The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 277 - Para Venerate misterius



“Jadi kalian sudah mau pergi juga?” Tanya Aisling.


“Tentu saja... Karena masalah yang berada di tempat ini sudah selesai... Lagipula aku sudah merasa bosan sedikit lama berada di disini,” jawab Raquille.


“Baiklah Aisling... Phyton... Kalau begitu kami semua pergi dulu...” Lanjut pemuda Elfman itu.


“Ngomong-ngomong, kalian juga harus berkunjung ke negeri Blueland, karena ratu Lorainne pasti akan senang melihat kalian.” Sebelum pergi, Raquille menyempatkan diri untuk mengusulkan kepada Aisling dan Phyton untuk berkunjung ke negeri Blueland.


“Baik... Aku akan menyempatkan diri untuk berkunjung kesana,” respon Aisling.


“Blueland yah... Tentu saja kakak, aku juga ingin sekali pergi kesana... Mungkin lain kali aku akan menyempatkan diri berkunjung kesana,” sambung Phyton.


Mendengar hal tersebut Raquille pun merasa, dan lantas meresponnya dengan tersenyum. Setelah hal tersebut, pemuda Elfman itu kemudian terbang ke langit dengan kecepatan penuh bersama dengan yang lain menuju ke negeri Blueland.


**


“Dia sudah pergi... Aku bahkan tidak sempat mengucapkan selamat jalan kepadanya.” Tak jauh dari tempat Aisling dan Phyton berada, tampak putri negeri Ierua, Hazelise datang dengan tergesa-gesa untuk menyempatkan mengucapkan selamat jalan kepada Raquille, namun pemuda Elfman itu bersama dengan para Venerate Blueland telah berangkat terlebih dahulu.


Tak berapa lama setelah Hazelise merasa kecewa ketika terlambat mengucapkan selamat jalan kepada Raquille, terlihat Folvest, sang pangeran dari negeri Brizora datang menghampiri perempuan itu.


“Kau memang tidak tahu malu, mengincar pria yang sudah memiliki tunangan... Lebih baik kau melihat pria lain, setidaknya sepertiku yang masih lajang,” ucap Folvest.


“Bilang saja kalau sebenarnya hanya ingin menggodaku...” Hazelise pun langsung merasa kesal, dan lantas meninggalkan Folvest, setelah mendengar ucapan dari pria itu.


Akan tetapi, Folvest malah merespon ucapan Hazelise barusan dengan menunjukkan ekspresi tersenyum, karena pria itu sebenarnya mulai merasa tertarik kepada putri Ierua tersebut.


–2 Agustus 3029–


Seminggu kemudian, berpindah ke sebuah kepulauan bernama Valars, yang tidak lain merupakan wilayah dari negeri Blueland, serta berbatasan langsung dengan wilayah dari negeri Ereise dan negeri Einor.


Tampak di sebuah pegunungan es, Venerate ras Elfman, yang tidak lain merupakan Drannor sedang mengejar seorang Venerate misterius yang berpenampilan mengenakan sebuah jubah yang menutupi bagian kepalanya.


“Hei kawan… Katakan saja, kau pasti berasal dari negeri Ereise kan?” Tanya Drannor sambil mengejar Venerate misterius tersebut.


Venerate misterius itu tidak sekalipun menjawab pertanyaan dari Drannor, yang sebenarnya sudah kesekian kalinya ditanyai oleh pria Elfman itu ketika mengejar saling mengejar.


“Haah… Percuma saja menanyaimu. Aku anggap bahwa kau memang berasal dari negeri Ereise,” ucap Drannor, nampak bosan karena Venerate misterius itu tidak mau menjawabnya.


“Abwehrzauber… Holy eldritch shield…”


Drannor mengakses kekuatannya, menciptakan sebuah penghalang proyeksi disekitar Venerate misterius itu, namun dalam sepersekian detik, Venerate itu tiba-tiba berubah menjadi butiran-butiran cahaya, kemudian bergerak menembus penghalang proyeksi tersebut, dalam sekejap pula Venerate itu kembali ke wujud semula, lalu kembali berlari dari jangkauan Drannor.


“Ukh…” Tiba-tiba sebuah anak panah es menancap pada pundak kiri dari Venerate tersebut, yang langsung membuatnya jatuh tersungkur ke tanah.


Disaat yang bersamaan, Drannor muncul di hadapan Venerate tersebut sambil memegang sebuah busur panah yang terbentuk dari elemen es.


Pria Elfman itu melempar busur panah es tersebut ke atas, yang sontak memecah menjadi beberapa bagian, dan berubah bentuk menjadi sebuah pasak-pasak es.


“Maaf aku harus melakukan ini.” Drannor menariknya berdiri sambil memegang rambut perempuan itu.


Ketika melihat wajah perempuan itu, Drannor tiba-tiba merasa terkejut seperti mengetahui perempuan tersebut.


“Ukh…” Dengan ekspresi kebingungan dari Drannor, perempuan itu sontak memanfaatkannya dengan sekejap memunculkan sebuah pedang yang merupakan senjata suci miliknya, kemudian mengibaskannya, hingga sebuah kobaran api menyambar wajah Drannor.


Mengetahui bahwa serangan tersebut masih tidak akan mempan, perempuan itu dengan sigap kembali berlari untuk menghindari serangan balasan dari pria Elfman tersebut.


“Akh…” Akan tetapi, tanpa disadarinya, pasak-pasak es yang sebelumnya berada di atasnya sontak meluncur dan menancap ke bagian belakang perempuan tersebut, hingga membuatnya kembali jatuh tersungkur.


“Nona… Kau hebat juga memanfaatkan keadaan… Tapi maaf, sebenarnya aku bukan terpesona dengan kecantikanmu, hanya saja aku seperti pernah melihatmu sebelumnya,” ucap Drannor sambil berjalan menghampiri perempuan yang telah tersungkur dengan keadaan lemah, akibat pasak-pasak es telah menancap ke bagian belakangnya.


“Lebih dati itu… Lebih baik kau mengaku, apa mungkin kau adalah Venerate yang dikirim dari negeri Ereise untuk memata-matai wilayah kami?” Tanya Drannor, menarik rambut perempuan itu sambil memperlihatkan ekspresi serius.


Walau Drannor terlihat serius, namun perempuan itu tetap pada pendiriannya, tidak mau menjawab pertanyaan dari pria Elfman tersebut.


Tiba-tiba mata perempuan itu menatap ke arah samping, yang langsung membuat Drannor pun mengikuti arah tatapan dari perempuan tersebut.


“Ukh…” Dalam sekejap, seorang Venerate misterius yang lain muncul tepat dihadapan mereka, dan langsung melancarkan sebuah serangan proyeksi energi dari sebuah tongkat sihir yang dipegang olehnya.


Dengan sigap, Venerate misterius yang mengenakan sebuah jubah bertudung langsung membantu perempuan yang sebelumnya dikalahkan oleh Drannor.


Dengan menggunakan kekuatan sihir yang diproyeksikan melalui tongkat senjata suci miliknya, Venerate misterius itu pun mulai menyembuhkan luka yang diterima oleh perempuan sebelumnya akibat serangan dari Drannor.


Sementara Drannor yang menerima serangan tiba-tiba dari Venerate misterius itu, sejenak merasa pusing, namun hal tersebut tidak berlangsung lama, karena Drannor mampu mengatasinya, dan kemudian kembali berdiri untuk bersiap melawan Venerate yang baru muncul itu.


“Sepertinya ada satu lagi…” Ucap Drannor.


Pria Elfman itu dengan cepat meluncur ke depan kemudian mengakses kekuatannya, hingga memancarkan proyeksi kobaran api pada salah satu tangannya.


“Feuerzauber… Spiral spin fire…”


Drannor melancarkan sebuah serangan luncuran elemen api berbentuk spiral, yang membuat Venerate misterius tersebut langsung mengakses kekuatan sihirnya, menciptakan sebuah perisai proyeksi.


“Akh…” Akan tetapi, karena serangan dari Drannor nampak lebih kuat, Venerate misterius bersama dengan Venerate perempuan yang bersamanya sontak terhempas.


Drannor kembali meluncur ke depan, membuat Venerate misterius itu dengan sigap kembali berdiri, kemudian melancarkan serangan proyeksi energi dari tongkat sihir miliknya.


Akan tetapi, Drannor tiba-tiba hancur menjadi bongkahan es ketika serangan dari Venerate misterius itu menerjangnya.


Hal tersebut membuat kedua Venerate itu lantas terkejut, dan langsung meningkatkan fokus mereka mencari keberadaan dari Drannor.


“Percuma saja kalian mencari keberadaanku, karena aku sangat mahir menyamarkannya.” Dalam sekejap Drannor muncul tepat dihadapan mereka, sambil mencekik Venerate misterius itu.


Drannor dengan cepat menarik tudung Venerate misterius itu, namun pria Elfman itu tiba-tiba terkejut melihat wajah dari Venerate tersebut.