The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 197 - Dalam sebuah pengaruh



Di sisi lain, tampak Asulf dan Anhilde masih baik-baik saja dikarenakan sedang bersama dengan Haltryg. Mereka tidak diganggu oleh sosok-sosok menyeramkan seperti yang ditemui oleh Raquille serta Hyphilia, dikarenakan mengandalkan kemampuan dari Haltyg.


Dengan kemampuanya tersebut, Halryg mampu terlebih dahulu mengetahui lokasi para makhluk-makhluk menyeramkan yang mampu mengubah penampilan mereka tersebut. Sebelum mereka menunjukan diri mereka, Haltryg yang mampu mengetahuinya lantas langsung menyerang mereka duluan hingga lenyap sama seperti yang dilakukan oleh Raquille sebelumnya.


Walaupun tidak memiliki kesusahan tersesat di tempat yang sangat luas tersebut, namun Asulf, Anhilde bahkan Haltryg pun masih belum bisa menemukan keberadaan dari Raquille maupn Hyphilia. Mereka bertiga terus berjalan menyusuri lembah yang ditutupi oleh kabut tebal tersebut sambil berharap akan menemui para Elfman yang datang bersama dengan mereka ke tempat itu.


Asulf dan yang lain menjadi gelisah dikarenakan mereka sebelumnya sempat terpisah dengan Arn. Asulf dan yang lain nampak khawatir dengan keadaan dari Arn karena mengetahui bahwa pria tersebut kemungkinan sedang berjalan menyusuri kabut yang tebal itu sendirian.


“Kita menemukannya…” Tiba-tiba Haltryg merasakan sesuatu berada di depannya.


Hal tersebut lantas membuat Asulf dan Anhilde pun langsung mengakses sihir ruang mereka untuk memunculkan tombak senjata suci mereka masing-masing untuk bersiaga.


“Tunggu, bukan itu maksudku… Lihat itu…” Namun, Haltryg pun langsung meyakinkan mereka bahwa hal tersebut bukanlah seperti yang mereka pikirkan.


Setelah tak berapa lama berjalan ke depan, pemuda itu kemudian menunjukan kepada Asulf dan Anhilde bahwa sesuatu yang di depan mereka adalah sebuah altar. Tepat di tengah-tengah altar tersebut, tampak sebuah kotak misterius yang membuat mereka langsung mengambil kesimpulan bahwa di dalamnya terdapat salah satu dari ketiga belas harta karun yang mereka cari.


Ketiga orang itu lantas bergegas mendekati altar tersebut, lalu mengambil kotak misterius yang berada di tengahnya.


“Urgh…” Asulf mengambil kotak misterius itu, lalu mencoba membukanya, namun pria itu tampak tidak bisa melakukannya, karena sepertinya kotak tersebut telah terkunci dengan rapat.


“Urgh…” Asulf memberikan kotak tersebut kepada Haltryg, agar pemuda itu bisa membukanya, tetapi saat mengambilnya Haltryg juga dengan kuat membuka kotak misterius itu dengan menggunakan kekuatan fisiknya.


Hal tersebut membuat Asulf keheranan karena tujunnya memberikan kotak tersebut kepada Haltryg bukan untuk dibuka menggunakan kekuatan fisik dari pemuda tersebut.


“Hei bodoh, pakai kekuatan sihirmu untuk membukanya,” ucap Asulf kepada Haltyrg.


“Eh… Benar juga…” Setelah mendengar ucapan dari pria itu, Haltryg pun langsung mencoba membuka kotak tersebut menggunakan kekuatan sihirnya.


Akan tetapi, hal tersebut masih sama saja, karena kotak itu tetap tidak bisa dibuka oleh pemuda itu. Tidak mau membuang waktu karena tidak bisa membuka benda tersebut, Haltryg dan yang lain pun lebih memilih untuk membawanya terlebih dahulu sembari mencari rekan-rekan mereka yang masih terpisah.


***


Di sisi yang lain, nampak Arn berjalan sendirian di tengah kepungan kabut yang tebal pada lembah yang luas tersebut. Sambil menenangkan pikirannya karena terpisah sendirian dari rekan-rekannya, Arn terus berjalan dan berharap agar bisa menemukan salah satu diantara mereka.


Pria itu tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika sontak melihat sesosok bayangan hitam yang memiliki perawakan layaknya seorang perempuan.


“Arn…” Seketika Arn terkejut ketika mendengar sosok tersebut memanggilnya, serta memiliki suara yang dikenal olehnya.


Tanpa pikir panjang, Arn dengan cepat berlari mendekati sosok hitam yang menyerupai seorang perempuan tersebut untuk memastikannya.


“Ukh…” Entah kenapa saat hampir mendekati sosok hitam itu, Arn tiba-tiba terjatuh hingga membuatnya tersungkur ke tanah.


Arn perlahan kembali bangun, dan terkejut ketika melihat bahwa sosok hitam yang diketahuinya berada di depan kini telah menghilang.


Sambil penasaran pria itu melihat ke sekitaran, mencoba menemukan keberadaan dari sosok hitam yang dilihat sebelumnya.


“Tidak mungkin…” Arn pun lantas terkejut, ketika melihat dengan jelas bahwa sosok hitam misterius tadi ternyata merupakan Elfman perempuan yang pernah diingatnya ketika mengunjungi akademi sihir negeri Blueland.


“Freynille…” Arn pun merasa percaya bahwa sosok itu adalah Elfman perempuan yang dikenal olehnya, lalu perlahan-lahan berjalan mendekat.


Freynille, Ini memang kau?” Tanya Arn, penasaran.


Sosok yang menyerupai Elfman perempuan bernama Freynille itu lantas merespon pertanyaan dari Arn dengan tersenyum serta menganggukan kepalanya.


“Aku tidak menyangka bahwa kau masih hidup, Freynille…” Arn lantas memeluk erat sosok yang menyerupai Elfman perempuan yang dikenalnya tersebut, tanpa harus memastikannya lebih seksama lagi.


Elfman perempuan itu lantas membelas pelukan Arn, akan tetapi dari sudut pandang yang berbeda, sosok yang menyerupai Elfman perempuan yang dikenal oleh pria itu ternyata merupakan sosok menyeramkan yang dilihat oleh Raquille, Hyphilia dan yang lain sebelumnya.


Karena tertutupi oleh rasa rindu akan Elfman perempuan bernama Freynille yang dikenal olehnya, Arn tidak bisa melihat wujud asli dari sosok tersebut.


***


Tak jauh dari tempat tersebut, untungnya ada Raquille dan Hyphilia. Raquille tiba-tiba merasakan hawa keberadaan dari Arn tepat di depan dan dengan cepat langsung memegang tangan Hyphilia, serta bergegas untuk menemui Arn yang sedang berada dalam pengaruh dari sosok menyeramkan yang bersamanya.


Raquille dan Hyphilia pun melihat Arn sedang berpelukan dengan sosok menyeramkan tersebut dan sama sekali tidak melihat bahwa yang dipeluk pria itu merupakan Elfman perempuan yang dikenal olehnya.


“Feuerzauber…” Dengan sigap Raquille melancarkan serangan proyeksi elemen api untuk memisahkan sosok menyeramkan tersebut dari Arn.


“Freynille…” Sosok menyeramkan tersebut menerima serangan elemen api dari Raquille hingga membuatnya langsung terhempas, serta membuat Arn pun terkejut.


Arn pun menoleh ke arah Raquille dan Hyphilia, dan sontak dari sudut pandangannya melihat bahwa kedua Elfman tersebut merupakan sosok menyeramkan.


“Kalian siapa?”


Raquille dan Hyphilia pun lantas terkejut serta keheranan mendengar pertanyaan dari pria tersebut.


“Hei, apa yang kau bicarakan? Ini aku Raquille, kakakmu Arn,” jawab Raquille.


“Sejak kapan kakakku bisa memiliki penampilan menyeramkan sepertimu,” balas Arn.


Tanpa pikir panjang, Arn pun langsung memunculkan tombak senjata sucinya dan meluncur ke arah Raquille dan Hyphilia.


“Blitzzauber…” Arn dengan cepat mengayunkan tombaknya yang memancarkan proyeksi elemen petir pada Raquille dan Hyphilia yang dikiranya merupakan sosok-sosok menyeramkan.


Dengan mudah, Raquille serta Hyphilia mampu menghindari serangan dari pria itu. Raquille dengan cepat memegang tombak milik Arn, lalu dengan kuat menghempaskannya ke jarak yang cukup jauh.


“Kakak, sepertinya Arn sedang dipengaruhi oleh sosok meyeramkan itu… Kita harus mengalahkan makhluk itu terlebih dahulu,” ucap Raquille.


Pemuda Elfman itu kemudian meluncur ke arah sosok menyeramkan yang mempengaruhi Arn, dan hendak untuk menyerangnya.