
“Benar sekali tuan, sepertinya anda sudah mengetahuinya,” kata Raquille.
“Tapi, pertama-tama aku mau mengetahui apa tujuan kalian ingin mendapatkan batu kristal itu?” Tanya Argis.
“Begini tuan…”
Saat Raquille baru akan mengatakan tujuannya, tiba-tiba Derts datang.
“Kalian… Sudah kubilang pada kalian untuk segera pergi dari kota, kenapa kalian malah datang kemari?” Terlihat Derts dengan raut serius menghampiri ketiga orang tersebut.
“Derts, tunggu dulu…” Kata Argis.
Tiba-tiba saja langkah Derts terhenti, setelah Raquille serta dua rekannya menatap Derts dan nampak mengeluarkan tekanan kekuatan mereka.
*
“Apa-apaan ini?” Kata Derts dalam hati, nampak ketakutan saat merasakan tekanan kekuatan dari tiga orang itu secara bersamaan.
“Orang-orang ini sepertinya bukanlah Venerate yang setarah denganku,” lanjutnya, masih bergumam di dalam hati.
**
Nampak Morten dan Demesa menatap tajam Derts. Namun, berbeda Raqulle, dia terlihat menatap Derts dengan tersenyum sambil mengeluarkan tekanan kekuatannya.
*
“Kurasa Derts ketakutan saat merasakan tingkatan kekuatan mereka. Ketiga orang ini sepertinya merupakan Venerate yang setarah denganku,” kata Argis dalam hati, yang juga dapat merasakan tekanan kekuatan tersebut, namun masih mengeluarkan ekspresi yang santai.
**
Karena merasakan tekanan kekuatan dari tiga orang tersebut, Derts seketika langsung meninggalkan ruangan tersebut.
“Maafkan keponakanku itu dan sepertinya baru kali ini dia merasakan tekanan kekuatan dari Venerate,” kata pria bernama Argis tersebut.
“Baiklah, kurasa kalian belum mengatakan tujuan kalian ingin mendapatkan kristal berpijar,” lanjutnya, menanyakan kembali tujuan dari Raquille dan kedua orang tersebut.
“Oh iya, begini tuan… Anda tahu kan bahwa para ras campuran sering diculik oleh para manusia yang berada di benua seberang?” Kata Raquille.
Argis sontak langsung menganggukkan kepalanya karena mengetahui fakta tersebut.
“Baru-baru ini para manusia tersebut kembali menculik kaum-kaum kami. Setelah anggota kami menyusup kesana, ternyata para ras campuran dijadikan pekerja paksa untuk membangun sebuah bangunan yang berada di beberapa tempat, di benua tersebut,” kata Raquille, menjelaskan hal tersebut pada Argis.
“Kami memerlukan kristal tersebut untuk dijadikan sebuah senjata, untuk menghancurkan bangunan-bangunan tersebut dalam sekali serang. Kami berniat untuk mengancam mereka saja dengan kristal tersebut, seolah-olah mereka berpikir bahwa kami memiliki sebuah senjata penghancur, hingga membuat mereka menjadi ragu untuk menyerang balik kami,” lanjutnya.
“Tapi, darimana kau bisa mendapatkan informasi bahwa kristal tersebut berada di daerah ini?” Tanya Argis.
“Tentu saja aku mengetahuinya dari para tetua negeri Blueland, dimana pada masa lalu kalian mengalahkan bangsa Elfman dengan menggunakan kristal tersebut sebagai senjata kalian. Bukankah begitu?” Jawab Raquille.
Mendengar pernyataan dari pemuda tersebut, Argis sontak memikirkan sesuatu.
“Hmph… Sejak negeri ini berdiri, clan kami berjanji untuk menjaga kristal tersebut dengan nyawa kami sendiri agar benda tersebut tidak jatuh di tangan yang salah.”
“Tapi kami berjanji tidak akan membocorkan hal ini kepada yang lain,” kata pemuda itu, meyakinkan ketua clan tersebut.
“Bagaimana aku bisa mempercayai perkataanmu?” Tanya Argis sekali dengan ekspresi serius.
“Tuan Flaus, sekali ini saja. Setidaknya kami memerlukan itu hanya menyelamatkan kaum kami dari perbudakan.” Nampak Raquille terlihat memohon pada ketua clan Flaus tersebut.
Melihat pemuda tersebut nampak bermohon kepadanya, Argis sontak memikirkan sesuatu.
*
“Kurasa pemuda ini tidaklah berbohong,” Gumamnya dalam hati, merasa bahwa Raquille mengatakan yang sebenarnya.
**
“Sekitar empat ratus mil arah barat daya di seberang teluk sana ada sebuah pegunungan, di lereng pegunungan tersebut terdapat sebuah tambang yang sudah terbengkalai. Kurasa kalian bisa mendapatkan kristal berpijar disana,” kata Argis.
“Benarkah kami bisa mendapatkannya?” Tanya Raquille, nampak terkejut dengan pernyataan dari ketua clan Flaus tersebut.
“Iya… Tetapi ingat, hanya sekali ini kalian mendapatkan ijinku mendapatkan benda itu. Jangan pernah kembali lagi ke tempat ini setelah kalian mendapatkan kristal tersebut. Dan berjanjilah bahwa kalian tidak akan memberitahukan pada yang lain tentang hal ini,” jawab Argis, yang kemudian memperingati mereka.
“Baik… Sesuai permintaan anda… Kami sangat berterima kasih atas pengertian anda,” kata Raquille.
Nampak Argis pun terlihat menganggukkan kepalanya, merespon ucapan terima kasih dari Raquille.
“Kalau begitu, kami pamit dulu. Kami harus segera mendapatkannya lalu kembali ke markas kami secepatnya,” kata Raquille.
Setelah berpamitan kepada ketua clan Flaus itu, mereka bertiga langsung meninggalkan ruangan tersebut.
**
Di luar ruangan terlihat Derts sedang memainkan sebuah kapak kecil di tangannya. Terlihat Bohrneer, adiknya berada bersama dengannya di tempat itu.
“Kakak… Lihat, itu mereka…” Kata Bohrneer melihat ketiga orang tersebut keluar dari ruang pertemuan.
“Iya… Aku juga melihatnya,” balas Derts.
Setelah Raquille bersama dengan kedua rekannya keluar dari ruang pertemuan tersebut. Nampak Bohrneer langsung mengambil kapak yang dipegang oleh Derts dan berlari mendekati mereka bertiga.
“Hiyaah…!” Teriak Bohrneer melompat lalu mengayunkan kapaknya ke arah mereka.
Melihat remaja tersebut akan menyerang mereka, dengan cepat kedua orang di samping Raquille langsung melompat ke samping menghindarinya. Sedangkan Raquille yang berada di tengah, nampak langsung melompat dengan memutar tubuhnya melewati Bohrneer.
Terlihat Bohrneer nampak terkejut melihat ketiga orang tersebut dengan mudahnya menghindari serangannya.
“Waah… Gerakanmu hebat sekali tuan muda. Kau pasti akan menjadi orang yang kuat di kemudian hari,” kata Raquille, memuji Bohrneer dengan mengusap-usap kepalanya.
“Lepaskan…” Karena merasa malu kepalanya diusap, Bohrneer pun sontak melepaskan tangan pemuda itu dari kepalanya.
“Siapa kalian ini? Hebat juga kemampuan kalian menghindari seranganku?” Tanya Bohrneer dengan ekspresi sok keren.
“Kami adalah para pahlawan yang melindungi benua ini dari ancaman kejahatan,” jawab Raquille.
“Kalau begitu kami pergi dulu, tuan muda,” lanjutnya.
“Hei… Mau kemana kalian?” Tanya Bohrneer dengan nada tinggi.
“Kami mau memberantas kejahatan.”
Sontak seketika Raquille dan kedua rekannya tiba-tiba langsung terbang dengan kecepatan tinggi.
“Kakak… Kenapa mereka bisa terbang?” Nampak remaja itu terkejut melihat hal tersebut.
Terlihat juga Derts terkejut setelah melihat apa yang baru dia saksikan sebelumnya.
***
Beberapa saat kemudian, setelah Raquille dan kedua rekannya pergi untuk mencari kristal berpijar, terlihat sebuah kapal di sebuah teluk yang mengarah ke kota Hargocane.
Terlihat seorang prajurit bernama Vahal Izumir, yang merupakan salah satu prajurit Pavonas berada di kapal tersebut. Hal tersebut mengartikan bahwa kapal tersebut merupakan kapal dari para prajurit negeri Pavonas.
Tak berselang lama, seorang prajurit lain datang mendekatinya. Prajurit tersebut merupakan Viecion, yang merupakan salah satu prajurit Land Venerate dari negeri Pavonas.
“Tuan Vahal… Berapa lama lagi kita sampai di kota itu?” Tanya prajurit bernama Viecion tersebut.
“Oh… Viecion…” Nampak pria bernama Vahal itu, baru saja menyadari bahwa prajurit tersebut menghampirinya.
“Kita sudah dekat… Kau lihat tanjung itu… Kota yang kita tuju berada di balik tanjung tersebut,” jawab Vahal dengan sebuah tanjung yang berada di depan mereka.
**
“Itu dia, kota Hargocane… Pemukiman pertama bangsa Fuegonia, saat masih berada dalam kekuasaan negeri Blueland,” kata Vahal pada Viecion, menunjuk sebuah kota yang tepat berada di depan mereka.
“Kalau begitu, mulai sekarang kau harus bersikap natural agar orang-orang yang berada di kota tersebut tidak curiga dengan tujuan kita datang kesana,” lanjutnya.
***
Di kediaman clan Flaus terlihat Heinz remaja berlari dengan terbirit-birit masuk ke sebuah ruangan. Setelah masuk ke dalam ruangan tersebut, nampak Argis berada di dalam sana sedang duduk.
“Heinz… Ada apa?” Tanya Argis pada remaja itu.
“Ayah… Coba lihat, ada sebuah kapal yang besar datang di kota kita,” jawab Heinz pada ayahnya.
“Kapal katamu…?” Mendengar perkataan anaknya tersebut, Argis sontak berdiri dari kursinya lalu berjalan ke luar balkon, yang menghadap langsung ke kota Hargocane.
Dia nampak terkejut melihat kapal tersebut kini telah bersandar pada pelabuhan kota Hargocane.
“Ayah, apa itu tamu kita?” Tanya Heinz.
“Tapi, sepertinya ayah tidak mengundang mereka?” Jawab Argis.
Pria itu kemudian masuk ke dalam ruangan dan mengambil sebuah teropong lalu kembali lagi ke balkon untuk lebih kapal tersebut dari dekat.
Dia nampak memastikan asal kapal tersebut dengan melihat sebuah bendera berwarna merah hijau dengan memiliki sebuah motif merah di sisi kirinya.
*
“Itu negeri Pavonas… Setelah ras campuran… Kenapa sekarang malah negeri ditaktor itu yang datang kemari?” Kata Argis dalam hati, terlihat khawatir dengan kedatangan dari kapal Pavonas itu.
**
“Ayo masuk Heinz, nanti bibi Gwell yang akan menemui tamu-tamu kita itu. Pasti dia sedang berada di kota sekarang,” kata Argis, mengajak Heinz untuk masuk kembali ke dalam ruangan.
***
Setelah kapal Pavonas itu bersandar di pelabuhan, terlihat Vahal bersama dengan Viecion, beserta para prajurit bawahan mereka turun dari kapal itu. Nampak ibu dari Bohrneer sudah berada di tempat tersebut, saat para prajurit Pavonas itu turun dari kapal mereka.
“Salam nyonya… Sungguh membuat anda repot saja dengan langsung menyambut kami,” kata Vahal pada wanita tersebut.
“Tak masalah… Kami juga jarang kedatangan tamu di kota ini.”
“Oh, benarkah…? Kalau begitu, perkenalkan, namaku Vahal Izumir, aku adalah salah satu prajurit Continent Venerate dari negeri Pavonas.”
“Pavonas yah…? Sebenarnya aku sudah mengiranya saat melihat bendera kalian,” kata wanita tersebut, merespon perkataan Vahal.
“Perkenalkan juga, namaku Gweel Flaus, aku yang bertanggung jawab memimpin kota ini, serta aku juga merupakan salah satu dari petinggi clan Flaus, yang melindungi daerah ini,” lanjut wanita itu berkata dengan memperkenalkan dirinya.
“Sungguh kehormatan bisa bertemu dengan anda,” respon Vahal.
Wanita bernama Gwell tersebut sontak membalas respon dari Vahal dengan tersenyum.
“Nyonya… Sebenarnya kedatangan kami ke tempat ini hanya untuk mampir sejenak saja. Karena kami akan melanjutkan perjalanan kami ke ibukota Fuegonia dengan melalui jalur darat,” kata Vahal, menjelaskan tujuannya kepada Gwell.
Mendengar pernyataan dari pria tersebut, Gwell sontak merasa curiga.
*
“Ke Wattao dengan melalui rute darat katanya…? Ini agak mencurigakan,” kata wanita itu dalam hati.
**
“Jika tujuan kalian pergi ke ibukota kami, bukankah seharusnya kalian harus menempuh perjalanan ke arah barat dari negeri kalian? Dan juga, kurasa kalian akan mengalami kesulitan kalau harus menempuh perjalanan dengan jalur darat. Karena aku tidak yakin jika kalian tidak akan tersesat menuju ke kota Wattao.”
Nampak Vahal terlihat terkejut setelah mendengar pertanyaan dari wanita tersebut.
“Begini nyonya… Sebenarnya memang benar jika kami menempuh perjalanan ke arah barat dari negeri kami, pasti tidak akan memakan waktu yang lama. Tapi, akhir-akhir ini negeri Pavonas dengan negeri-negeri di benua Greune sedang bersitegang, sehingga mereka menutup jalur darat yang harus kami lewati.”
“Dan juga untuk perjalanan darat ke ibukota Fuegonia yah…? Anda tenang saja, wilayah negeri kami itu membentang dari benua Greune sampai ke ujung timur benua Antikara. Jadi untuk perjalan darat yang panjang, itu sudah tidak masalah bagi kami,” kata Vahal menjelaskan hal tersebut.
Tampak Gwell tersenyum dengan menganggukkan kepalanya karena merasa jelas dengan penjelasan dari pria tersebut.
“Disamping itu… Memangnya ada keperluan apa kalian ingin datang ke kota Wattao?” Namun, wanita itu kembali bertanya untuk memastikan bahwa memang tidak ada yang mencurigakan dari kedatangan para prajurit Pavonas tersebut ke kotanya.
*
“Heh... Wanita ini terlalu banyak bertanya. Sepertinya sulit untuk membuatnya dikelabui,” kata Vahal dalam hati.
**
“Oh benar juga, aku hampir lupa mengatakan tujuan kami ke ibukota Fuegonia,” kata Vahal dengan memasang senyuman palsu di wajahnya.
“Seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwa negeri kami telah bersitegang dengan dengan negeri-negeri di benua Greune. Jadi, kami ingin melakukan kerjasama bilateral dengan negeri Fuegonia dengan tujuan mendapatkan aliansi dari kalian…”
“Kami takut jika nantinya kami tidak bisa mengimbangi kekuatan militer dari negeri-negeri yang beraliansi tersebut.”
“Jadi begitu yah…? Maaf karena sebelumnya aku sempat mencurigai kalian,” kata Gwell, terlihat sudah mempercayai perkataan pria itu.
“Tidak masalah… Wajar saja anda curiga karena tiba-tiba datang tanpa sebuah undangan,” respon Vahal.
“Kurasa kalian butuh tempat tinggal sebelum melanjutkan perjalanan… Kalian bisa menggunakan salah satu kediaman yang berada di kota ini.”
“Terima kasih, anda sangat pengertian sekali,” kata Vahal.
Kemudian setelah mengatakan hal tersebut, pria itu nampak memberikan sebuah kode pada prajurit yang masih berada di atas kapal. Tak berapa lama kemudian, beberapa kendaraan nampak turun dari kapal mereka.
“Kalau begitu, biar kuantarkan kalian semua,” kata Gwell.
Lalu sebuah kendaraan datang mendekatinya. Wanita itu pun kemudian terlihat menaiki kendaraan tersebut. Setelah melihat wanita tersebut naik ke kendaraanya, Vahal dan para prajurit kemudian menaiki kendaraan mereka juga, lalu mengikuti kendaraan yang dinaiki Gwell yang berada di depan.
***
Berpindah pada Raquille bersama dengan kedua rekannya. Nampak mereka bertiga masih terbang di udara menuju ke tempat yang dikatakan oleh Argis.
“Raquille… Kurasa itu pegunungannya,” kata Morten, melihat sebuah pegunungan di depan mereka.
Dengan kemampuan penglihatan jarak jauhnya, Raquille tampak memperhatikan sekitaran pegunungan tersebut.
“Disana ada sebuah gua…” Tak berapa lama, dia melihat sebuah gua yang berada di lereng pegunungan tersebut, yang jaraknya kurang lima puluh mil.
Raquille kemudian terbang lebih di depan untuk menunjukkan arah gua tersebut pada kedua rekannya.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di mulut gua tersebut, terlihat sebuah rel kereta yang sebelumnya digunakan untuk mengantarkan hasil tambang dari dalam gua tersebut.
“Kurasa kita butuh penerangan untuk memasuki gua ini,” kata Demesa.
Mendengar hal tersebut, Raquille kemudian langsung mengeluarkan energi sihirnya untuk digunakan sebagai penerangan memasuki gua tersebut.
“Ice shaping…” Dia kemudian menciptakan sebuah kereta dengan elemen esnya untuk mereka naiki memasuki gua itu.
“Ayo naik,” kata Raquille, menyuruh kedua orang tersebut untuk naik kereta es yang diciptakannya tersebut.
“Ternyata sigap juga yah…” Kata Morten, memuji Raquille, sambil menaiki kereta es tersebut.
Raquille lalu menjalankan kereta es dan masuk ke dalam gua.