
Raquille pun langsung menganggukkan kepalanya, merespon kepada Hazelise bahwa hal yang ditanya oleh putri Ierua itu memang benar adanya.
“Jadi kau sudah bertunangan…” Ucap Hazelise, tidak percaya dengan hal tersebut.
Karena merasa sedikit kecewa Hazelise pun langsung pergi meninggalkan kedua Elfman itu dan menghampiri Aisling.
“Tuan putri… Kenapa dengan wajahmu?” Tanya Aisling, nampak penasaran melihat ekspresi kecewa dari perempuan itu.
“Ternyata pangeran itu sudah memiliki tunangan…” Jawab Hazelise.
“Ternyata kau kecawa karena hal itu… Lupakan saja dia, Raquille dan putri Hyphilia itu sudah bertunangan sejak usia mereka masih remaja,” ucap Aisling.
“Daripada melihat pangeran itu kurasa masih ada satu pria Elfman lagi yang mencuri perhatianku…”
“Eh… Memangnya siapa yang kau maksud?” Tanya Aisling.
“Itu… Pria Elfman yang memiliki postur tubuh dua meter yang berdiri disana… Tapi, leherku akan pegal jika harus menatap wajahnya.” Hazelise pun langsung menunjuk Cyffredinol yang sedang berdiri bersama dengan Barbiond tak jauh dari tempat itu.
Melihat Hazelise menunjuk Cyffredinol, dan mendengar bahwa putri itu tertarik kepada pria Elfman tersebut. Aisling pun langsung merasa kesal hingga menatap tajam Hazelise.
“Apakah mungkin juga adalah seorang pange… Kakak, kenapa wajahmu seperti itu?” Ketika menoleh ke Aisling untuk bertanya mengenai Cyffredinol, Hazelise pun langsung mengubah pertanyaannya saat melihat ekspresi kesal dari perempuan itu.
“Aku tidak akan membiarkanmu tertarik pada pria itu,” jawab Aisling.
“Eh… Memangnya kenapa?” Tanya Hazelise lagi sambil merasa terkejut dengan jawaban dari Aisling.
“Dia adalah mantan pasanganku, dan ayah dari Phyton,” jawab Aisling.
“Apa? Maksudmu Cyffredinol itu…”
Tanpa pikir panjang, Hazelise pun langsung berjalan menuju ke arah Cyffedinol setelah mendengar pertanyaan dari Aisling.
“Tuan putri kau mau apa? Hazelise tunggu dulu…” Aisling pun langsung mencoba menghentikan Hazelise yang mau menemui Cyffredinol, namun tidak bisa sempat menghentikan putri tersebut.
**
“Kenapa dia mau pergi kesana? Apa dia kali ini mau menggoda kakak Cyffredinol?” Ucap Raquille, nampak bertanya-tanya melihat Hazelise menuju ke arah Cyffredinol.
Raquille kemudian menoleh ke arah Aisling dan sontak melihat ekspresi kebingungan dari perempuan itu yang sebenarnya ingin mencoba menghentikan Hazelise, namun putri Ierua itu seudah terlanjur berjalan mendekat ke arah Cyffredinol.
**
“Eh… Kenapa putri itu mau menemui tuan Cyffredinol.” Disaat yang bersamaan Phyton yang sedang bersama dengan Venerate bernama Jack, nampak sedikit terkejut memperhatikan Hazelise mendekati Cyffredinol.
“Hei, tunggu dulu… Biarkan saja, itu adalah masalah para orang dewasa.” Jack pun langsung menahan Phyton ketika ingin hendak menghampiri Hazelise.
“Tapi, aku tidak mau bibiku menjadi ibu tiriku,” ucap Phyton.
“Dasar bodoh… Seberapa jauh kau berpikir… Tentu saja hal itu tidak mungkin terjadi.” Jack pun langsung terkejut ketika mendengar ucapan yang cukup berlebihan dari pemuda itu.
**
“Hei jangkung…” Terlihat Hazelise datang menemui Cyffredinol, dan langsung membuat pria Elfman itu sedikit terkejut.
“Eh… Kau adalah tuan putri Hazel…”
“Kau Cyffredinol kan…?”
“Iya… Ada yang bisa kubantu?” Jawab Cyffredinol sambil mengangguk, kemudian bertanya balik pada putri itu.
“Jadi kau yang sudah mencampakkan kakak Aisling, dasar pria berengsek,” ucap Hazelise.
Mendengar hal tersebut, Cyffredinol pun langsung menoleh ke arah Barbiond yang ada bersamanya, namun World Venerate Fuegonia itu langsung menoleh ke tempat lain karena tidak mau ikut campur dengan masalahnya.
“Maaf tuan putri, kurasa hal itu tidak sepenuhnya benar karena sebenarnya ada alasan lain mengapa aku harus berpisah dengan Aisling.”
“Tak usah beralasan lagi pria jangkung…”
Saking kesalnya Hazelise langsung mendorong Cyffredinol dengan kuat, namun hal tersebut malah membuatnya yang terdorong ke belakang karena tidak mampu menandingi kekuatan fisik dari Cyffredinol yang merupakan ras keturunan campuran.
Setelah mendengar ucapan dari Hazelise, Cyffredinol pun perlahan-lahan mulai merasa kesal, kemudian menatap ke arah Aisling. Tanpa pikir panjang, pri Elfman tersebut langsung berjalan ke arah Aisling sambil tetap menunjukkan ekspresi yang kesal.
“Hei, mau kemana kau?”
“Tunggu tuan putri… Lebih baik jangan dulu menganggu kakakku itu.” Ketika Hazelise kembali berdiri dan hendak mengejar Cyffredinol, tiba-tiba Raquille muncul, menahan tangan Hazelise.
**
Saat menghampiri Aisling, Cyffredinol pun langsung memegang pundak perempuan itu dengan sedikit kuat.
“Apa mungkin kau menceritakan hal yang berkebalikan dari hal yang sebenarnya?” Tanya Cyffredinol dengan ekspresi wajah serius.
Aisling pun langsung terkejut ketika Cyffredinol menanyakan hal tersebut, dan sontak hanya bisa terdiam.
“Jawab aku Aisling…” Cyffredinol pun memaksa Aisling untuk menjawab sambil lebih erat mencengkram pundak perempuan itu.
“Ukh… Maaf Cyffredinol, aku tidak menceritakan alasan mengapa kita berdua berpisah… Sebenarnya ayahku yang memutar balikan fakta itu hingga membuat kau layaknya disalahkan,” jawab Aisling.
“Jadi itu karena ayahmu…”
“Akh…” Mendengar hal tersebut, Cyffredinol pun mendorong Aisling dengan kuat hingga langsung terduduk di tanah.
Tanpa peduli, pria Elfman itu langsung pergi meninggalkan Aisling dengan masih merasa kesal.
“Aisling… Kau tidak apa-apa?” Tiba-tiba Raquille datang dan langsung membantu perempuan itu untuk berdiri, serta bertanya tentang keadaannya.
“Aku baik-baik saja… Jangan khawatir,” jawab Aisling.
“Kurasa kita tidak boleh mengganggunya terlebih dahulu,” ucap Raquille.
***
Beberapa saat kemudian, terlihat Cyffredinol duduk sendirian sambil memikirkan mengenai hal yang sebelumnya.
Tak berapa lama, Phyton pun datang menghampiri Cyffredinol yang nampak sendirian tersebut.
“Ternyata kau berada disini ayah…” Ucap Phyton.
“Apa aku bisa menemanimu?” Lanjut Phyton, bertanya kepada ayahnya tersebut.
“Tentu saja…”
Karena telah mendapatkan ijin dari Cyffredinol, Phyton pun langsung duduk disamping ayahnya tersebut.
“Phyton… Apa kau membenciku juga?” Tanya Cyffredinol.
“Sudah kubilang sebelumnya bahwa awalnya aku memang membencimu, namun setelah tahu dengan sifat dari kakekku yang manipulatif itu, aku pemikiranku kepadamu langsung berubah,” jawab Phyton.
“Terima kasih karena kau tidak membenciku,” ucap Cyffredinol.
“Ngomong-ngomong ayah… Aku ingin kau menceritakan bagaimana pertama kali kau bisa bertemu dengan ibu.”
“Bertemu dengan ibumu…”
“Iya, setidaknya aku ingin mengetahuinya, karena ibu tidak pernah menceritakan hal itu kepadaku.”
Cyffredinol pun berpikir sejenak untuk mengingat awal mula pertemuannya dengan Aisling di masa lalu.
“Aku bisa membantumu menceritakan hal itu pada Phyton juga…” Tiba-tiba Aisling datang menghampiri Cyffredinol dan Phyton, dan menawarkan untuk menceritakan hal yang diminta oleh putranya tersebut.
“Aisling…” Ucap Cyffredinol, terkejut melihat perempuan itu.
“Karena ada beberapa fakta yang harus Phyton ketahui juga setelah kita berdua berpisah,” ucap Aisling.
Aisling pun awalnya menceritakan ketika dirinya bersama dengan pasukan negeri Ierua datang menginvasi wilayah negeri Fuegonia yang berada di benua Aizolica, dan secara tidak sengaja bertemu dengan Cyffredinol yang juga pada saat itu memimpin pasukan negeri Blueland yang memiliki tujuan sama.