The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 307 - Makhluk astral dengan kekuatan besar



“Eh… Kakak…” Karena sedang memikirkan sesuatu di dalam pikirannya, gadis itu nampak terkejut ketika menyadari bahwa saudaranya telah berada di ruangan tersebut.


“Kenapa kau terlihat murung? Apa mungkin kau menyesal dengan rencana penyusupan sebelumnya?” Tanya saudara gadis tersebut.


“Tentu saja bukan itu… Sebelumnya aku sudah menceritakan bahwa aku dengan iseng masuk ke dalam pintu portal milik negeri itu… Dan akhirnya ketahuan oleh seseorang dari wilayah berbeda,” jawab Zchaira.


“Tapi, bukankah kau mengatakan rencana jika pasukan Pavonas datang menyerang kita… Memangnya apa lagi yang kau khawatirkan?” Tanya saudara Zchaira sekali lagi, karena masih melihat ekspresi murung dari saudaranya tersebut.


“Ini mengenai orang yang kutemui di kota bernama Kyacha itu…”


Saudara dari Zchaira pun lantas memasang ekspresi wajah penasaran, karena merasa bahwa orang yang merupakan Venerate Pavonas tersebut seperti dikenal oleh gadis tersebut.


“Rambut putih, dan memiliki hawa sedingin es… Pria yang sangat mirip dengan pria yang pernah kutemui lebih dari sepuluh tahun lalu, ketika aku masih seumuran Zaraqiah…” Ucap Zchaira


Pada saat bersamaan gadis tersebut mengingat sebuah memori masa lalunya ketika berusia sama seperti putrinya Zaraqiah, dimana di dalam sebuah hutan, Zchaira pernah bertemu dengan Raquille, dan memori masa lalu itu mirip-mirip dengan cerita yang dikatakan oleh Raquille, ketika pemuda Elfman itu pergi ke negeri Lightio mencari keberadaan dari makhluk suci yang berkemungkinan memiliki untuk mampu membangkitkan seseorang yang tiada.


“Maksudmu… Elfman yang pernah menyelamatkanmu itu, bukankah dia adalah Venerate Fuegonia?” Ucap saudara Zchaira, mengetahui siapa orang yang dimaksud oleh adiknya tersebut, dimana dia nampak bingung mendengar penjelasan Zchaira karena mengetahui bahwa orang tersebut yaitu Raquille menjadi pahlawan utama di perang benua Greune sebagai salah satu Venerate negeri Fuegonia saat itu.


“Itu yang membuatku bingung… Entah kenapa pria itu ada di negeri Pavonas… Jika dia yang pertama kali sadar pada penyerangan negeri Tengal, mungkin saja pasukan Pavonas yang menyerang salah satunya adalah Elfman itu,” ucap Zchaira.


“Jadi… Apa yang harus kau lakukan nantinya, jika memang benar bahwa Elfman itu menjadi salah satu Venerate Pavonas?” Tanya saudara gadis itu.


“Walaupun sangat berterima kasih karena telah menyelamatkanku waktu itu, namun sebagai Venerate Tengal kini, aku tetap harus menganggapnya sebagai musuh,” jawab Zchaira dengan tegas, hendak melawan Raquille, jika saja pemuda Elfman itu datang sebagai Venerate Pavonas untuk mengambil kembali wilayah yang telah direbut oleh pasukan Tengal.


Saudara gadis itu lantas tersenyum mendengar pernyataan tersebut, walaupun juga merasa kasihan bahwa Zchaira harus melawan pria yang pernah menyelamatkannya tersebut.


***


Diluar tempat Zchaira berada, tampak para prajurit penjaga pintu gerbang, membukakan gerbang tersebut untuk rombongan pasukan yang dipimpin oleh salah seorang Venerate berjabatan tinggi dari negeri Tengal, masuk ke dalam kompleks kediaman itu.


Setelah mereka semua masuk, beberapa prajurit yang berada di kediaman tersebut sontak datang menghampiri mereka.


“Salam tuan Khaigidai… Anda pasti datang sebagai bala bantuan untuk mengantisipasi penyerangan pasukan Pavonas kan…” Ucap salah satu prajurit.


“Mungkin seperti itu… Tapi tujuanku kemari adalah untuk melihat dewi merak, pujaan hatiku…” Ucap pria bernama Khagidai, yang merupakan pemimpin dari pasukan tersebut, dimana pria tersebut lantas menyatakan bahwa tujuannya datang lebih mementingkan datang menemui Zchaira.


“Dimana dewi merak sekarang?” Lanjut pria itu, bertanya mengenai keberadaan dari Zchaira.


“Dia berada di dalam… Biar aku antar menemuinya,” ucap salah satu prajurit, lantas mengajak pria itu pergi memasuki salah satu bangunan di dalam kediaman tersebut untuk menemui Zchaira.


***


Tak berapa lama kemudian, prajurit yang mengantar Venerate pemimpin yang barusan datang tersebut, masuk ke dalam ruangan dimana tempat Zchaira serta saudaranya berada.


“Maaf mengganggu tuan Rayvor… Nyonya Zchaira… Tuan Khaigidai ingin bertemu…” Ucap prajurit tersebut, memberitahukan kepada Zchaira serta saudaranya yang ternyata bernama Rayvor.


“Salam semuanya… Ternyata kalian masih terlihat sehat-sehat saja, termasuk dirimu dewi merak… Oh, aku juga lupa bahwa kau terlihat lebih cantik dari sebelumnya…” Pria bernama Khagidai lantas masuk ke dalam ruangan tersebut, dan menyapa, sambil sedikit menggoda Zchaira.


Zchaira sontak memasang ekspresi kesal karena merasa risih dengan godaan pria tersebut, dimana nampaknya Zchaira sendiri memang merasa tidak senang dengan kedatangan pria bernama Khagidai itu.


Sementara Rayvor nampak menunjukkan ekspresi datar sambil megantisipasi kemungkinan yang akan dilakukan oleh pria tersebut.


“Lama tidak berjumpa dewi merak,” ucap Khaigidai, lantas perlahan-lahan berjalan hendak mendekati Zchaira.


Disaat iutlah Rayvor langsung menahan Khagidai yang hendak mendekati saudaranya tersebut.


“Ada apa tuan Rayvor? Sepertinya kau terlalu protektif pada adikmu… Memangnya aku tidak boleh merindukan nona Zchaira…” Ucap Khagidai, dengan ekspresi wajah tersenyum, namun nampak merasa risih ketika dirinya ditahan oleh Rayvor.


“Tentu saja aku harus seperti itu… Apalagi untuk pria tua sepertimu…” Balas Rayvor.


“Sepertinya kau harus menjaga ucapanmu, karena diantara kita memiliki perbedaan yang cukup jauh,” ucap Khaigidai, enggan untuk berhenti berargumen dengan saudara dari Zchaira.


“Tenang saja… Kemampuanku bisa menutup perbedaan kekuatan itu.” Rayvor tetap saja tidak mau menyerah walaupun mengetahui bahwa pria yang berada di depannya tersebut merupakan seorang World Venerate, yang memiliki satu tingkatan lebih tinggi dibandingkan dengannya.


“Ibu…” Karena suara perdebatan Rayvor serta Khaigidai cukup lantang, membuat Zaraqiah yang sedang tertidur lantas terganggu, hingga menangis memanggil ibunya.


“Zaraqiah… Tidak apa-apa… Ayo tidur lagi…” Melihat hal tersebut, Zchaira pun sontak menenangkan putrinya untuk bisa kembali tertidur.


**


Tak berapa lama kemudian, Zaraqiah pun kembali tertidur karena bantuan dari kekuatan sihir milik Zchaira yang mampu membuat anak perempuan itu kembali tenang akibat merasa terganggu sebelumnya.


“Jadi kau masih memelihara djinn itu dewi merak…”


“Apa kau bilang?” Zchaira sontak memasang ekspresi kesal ketika mendengar ucapan dari Khaigidai yang menyebut putrinya sebagai djinn, dimana merupakan sebuah istilah bagi makhluk astral berkekuatan besar yang sering disebut oleh salah satu bangsa di benua Antikara.


Terlebih dahulu membaringkan Zaraqiah di kursi panjang tempatnya duduk, kemudian berdiri mendekati Khaigidai.


“Katakan sekali apa yang berusan kau bilang mengenai putriku?” Tanya Zchaira dengan tatapan tajam, enggan menerima apa yang diucapkan oleh pria itu pada Zaraqiah putrinya.


“Bagaimana bisa kau menganggap djinn yang bisa membahayakanmu juga sebagai putrimu… Seharunya kau sudah melenyapkan anak itu bukan malah mengadopsinya seperti anak sendiri…”


“Ekh…”


Tanpa pikir panjang, Zchaira langsung mencengkram dahi Khaigidai, hingga membuat pria itu tiba-tiba saja melihat sebuah penglihatan menyeramkan, yang ternyata merupakan teknik ilusi dari kemampuan sihir milik gadis tersebut.


“Ukh…” Khagidai tiba-tiba jatuh terduduk dengan nafas terengah-engah setelah menerima teknik ilusi dari Zchaira.