
“Eh… Mana yang lain?” Tiba-tiba Raquille tersadar telah berada di daerah pegunungan es seorang diri.
“Hei…! Apakah ada seseorang ditempat ini?!” Teriak pemuda itu.
“Hmph… Pasti semua peserta telah terpencar sekarang. Aku penasaran siapa yang harus kulawan sekarang.”
Sambil berjalan menuruni lembah yang cukup curam, Raquille memperhatikan keadaan sekitarnya. Mencoba mencari keberadaan rekan-rekan setimnya.
“Goblin flame style… Paralysis spark…” Tiba-tiba Stix Weagsai, salah satu anggota tim Asimir muncul dari belakang Raquille dan langsung melancarkan sebuah serangan proyeksi elemen apinya.
Dengan refleksnya Raquille sontak melompat memutar tubuhnya untuk menghindari serangan tersebut.
Namun, dengan kecepatan gerakannya, Goblinman itu bergerak mendekati Raquille dan kembali melancarkan serangan menggunakan cakar besinya, hingga membuat Raquille terhempas jatuh dari lembah tersebut.
“Goblin flame style… Rolling hurricanes…” Melihat Raquille yang terjatuh dari lembah, Stix kemudian dengan sigap langsung melancarkan serangan elemen apinya kembali.
Dengan sekejap, serangan elemen api itu menghantam Raquille hingga membuatnya terhempas sampai tersungkur di tanah.
“Haah… Sial… Kalau saja bukan karena turnamen ini, pasti aku tidak akan mendapatkan hal yang memalukan seperti ini,” kata Raquille dengan mengumpat, setelah menerima serangan dari Stix.
Raquille pun terlihat kembali berdiri dan membersihkan pakaiannya yang kotor. Dia kemudian melihat Goblinman tersebut yang masih berada di atas lembah.
“Hei Goblinman… Coba serang aku lagi.” Dengan mengacungkan kapaknya, pemuda itu pun pun menantang Goblinman tersebut untuk menyerangnya lagi.
“Hehe… Kau yang memintanya.”
Tanpa pikir panjang, dengan sekejap Stix bergerak mendekati Raquille dan melancarkan serangan dengan menggunakan cakar besinya.
Namun, dengan sekejap juga Raquille langsung menangkis serangan Goblinman itu dengan kapaknya.
*
“Apa…? Padahal pergerakanku sangatlah cepat,” kata Stix dalam hati, nampak terkejut melihat serangan kecepatan tingginya mampu diatasi oleh Raquille.
**
Tidak terlalu gentar dengan hal tersebut, Stix kemudian melancarkan serangan secara beruntun pada Raquille.
Namun, walaupun serangan Goblinman itu nampak tak kasat karena sangatlah cepat, Raquille dengan mudah dapat menepisnya sambil memasang ekspresi wajah yang nampak bosan.
*
“Sialan… Elfman ini bisa mengimbangi kecepatanku. Selain itu, kenapa dengan ekspresi wajahnya itu,” kata Stix dalam hati, nampak terkejut dengan apa yang dia lihat.
**
Karena serangannya tersebut selalu ditepis oleh Raquille, Stix kemudian menghentikan serangannya dan melompat ke belakang menjaga jaraknya.
“Goblinman, apa kau sudah selesai?” Tanya Raquille.
“Hah… Apa maksudmu?” Stix sontak bertanya balik karena tidak mengerti dengan apa yang barusan saja dibicarakan oleh Raquille.
Namun, Raquille hanya membalas pertanyaan Stix dengan senyuman tipis. Dia kemudian terlihat memutar-mutar kapaknya tersebut. Dalam sekejap Raquille pun menghilang dari hadapan Goblinman itu, hingga membuatnya seketika langsung terkejut.
*
“Hilang… Dimana?” Kata Stix dalam hati, melihat ke sekitaran tempat, mencoba menemukan keberadaan Raquille.
**
Tiba-tiba dalam sekejap mata Raquille telah berada dihadapan Goblinman tersebut dan langsung melancarkan serangan tebasan padanya.
“Akh…!” Teriak Stix, mendapat serangan dari Raquille.
Stix yang mendapat serangan tersebut berusaha untuk membalasnya. Namun saat Goblinman itu akan melancarkan sebuah serangan pada Raquille, tiba-tiba saja pemuda itu kembali menghilang.
“Haah… Hilang lagi.” Stix pun terheran-heran melihat hal tersebut.
Dan dalam sekejap mata, Raquille kembali muncul dihadapan Stix sambil melancarkan serangan tebasan dari kapaknya tersebut, hingga membuat Goblinman itu kini terhempas.
“Akh…!” Teriak Stix.
Tak perlu menunggu lama, Raquille kemudian melancarkan serangan tebasannya secara berulang kali pada Goblinman itu.
Stix yang mendapatkan serangan secara beruntun dari Raquille hanya bisa pasrah hingga membuatnya tersungkur di tanah dan mengalami kekalahan.
Setelah melihat bahwa Goblinman itu telah tak berdaya lagi, Raquille kemudian perlahan-lahan berjalan meniggalkannya.
Saat pemuda itu melanjutkan perjalanannya, tiba-tiba sebuah drone mendekatinya, yang sontak membuatnya langsung berhenti.
“Laventille Noroh, dari tim Fuegonia B berhasil mengalahkan Stix Weagsai, dari tim Asimir.” Drone tersebut sontak mengumumkan hasil dari pertarungan antara Raquille dan Stix sebelumnya.
“Oh… Jadi para penonton melihat pertarungannya dari benda ini yah…” Kata Raquille, nampak tersenyum setelah mengetahui hal tersebut.
***
Berpindah pada arena turnamen yang berada di kota Novacurve. Nampak terdengar sorakan dari para penonton setelah melihat Raquille berhasil mengalahkan lawannya dari sebuah layar yang mengelilingi area tengah turnamen.
Layar tersebut juga memperlihatkan perolehan poin dari semua tim yang ada.
Fuegonia B (18), Fuegonia A (12), Lightio (12), Cielas (8), Vielass (8), Asimir (7), Mormist (4), Neodela (3), Machora Tira (2).
***
Beberapa saat kemudian, terlihat pula beberapa petarung lain yang telah mengalahkan lawan-lawannya.
Nampak Saturno dari tim Cielas telah mengalahkan Nolani, Mermaidman dari tim Mormist.
Terlihat juga Dwarfman bernama Dossur dari tim Asimir berhasil mengalahkan Novus, Beastman dari tim Neodela.
**
“Heh… Ini nampak mudah.”
Di sisi lain, terlihat Gerhanther dari tim Lightio telah berhasil mengalahkan Afucco dari tim Fuegonia A.
“Yoford Drown, dari tim Fuegonia A berhasil mengalahkan Brock Greydust, dari tim Neodela.” Tiba-tiba terdengar suara pengumuman hasil pertarungan lain yang berasal dari drone di dekat Gerhanther.
“Sial, salah satu anggota orang ini juga telah mengalahkan lawannya.”
Hal tersebut sontak membuat Gerhanther menjadi sedikit kesal dikarenakan perolehan poin antara tim Lightio dan Fuegonia A masih tetap sama.
“Elford Drown, dari tim Fuegonia A berhasil mengalahkan Dimira Magchora, dari tim Lightio.” Kemudian kembali terdengar sebuah pengumuman dari hasil pertarungan lain.
“Apa…?”
Setelah mendengar pengumuman tersebut, nampak ekspresi terkejut dari Gerhanther bercampur kesal saat mendengar salah satu anggota timnya mengalami kekalahan dari tim Fuegonia A.
***
Kemudian di arena turnamen, memperlihatkan perolehan poin dari seluruh tim yang telah tertera pada layar.
Fuegonia A (22), Fuegonia B (18), Lightio (17), Cielas (13), Asimir (12), Vielass (8), Mormist (4), Neodela (3), Machora Tira (2).
**
“Hmph… Elford dan Yoford berhasil mendapatkan poin kemenangan,” kata Rox, nampak puas akan hal tersebut.
“Tapi, sayangnya Fuegonia A sekarang hanya tersisa tiga orang saja,” kata Rourke.
***
“Jadi Dimira berhasil dikalahkan yah… Ini memang menarik.”
Di lain tempat, nampak Zeidonas juga telah mendengar pengumuman hasil pertarungan sebelumnya.
*
“Tapi, hal yang kutunggu sekarang adalah berhadapan dengan Drakon,” kata Zeidonas dalam hati.
**
Di saat yang bersamaan, terlihat Neyndra yang masih belum berhadapan dengan salah satu petarung.
“Boleh juga pria cantik itu. Heh, aku juga tidak boleh kalah. Kumohon jangan pertemukan aku dengan petarung Land Venerate.”
Tiba-tiba sebuah serangan proyeksi energi berwarna biru datang mendekati perempuan tersebut.
Melihat serangan yang mengarah padanya tersebut, Neyndra dengan sigap langsung melompat menghindarinya.
Nampak serangan tersebut berasal dari Vaedor, salah satu anggota tim Cielas.
“Hei nona, sepertinya kali ini saudaramu tidak akan menolongmu, karena dia berada dalam yang berbeda denganmu,” kata pria tersebut.
“Oh, begitu yah… Tidak perlu khawatir, karena aku tidak memerlukan bantuannya sekarang,” kata Neyndra, nampak mengeluarkan dua belati siap menghadapi petarung Cielas tersebut.
Melihat perempuan tersebut nampak siap menantangnya, dengan sekejap Vaedor mengaktifkan proyeksi zirah energi berwarna biru, lalu dengan cepat bergerak menghampiri Neyndra sambil mengayunkan pedangnya.
Melihat mustahil untuk menahan serangan dari pria tersebut, dengan mengandalkan refleksnya Neyndra pun langsung melompat menghindari serangan tersebut.
Melihat kesempatan tersebut, dengan cepat Vaedor bergerak mendekati Neyndra kembali dan mengayunkan pedangnya pada perempuan itu.
“Fire burst… Strong Axe…” Tiba-tiba Bohrneer muncul dan menghadang serangan Vaedor dengan ayunan kapaknya, hingga membuat petarung Cielas itu pun langsung terhempas.
“Gadis aneh, serahkan saja ini padaku.” Kata Bohrneer, sambil mengulurkan tangannya pada Neyndra.
*
“Kukira Drakon yang akan menyelamatkanku. Eh... Kenapa aku berpikir seperti itu?” Kata Neyndra dalam hati, mengharapkan bahwa yang menolongnya adalah Drakon.
**
Neyndra pun terlihat menggapai tangan Bohrneer dan kembali berdiri.
“Hei, jangan menggangguku, biar aku yang mengalahkan pria itu,” kata Neyndra.
“Eh… Baiklah kalau begitu, aku mau mencari lawan lain saja.” Tanpa pikir panjang, Bohrneer langsung pergi meninggalkan Neyndra.
“Haah… Cepat sekali perginya dia,” kata Neyndra, terkejut.
Tak berselang lama, Vaedor pun kembali berdiri setelah sebelumnya menerima serangan dari Bohrneer. Nampak dari raut wajahnya yang kesal setelah mendapatkan serangan tersebut.
“Oke, jadi sekarang aku harus mencari cara agar bisa menang darinya,” kata Neyndra, terlihat fokus pada lawannya yang berada di depannya tersebut.
Vaedor pun maju dengan cepatnya mendekati Neyndra sambil mengangkat pedangnya yang kini memancarkan energi berwarna biru.
“Flame projection… Multiple flame ball…” Neyndra pun dengan sigap langsung meluncurkan serangan proyeksi bola-bola apinya untuk menahan petarung Cielas.
Namun, dengan mudahnya Vaedor langsung menepis serangan-serangan tersebut dengan menggunakan pedangnya tersebut.
Tak mau menyerah, Neyndra kemudian mengaktifkan kekuatan dari senjatanya. Nampak kedua belatinya kini memancarkan energi berwarna merah. Neyndra pun dengan cepat langsung melancarkan sebuah serangan proyeksi energi merah ke arah Vaedor.
Hal itu tetap percuma saja, karena dengan mudah Vaedor masih dapat menepis serangan tersebut.
Neyndra yang sudah kehabisan akal untuk melawan Vaedor pun dengan cepatnya langsung melarikan diri.
“Hei, mau lari kemana kau?”
Melihat perempuan tersebut melarikan diri darinya, Vaedor pun langsung melancarkan serangan proyeksi energinya.
Sontak serangan tersebut langsung mengenai Neyndra dan membuatnya terhempas hingga masuk ke dalam jurang.
“Aaahhhh….!” Teriak Neyndra terjatuh dari lembah.
Vaedor pun sontak mengikuti Neyndra, yang telah terjatuh tersebut dengan menuruni jurang. Tapi, setelah pria itu telah sampai di tepi jurang, dia tidak melihat Neyndra berada di tempat itu.
“Kemana dia pergi?” Vaedor sontak melihat ke sekitaran tempat itu, mencoba mencari keberadaan dari Neyndra.
Nampak Neyndra kini telah bersembunyi di balik bebatuan yang berada di dekat tempat itu.
*
“Sial… Kenapa juga aku harus ketakutan seperti ini?” Kata Neyndra dalam hati.
**
Neyndra yang bersembunyi di balik bebatuan, nampak kembali berdiri.
“Akh…” Namun saat berdiri, perempuan itu tiba-tiba merasa kesakitan.
Tanpa dia sadari, salah satu kaki nampak telah terkilir akibat terjatuh sebelumnya.
Mendengar suara dari perempuan tersebut, Vaedor sontak langsung memalingkan pandangannya ke arah bebatuan, tempat Neyndra bersembunyi.
“Hei nona… Sepertinya kau sudah terluka. Lebih baik kau menyerah saja,” kata Vaedor, sambil mendekati tempat persembunyian Neyndra.
*
“Bagaimana ini?” Kata Neyndra dalam hati, nampak ketakutan.
**
Saking ketakutannya akan ditemukan oleh petarung Cielas itu, tiba-tiba dua belati yang dipegang olehnya kembali memancarkan energi berwarna merah yang kini nampak lebih terang dari sebelumnya.
“Aahh…! Ada apa dengan tanganku…!” Teriak Neyndra, nampak terkejut melihat kedua tangannya kini berubah menjadi cakar berwarna merah.
Di saat bersamaan, Vaedor nampak telah menemukannya dari baik bebatuan.
“Aahh…!” Teriak kembali Neyndra, melihat petarung Cielas itu.
Dengan refleksnya, Neyndra pun langsung mengayunkan cakarnya. Seketika sebuah proyeksi energi merah terpancar dari cakarnya dan meluncur ke arah Vaedor.
Melihat serangan kejut tersebut, Vaedor dengan refleksnya langsung menangkisnya. Namun, seketika dirinya langsung terhempas, setelah menerima serangan tersebut.
“Eh…” Neyndra yang melihat hal itu sontak terkejut dan menjadi terheran-heran.
“Tunggu dulu… Bukannya wujud ini mirip seperti perubahan Elford waktu itu?” Dia pun menyadari bahwa perubahan tangannya tersebut diakibatkan oleh senjata sucinya, yang sebelumnya nampak memancarkan energi merah.
Tak jauh dari tempat tersebut, terlihat sebuah drone yang sedari tadi ternyata telah mengawasi pertarungan mereka.
***
“Ayah… Itu kan…?” Tanya Rourke.
“Hmph… Nampaknya itu ekdosi. Tapi, sepertinya bentuknya masih belum sempurna.” Kata Rox, menjelaskan hal tersebut.
“Berarti sekarang kak Neyndra telah mencapai tingkatan Land Venerate?”
“Aku juga tidak yakin akan hal itu.”
**
Terlihat Vaedor kembali berdiri setelah sebelumnya menerima serangan dari Neyndra.
“Baiklah… Sekarang kesabaranku telah habis,” kata Vaedor, nampak kesal.
Pria itu pun berkonsentrasi meningkatkan kekuatannya. Terlihat zirah energi yang melapisi tubuhnya nampak bergerak berpindah menuju pedangnya.
Kemudian Neyndra yang telah mengerti dengan apa yang barusan terjadi padanya tersebut, terlihat tersenyum sendiri.
Dia pun langsung berdiri kembali menanti serangan dari pria Cielas itu.
Tanpa pikir panjang, Vaedor pun langsung melancarkan serangan proyeksi energi birunya mengarah pada Neyndra.
Melihat serangan tersebut, Neyndra pun langsung menahannya dengan mengayunkan kedua cakarnya.
Sontak serangan tersebut seketika lenyap ditepisnya.
“Apa…?” Vaedor pun terlihat terkejut melihat apa yang barusan dilakukan oleh perempuan itu.
Tak mau berlama-lama lagi, Neyndra dengan cepat berlari ke arah Vaedor dan langsung mengayunkan cakarnya tersebut pada pria Cielas itu.
“Hiyaah…!”
Melihat perempuan itu mau menyerangnya, dengan cepat Vaedor langsung mengaktifkan kembali zirah energinya dan menangkis serangan perempuan itu.
Namun, serangan tebasan cakar Neyndra itu pun satu per satu dapat menghancurkan zirah energy Vaedor.
“Hiyaah…! Hiyaah…!” Teriak Neyndra, menyerang Vaedor berulang kali.
Tanpa dia sadari, pria itu kini telah tersungkur di tanah dan mengalami kekalahan.
“Akh… Kakiku…” Tiba-tiba perempuan itu terjatuh karena merasakan kembali sakit dari kakinya yang terkilir tersebut.
***
“Brutal sekali serangannya…” Kata Rox, nampak terkejut melihat serangan Neyndra.
**
Setelah mengalahkan Vaedor, nampak terdengar sorakan dari para penonton.
“Neyndra Drown, dari tim Fuegonia B berhasil mengalahkan Vaedor Calinarys, dari tim Cielas.” Kemudian terdengar suara pengumuman hasil dari pertarungan tersebut.
Layar pun sontak langsung memperlihatkan perolehan poin dari semua tim.
Fuegonia B (23), Fuegonia A (22), Lightio (17), Cielas (13), Asimir (12), Vielass (8), Mormist (4), Neodela (3), Machora Tira (2).
***
“Hei…! Apa ada orang di atas sana! Bisakah tolong aku!” Teriak Neyndra, meminta bantuan karena nampak tidak bisa berdiri.
**
“Hmph… Siapa itu?” Tiba-tiba dari atas Raquille nampak menengok ke dalam jurang tersebut.