu, yang diduganya berada di balik kabut tebal.


Tak berapa lama, dibalik kabut yang tebal muncul sesosok bayangan hitam raksasa dengan sinar cahaya berwarna biru.


Kedua orang itu nampak terkejut melihat sosok misterius yang menyeramkan tersebut seketika muncul dihadapan mereka.


“Selamat datang di alam bawah sadarku... Kesadaran kalian sekarang telah terjebak di tempat ini,” ucap sosok misterius itu.


“Apa maksudmu alam bawah sadar, dan kesadaran kami?” Tanya Dagon, tidak paham dengan ucapan sosok misterius tersebut.


“Heh... Intinya kalian akan berada di tempat ini selama, jika pemuda Elf itu tidak pernah membebaskan kalian... Raga kalian yang sekarang tidak akan bisa melakukan apa-apa selain mendengarkan perintah dari bocah tersebut,” jawab sosok itu, menjelaskan hal tersebut pada Dagon dan Tezia.


“Apa...? Itu tidak mungkin.” Kedua orang itu pun tampak terkejut dan tidak percaya bahwa kini mereka akan terjebak di tempat itu dalam waktu yang lama.


“Hahaha... Selamat beradaptasi di tempat ini...” Sosok misterius tersebut perlahan-lahan mulai menghilang dari balik kabut.


“Hei...! Jangan pergi! Tunggu dulu...!” Teriak Dagon, memanggil sosok tersebut.


****


Di dunia nyata tubuh dari Dagon maupun Tezia terlihat berjalan mengikuti Raquille memasuki kota Ceabalte, menghampiri rekan-rekan dari kedua orang tersebut.


“Baiklah, sekarang berhentilah,” ucap Raquille.


Layaknya orang yang sedang termenung akan sesuatu, dua orang itu nampak mengikuti perintah dari pemuda tersebut untuk berhenti.


Para prajurit Gimoscha tampak bingung melihat dua orang itu mengikuti perintah dari Raquille, dan terdiam memaku dengan ekspresi wajah yang datar setelahnya.


“Kak Dagon... Kak Tezia... Apa yang terjadi dengan kalian?” Tanya pria bernama Mercurio.


Namun, baik Dagon maupun Tezia hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan dari pria tersebut.


*


“Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa mereka terdiam seperti itu layaknya orang yang sedang kehilangan pikirannya?” Gumam Mercurio dalam hati, bertanya-tanya melihat mereka tidak menjawab pertanyaannya.


**


“Hei, apa kalian merasakan bahwa aura pria rambut putih itu sangat mencekam?” ucap satu-satunya perempuan diantara para prajurit Gimoscha itu.


“Hmph... Gadis cantik, sepertinya wajahmu itu tidak asing,” kata Raquille, seperti mengenal perempuan Gimoscha itu.


“Oh, benar juga kau mirip sekali dengan perempuan yang kutemui belum lama ini... Apakah kau mengenal perempuan yang bernama Venere?” Tanya Raquille, setelah mengingat bahwa wajah Venere sangat mirip dengan perempuan yang berada di depannya itu.


“Venere... Bagaimana kau bisa mengenal saudara kembarku itu?” Tanya balik perempuan itu.


“Belum lama ini aku bertarung dengannya... Perempuan itu juga pernah merasakan teknik yang mirip seperti yang kuberikan pada dua orang ini,” jawab Raquille.


“Kalau dilihat-lihat sebenarnya, wajah kalian semua mirip dengan perempuan itu dan para saudaranya.” Raquille juga memperhatikan wajah dari Dagon, Tezia, serta tiga pria yang bersama dengan prajurit Gimoscha nampak memiliki wajah mirip-mirip dengan Venere dan dua saudaranya.


“Apa kalian semua bersaudara?” Tanya Raquille.


“Hei, hentikan ocehanmu itu... Apa yang sebenarnya kau lakukan pada dua saudaraku itu?” Perempuan itu sontak merasa geram setelah mendengar ocehan yang tidak dirasanya penting itu.


“Kalau kau penasaran coba serang aku sekarang.” Raquille pun sontak menantang perempuan itu untuk menyerangnya.


“Kakak, sepertinya pria yang didepan itu adalah World Venerate,” kata Mercurio.


“Entah World Venerate atau bukan. Kita tetap harus melawannya,” balas perempuan itu.


“Mercurio... Marte... Plutone... Apa kalian siap?” Lanjutnya, bertanya pada ketiga saudaranya.


“Aku selalu siap setiap saat,” jawab Mercurio.


Keempat prajurit Gimoscha itu seketika berbaris dan mengeluarkan senjata masing-masing. Mereka kemudian berkonsentrasi untuk mengaktifkan kekuatan pelepasan kedua mereka secara bersamaan.


Seketika pancaran energi proyeksi keluar dari senjata-senjata tersebut dan masuk ke dalam tubuh mereka.


Hal itu juga sontak membuat para prajurit Gimoscha yang lain pergi meninggalkan tempat tersebut.


“I defteri ekdosi... Tellus the life giver...”


“I defteri ekdosi... Utarid the fastest traveler morning star...”


“I defteri ekdosi... Prougete the two faced red giant...”


“I defteri ekdosi... Allein the loner in the dark...”


Setelah pancaran energi menyelimuti keempat prajurit Gimoscha itu, mereka kemudian berubah ke wujud pelepasan kedua mereka.


Perempuan itu terlihat berubah wujud menjadi manusia pohon. Pria bernama Mercurio berubah menjadi sosok bertanduk, serta memiliki cakar yang tajam dan ekor yang meruncing pada ujungnya. Pria bernama Marte kini dilapisi oleh zirah emas dengan sebuah jubah merah bertudung. Sedangkan pria yang satunya berubah menjadi sosok berkulit pucat memiliki pancaran sinar cahaya merah di kedua matanya dengan rambut panjang dan sepasang sayap berwarna hitam.