The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 50 - Clan Magchora



“Lawan Neyndra kali ini tampaknya lebih berat dari sebelumnya,” kata Rox.


“Kau benar ayah, kali ini juga aku sependapat denganmu. Lagipula kurasa kak Neyndra sudah kewalahan sejak melawan beberapa peserta dari tadi,” sambung Rourke.


***


Tiba-tiba pasir yang berada dibelakang Dwarfman itu naik ke permukaan menjadi sebuah tangan raksasa, seperti yang dilakukan Dwarfman itu pada babak awal sebelumnya.


“Dwarfman sand technique… Giant hand of punishment...” Tangan raksasa pasir itu kemudian meluncur ke arah Neyndra dan Heinz.


Sontak Heinz langsung memasang kuda-kuda dan memegang erat kapaknya hendak menepis serangan tersebut.


Merasa mustahil pria itu akan menahan serangan dari Dossur, Neyndra pun dengan sigap langsung menarik Heinz menghindari hantaman tangan raksasa pasir tersebut.


“Nona apa yang kau lakukan?” Tanya Heinz.


“Dasar bodoh… Kau pikir bisa menahan serangan itu? Drakon saja tidak bisa mengatasinya,” bentak Neyndra pada mantan perampok itu.


“Tapi, tuan prajurit bisa mengalahkannya Dwarfman itu?”


“Itu karena tingkatan mereka setara.”


Melihat perseteruan dari dua orang itu, Dossur pun memanfaatkannya dengan mengendalikan tangan pasirnya tersebut mengarah pada mereka.


Karena sempat berseteru, Heinz dan Neyndra sontak terlambat merespon serangan dari Dwarfman itu, yang kini telah berada satu titik di hadapan mereka.


“Fire burst… Strong axe…” Namun, seketika Bohrneer muncul menyelamatkan mereka berdua dengan menepis tangan raksasa pasir itu.


“Kak Bohrneer!” Seru Heinz.


“Kalian tidak apa-apa?” Tanya Bohrneer berdiri dengan gagahnya bertujuan membuat terpukau kedua orang itu.


“Iya…” jawab Heinz.


“Baiklah, sudahi dulu jika kalian terpukau padaku. Karena kita harus menangani musuh yang berada di depan,” ucap Bohrneer dengan berlagak keren di depan mereka.


*


“Heh, siapa juga yang terpukau padamu,” gumam Neyndra dalam hati.


**


“Oh… Begitu yah… Bagaimana dengan ini?” Dossur pun kembali menciptakan tangan raksasa pasirnya yang kini lebih banyak dari sebelumnya.


Seketika Dwarfman itu langsung meluncurkannya ke arah mereka bertiga.


“Heinz, gadis aneh, ayo kita serang bersamaan,” kata Bohrneer.


Mendengar hal tersebut, Heinz dan Neyndra pun seketika bersiap untuk melancarkan serangan.


“Fire burst… Long slash…” Ucap Bohrneer dan Heinz bersamaan meluncurkan serangan tebasan elemen api.


Neyndra pun tidak kalah, dia terlihat melancarkan serangan proyeksi tebasan dari cakarnya yang masih belum kembali normal sejak pertarungannya dengan Vaedor sebelumnya.


Ketiga serangan mereka sontak membuat tangan-tangan pasir dari Dossur seketika musnah.


“Wah… Hebat juga kalian,” kata Dossur memuji kekompakan tim Fuegonia B itu.


“Dwarfman sand creation technique… giant sand humanoid…” Tiba-tiba Dwarfman itu menciptakan dua raksasa pasir.


Bohrneer, Heinz dan Neyndra pun sontak langsung melancarkan serangan yang sama seperti sebelumnya ke arah dua raksasa pasir itu.


Namun, serangan yang mereka lancarkan tersebut nampak tidak bisa menghancurkan dua makhluk tersebut.


“Apa…?” Bohrneer sontak terkejut melihat hal tersebut.


“Hahaha… Kalian pikir raksasa ciptaanku ini bisa dihancurkan dengan mudah,” kata Dossur menertawai mereka.


“Sial…” Keluh Bohrneer.


Tiba-tiba sebuah petir muncul dari langit dan langsung menyambar kedua raksasa pasir itu hingga hancur.


“Apa…?” Kini Dwarfman itu nampak terkejut setelah melihat kedua raksasanya dengan mudah dihancurkan.


“Siapa yang melakukannya?” Tanya Neyndra.


“Bukan aku,” kata Bohrneer.


“Itu aku,” kata Heinz yang berada di belakang mereka.


Saat kedua orang itu menoleh pada Heinz, terlihat pria itu telah mengangkat kapaknya ke atas dengan memancarkan energi listrik.


“Heinz, bagaimana kau melakukannya?” Tanya Bohrneer.


“Entahlah, aku hanya mengangkat kapakku ke atas tiba-tiba saja sebuah petir langsung menyambar para raksasa itu,” jawabnya.


Walaupun masih kebingungan dengan hal tersebut, Bohrneer terlihat sedikit tersenyum setelah mengetahui bahwa saudaranya itu bisa menggunakan elemen petir.


“Baiklah Heinz, kau fokus saja menyerang pasirnya, biar kami yang menyerangnya secara langsung… Apa kau setuju gadis aneh?” kata Bohrneer.


“Yah… Sesuai yang kau katakan,” kata Neyndra.


Tanpa berlama-lagi, Bohrneer dan Neyndra seketika maju mendekati Dossur untuk menyerangnya.


**


Berpindah ke pertarungan yang lain. Terlihat Raquille dan Gerhanther, yang telah terpisah dari Drakon dan Zeidonas, berada di udara saling melancarkan serangan mereka.


“Lizardfolk aura… Purple slash…” Pemuda Lightio itu sontak melancarkan serangan proyeksi tebasannya yang sangat lebar itu mengarah pada Raquille.


Dengan sigap Raquille pun menangkis serangan tersebut dengan kapaknya. Namun, saking kuatnya tekanan serangan tersebut hingga membuat Elfman itu seketika meluncur ke bawah menghantam tanah dengan kerasnya.


“Uhhh… Sialan kau bocah, sepuluh tahun yang lalu pasti kau belum ada apa-apanya dibandingkan denganku,” gumam pemuda Elfman itu mengeluhkan perbuatan pemuda Lightio itu padanya.


“Apa yang kau gumamkan itu? Dasar Elfman tak waras.” Gerhanther sontak kembali melancarkan serangan proyeksi tebasannya karena merasa rishi dengan ocehan pemuda itu, yang dirasanya tak masuk akal.


Melihat serangan susulan tersebut, dengan sigap Raquille kembali berdiri. Seketika kapak yang dipegangnya tiba-tiba membesar lebih dari sepuluh meter panjangnya. Tanpa merasa berat sedikitpun, Elfman itu mengibaskan kapak raksasanya itu menciptakan hempasan angin yang langsung menepis serangan Gerhanther.


“Apa-apaan itu…?” Nampak Gerhanther sontak terkejut melihat hal dilihatnya tersebut.


Kapak yang dipegang Raquille itu kemudian kembali ke ukuran semula sewaktu pertama kali dia memunculkannya.


Tiba-tiba gagang dari kapak itu memanjang ke arah Gerhanther dan langsung melilitnya layaknya sebuah tali.



“Ukh… Teknik macam apa ini?” Keluh pemuda Lightio itu terlilit gagang kapak yang melentur tersebut.


Dengan kuat Raquille menarik Gerhanther yang melayang di udara itu ke arahnya dan langsung mencekiknya.


“Hei bodoh… Aku sudah muak diremehkan olehmu,” ucap Raquille dengan tatapan serius.


Seketika pemuda itu mengeluarkan tekanan kekuatannya yang langsung membuat seketika Gerhanther tercengang.


*


“Tekanan kuat apa ini…?” gumam pemuda Lightio itu, merasa terintimidasi oleh tekanan kekuatannya Raquille.


**


“Terima ampunan dariku.” Raquille kemudian melempar pemuda itu.


“Feuerzauber… Long way fire…” Seketika pemuda Elfman itu melancarkan serangan elemen apinya yang langsung membuat Gerhanther dengan kuatnya terhempas menghantam pepohonan dan seketika mengalami kekalahan.


***


“Ada apa dengan layarnya?” Kata Rox, kebingungan melihat layar yang memperlihatkan pertarungan antara Raquille dan Gerhanther menjadi hitam.


Ternyata sedari tadi para penonton tidak dapat melihat pertarungan mereka dikarenakan Raquille telah menyabotase drone yang berada di dekatnya agar tidak dicurigai orang-orang saat pemuda itu melancarkan serangannya.


**


Namun, beberapa saat kemudian layar yang menjadi hitam itu tiba-tiba kembali normal dan memperlihatkan Gerhanther yang kembali ke wujud semula telah terkapar tak berdaya.


“Laventille Noroh dari tim Fuegonia B berhasil mengalahkan Gerhanther Zee dari tim Lightio.” Seketika terdengar pengumuman hasil pertarungan Raquille dan Gerhanther.


Setelah mengumumkan kekalahan Gerhanther atas Raquille, layar yang berada di arena turnamen tersebut langsung memperlihatkan perolehan poin dari semua tim.


Fuegonia B (58), Fuegonia A (39), Lightio (27), Vielass (22), Asimir (22), Cielas (18), Neodela (keluar), Machora Tira (keluar), Mormist (keluar).


“Ini tidak masuk akal, bagaimana mungkin Regional Venerate bisa mengalahkan petarung Land Venerate yang mengaktifkan kekuatan pelepasan kedua?” Nampak Ailene merasa curiga dengan kemenangan Raquille yang dirasanya sangat mustahil.


“Aku juga merasa itu memang mencurigakan. Tapi, memang kenyataanya Elfman itu bisa mengalahkan mereka,” kata Rourke.


“Tunggu dulu…” Ailene yang masih merasa penasaran dengan Raquille sontak dengan seksama memperhatikan wajah pemuda itu yang terpampang jelas di layar.


“Aku ingat sekarang… Dia adalah pangeran Blueland itu, namanya bukan Laventille, tapi Raquille, Raquille Noroh.” Tiba-tiba perempuan itu langsung mengenali Raquille, yang sepertinya pernah ditemuinya.


“Raquille Noroh? Siapa itu?” Tanya Rourke penasaran.


“Raquille Noroh,” jawab Ailene.


“Apa…?” Seketika ekspresi Rox menjadi terkejut setelah mendengar nama tersebut.


“Raquille Noroh…? Bagaimana mungkin?”


“Iya ayah dia adalah pangeran Blueland yang pernah kita temui… Eh… Sekitar lima belas tahun yang lalu”


“Lima belas tahun yang lalu? Apa kau yakin?”


“Ternyata lima belas tahun yang lalu… Kupikir lima hari yang lalu… Kakak, kau mungkin sudah salah mengenali orang,” kata Rourke nampak tidak percaya dengan perkataan saudaranya itu.


“Haah… Kau pikir daya ingatku bisa dibandingkan denganmu yang sangat pelupa itu…”


Perempuan itu kemudian terlihat mengeluarkan alat komunikasinya dan menghubungi seseorang


“Apa yang mau kau lakukan dengan benda itu?” Tanya Rourke.


“Akan kubuktikan kalau aku memang benar,” jawab Ailene.


***


Beberapa saat kemudian, panggilan dari Ailene terhubung pada rekannya Lazurno, yang berada di Sprintrobe.


“Ada apa dia menghubungiku? Apa mungkin dia merindukanku?” gumam pria itu.


“Halo… Ada apa nona Ailene?”


“Lazurno, begini… Aku ingin kau menemui para bawahan Drakon dan tanya kepada mereka apakah nama dari pemuda Elfman itu adalah Raquille Noroh.”


“Memangnya kenapa?”


“Sudah… Lakukan saja itu karena ini sangat penting.”


“Hmph… Baiklah kalau begitu.”


“Lazurno, cukup tanyai itu saja jangan lakukan hal yang lain.”


Setelah mendengar perkataan Ailene yang terakhir, Pria itu nampak menutup sambungan komunikasi mereka tanpa mengiyakan perkataan tersebut.


***


“Kuharap dia tidak melakukan sesuatu yang aneh.”


“Memangnya apa kau khawatirkan?” Tanya Rourke.


“Aku takut pria bodoh itu mengancam mereka,” jawab Ailene.


***


Kemudian berpindah pada pertarungan antara Drakon dan Zeidonas. Terlihat pria Lightio itu dengan brutalnya mengayunkan tombaknya pada Drakon.


“Apa kau hanya bisa menangkis saja?” Saking brutalnya serangan pria itu hingga membuat Drakon hanya bisa menangkisnya tanpa memiliki kesempatan untuk melancarkan serangannya.


“God aura… Superior kick…” Namun, saat melihat celah, dengan cepat pria itu langsung melancarkan serangannya pada Zeidonas.


“Ukh…” Zeidonas pun sempat terhempas menerima serangan tersebut namun kembali bertahan.


“God aura… Superior punch…” Tanpa pikir panjang, Drakon kemudian melancarkan serangan susulannya pada Zeidonas.


Namun, tiba-tiba Zeidonas menahan serangan pria itu dengan menggenggam erat kepalan tangannya.


“Apa hanya seperti serangan yang bisa kau lancarkan?” Ucap Zeidonas nampak kecewa dengan serangan Drakon yang dilancarkan kepadanya itu.


Zeidonas kemudian terlihat memutar tombaknya menciptakan sebuah pusaran proyeksi energi emas yang cukup besar berpusat pada tangannya.


“Supreme deity aura… Deadly gold stabs…” Seketika serangannya tersebut melesatkan Drakon ke bawah sampai dengan kerasnya menghantam tanah.


Drakon yang terkapar itu nampak perlahan-lahan mulai tak sadarkan diri.


*


“Sial… Kenapa jadi seperti ini?” Gumam Drakon mulai tak sadarkan diri.


Seketika pria itu kembali mengingat ingatannya sekitar sebelas tahun yang lalu.


–26 Januari 3018–


Di suatu negeri bernama Geracie, salah satu negeri yang terletak di bagian selatan benua Greune, terlihat Drakon yang masih berusia enam belas tahun sedang terburu-buru menyusuri lorong perkotaan.


“Sial… Aku aku pasti sudah terlambat,” kata Drakon nampak khawatir.


**


Kemudian di sebuah arena pertarungan terlihat Zeidonas sedang berhadapan satu lawan satu dengan seseorang. Dia tampak mengayunkan pedangnya, namun lawannya tersebut sontak menangkis ayunan pedang tersebut.


“Zeidonas, sepertinya kekuatan fisikmu belum meningkat sejak terakhir kali.” Lawannya itu dengan santainya menahan ayunan pedang Zeidonas sambil mengungkit kekuatan fisik pemuda itu yang nampak belum meningkat.


“Asal kau tahu, dalam pertarungan kekuatan fisik bukanlah segalanya. Aku masih bisa mengandalkan kelincahan,” balas Zeidonas.


Dengan sigap Zeidonas memutar tubuhnya kesamping dan langsung menendang kaki lawannya itu hingga membuatnya jatuh tersungkur ke tanah. Zeidonas kemudian dengan lihai merebut pedang lawannya dan menodongkannya ke leher pemuda itu.


“Apakah kau mengerti sekarang?” Tanya Zeidonas.


“Baiklah, kau menang,” jawab lawannya itu mengangkat kedua tangan mengakui kekalahannya.


“Pemenangnya adalah Zeidonas.” Sontak wasit yang berada di tempat itu langsung mengumumkan hasil pertarungan mereka.


Zeidonas kemudian membantu lawannya itu untuk berdiri dengan mengulurkan tangannya dan memberikan pedang pemuda itu. Mereka berdua lalu berjalan meninggalkan tengah arena.


“Pertarungan selanjutnya Drakon Magchora melawan Dimira Magchora.”


Setelah wasit mengumumkan hal tersebut, dengan cepat Dimira yang berada di tribun melompat ke tengah arena.


**


“Orang itu terlambat lagi… Tapi itu lebih baik daripada dia harus kembali dipermalukan,” kata Erklis yang berada di tribun sedang duduk bersama Athira dan pemuda yang dilawan oleh Zeidonas sebelumnya.


**


Kemudian memperlihatkan ketua dan para petinggi clan Magchora yang berada di tribun sedang mengamati jalannya pertandingan tersebut.


“Kemana anak itu? Apa dia tidak tahu bahwa hari ini ada pertandingan tahunan…? Ini membuang waktuku saja, padahal aku kemari untuk melihat perkembangan Zeidonas dan dia,” kata salah satu dari mereka, nampak kesal.


Orang yang sebelumnya berbicara itu bernama Chrolexius Magchora, ketua clan Magchora dan merupakan ayah dari Zeidonas dan Drakon. Dia juga merupakan salah satu World Venerate negeri Geracie yang menjabat sebagai perdana menteri, yang memiliki kekuasaan penuh atas pemerintahan negeri tersebut.


Karena ingin melihat perkembangan dari para anggota muda clannya tersebut, setiap tahunnya pria itu menyuruh para petinggi clannya untuk mengadakan sebuah pertandingan bagi para anggota muda clan Magchora.


Namun, pria itu akhirnya merasa bahwa pertandingan tersebut percuma saja dikarenakan tujuan utamanya adalah melihat para anggota muda clan Magchora dapat menguasai kekuatan energi emas yang merupakan kekuatan utama dari clan tersebut.


“Tuan Chrolexius, mungkin sedikit lagi tuan muda datang, anda tak perlu khawatir,” kata salah petinggi yang sedang bersamanya.


“Hmph… Kuharap begitu, walaupun aku sudah bosan tidak pernah melihat para anggota muda menguasai kekuatan dewa Misorus,” sambung pria bernama Chrol itu.


**


Tak berapa lama mereka membicarakan hal tersebut, tiba-tiba Drakon sampai ke tengah arena.


“Maaf aku terlambat,” kata Drakon, nampak kelelahan setelah berlari cukup lama.


Melihat Drakon telah berada di depannya, Dimira sontak mengeluarkan pedangnya bersiap untuk berhadapan dengan lawannya tersebut.


Drakon juga terlihat mengeluarkan pedangnya bersiap untuk melawan perempuan yang berada dihadapannya itu.


“Baiklah… Bersiap… Mulai…” Kata Wasit memulai pertandingan tersebut.


Sontak Dimira seketika bergerak mendekati Drakon dan mengayunkan pedangnya pada pemuda itu.


Namun, Drakon dengan sigap menangkis ayunan pedang Dimira dengan memasang senyuman tipis pada perempuan itu.


“Dasar gila…” Merasa rishi dengan senyuman pemuda itu Dimira sontak mengumpatinya.


Perempuan itu kemudian melancarkan dua serangan tebasan pada Drakon hingga membuat lengan dan pahanya seketika tergores.


“Akh…!” Teriak Drakon merasakan kesakitan dan jatuh berlutut.


Masih bisa bangkit kembali Drakon nampak mengayunkan pedangnya ke arah perempuan itu. Namun, dengan mudah perempuan itu menahan tangannya dan membenturkan kepalanya pada pemuda itu.


Seketika padangan pemuda itu menjadi buram akibat benturan tersebut. Dimira pun langsung memanfaatkan kesempatan itu dengan melancarkan serangannya secara beruntun hingga membuat Drakon mendapatkan beberapa luka goresan di tubuhnya.


“Akh…!” Teriak Drakon sekali lagi, kini terkapar di tanah.


**


“Kejam sekali dia pada lawannya,” kata pemuda yang sebelumnya berhadapan dengan Zeidonas.


Terlihat juga raut wajah khawatir Zeidonas melihat Drakon tersungkur tak berdaya dihadapan Dimira.