
“Ada apa Yang mulia menghubungi kami di tempat ini?” Tanya sang tetua.
“Apakah kalian tidak menyerang para Venerate Blueland yang datang ke akademi sihir?” Tanya balik sang ratu.
“Eh… Itu…” Sang tetua tersebut tampak bingung harus menjawab apa, dikarenakan perempuan yang disebut sebagai perdana menteri sebelumnya telah menghalangi Raquille dan para Venerate Blueland hingga terjadi sedikit pertarungan.
“Kalian pasti sudah menyerang mereka kan…” Ucap sang ratu, nampak mengetahui bahwa Raquille dan yang lain telah diserang dengan mendengar nada suara dari respon tetua itu.
“Maafkan kami Yang mulia… Sebenarnya nyonya Magelline sebelumnya tiba-tiba merasakan tekanan kekuatan yang besar mendekati akademi. Dia dengan sigap pergi ke gerbang utama untuk menanti para Venerate yang datang tersebut…”
“Sebelumnya dia menyuruh kami untuk menunggu, sembari dirinya menyerang para Venerate yang datang, tapi setelah berapa lama kami pun tidak mau berdiam diri dan langsung menghampiri mereka…”
“Setelah kami datang, nyonya Magelline ternyata sudah terkapar tak sadarkan diri akibat dikalahkan oleh mereka,” ucap sang tetua, menjelaskannya kepada sang ratu Brizora tersebut.
“Hebat juga pangeran Blueland itu… Pantas saja dia bisa menjadi pahlawan utama pada perang Greune…” Respon sang ratu.
“Tenang saja, mereka melakukan itu karena sedang diserang. Jika tidak mereka tidak berbuat apa-apa… Lagipula aku sudah mengijinkan mereka untuk mengumpulkan ketiga belas harta karun termasuk yang berada di dalam akademi sihir… Para Venerate kita juga sedang berusaha mengumpulkan sebagian harta yang lain,” lanjut sang ratu, menjelaskan kepada tetua itu.
“Tiga belas harta karun yah… Jika itu memang penting, dan telah diketahui oleh beberapa Venerate kita, maka aku juga tidak akan menghalangi mereka.” Sang tetua pun langsung paham setelah mendengar penjelasan dari ratu Brizora.
Tetua itu kemudian menutup sambungan komunikasinya bersama dengan sang ratu Brizora, kemudian mendekati Raquille dan para Venerate Blueland yang lain.
“Pertama-tama aku ingin meminta maaf karena sudah salah paham dengan kalian… Terutama anda pangeran Blueland,” ucap sang tetua sambil membungkukan badannya.
“Tak perlu terlalu formal… Panggil saja aku Raquille... Ngomong-ngomong terima kasih karena sudah mengerti maksud kami datang ke tempat ini,” balas Raquille.
“Kalau begitu akan kupanggil tuan Raquille saja…”
“Mengenai salah satu harta karun yang sering muncul di dalam akademi sihir ini, aku rasa kita harus masuk terlebih dahulu,” ucap sang tetua sambil mengajak Raquille dan yang lain masuk ke dalam akademi sihir.
“Akh…” disaat mendekati gerbang masuk akademi tersebut, Raquille beserta para Venerate Blueland seketika menabrak sesuatu yang tak kasat mata, layaknya di sekitar akademi tersebut telah terpasang sebuah penghalang.
“Maafkan aku…” Ucap tetua itu sambil tiba-tiba menyalurkan energi sihirnya pada Raquille dan yang lain.
Hal tersebut lantas membuat Raquille dan para Venerate Blueland yang lain pun bisa masuk ke dalam akademi sihir tersebut, walaupun heran karena penghalang tersebut bisa mereka rasakan masih tetap aktif.
***
Di dalam akademi sihir, sambil berjalan dan berkeliling di dalamnya, tetua tersebut menjelaskan kepada Raquille dan yang lain mengenai salah satu harta karun yang berada di dalam tempat itu.
“Salah satu harta karun di tempat ini adalah sebuah jubah yang mampu menyembuhkan berbagai macam luka…”
“Walaupun begitu, kemampuan dari harta karun tersebut lebih luas dari kemampuan yang diketahui oleh para Venerate lain,” ucap sang tetua, menjelaskannya pada Raquille dan yang lain.
“Benar sekali… Kekuatan dari jubah itu adalah sebuah sihir pertahanan. Bahkan seorang World Venerate sekalipun sulit untuk bisa menembus atau menjebol sihir pertahanan jubah itu…” Jawab sang tetua.
Tetua itu kemudian menjelaskan kepada Raquille dan yang lain bahwa mereka menggunakan kekuatan dari benda tersebut untuk melindungi akademi sihir ini dari sebuah ancaman serta bahaya, selain itu kekuatan pertahanan dari jubah tersebut dimanfaatkan oleh mereka untuk menjaga jubah itu sendiri agar pasukan Ierua atau Venerate yang lain tidak dapat mengambilnya.
“Walaupun sebenarnya, jubah itu telah diambil oleh pasukan Ierua beberapa kali dan akhirnya kembali muncul lagi ke dalam akademi sihir ini,” ucap sang tetua.
**
Raquille dan para Venerate Blueland bersama dengan sang tetua terus berjalan hingga akhirnya masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup luas, yang berada di tengah-tengah akademi sihir tersebut.
Pada permukaan dari ruangan tersebut, tampak sebuah diagram sihir yang menyala-nyala, dimana tepat di tengahnya, terlihat jubah yang menjadi salah satu harta karun yang dicari oleh mereka tergantung pada sebuah tiang.
“Menurut cerita jaman dahulu, ketika kekuatan dari ketiga belas harta karun telah disatukan, dan berhasil mengakses Valenhall, maka semua harta karun tersebut tidak akan kembali ke tempatnya muncul pertama kali…”
“Jika kalian berhasil, aku harap kalian bisa mengembalikan jubah ini kemari lagi ketika hal tersebut selesai nantinya, karena jubah ini akan sangat dibutuhkan untuk perlindungan tempat ini,” ucap sang tetua, menjelaskan sambil bermohon kepada Raquille dan para Venerate Blueland.
“Tenang saja tuan, kami pasti akan mengembalikan jubah ini kembali ke tempat ini lagi,” balas Raquille, menyetujui permohonan dari tetua tersebut.
Setelah Raquille menyetujuinya tetua itu kemudian berkonsentrasi melepaskan sebuah mantra yang dapat mengakses kekuatan dari jubah tersebut.
Hingga tak berapa lama, sinar yang terang dari diagram sihir yang besar tepat di bawah mereka semua seketika mulai memudar, yang menandakan bahwa mantra yang mengikat jubah tersebut telah dilepaskan, dan hal itu pun membuat pengahalang tak kasat mata yang melapisi sekeliling akademi sihir pun dalam sekejap telah lenyap.
Setelah melepaskan mantra tersebut, tetua itu kemudian mengambil jubah tersebut dan memberikannya kepada Raquille.
Raquille mengangkat jubah tersebut sambil memperhatikannya, dia kemudian menatap satu per satu rekan yang datang bersamanya, hingga membuat mereka sedikit merasa heran.
“Arn… Ambil ini dan pakailah untuk sementara.” Raquille tiba-tiba melempar juga tersebut kepada Arn, yang langsung ditangkap pria itu.
“Kenapa harus aku?” Tanya Arn, kebingungan.
“Setidaknya jubah itu memiliki sihir pertahanan yang kuat… Kau bisa menjadi tameng kita untuk melawan para Venerate yang lebih kuat nantinya…” Jawab Raquille.
Setelah mendengar kan jawaban dari pemuda Elfman itu, Arn pun langsung mengenakannya.
“Tapi sebelum itu, mari kita uji kekuatan dari jubah yang kau gunakan.” Raquille tiba-tiba kembali memunculkan palu senjata sucinya, dan dengan cepat mengaktifkan kekuatan palu itu hingga memancarkan proyeksi elemen petir.
“Percaya saja jika jubah itu memiliki sihir pertahanan yang kuat.”
“Hei, tunggu dulu…”
“Uakh…” Tanpa pikir panjang, Raquille langsung melancarkan serangan proyeksi elemen petir dari palunya hingga membuat Arn pun seketika terhempas menabrak dinding ruangan tersebut.